Suluh Pergerakan

Sastra

Kaja Yang Rumit Dieja

“pooooop…pooooop….poooop….” KM. KAMBUNA sudah tiga kali meniupkan terompetnya. Terdengar pengumuman, “abek-abek, siap muka-belakang, tiga puluh menit lagi kapal akan diberangkatkan. diharapkan agar para pengantar dan pejemput untuk segera turun dari kapal.” Bunyi peringatan dari cerobong kapal siang itu berlayar dengan rute: Pantoloan-Ujung Pandang-Balikpapan-Tanjung Perak. Di kapal keributan jamak terjadi, riuhnya melebihi pasar, suasananya campur aduk. …

Kaja Yang Rumit Dieja Selengkapnya »

Perahu Rohingya di Seunuddon

Teruntuk Aceh Kau telah membuktikan Ketidakmampuan ombak Menenggelamkan nurani Sekalipun berlipat tsunami tirani Atau pandemi Kemanusiaanmu tetap tegar sekuat karang Kau mengulurkan tangan sepanjang pantai Luas membentang Memeluk tanpa batas Saat air mata Rohingya sudah bercampur samudera biru Hatimu bagai bahtera Nuh Jiwamu berenang lincah seperti paus Yang menelan Yunus Kesucian kemanusiaan kau selematkan Kau …

Perahu Rohingya di Seunuddon Selengkapnya »

Floyd

Di depan swalayanNafas dijepit lututRaungan menuntutBicara diborgol eratKarena kulit legam Di depan KamasanUmpatan adalah candaanLucu menyakitkanKomedi putar sejarahKetawa yang menjajah Hitam dan keritingAdalah gelapPutih dan lurusAdalah suciDiukur dalam gelas kaca retak Floyd di seberang lautan begitu tampakPapua di pelupuk mata kok berjarak

Pengobatan Yang Membingungkan

Rintihan demi rintihan, tangisan demi tangisan, umpatan demi umpatan sudah tak terhitung lagi. Hampir tiap tengah malam, siang hari, sore hari, datang berkunjung secara tak sopan. Gumpalan daging di dalam perut sudah semakin membesar. Menjalar ke organ-organ terdekat. Sakitnya minta ampun. Sudah delapan tahun lamanya tertanam. Kadi sangat sedih melihat Ibunya merengek kesakitan. Terkadang, dua …

Pengobatan Yang Membingungkan Selengkapnya »

Hari Raya Isolasi

Lebaran telah tiba Kemenangan buat kita Yang berada dalam kerumunan sepi Merayakannya dengan kembang api cinta yang meletus di hati Menyalakan ayat suci bagai lilin-lilin terangi sunyi Kemudian beduk dan takbir berkonser maut Petasan-petasan rindu sudah tersulut Sungguh bulan Ramadhan ampunannya sejumput Laksana karnaval obor bercahaya Berdoalah dengan suara diam namun terang Dia Maha Mendengar …

Hari Raya Isolasi Selengkapnya »

Alquds

Kala peduli telah tuli Mengambang dalam kenyamanan Tak gusar dan tak mau tahu Pada Alquds yang dilipat pilu Celaka yang sejadi-jadinya Ditimpa oleh bencana dunia Digoreng dalam neraka Meski berkali-kali puasa Akan pupus disantap murka Sahur dan buka mereka Kudapan luka Alquds melambai dari Palestina Bukan meminta tolong Tapi mencakar-cakar jiwa Yang pandai melolong Dalam …

Alquds Selengkapnya »

Wabah, Kuasa, dan Ancaman Kematian

Membaca Kisah Surati dan Plikemboh pada Bagian Ketujuh Buku “Anak Semua Bangsa” Karya Pramoedya Ananta Toer *** Oleh: Yoshi Fajar Kresno Murti[1] Dengan cara apalagi kita membebaskan diri sekaligus melawan untuk tetap melata ketika setiap tubuh di setiap jengkal planet ini diancam oleh virus kematian? Apa yang tersisa dari cita-cita (ke)hidup(an) yang berdaulat ketika ketakutan …

Wabah, Kuasa, dan Ancaman Kematian Selengkapnya »

Monolog: JAREK

            Jangan nyalakan lampu terlalu terang!             Karena keremangan akan membuka segala kemungkinan. Dan aku merasa nyaman dalam hening kegelapan. Bukankah semua  berawal dari kegelapan? Bukankah hal-hal baik yang mampu mengubah dunia berawal dari meja kegelapan? Kita berada dalam kegelapan. Jaman gulita yang dipenuhi binatang-binatang liar yang siap menerkam siapapun. Jaman gulita yang dihuni rencana-rencana …

Monolog: JAREK Selengkapnya »