Hijrah | Boutique Helsinki

Tukar Nasib, Ustadz Jadi Umat di Bulan Ramadan

Saya tak punya jadwal sepadat para ustadz. Hanya isi ceramah di kampung dan perumahan. Itu pun paling dalam sebulan hanya dua kali. Pertama memang jadwalnya, dan yang kedua pengganti ustadz jika berhalangan hadir. Seringkali peran saya hanya mengganti pada detik terakhir. Tak ada jamaah yang sanggup, maka saya mengajukan diri. Lebih sering saya jadi jamaah kalau bulan Ramadan seperti ini.

Bersama jamaah lain mendengarkan para penceramah. Yang bertutur tentang agama dengan metode yang berbeda-beda. Ada yang menyelingi dengan canda, ada yang meyindir ke sana ke mari, dan ada yang menakut-nakuti kehidupan di alam baka. Beberapa, saya merasa topik itu baru, tapi sebagian besar hanya mengulang-ulang hal yang saya sering dengar. Apalagi pada bulan Puasa ayat yang dibacakan selalu sama dengan tafsir yang tak jauh beda.

Tapi saya paling suka kegiatan takjil. Kegiatan berbuka puasa dengan menu yang aduhai. Salah satu masjid bahkan memberitahu menu berbuka puasanya. Seperti menikmati restoran gratis. Pokoknya berbuka puasa itu adalah kegiatan yang saya tunggu. Meski ada ceramah sebelumnya dan kemudian diikuti dengan doa, tapi semua berakhir dengan makan bersama. Melalui takjilan saya tahu masjid mana saja yang donaturnya besar dan mana yang donaturnya biasa-biasa saja.

Mungkin yang penting lagi adalah penceramah tarawih. Kalau kelas masjid besar, pasti mereka yang punya gelar akademik tinggi-tinggi. Biasanya guru besar atau mereka yang tempelan gelarnya panjang sekali. Sehingga, kalau takmir memanggil pasti ada banyak singkatan yang saya kerap tak begitu paham. Apa gelar tinggi jaminan ceramahnya bagus? Ndak juga, bahkan kadang ceramahnya bisa buat kita tak paham. Kalau semacam ini, biasanya saya tahu diri. Ilmu tak cukup atau memang saya saja yang bodoh.

Di televisi ada banyak serbuan acara rohani. Dikemas kadang dengan lawak dan tak jarang ada penceramah yang sangat terkenal. Misalnya Aa Gym atau Abdul Somad. Para penceramah ini mengisi tayangan dengan diselingi iklan. Saya bingung mana yang musti diingat: iklannya dulu atau materi ceramahnya. Berulang-ulang saya berusaha memahami maksud pesan yang termuat dalam acara siraman rohani. Kadang saya paham, tapi kerap kali saya bingung apa memang saya bisa menunaikannya.

Mungkin karena saya dulu dibesarkan di pesantren mungil. Dikatakan mungil karena santrinya tak banyak. Hanya beberapa orang, lainnya bolak balik pulang. Istilahnya santri kalong. Pondok ini dipimpin kyai yang sudah renta usianya. Tapi meski sudah tua, dirinya punya semangat luar biasa. Ke sana ke mari naik sepeda dan paling suka dengar siaran radio BBC. Tugas saya mendengar radio bersama, kemudian meringkasnya, lalu mendiskusikannya.

Islam dipahami bukan sebagai dogma, tapi amalan nyata. Tiap amalan dilakukan dengan memperhatikan lingkungan sekitar. Itu sebabnya kegiatan pesantren diisi dengan menanam sayur, beternak lele, dan membuat jemuran. Saya mengaji tiap pagi tapi lebih banyak ativitas menanam. Pak kyai bilang agama itu bukan hapal-menghapalkan, tapi mengamalkan. Buatlah dirimu berguna dan bermanfaat maka itulah fungsi orang beragama.

