Suluh Pergerakan

Sastra

LAKI LAKI YANG BERMIMPI JADI PRESIDEN

*** Ada seorang pria yang merasa yakin kalau dirinya pantas jadi Presiden. Pria yang sudah berkeluarga itu tiba-tiba meyakini Presiden adalah jabatan yang pantas disandangnya. Setelah gagal nyalon Dewan, gagal buka usaha serta ketipu biro perjalanan umroh. Mungkin nasibnya bisa beruntung kalau mengikuti mimpi. Berulang-ulang istrinya diyakinkan kalau dirinya mendapat semacam wangsit untuk memimpin negeri …

LAKI LAKI YANG BERMIMPI JADI PRESIDEN Selengkapnya »

MUNAFIK

1. Aku curiga badanku tidak seperti yang kuinginkan. Kakiku tiba-tiba mudah menendang apa saja. Tanganku terkepal memukuli apa saja. Bahkan mulutku bicara tanpa aku pahami maksudnya. Semua anggota tubuhku seperti bersepakat untuk berontak. Hingga hari ini aku curiga jangan-jangan ini karena salah makan. Mungkin aku salah memesan menu. Malah aku curiga ada yang sengaja meracuni …

MUNAFIK Selengkapnya »

PUISI; Rindu Berlalu – Tanah Kita Bukan Kita – Tirai Semu

Oleh ; Dwi Windarti – [Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga]   *** Rindu Berlalu   Nusantara tak lagi berseri riang Yang tersenyum merekah kala fajar Mentari terbenam pun tak akan gelap Bumi pertiwi kini rindu akan senyum yang jujur Air yang mengalir dengan bening Rundingan halus merangkul pilu Gentar…! Kini ego berkerah Berdasi rapi, hukum di …

PUISI; Rindu Berlalu – Tanah Kita Bukan Kita – Tirai Semu Selengkapnya »

Babi! | Fahrenheit211

Anjing dan Babi: Sebuah Anekdot dan Mungkin Saja Fabel

Nalar Naluri (Pegiat Social Movement Institute)  *** Diterik siang yang panjang, anjing dan babi memimpin sebuah demonstrasi di hari buruh. Masing-masing ambil bagian untuk sebuah orasi. Si anjing yang sekarang ini sedang melatih raungannya agar kian galak di depan umum adalah angkatan junior dari akademi aktivis. Sedangkan babi, kini telah memiliki rumah gedongan dan sederet mobil …

Anjing dan Babi: Sebuah Anekdot dan Mungkin Saja Fabel Selengkapnya »

Payung Hitam | Lensa Fotokita

Mulut Puisi di Payung Hitam

Nalar Naluri (Pegiat Social Movement Institute)  *** Hati yang berucap pada diam di payung hitam Itulah hati puisi Duka yang berlembar-lembar terkapar Jika pelan liris bicaranya Itulah sajak amuk dari syair maut Yang dulu dihilangkan paksa Itulah kata yang berjejer Karena gusar di atas sajak membakar Pelurunya adalah ingatan Membidik lupa di setiap zaman (*)

KIBAS

  Nalar Naluri (Pegiat Social Movement Institute)  *** Kibas arang merah mengepul asap Dalam panggangan sate meronta lapar Mengibas peluh bara yang lelah Kibassan Cak gemulai menari Melihat rongrongan nasib dikebiri Yang tak terkibas keringat bercucur Yang tak terkibas hati perih diselimuti asap Yang terlibas dada Cak yang megap-megap Gerobak Cak sepi Melengking di runcing lidi …

KIBAS Selengkapnya »

Bartleby Si Juru Tulis | Nalar Naluri

Manusia ‘Bartleby’ dan Alienasi Bertubi

Oleh; Nalar Naluri (Pegiat Social Movement Institute)   “Entah dunia itu terbuat dari materi, roh, atau keju hijau bukanlah persoalan yang bikin Marx susah tidur” — Terry Eagleton “Urusan Marx bukan apakah semesta raya tersusun atas materi atau roh, tetapi lebih pada hakikat terdasar dari realitas yang oleh para antropolog disebut sebagai ‘masyarakat manusia’” — …

Manusia ‘Bartleby’ dan Alienasi Bertubi Selengkapnya »

Sukarno | Sripoku

Kesaksian Pancasila

Nalar Naluri (Pegiat Social Movement Institute)  *** Satu, Pancasila yang bertengger di dinding beku, Dipaku kebanggaan semu, Seperti memamerkan kepala rusa, Berburu ketuhanan yang mihak esa.   Dua, Pancasila yang nempel di baju loreng, topi baja, dan khilafah, Adalah kemanusiaan yang bedil dan biadab.   Tiga, Pancasila yang terbang mengepakan sayapnya, Pada persatuan oligarki, rente, dan …

Kesaksian Pancasila Selengkapnya »

Aksi Massa | Reuters

Bunga Mei; Refleksi 20 Tahun Reformasi 98

  Nalar Naluri – [Pegiat Social Movement Institute]  *** Kupetik sekuntum Mei Pada tangkainya yang telah retas Daun-daunya gugur berkhianat Dahulu ia akar membakar Mahasiswa kuncup bunga-bunga mekar Cendekia berhati makar Kini, batang kembang itu berduri racun Merambat di gedung parlemen Tumbuh menjalar Mencerca nalar Senyumnya yang terhampar Di kebun Mei Adalah senyum pak tua, mati …

Bunga Mei; Refleksi 20 Tahun Reformasi 98 Selengkapnya »

Membedah Konservatisme Yukio Mishima

  Oleh: ESA – [Pegiat Social Movement Institute]   “…living is merely the chaos of existence…”  Yukio Mishima *** Tahun 1925 adalah saat kelahiran seorang penulis yang kemudian akan dianggap menjadi salah satu yang paling terkenal di era modern. Yukio Mishima lahir dari keluarga pegawai negeri berkecukupan. Semenjak kecil dia dirawat oleh kakek dan neneknya yang berasal …

Membedah Konservatisme Yukio Mishima Selengkapnya »