Pertunjukan musisi jalanan di kota Melbourne | Eko Prasetyo

Surat dari Melbourne

Barangsiapa yang tidak terkesan hatinya oleh musim bunga dengan kembang-kembang yang bermekaran, atau oleh alunan musik atau getaran nada dan iramanya, maka fitrahnya telah mengidap penyakit parah yang sulit disembuhkan -Al Ghazali

Kehangatan matahari meyentuh sepanjang jalan. Kota ini sedang memulai hari lebih siang. Tampak beberapa orang membawa tas berjalan kaki. Di kanan kiri hanya ada mobil yang terparkir rapi. Sepertinya mereka masih berdiam di rumah. Saya dan keluarga hari itu keluar pukul 10 pagi. Rasanya sudah siang tapi itulah permulaan hari di sana.

Bagi anak saya yang pertama kalinya ke sana, rasanya Melbourne seperti kota yang berias rupawan. Dilumeri oleh gedung bertingkat, jalanan yang rapi, dan warganya yang tertib. Seolah mereka tinggal di tempat aman dengan ayunan waktu yang santai. Alunan hidup sepertinya berjalan dengan tanpa ketegangan dan tiap orang menikmati kegembiraan.

Di jalanan siang itu kita menyaksikan aksi: tentang pembantaian seekor babi, pentingnya air susu ibu, dan pertunjukan musik yang menggairahkan. Jalanan bukan atraksi kaum pedagang, tapi juga ekspresi para seniman, aktivis, dan pejalan kaki. Saya seperti menyaksikan Malioboro tahun 80-an yang kerap kali dituturkan oleh Emha Aiunun Nadjib begitu luar biasa.

Sungai Yara yang teduh, damai, dan indah seakan memberi perlindungan untuk siapa saja. Saya melihat dua orang tua yang duduk berdiam diri. Mereka menatap sungai seperti mengenang masa mudanya. Ada seorang anak muda bersama kekasihnya. Juga ada seorang pria yang sedang mendengarkan musik sendirian. Semuanya seperti hanyut dalam waktu.

Naik kapal feri menyusuri Yara seperti menikmati jalan di pematang. Dipandu sopir kapal yang bicara dengan cepat. Saya tak paham apa yang dikatakannya, tapi saya mengerti apa maksudnya. Ia mau bilang ini tempat indah diapit oleh gedung yang menawan. Ia tidak mengatakan hal yang berlebihan, tapi menyatakan sesuatu dengan cara yang menyenangkan. Saya hari itu memang menjadi wisatawan.

Menikmati Melbourne seperti mencicipi kue. Kita menikmati rasanya tak dengan menelannya, tapi mencicipinya perlahan. Saya menyusuri dengan jalan kaki sambil melihat kesibukan orang jalan atau orang yang sedang menuntut sesuatu. Saya tertarik dengan yang terakhir. Para aktivis yang menggemakan sebuah tuntutan dan pada saat bersamaan ada seniman yang sedang manggung.

Campuran yang hari ini kian langka. Para seniman yang berada di jalan bersama aktivis menggemakan tuntutan berbeda tapi berada di ruang yang sama. Mereka berada bersamaan di jalur pejalan kaki dan semua berusaha menyapa mereka yang sedang berjalan. Tak ada keriuhan tapi mereka percaya kalau pesan politik itu bisa diterima.

Saya bayangkan kalau pesan politik berjalan seperti itu. Tak harus dengan baca doa yang malah membuat kontroversi, tak perlu dengan pidato yang memanas-manasi, dan tak harus melalui cara menyalahkan pihak lain. Pesan politik dibawakan dengan mudah, ringan, dan kadang jenaka. Saya seperti mendapat pesan yang dipaket dengan ringan.

Aktivisnya berpenampilan sangar: ada yang memakai topeng Vendetta, ada yang memakai baju yang mirip kulitnya, ada yang mengalungi leher dengan televisi. Sebuah sajian aksi yang membuat saya sedikit terperangah, terpukau, dan penasaran. Saya tidak melihat sebuah aksi massa yang jumlahnya raksasa, tapi himpunan kecil yang membuat siapa pun akan memberikan perhatian.

Tiba-tiba saya teringat Aksi Kamisan. Dilakukan sudah bertahun-tahun dengan militansi yang mengagumkan. Mirip dengan apa yang ada di Melbourne, hanya saya tak melihat sambutan publik yang hangat. Di Malang aksi itu mau dibubarkan, dan di Surabaya sudah lama terhenti. Saya rindu Aksi Kamisan bisa berjalan seperti di sini: warganya gembira, aktivisnya senang, dan pesannya sampai ke mana-mana. Seumpama Aksi Kamisan bisa dilakukan di sini, pastilah suasananya menggairahkan.

Sore itu saya berjalan kaki di sepanjang kota. Mampir sejenak di rumah makan Blok M. Kami makan dengan santapan ayam bakar yang gurih. Melalui kaca saya melihat orang berjalan dengan variasi gaya: ada yang buru-buru, ada yang santai, dan ada yang bersama kekasihnya. Coba saya rangkul istri saya untuk sekedar mengatakan betapa romantisnya tempat ini.

Suasana romantis itu yang tenggelam. Kesumpekan hidup mungkin berasal dari sana. Saat jalanan kehilangan pejalan kaki, ketika jalanan dipadati dengan iklan para politisi, atau ketika jalanan sudah kehilangan para senimannya. Tiba-tiba saya ingat jalanan waktu saya masih kecil: udaranya seperti hari ini. Lembut dengan tiupan angin yang hangat dan saya mungkin hari itu sedang jatuh cinta dengan seorang gadis tetangga.

Saya menengok ke belakang dan melihat dua anak saya yang tumbuh remaja. Saya tahu mereka mulai jatuh cinta. Saya mengerti mereka mulai menyukai teman sebayanya. Di Melbourne saya bisa merasakan masa lalu dan saya ingin kedua putera saya dapat mengimpikan masa depan. Sebuah masa saat hidup tidak dikelola dengan kemarahan, tapi kegembiraan yang tak pernah putus.

Sore itu kami semua pulang ke apartemen. Berpapasan dengan orang-orang China yang sedang wisata. Mereka tampak berombongan sambil berbincang dengan sedikit gaduh. Saya selalu tersenyum tiap melihat rombongan orang China. Mereka sepertinya punya tujuan sama, berusaha saling melindungi dan tetap terus mengikat kebersamaan. Saya tak tahu apa agama mereka tapi itu seperti yang dikatakan nabi kami.

Ibarat satu tubuh, itulah gambaran ummat. Jika satu disakiti maka tubuh yang lain terasa sakit. Mereka saling melindungi satu sama lain. Saya terus terang iri, malu dan penasaran karena ternyata Melbourne membuat saya punya banyak ingatan pada nabi.(*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini