Aksi Kamisan Jogja | Social Movement Institute

Waktunya Umat Islam memberi dan Meminta Maaf

Ingatlah saat umat ini menjadi mayoritas. Hampir semua peringatan Islam dirayakan. Baik itu Hijrah Rasulullah hingga diangkatnya Rasulullah ke langit. Tak hanya itu, pendidikan Islam berdiri dengan mudah, bisa memberi materi apa saja, dan dapat beriklan dengan cara apapun. Jangan tanya masjid karena itulah tempat ibadah yang paling mudah ditemukan di negeri ini. Di mana saja ada tempat untuk sholat. Baik itu restoran hingga pom bensin.

Ingatlah sewaktu umat ini menjadi mayoritas. Pengajian bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Waktunya bisa seminggu sekali bahkan tiap hari. Berbagai macam ustadz dapat tampil tanpa hambatan. Mulai materi yang mengingatkan hati, hingga dajjal yang terbit di akhir zaman. Dimudahkan untuk tampil di mana-mana dan diperbolehkan untuk bawa ide apa saja. Bisa gagasan tentang perlunya syariah Islam diterapkan, hingga mengenalkan gaya hidup Islami. Semua gagasan itu diterima dengan terbuka dan jika ada yang mempertanyakan itu sedikit pengaruhnya.

Lihatlah penampilan umat Islam hari-hari ini. Sudah banyak bahkan makin dominan perempuan mengenakan jilbab, bahkan cadar bukan hal tabu lagi. Prianya juga mulai berparas seperti pada masa Nabi, celana cingkrang, berjenggot dengan kening agak hitam sebagai tanda banyaknya sujud. Ucapan salam sudah wajar bahkan menyebut orang tua dengan sapaan ummi dan abbi. Demikian pula dalam soal mengkonsumsi, kita juga makin Islami: habbatus saudah, madu, hingga kurma telah jadi menu populer. Pengobatan ala Nabi kini mulai banyak digemari, terutama metode bekam.

Bukan saja penampilan, tapi dalam soal menikmati makanan dan liburan. Kita akan banyak bertemu dengan konsep halal. Apa saja halal: makanan utamanya dan parfum juga. Bahkan muncul gagasan wisata halal. Mula-mula ada hotel syariah. Menyusul kemudian kampung syariah, salon syariah, kost syariah, bahkan ajaibnya ada yang namanya kulkas halal. Mencantumkan syariah membuat semua produk jadi lebih aman untuk dikonsumsi dan dinikmati. Di awal mula muncul apa yang dinamai dengan bank syariah. Kita sebagai muslim bangga pasti memakai label syariah untuk hajat publik kita.

Masih kurang contoh? Kita juga diberikan kebebasan untuk syiar dengan cara apa saja. Adzan digemakan di mana-mana dalam volume yang dibebaskan begitu saja. Sekali ada orang yang menganggap itu berisik, maka pengadilan dan massa bisa menghukumnya. Bahkan tak hanya itu, seorang calon gurbenur dianggap meremehkan ayat bisa kita demo berulang kali dan bahkan dimasukkan penjara oleh negara. Orang itu bahkan mengganti namanya sekarang ini. Betul-betul istimewa posisi umat  Islam di negeri ini.

Ingin lebih banyak tahu nikmat sebagai umat Islam? Dimudahkan bahkan makin banyak yang orang bisa bertandang ke kota suci Mekkah. Baik itu melalui ibadah haji maupun umroh. Jika tak percaya datanglah ke bandara, akan tampak orang antri untuk berangkat ke tanah suci. Mereka bisa lebih dari sekali berangkat. Berjejer layanan umroh dengan paket harga dan paket lokasi yang berbeda. Umroh plus Turki, Umroh plus Mesir, hingga Umroh via Aqsa. Hampir semua biro bisa beriklan dengan cara apapun. Kita semua menganggap itu semua biasa, padahal tak semua negara seperti kita.

Seluruh yang umat Islam dapatkan ini memang tidak seketika. Pada masa Orde Baru hanya kebebasan beribadah diberikan, tapi dipasung kebebasan berkumpulnya. Kini kebebasan diberikan sepenuhnya baik dalam beribadah maupun berorganisasi. Pada level organisasi ada banyak yang sudah berdiri: partai Islam hingga Ormas Islam yang punya cita-cita apa saja. Menegakkan Syariah Islam dan sebelum dibubarkan ide khilafah boleh dikampanyekan di mana saja. Setidaknya jaminan atas sistem demokrasi menguntungkan umat Islam. Demokrasi membuat cita-cita apa saja bisa dikatakan dan organisasi apapun dapat diijinkan. Demokrasi -jika elite umat Islam mau jujur- menguntungkan sekali bagi kelangsungan dakwah Islam.

Tak hanya demokrasi, bahkan sistem kapitalisme telah melontarkan umat Islam dalam kedudukan sebagai kelas menengah. Kategori kelas yang memiliki kecukupan material hingga dapat mengakses apa saja untuk keperluan skunder dan tersier mereka. Jika tak percaya, cek pengeluaran belanja untuk produk-produk muslim yang omzetnya besar. Begitu pula perolehan film religi atau sinetron religi yang penontonya terus melonjak. Itu belum terhitung media Islami dalam bentuk apa saja yang kini berlaga. Singkatnya, keberagamaan kita terus berhias dengan nilai-nilai religi yang dibentuk dalam komoditi yang akrab sekaligus menghibur.

Kini, apa yang membuat umat Islam kecewa? Bukankah semua yang diperoleh sekarang ini merupakan anugerah yang luar biasa? Tidakkah yang kini didapatkan umat Islam telah membawa kemajuan yang berarti? Bukankah karena situasi sekarang in umat Islam memiliki segalanya? Posisi ekonomi sebagai kelas menegah, posisi sebagai elite politik, bahkan kedudukan sebagai seorang yang berpengaruh? Bukankah ustadz hingga ulama sekarang berada di piramida sosial teratas masyarakat, petuahnya diperhatikan dan saranya dipertimbangkan?

Tapi tengoklah ceramah-ceramah keagamaan yang disampaikan di mimbar-mimbar. Ternyata ada keresahan yang bergelora tentang identitas umat Islam. Rasa sebagai minoritas telah jadi penyakit yang bahaya: merasa terus ditindas, merasa dicurangi, hingga merasa kalah. Ditindas kita oleh bayang kekuatan raksasa yang namanya bisa apa saja: komunisme, zionisme, hingga liberalisme. Seakan hidup kita sekarang dalam lingkaran yang gawat, terutama jika dikaitkan dengan politik, ekonomi, hingga kebudayaan. Kita yang jadi mayoritas dalam fakta obyektifnya tetapi menjadi tertindas dalam kondisi subyektifnya.

Rasanya, kita seperti diancam di mana-mana: pendidikan liberal dan sekuler yang entah mengapa masih terus dianggap berpengaruh, komunisme yang sudah diberantas dan dibunuhi tetap jadi hantu yang bisa bangkit kapan saja, hingga China yang memang populasinyaa terbesar di dunia dianggap akan kembali menjajah kita sebagaimana dulu Belanda jajah kita. Bahkan ancaman itu bisa muncul dari dalam: kemalasan beribadah hingga tidak patuhnya masyarakat pada petuah agama. Semua itu membuat kita merasa belum ‘menerima, memaklumi, bahkan mensyukuri’ hidup di negara ini.

Langka sekali ada khutbah agama yang memberi tahu betapa kayanya bangsa ini dengan budaya, keyakinan, dan alam. Seolah itu semua bukan bentuk kenikmatan dan seakan itu semua tidak patut untuk disebut berulang-ulang. Heran sekali, kita pun jarang punya pandangan positif pada para tokoh kebangsaan yang telah menyatukan negeri yang secara luas jauh sekali dibanding dengan salah satu negeri di Timur Tengah sekalipun. Soekarno, Hatta, Haji Agus Salim, pak Natsir, hingga Tan Malaka yang sebenarnya seorang muslim jarang sekali dikutip pernyataanya dalam khutbah agama.

Bahkan bukan hanya itu, kita juga merasa belum ‘sempurna’ dalam beragama sehingga terus menerus merasa bahwa banyak praktek sosial di masyarakat yang dianggap tak sesuai. Mulai dari tradisi yang dianggap murtad, hingga kebiasaan hidup yang kerapkali dinamai sebagai kafir. Opini atas itu semua ditebar sehingga tak jarang memicu konflik bahkan menyulut kekerasan. Tuduhan sesat yang ditebar bersamaan dengan tuduhan mengotori aqidah yang memicu polarisasi yang kian berbahaya. Agama dipahami sebagai hukuman dan azab bagi mereka yang dianggap tidak ‘taat’.

Belum lagi, kita juga merasa jadi umat yang dianggap keliru dalam hal apa saja: memilih sistem politik demokrasi hingga memeluk kapitalisme. Seakan itu semua bukan dianggap sebagai keniscayaan sejarah, tapi jalan menuju malapetaka yang bahaya. Hingga, kita pun ikut meragukan ideologi kebangsaan yang sudah disepakati oleh ulama tempo dulu serta pendiri Republik yang banyak di antaranya juga muslim. Rasanya kita beragama menjadi kurang bersyukur dengan kenyataan yang dialami dan selalu kecewa dengan anugerah kemajuan yang kita terima hari ini.

Betul memang, ada persoalan yang belum usai: keadilan yang masih jadi harapan, kesenjangan sosial yang terus menganga, hingga kemiskinan yang masih jadi persoalan. Tapi semua soal ini secara terus-menerus telah dilakukan upaya untuk memecahkannya secara progresif: zakat mulai ditata, penggusuran terus dilawan, hingga penolakan atas kebijakan yang liberal. Sudah tentu perjuangan itu masih jauh dari harapan idealnya, tapi itu tidak membuat kita kemudian merasa ‘sangsi, curiga, bahkan tak percaya’ dengan kemajuan saat ini.

Maka, mumpung memasuki bulan Syawal waktunya umat Islam untuk bisa memberi maaf pada apa yang belum mampu kita capai, tapi juga wajib bersyukur dengan apa yang sudah kita nikmati. Hanya melalui semangat seperti itulah Islam dirasakan sebagai rahmat bukan hanya oleh mereka yang memeluk Islam, tapi juga umat lain yang menjadi penduduk negeri ini. Telah banyak sumbangan umat Islam untuk bangsa ini, maka tugas kita di samping menjaga, menghormati, dan merawat itu semua juga memberi sumbangan yang sama maknanya. Salah satunya marilah kita minta maaf pada umat Islam dan umat lainya yang pasti pernah kita sakiti, hina, kecewakan, dan ragukan keyakinannya.

Mintalah maaf pada mereka yang tanpa sengaja atau yang secara sengaja kita aniaya. Itulah fitrah sesungguhnya dari umat Islam: memaafkan dan mudah meminta maaf.

Mohon Maaf Lahir & Batin -Suluh Pergerakan

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini