Ilustrasi The Good Earth | YouTube

The Good Earth, Mengamati Kelas Petani China Lewat Pearl S buck

Nalar Naluri (Pegiat Social Movement Institute)

 ***

Ujar Wang Lung; “Sebuah keluarga akan habis riwayatnya—kalau mereka sudah mulai menjual tanah-tanahya, kita berasal dari tanah dan kita mesti kembali lagi ke situ—dan kalau kalian masih mau mempertahankan tanah itu, kalian bisa hidup terus—tak ada orang yang bisa merampas tanah begitu saja”. (The Good Earth, Bab 34, hlm, 506)

The Good Earth (Bumi yang subur), karya Pearl S buck, dengan penuh kelembutan mampu mendeskripsikan kehidupan petani China yang di dalamnya ada dinamika kelas justru terjadi pada masa-masa transisi datangnya revolusi besar di negeri itu. Dirinya menjadi saksi langsung dengan waktu pengamatan puluhan tahun, hampir separuh hidupnya—tinggal di desa-desa kecil dan mengamati bagaimana pola patriarki di China berjalan khususnya dalam kehidupan para tuan tanah dan para petaninya.

Melalui karyanya ini, pada tahun 1932 dirinya mendapatkan hadiah pulitzer dan pada tahun 1938 dia menjadi wanita Amerika pertama yang mendapatkan Hadiah Nobel Kesusastraan. Pearl S Buck adalah seorang perempuan yang penting untuk dikenang.

Buku ini masih relevan untuk dibaca tidak hanya bagi penikmat sastra, tapi juga sangat membantu asupan literasi pada mereka yang peduli terhadap persoalan agraria, keadilan sosial, dan juga bagi para aktivis perempuan.

Kisah cerita dalam “The Good Earth” berlatar kehidupan Wang Lung sebagai petani China sederhana yang kemudian menjadi petani tuan tanah berkuasa, dia berasal dari desa yang diberi oleh dewata lahan pertanian yang luas dan subur. Di samping keberkahan itu, dewata juga mengirimkan beberapa bencana; banjir bandang, perompak, dan wabah—namun Wang Lung berhasil melalui itu semua dengan penuh lika-liku perjalanan, dari yang menggetarkan kepahitan hidup, memperoleh istri yang setia lagi pembawa berkah, memiliki syahwat yang terus menggelora—yang dicurahkan kepada selir-selirnya, hingga diberkahi anak-anak yang kian banyak tingkah dan pola (yang membuat hati Wang Lung tak pernah damai).

Kepada O Lan (istri pertama dan sah dari Wang Lung yang menghasilkan anak) kita belajar banyak. Kegetiran hidup perempuan sebagai budak ternyata masih belum cukup bagi dirinya (yang sebelumnya sebagai budak di rumah Keluarga Hwang) meski sampai saat dimana ia telah menjadi seorang istri dari tuan tanah sekalipun. Sebab masih ada yang lebih menyakitkan dari itu, ialah luka yang mengoreng di tubuhnya yang terus ia bawa hingga akhir hayat; “Martabat keibuanya direngut oleh ketamakan laki-laki, yang dimabuk harta, dan bergelimang kuasa”. Pengorbanan dan kesetian baik pada sebuah rumah tangga maupun dalam menggarap tanah pertanian tak lah cukup membuatnya mendapat balasan yang setimpal. Ongkos itu semua dibayar dengan kelakuan Wang Lung yang tega bermain serong dengan seorang gundik bernama Lotus, berparas cantik, berasal dari sebuah kedai teh mewah.

Kedai teh yang mempekerjakan Lotus dan perempuan cantik lainya itu bagaikan aroma hangat melegakan tenggerokan dan selangkangan bagi lelaki berhidung belang, dan tentu lebih cocok buat mereka berkantong tebal yang dengan keimanan rata-rata. Tapi Lotus adalah korban berikutnya dari sebuah prahara cinta yang membelitnya, sepintas kita melihatnya mungkin hanya sebagai seorang perempuan kotor dan hina (perempuan penghibur) yang dimiliki Wang Lung, namun dengan berjalanya waktu sebagai wanita yang mendampingi tuan tanahnya, rasa sayang dan cemburunya terhadap tuanya pun secara alamiah hidup, dirinya akhirnya bernasib sama seperti O Lan; sebagai perempuan berikutnya dimadu oleh Wang Lung, Si Tuan Tanah.

Penampakan bukunya | Dok. Nalar Naluri
Penampakan bukunya | Dok. Nalar Naluri

Di masa tuanya itu, Wang Lung seakan tak berhenti aliran darah mudanya yang terdiri dari campuran reaksi biologis syahwat mengental, kemudian mengambil bekas budaknya yang dirinya beli dari petani miskin dahulu yang tengah kesulitan ekonomi, sewaktu gadis itu masih anak ingusan, yang kini telah tumbuh remaja dan memiliki bola mata indah serta tubuh ramping, yang kemudian mendampinginya dalam persoalan urusan kasur dan sumur. Gadis itu bernama Pearl Bolsom.

Pearl Bolsom lebih dari pendamping yang diyakini Wang Lung sebagai orang terakhir memberi perhatian dan kasih sayang tulus kepadanya. Pearl Bolsom perempuan yang tak mudah terpikat pada lelaki, dirinya sangat mebenci lelaki pada umumnya (termasuk ayahnya yang tega menjual dirinya), juga terutama pria muda yang aliran darahnya meloncat bagai api, dirinya bisa terhanyut terkecuali kepada pria tua, dan pria itu sangat mempresentasikan sosok seperti Wang Lung. Perempuan mungil itu dipandang Wang Lung seperti anaknya sendiri, akan tetapi di suatu waktu, jika dibutuhkan, juga bisa memberikan kehangatan tubuh kala syahwatnya sedang terbangun.

Begitulah perasaan Si Petani Wang Lung terhadap perempuan-perempuanya, petani yang kini sudah menjadi tuan tanah, dan memiliki perasaan cinta yang aneh, terdiri dari campuran rasa kasih dan rasa penindas. Mungkin karena oplosan rasa tak menentu itulah yang memberi keimanan di benak Wang Lung, hingga dia kelak percaya untuk membangun sebuah dinasti Wang—dan seraya tetap mengatakan bahwa dia masih seorang petani sejati. Meskipun dirinya saat ini sudah tak menggarap lahanya dan hanya bisa “ongkang-ongkang” menanti setoran dari para penyewa tanah pertanianya.

Mungkin Feminisme Kristen salah satu ilham yang telah menggerakan gagasan menulis karya besar ini meletup dengan indah (sehingga mendapatkan ganjaran setimpal; hadiah Pulitzer dan Nobel Sastra) dapat memperlihatkan bagaimana perhatian Pearl S Buck terhadap diskursus perempuan dalam kapitalisme pertanian, yang sangat besar. Dan bahasa kasihnya seringkali kita dapatkan mengalirkan getaran yang bertubi megetuk dasar jiwa setiap pembacanya tanpa tedeng aling-aling, sebagaimana dia lukiskan dalam diri O Lan pada novel ini, seorang mantan budak tuan tanah yang menikahi Wang Lung (tokoh utama dalam cerita ini), yang menampilkan keteguhan perempuan China kelas bawah dengan penuh martabat, meskipun hak-hak mereka sebagai istri terkadang disingkirkan.

Dalam plot yang lain pada buku ini, diceritakan bagaimana jatuh bangunya Wang Lung menggarap lahan pertanian. Inilah kekuatan cerita sesungguhnya bisa kita rasakan yang dibawa oleh Pearl S buck dalam mempresentasikan dinamika kelas petani China. Dimulai dari kondisi Wang Lung Si Petani sederhana, yang rajin bekerja, dan sangat mencintai tanahnya namun hanya memiliki sangat terbatas petak-petak tanah. Hingga suatu ketika sampai saat di mana nasibnya sedikit demi sedikit mulai berubah baik, diwaktu dirinya mempersunting O Lan dan menjemputnya dari rumah Keluarga Hwang (tempat O Lan sebelumnya menjadi budak di rumah tersebut). Dengan menikahi O Lan, Wang Lung tak hanya dikaruniai banyak anak, yang didominasi tiga orang laki-laki, dan dua orang perempuan yang tak bisa berbuat banyak.

Namun, O Lan juga membawa permata bagi Wang Lung, betul-betul permata yang bisa ditukarkan dengan nilai material lainya, sebagai modal ekonominya dalam penguasaan tanah, juga termasuk memperoleh selir baru yang mengakibatkan api dalam perut O Lan berkecamuk hingga membuatnya tutup usia.

Suasana Revolusi China sedikit terasa dalam komposisi cerita Pearl S Buck, hal itu bisa ditemukan pada anak lelaki ketiga Wang Lung, yang berwatak pendiam namun menyimak setiap hal penting menyangkut sebuah perubahan, tinggal dalam kesunyian kasih sayang orang tua, dibesarkan oleh Ching (petani tulen tangan kanan ayahnya) orang yang tak pernah dengan sungguh-sungguh merasakan arti kebahagian sebagai petani. Kelak ketika dewasa, anak bungsu Wang Lung ini, setelah permintaanya mempersunting Pearl Bolsom (yang berikutnya menjadi selir Wang Lung) ditolak oleh ayahnya, dia memilih bergabung dengan tentara revolusi. Setelah sebelumnya membaca banyak novel dan cerita-cerita orang-orang dewasa, yang berbicara tentang masa depan China yang membebaskan tanah.

Sedangkan anak sulung dan anak kedua Wang Lung menetap di rumah besar Wang Lung, yang kemudian menjadi istana baru buat mereka, yang sebelumnya merupakan bekas rumah besar Keluarga Hwang, borjuis yang bangkrut akibat hedonisme gelamor dan kehidupan urakan para tuan mudanya. Wang Lung membeli rumah itu dengan dendam obsesinya menjadi tuan tanah. Anak sulung Wang Lung, terlihat dari perawakannya yang gagah, cakep, dan congkak itu, melambangkan semangat modernisme yang kian pongah dengan martabatnya yang terkadang sulit diuraikan dengan nalar. Dirinya menyanjung kehidupan kota dan penunjang pendidikannya seperti berhala berkilauan, rela mengeluarkan biaya besar (yang semuanya masih diminta kepada ayahnya) untuk melekatkan dirinya sebagai pewaris medernisme sejati.

Sedangkan anak kedua Wang Lung, adalah seorang yang mewarisi watak Wang Lung lainya, yang serba hati-hati dalam hal pengeluaran biaya, merupakan sosok seorang pelajar yang dibekali pengetahuan cukup dalam hitung-menghitung, juga termasuk persoalan menghitung kebahagian atas kesedihan ayahnya yang telah tua tak berdaya dan merencenakan penguasaan harta ayahnya, termasuk tanah yang melimpah untuk diuangkan sebagai modal memperkokoh kedinastian Wang. Sepintas dirinya mempunyai gairah yang sama sebagai tuan tanah (mirip watak petani Wang Lung).     

Buku ini adalah episode pertama dari trilogi Pearl S buck; Bumi Yang Subur (The Good Earth), Wang Si Macan (Sons), dan Runtuhnya Dinasti Wang (A House Devided). Cetakan keenam Maret 2019 ini, yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, bisa menambah koleksi literasi yang baik bagi nutrisi bacaan bangsa kita. Terlebih karena Indonesia masih tak akan bosan-bosanya memperbincangkan persoalan agraria. Begitupun disaat debat capres kemarin yang memperdebatkanya, dan hanya berhasil mempertontonkan lelucon yang tak sungguh lucu itu.

Namun sayang, buku ini tak dibungkus dengan cover yang menggugah mata untuk segera meraih dan memilikinya, gambar yang menjalar di tubuh buku ini tak mengundang hasrat untuk mengetahui bahwa ini adalah karya sastra besar nan penting. Selain jenis kertas yang nampaknya pasti cepat akan menguning dan memudar itu, beberapa kesalah penulisan huruf juga masih terdapat di setiap bab. Singkatnya, buku yang berjumlah 34 bab, 507 halaman, dan masuk dalam kategori bacaan 21+ ini, di bandrol seharga Rp. 99.000 untuk Pulau Jawa, dan 110.000 untuk Pulau Sumatera, situasi yang bukan hanya membuat robek kantong kita yang kering, tetapi semakin mengokohkan posisi daftar ter-atas penghisapan PT Gramedia Pustaka Utama sebagai kapitalis nomor satu penguasa perbukuan di Indonesia.

Terlepas dari kualitas cover dan harga yang tak murah itu, buku ini menyumbang khasanah sastra penting untuk disebarkan. Saya pikir referensi bacaan agraria, tak lagi sekedar berkonsentrasi pada buku-buku teori sosial, ekonomi, dan laporan hasil penelitian. Jika kita lihat minat baca bangsa kita yang sangguh memprihatinkan ini (peringkat ke 2 dari bawah setelah Botswana), ada bagusnya memantiknya dengan bacaan ringan dan sedikit bernafas entertaint. Sebagaimana novel dan literasi film dokumenter, seperti Watchdog; “The Mahuzes”, “Rayuan Pulau Palsu”, “Asimetris”, dan yang terakhir, yang momentumnya disambut riang oleh para kaum golput progresif di musim capres saat ini, adalah “Sexi Killers”, berhasil menuntut mereka untuk lebih giat membaca persoalan agraria, dan mengkonsolidasikan rupa-rupa kegelisahan kita.

Barangkali, tak berlebihan juga bila karya sastra (seperti novel Pearl S buck ini) bisa jadi perhatian kita dalam menyentuh relung hati yang agak membeku, untuk tergerak melihat persoalan “Tanah” lebih luas dan mendalam. Sebagaimana tafsir Reforma Agraria yang telah terlaksana dalam bentuknya bagi-bagi sertifikat, yang mengesampingkan nilai penting dari itu semua, yaitu redistribusi tanah. Dengan membaca buku ini, setidaknya sedikit memudahkan kita untuk menjelaskan makna harafiah dari petani sejati; “mana petani sesungguhnya patut diperjuangkan”. Meminjam bahasa kawan Habibi, antara petani yang “peasant” atau “farmer”?

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini