Profil SMI

Aksi Kamisan di Tugu Yogyakarta

BERDIRI dalam suasana yang buntu. Ide demokrasi yang diperjuangkan mau disalah-gunakan. Gagasan pemerintahan sipil yang demokratis lagi terancam. Juga mulai bangkitnya lagi isu-isu SARA. Dimana banyak orang dan kelompok menyuarakan kebencian, permusuhan dan fitnah. Jika diibaratkan benang maka sistem sosial ini sedang berada dalam situasi tarik-menarik. Mau bertahan dengan ide demokrasi atau diseret dalam suasana diktator.

BERDIRI dengan prakarsa banyak anak muda. Kebanyakan mahasiswa yang punya pengalaman gerakan. Bercita-cita untuk mendirikan tatanan sosial yang adil melalui jalan baru. Tak hanya mengawasi kekuasaan atau mencoba mengorganisir perlawanan melainkan menyemai ide-ide alternatif. Bagi SMI pusat pengetahuan tak lagi ada di kampus tapi ruang pertemuan dan lapangan. Itu sebabnya SMI mendirikan banyak pusat pembelajaran.

BERDIRI dengan semangat untuk belajar dan saling memahami. Belajar melalui bacaan, diskusi dan aksi. Memahami lewat upaya merakit jaringan yang punya komitmen pada perubahan. Dalam suasana seperti itu SMI berupaya untuk melakukan banyak kegiatan belajar. Biarkan budaya pengetahuan mekar untuk menandingi indoktrinisasi yang muncul di banyak lembaga pendidikan. Biarkan budaya diskusi lahir untuk menghentikan praktek propaganda yang penuh kebencian.

BERDIRI untuk menjadi jembatan bagi lahirnya ide-ide alternatif. Maka di SMI ada banyak kegiatan yang menampung kegelisahan: aksi kamisan, diskusi buku, nonton film bareng, aksi teater hingga membuat album perlawanan. Rangkuman semua kegiatan ini punya tujuan utama: libatkan anak muda sebagai aktor perubahan. Terutama kaum mahasiswa yang punya legenda sebagai aktor perubahan sosial. Di sana SMI MENGAJAK lagi anak muda untuk percaya dengan cita-cita utopisnya.

BERDIRI sebagai peneguh cita-cita perubahan. Menolak kekuasaan otoriter yang bisa muncul dari mana saja. Menuntut penuntasan atas kasus-kasus HAM. Mendorong lahirnya pendidikan yang berwatak progresif. Melibatkan diri dalam upaya pembelaan pada kasus-kasus yang menimpa kaum marginal. Menghidupkan lagi budaya menulis, membaca dan diskusi. Serta meletakkan kreativitas dan imaginasi sebagai mesin penggerak yang utama.

BERDIRI untuk wadah pikiran-pikiran kritis. Yang tak percaya pada dogma yang hidup melalui praktek politik yang otoriter. Yang tak lagi yakin akan jalan perubahan jika itu harus mengorbankan prinsip-prinsip dasar HAM. Yang tak meyakini pendidikan jika itu tak menghormati keragaman dan perbedaan. Yang tak lagi percaya kalau kemakmuran bisa dibangun diatas sistem ekonomi neo liberal. Kami selalu percaya kedaulatan itu harus berdiri diatas sikap merdeka dan memihak pada yang tak berdaya.

KINI kami memiliki banyak karya. Pendidikan anak usia Dini yang bernama Rumah Pengetahuan Amartya. Tak hanya sekolah tapi juga Web Sekolah Bermain Amartya yang menyajikan serangkaian topik-topik kritis mengenai pendidikan anak. Disusul dengan praktek-praktek pembelajaran yang berpusat pada pembangunan kesadaran kritis pada anak muda. Kami percaya perubahan itu bukan sekedar meruntuhkan puing kekuasaan bandit tapi juga meneguhkan institusi yang bisa mengabadikan praktek kemenangan-kemenangan sederhana.

Alamat SMI

YouTube SMI

Podcast SMI

Twitter SMI