Ilustrasi | BBC.com

Andai Saya Jadi Umat Minoritas

“Jangan sekali-kali kebencian kamu terhadap satu kaum menjadikan kamu tidak berlaku adil. Berlaku adillah” -QS al Maidah 5:8

Puasa kali ini saya bayangkan diri saya sendiri sebagai umat minoritas. Bisa itu sebagai umat Katolik, Kristen, Budha, atau Hindu. Bahkan mungkin saja saya menganut aliran kepercayaan. Yang kebetulan saja tak berpuasa di bulan Ramadan. Sulit saya menebak perasaan mereka di bulan Ramadan. Apakah mereka seperti saya yang beribadah puasa? Merasa gembira, antusias, dan punya perasaan spiritual sebagaimana yang saya rasakan? Atau mereka ikut merasa bangga sebagaimana saya yang beribadah puasa?

Saya tak bisa membayangkan karena memang saya tak punya pengalaman jadi minoritas. Saya sejak kecil hidup di negeri suara Adzan berkumandang di mana-mana. Sudah terbiasa telinga saya mendengar pengajian yang dikabarkan melalui sound masjid dalam suara yang terdengar dari segala penjuru. Saya juga terbiasa mendengar ceramah agama yang disajikan di televisi, radio, pertemuan, hingga dikirimkan melalui media sosial. Saya sampai tak sempat berfikir bahwa saya itu hidup bertetangga dengan umat lain, tinggal di negeri yang dihuni umat lain, dan mungkin punya masalah seperti umat lain.

Kerapkali saya juga terganggu kalau suara Adzan bersahut-sahutan di semua masjid. Terutama jika suaranya tak merdu atau kebetulan saya sedang capek. Tapi saya langsung sadar itu panggilan suci yang tak boleh membuat kita merasa terganggu. Perasaan itu langsung tertutup oleh keyakinan keagamaan yang ditanam sejak kecil. Itu ajakan beribadah jadi jangan merasa terganggu. Kalau perasaan itu muncul pastilah itu bisikan setan. Kini muncul pertanyaan, apa umat lain juga punya perasaan yang sama dengan saya? Pernah saya baca berita seorang umat beragama lain protes pada suara adzan dan dirinya kemudian diserbu lalu dijatuhi hukuman. Saya tak ingin bernasib seperti dirinya.

Lagi-lagi saya tak tahu karena saya punya kawan yang sama agamanya. Saya sekolah bersama anak-anak muslim, saya menikah dengan gadis muslim, saya bertetangga dengan orang muslim, dan saya makan di restoran orang muslim. Memang saya punya teman atau pernah kenal dengan orang non-muslim, tapi jumlahnya tak lebih dari 10 jari saya. Bahkan kata non muslim itu lebih banyak saya dengar dari isi khutbah atau pengajian yang sebagian mengatakan mereka adalah kafir. Jadi jujur saya tak punya pengalaman bergaul dengan mereka karena perkenalan saya dengan mereka melalui mulut para dai atau ustadz.

Yang berbicara itu seakan-akan non-muslim memang lain. Lain keyakinannya, lain aqidahnya, lain Tuhan-nya. Kadang dengan agak meremehkan, saya mendengar mereka karena lain aqidahnya pastilah masuk neraka. Disebabkan oleh Iman yang keliru mereka, kami kategorikan sebagai kaum yang tersesat. Kata sesat itu yang kerap kali saya dengar. Kata yang selalu berujung pada malapetaka. Karena yang sesat itu biasanya dihujat, dihukum, dan boleh diperlakukan apa saja. Maka saya selalu cemas kalau sudah ada hari raya umat lain. Jika mau memberi selamat saya tak tahu ditujukan pada siapa dan saya takut karena bisa dicela karena itu bisa merusak Iman.

Iman saya dibentuk oleh keyakinan kalau kami itu benar, paling benar, dan selalu benar. Hampir setiap ceramah kami dianggap sebagai umat terbaik dibanding umat lain. Setidaknya kalau di dunia ini kami kalah dalam kemajuan peradaban, niscaya di akhirat kami akan masuk surga dan menang. Mungkin itu sebabnya kami tak perlu umat lain. Bukankah memang kami itu mayoritas dan pantas juga menuntut yang lain untuk menghormati kami, membiarkan kami, dan membolehkan kami melakukan apa saja. Mendirikan tempat ibadah sesuka kami, menjalankan kegiatan agama sebebas mungkin, bahkan membuat aturan yang sesuai dengan keyakinan kami.

Terhadap yang minoritas jelas aturannya berbeda. Saya pernah baca berita rumah ibadah disegel. Bahkan ada rumah ibadah yang tak diperkenankan untuk dibangun. Saya tak tahu bagaimana perasaan mereka kalau rumah ibadahnya dilarang dibangun. Sebab saya tak pernah mengalaminya. Karena setahu saya, kami tak pernah kesulitan membangu tempat ibadah. Di mana saja kami bisa dirikan tempat ibadah. Di pom bensin ada musholla, di terminal ada musholla, di mall ada musholla, dan pastinya di sekolah ada masjidnya. Kami punya tempat ibadah di mana-mana dan saya tak tahu apakah yang minoritas juga mendirikan tempat ibadah seperti kami? Di mana-mana dan dipermudah pendirianya?

Jadi maafkan saya tak bisa jawab pertanyaan ini karena memang saya tak pernah menjadi minoritas. Waktu saya umroh saya menjadi mayoritas. Di mana-mana saya bertemu dengan umat Islam yang mayoritas juga dari Indonesia. Saya satu pesawat dengan orang muslim, saya ke sana bersama orang muslim, dan saya pulang kembali ke negara muslim. Sekali lagi saya lupa kalau saya punya tetangga, mungkin teman atau mungkin kerabat yang beragama lain. Bahkan saya sekarang curiga bisakah dibenarkan saya berfikir seperti ini?

Mungkin karena saya baru membaca Sirah Nabi. Perjalanan dakwah nabi ketika di Mekkah. Dakwah yang disambut tak dengan antusias tapi celaan dan kutukan. Sebagai minoritas kecil yang terus dianiaya saya membayangkan betapa Rasullah SAW pernah merasakan menjadi minoritas. Dikepung oleh keyakinan kaum Quraisy yang tak suka dengan Islam, bahkan merasa Islam itu merusak segala keyakinan yang sudah lama tertanam. Tapi Rasullullah sabar, tahan diri, dan bahkan selalu bersikap baik. Walau didukung oleh kuasa Allah, tapi Rasulullah tak pernah murka dengan orang Mekkah. Hingga saat Mekkah ditaklukkan, yang ada hanya terbukanya pintu maaf, disediakanya perlindungan, dan yang utama dihormatinya yang punya keyakinan beda.

Sewaktu saya membaca tentang Andalusia hingga kekuasaan Harun al Rasyid, saya terngaga. Mereka hidup dengan umat agama lain, saling kerja sama, bahkan umat lain mendapatkan kepercayaan luar biasa, menjadi orang penting di istana. Saya melihat bagaimana umat Islam dengan umat lain hidup dalam suasana yang menghargai, menghormati, bahkan melindungi. Entah mengapa saya curiga kalau kebesaran Islam masa lalu itu di antaranya karena menghargai yang minoritas, mengajak mereka untuk bersama menuju kebaikan, dan melindungi keyakinan mereka. Tapi itu dulu dan itu hanya ada di buku.

Maafkan saya benar-benar sulit membayangkan diri saya kalau menjadi umat lain. Semoga pikiran yang menganggu ini bisa reda dengan sendirinya. Ya Allah, semoga Allah ampuni dosa saya jika memang ini fikiran yang keliru. Semoga Allah beri petunjuk agar kami semua bisa meneladani Rasulullah bersama orang-orang mulia yang mewarisi akhlak beliau. Amiiiin.(*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini