Suluh Pergerakan

Rempeyek dan Film Wiji Thukul

 

Melki AS – [Pegiat Social Movement Institute]

***

Mungkin sambil memamah rempeyek, hal itu lebih menyenangkan saat nonton film bioskop. Kriuk-kriuk murah meriah. Pakai bonus kacang pula. Syukur-syukur kalau beruntung dapat ikan teri seekor dua sebagai pengasinnya. Makan rempeyek semurah dan semeriah saat membaca puisi Wiji Thukul. Terutama saat ketika ‘hanya ada satu kata, lawan !’. Kalimat ini sontak menjadi santer ke telingga masyarakat terutama mahasiswa dan kaum gerakan yang menjadikannya jimat saat menuntut pemerintah. Gelombang massa kemudian berduyun duyun dengan teriakan lantang, Lawan. Kelompok yang mendaku Kiri dan mengaku ‘Paling Kiri’ menjadikan kalimat dalam puisi ini sebagai motor yang siap digeber-geber berkeliling daerah sama seperti saat kampanye parpol atau supporter bola. Tapi kini Wiji sudah tak tahu dimana rimbanya. Ada yang bilang kalau ia telah di bunuh oleh kekuasaan. Sosok kurus keriting itu memang tidak pernah tampak dimanapun dibelahan dunia ini. Tetapi satu hal yang tetap membuatnya hidup adalah karyanya; puisi. Lalu kemudian datanglah seorang anak muda yang tertarik untuk membuat sisi kehidupan Wiji yang jadi pelarian sebelum dibunuh untuk di sinema kan. Ya seperti sinema-sinema kekinian. Tayangnya pun di bioskop keren XXI, dan serentak di putar di seluruh Indonesia.

Opps…benarkah Wiji kemudian hadir kembali dihadapan kita? Ah, pasti minta untuk dibunuh kedua kalinya. Setidaknya begitu kata beberapa bagian orang Kiri. Selain itu, kehadiran Wiji kali ini dalam layar lebar pastilah ekploitasi dari diri pribadi sang penyair rakyat itu sendiri. Ini adalah cara kerja kaum kapitalis. Ihhh…jahat sekali kapitalis ini. Masa sekaliber Wiji pun di kapitalisasikan. Ini pasti pesanan pemerintah penguasa untuk merendahkan sang penyair aktivis. Lihatlah pemutarannya di XXI adalah perpanjangan tangan kapitalis. Seharusnya film Wiji ini diputar di gang-gang kumuh, dilorong-lorong gelap, di sudut-sudut kampus, di komunitas-komunitas atawa warung kopi dan lain-lain. Karena Wiji kan adalah penyair rakyat, penyair miskin, penyair yang tidak sekolah. Jadi, ia adalah milik rakyat miskin, milik rakyat yang termarjinalkan, milik rakyat yang kumuh, milik rakyat yang tergusur, milik mahasiswa cum aktivis kiri atau yang mengaku-ngaku kiri tetapi kekanak-kanakan.

Kalau aku sih malas nonton film indon seperti ini, kata salah satu pengomen status medsos. Film indon ini jarang ada yang bagus, bahkan tidak ada. Makanya aku lebih suka film luar. Iya sih, menontn film ini adalah menghina penyair rakyat, kata yang lainnya memberi komentar balasan. Aku sih mending tidur dirumah saja, Jek, sambil baca puisinya Wiji daripada nonton filmnya yang sudah benar-benar kapitalistik. Ini adalah film bagi kaum parlente dan parlonte saja. Dirimu masuk di bahagian yang mana Ahmad Rifai; parlente atau parlonte?

Ah apa benar penayangan film Wiji Thukul yang berjudul Istirahatlah Kata Kata di bioskop ini adalah bentuk merendahkan dan melemahkan perjuangan seorang penyair. Apakah benar yang menonton film ini adalah kaum parlente dan parlonte saja. Lente dan Lonte lho. Maksudnya mereka yang menonton film ini hanya kaum borjuis Lente saja dan mereka yang mengekploitasi karya penyair dan kehidupannya adalah Lonte. Dasar lonte. Sekali lonte tetaplah lonte. Haha… kasihan sekali dengan mereka yang ada di pasar kembang (sarkem) di Jogja, digeret-geret pada masalah yang mereka sendiri tidak tahu apa masalahnya. Mungkin om Djoko Supriyanto bisa mengecek ke sarkem, jangan-jangan ada lonte yang frustasi karena dikait-kaitkan oleh ‘sastrawan’ YD dan SS serta kawannya yang mahasiswa kampus negeri yang otaknya sendiri secara ukuran tak lebih besar dari bola pelernya itu. Oh ya, sastrawan SS ini kalau tidak salah adalah yang pernah terkasus dengan pasal penghinaan di medsos itu lho. Dia dulu memaki orang dengan sebutan yang begitu kasar dan membawa-bawa nama binatang. Kalau tidak salah ‘Anjing’. Itu kata yang ditulisnya di medsosnya. Bukan orangnya lho ya. Kalau seandainya kalian menganggap kebalikannya, maka resiko tidak ditanggung BPJS ya. Tapi ya sudahlah, itu masa lalu saja. Mudah-mudahan saja beliyo ini bisa bertobat dari prilaku buruknya yang seburuk tampangnya itu. Ohh….tetapi ketiga sekawanan ini mengakui paling kiri lho. Di Indonesia ini tidak ada yang lebih kiri dari mereka bertiga ini. Jangan-jangan mereka ini lebih progresif dari Marxis itu sendiri. Atau mungkin sederajat dan sepemikiranlah. Kalau seperti itu, aji Gafar Lakatupa sebaiknya mulai bersiap-siap pindah haluan ke mahzab yang baru. Dan semua buku Das Kapital yang tiga jilid itu, yang tebalnya saja bisa membunuh babi hutan kalau ketimpuk, harap segera dibuang, bila perlu dibakar. Atau kalau mau, boleh juga disumbangkan ke mbak Lelie Idamayanti Siregar sebagai bahan bacaaan anaknya Momo dan Mora. Hehe…

Apalagi dalam film tersebut ada Melanie Subondo yang main. Melanie kan kelompoknya Jokowi. Itu kata SS di statusnya yang lain. Mungkin Syamsul Arif Galib bisa memberi pencerahan kepada orang ini agar bisa move on dari masalah pilpres kemarin. Tolong dibilangin kalau Jokowi dan Prabowo sudah naik kuda bersama-sama. Dan jangan lagi pula dikait-kaitkan dengan film Istirahatlah Kata Kata. Terlalu jauh dan tidak punya simpangan hal itu bisa berkelindan. Ini hanya soal film tayang di bioskop. Kalau memang tidak punya duit untuk membeli secarik tiket, maka tunggu saja filmnya ini di bajak dan kemudian di edarkan di internet secara gratis. Nanti pasti bisa di download. Kalau mau cepat cari jaringan wifi yang besar. Jangan pula hanya mengandalkan kuota hape. Karena sampai habis pun kuotanya, film tidak akan tersedot. Jadi tolong jelaskan kepada SS bahwa kalau persoalnnya adalah soal tiketing, jangan bawa permasalahannya ke penolakan terhadap esesnsinya yang lebih besar untuk mengenalkan kembali sosok penyair pejuang tersebut kepada masyarakat. Oh ya, di bioskop pun saya sempat bertemu beberapa aktivis buruh, aktivis perempuan, aktivis yang lainnya juga yang antusias menonton film tentang Wiji Thukul ini. Mereka setahuku sama miskinnya dengan kita Rif. Tetapi mereka mau berusaha mencari dana untuk hanya sekedar mengobati kerinduan dengan tontonan dan tuntunan yang selama ini turut mengentalkan keyakinann mereka terhadap perjuangan. Katanya film ini bagus dibanding lainnya. Dan sudah seharusnya film seperti ini masuk dalam area-area kapitalis agar terjadi upaya untuk membangun gerakan rakyat. Karena bagaimana mau membangun gerakan rakyat kalau rakyat sendiri tidak tahu siapa yang bisa dijadikan referensinya. Dan belajar dari kekinian serta modernitas, bahkan ISIS pun memanfaatkan saluran modern seperti ini dan lain-lain untuk merekrut anggota, memberikan pemahaman mereka serta menebarkan ancaman dan ketakutan. Kawan Asman Abdullah lebih tahu hal itu. Karena dia dahulu pernah meneliti tentang ISIS, sering silaturahmi ke Nusakambangan dan tahu bagaimana cara kerja mereka. Lalu mengapa kita tidak bersepakat bahwa sumber perjuangan juga bisa kita kenalkan dengan sedikit lebih modern. Ini persoalan pendahuluannya saja. Lalu kemudian kita bisa bawa film itu keluar kemana-mana pasca diputar di bioskop. Jadi jangan pula dipermasalahkan hanya karena ada artis yang dulu pernah jadi jurkam lalu ia main film dan kita haramkan pula filmnya serta musuhi penontonnya. Apalagi sampai dikatakan musuh rakyat dan musuh gerakan hanya karena menonton film Istirahatlah Kata Kata. Istirahatlah Kata Kata setidaknya menjadi oase bagi sebagian orang yang haus akan film gerakan atau biografi pejuang yang di sinemakan.

Ah..sudah ngelantur kemana-mana tulisan ini. Tapi gak apa-apa karena ini bukan essai koran atau jurnal. Tulisan ini memang dibuat agar tidak sedap dibaca. Tidak kemudian semuanya harus sedap. Karena hanya Mie saja yang bisa menyedapkan selera kita lewat bentuk yang lebih minimalis. Sama halnya dengan hoax. Tidak juga semuanya kemudian harus bersih. Bahkan busuk pun masih memberi manfaat ketika ia konstruktif. Tetapi kalau isinya hanya hinaan dan makian saja, maka seperti SS itulah akhirnya. Ketakutannya akan ketidakadaan pendukung pembenarannya, makanya ia mengemis-ngemis ke kelompok mahasiswa untuk agar bisa terus didukung dengan menjualkan diri nya yang penyair dan sastrawan. Wah…lagi-lagi sastrawan terpercik air yang tidak ditampuknya. Padahal ini ulah satu dua orang saja yang kebiasaannya hanya memanfaatkan hasil karya, kemudian disebut sastrawan. Untuk itu, kiranyalah bagi para sastrawan yang lainnya, yang saya tahu tidak seperti yang disebutkan disini, saya haturkan maaf yang sebesar-besarnya. Karena saya sendiripun berusaha untuk juga bisa menjadi sastrawan sekaliber Pramoedya, Ahamd Tohari, Hamka atau yang lainnya. Bukan sastrawan seperti SS. Atau seterunya YD yang baru saja mengejar asa. Atau bukan pula seperti pengagumnya yang masih kuliah di salah satu kampus negeri di Jogja yang tadi saya bilang tentang ukuran besaran otaknya. Itu lho, teman sekontrakkannya kawan kita Alan Akim Kumolo.

Kiranya sudah dulu lah ya. Untuk alasan lainnya saya tidak perlu jelaskan lagi. Sudah banyak tanggapan dari orang lain yang mengklarifikasi tuduhan tentang kapitalisasi, ekpliotasi, dan lain-lainnya tentang film Wiji Thukul Istirahatlah Kata Kata. Masalah apakah tuduhan itu serius atau tidak, mungkin semua punya alasan. Atau karena gagal paham juga bisa. Anggap saja ini seperti Khong Guan yang ternyata berisi rempeyek. Kurang lebih seperti itulah. Kiri Jangek; merasa diri kiri, mental kerupuk jangek. Orang seperti ini biasanya hanya kritis dengan berselancar di medsos saja. Bahkan kalau dia melihat ada foto kita nampang di fesbuk bersama dengan petani kendeng, bagi mereka itu hanyalah poto sensasi saja. Ya, kira-kira seperti itulah watak kemlinthi mereka yang kiri jangek ini. tapi ya ndak apa-apa. Kita ini apalah bagi mereka itu. Kita hanya punya segelintir saja pemahaman terhadap semua hal didunia ini dibanding mereka. Maka itu, biar tidak pusing, yang belum nonton film ini seperti Nona Luna Febriani, Fahri Al-firdhaus, Zani Achmad, kaka Lutsfi Siswanto, dek Aulia Adiba Zaimar, marilah kita tonton sambil mengunyah rempeyek Khong Guan itu tadi. Dijamin selain krenyes-krenyes, pasti membuat orang iri. Iri lho, bukan kiri. Sudah dulu ya cuap-cuapnya. Persiapan minggu malam dulu.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.