Pragmatis itu, mungkin tapi lebih tepatnya itulah agama sebagaimana yang dipesankan oleh Nabi Muhammad: muslim itu kalau dibutuhkan bisa membantu, tapi kalau tak dibutuhkan takkan merugikan. Merugikan itu bisa berupa: mencuri uang bukan miliknya, merampas tanah yang bukan haknya, hingga memukuli orang yang tak jelas salahnya. Atau yang lebih sering lagi, membubarkan acara yang bukan wewenangnya.

Agama bukan modal untuk melakukan kekerasan, bukan modal untuk mencari popularitas, bahkan bukan pula modal untuk meraih kekuasaan. Beragama jadi lebih gembira karena merasa keyakinan itu dapat memupuk kepedulian, memudahkan untuk empati, dan percaya diri untuk menyatakan kebenaran. Agama tidak untuk menakut-nakuti, apalagi jadi sumber kebanggaan karena merasa benar sendiri.

Itu sebabnya saya merasakan puasa kali ini rasanya berbeda. Mirip dengan pengemudi Go-Jek, beragama seperti berburu target. Barusan saya mendengar ceramah bahwa bulan Ramadan ini kita musti membuat target. Berapa juz yang bisa kita baca, berapa uang yang akan kita infakkan, dan berapa banyak waktu yang kita pusatkan untuk ibadah. Semua target itu nanti akan tampak pada berapa banyak pahala yang kita peroleh.

Seolah, Tuhan itu memegang kalkulator lalu akan menghitung dengan rinci semua yang kita perbuat. Mungkin, karena sudah terlampau lama kita terbenam dalam hidup yang penuh dengan transaksi. Maka beribadah sekalipun kita juga menggunakan model transaksi. Padahal beragama itu bukan hanya butuh ikhlas, tapi juga rasa antusias. Dan antusiasme itu muncul kalau kita gembira, bukan dipaksa. Sedang gembira itu ada pada raut muka: lebih ramah, lebih terbuka, dan tidak curiga.

Saya takut kita sudah kehilangan keramahan belakangan ini. Seakan puasa itu hanya milik kita sendiri. Kadang isi ceramah mengkritik tingkah orang yang beda agama, mengutuk sistem sosial yang dianggap menjauh dari agama, bahkan mengutarakan sikap politik yang ajak umat untuk berontak pada penguasa yang ada. Tampilan agama itu jadi provokatif, keras, dan kadang egois. Kita lupa topik semacam sabar dan syukur. Padahal itu pesan utama yang perlu dihidangkan lagi pada saat ini.

Mungkin waktunya di bulan Ramadan ini para ustadz belajar menjadi umat. Lebih banyak mendengar ketimbang bicara, lebih sering menyapa ketimbang menegur, dan lebih suka untuk peduli ketimbang mencari perhatian untuk diri sendiri. Mungkin saatnya para ustadz untuk menahan diri dari panggung dan berani untuk merendahkan hati bertanya pada apa yang diresahkan oleh umat belakangan ini. Mulailah bertanya pada orang-orang yang menyiapkan panggung kalian.

Panitia masjid, tukang parkir, hingga cleaning service. Merekalah orang yang selama ini berjasa banyak pada ustadz. Bertanya tentang hidup, harapan, dan persoalan mereka. Dekatkan diri kita dengan orang lemah karena itu akan membuat kita punya hati yang hangat, peduli, dan empati. Dekatkan diri kita dengan persoalan kemanusiaan dengan menjumpai korban penggusuran, pelanggaran HAM, atau pencemaran lingkungan. Sayang jika Abdul Shomad yang asal Riau tak membicarakan pencemaran lingkungan atau kebakaran hutan yang jadi persoalan utama di sana.

Mungkin memang sudah waktunya ustadz belajar kepada umat. Berikan kesempatan Ramadan kali ini kita mendengar keluhan mereka, persoalan yang dihadapi mereka, dan harapan mereka. Mungkin saja apa yang kita sampaikan menyinggung mereka, tak relevan dengan persoalan mereka, dan mungkin saja tak memenuhi kebutuhan mereka. Melalui Ramadan marilah kita belajar untuk tidak merasa benar sendiri dan berusaha untuk selalu rendah hati. Itu tak bisa diucapkan tapi kerjakan!(*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika