Suluh Pergerakan

Sebuah Catatan: Nobar dan Diskusi Film “Silenced Workers”

Pada Rabu, 13 September 2023. SMI (Social Movement Institute) menyelenggarakan nobar sekaligus diskusi Film “Silenced Workers” Garapannya Konde dan Voice, acara tersebut diselenggarakan di Sekretariat SMI. Acara yang diselenggarakan pada malam hari selepas isya ini, dihadiri oleh kawan-kawan dari berbagai elemen buruh, maupun mahasiswa, beberapa diantaranya: FMN, FMR, Mahasiswa UIN, Bem UST, dsb. 

Sebagaimana diskusi pada umumnya, ada pemantik juga moderator. Kursi pemantik diisi oleh Dian (Sebagai sutradara film sekaligus salah satu bagian dari Konde) dan Mas Budi Anto (Aktivis perburuhan dari serikat buruh bernama SEMESTA), dan kursi moderator diisi oleh anggota dari SMI.

Film yang durasinya terbilang pendek ini terbilang cukup dalam memotret persoalan-persoalan buruh. Dari persoalan mengenai Overwork (jam kerja berlebih), persoalan Reproduksi Sosial (problem buruh wanita yang kerap dibebankan juga pada urusan rumah tangga, seperti menyiapkan segala kebutuhan rumah), Pungli, dsb

Film “Silenced Workers” ini memotret dua scene buruh yang bekerja di wilayah berbeda. Scene pertama mengambil sisi buruh perfilman, sementara scene yang kedua adalah buruh pabrik.

Buruh Film yang terbilang sebagai suatu profesi yang dianggap seksi sekaligus gemerlap, ternyata memiliki sisi kelam yang amat jarang diketahui oleh publik. Pada persoalan jam kerja, mereka kerap tersuguhi waktu yang rentan dalam konteks kesehatan, diceritakan di film tersebut bahwa buruh perfilm-an kerap memakan waktu kerja hingga 22 jam per hari. Sementara, menurut ILO, jika dalam sepekan, kita mendapati jam kerja sebanyak 55 jam, maka besar kemungkinan kita mengalami resiko serangan jantung. Artinya para pekerja film berarti sangat lah dekat berteman dengan ajal.

Dari sisi Buruh Pabrik juga ada persoalan pelik yang terkesan ternormalisasi oleh beberapa masyarakat, yakni terkait pungli dan persoalan reproduksi sosial. dalam scene kedua, Para penggarap film, mengambil individu buruh perempuan yang berasal dari masyarakat akar rumput, untuk dijadikan sebagai tokoh utama dalam film, tokoh tersebut bernama Yuli (Nama samaran). Yuli adalah buruh akar rumput yang patut dicontoh, sebab beliau adalah satu-satunya buruh yang berani menolak aturan pungli di lingkup pabriknya.

Sesi Diskusi

Pertanyaan pertama yang muncul dari lisan peserta, yakni menanyakan terkait langkah atau cara untuk menyudahi bentuk-bentuk penindasan yang kerap menimpa para buruh.

Dalam menjawab pertanyaan tersebut, Mas anto menjawab dengan mengajukan langkah penyadaran akan adanya ketertindasan kepada benak para buruh. Juga, menurut beliau, diperlukannya semacam redefinisi ulang mengenai profesi apa saja yang termasuk ke dalam kategori buruh, sebab ada profesi-profesi lain yang enggan untuk masuk dalam kategori tersebut, contohnya barista.

Menurut Budi Anto, apapun jenis pekerjaannya, selama masih menumpang alat produksi pada orang lain maka pekerjaan tersebut masuk pada kategori buruh.

Selain itu, Beliau pun menambahkan bahwa penyebaran informasi kepada para buruh mengenai payung hukum  yang berkaitan dengan buruh, juga tentang hak-hak buruh sangatlah diperlukan sebagai salah satu langkah untuk merangsang para buruh agar berani melakukan perlawanan.

Sementara, untuk faktor eksternal yang dirasa menjadi peghambat perjuangan atau pelahap kesadaran para buruh, menurut Budi Anto, salah satunya yakni budaya, terlebih khusus di Yogyakarta. Pribahasa “jika kita melakukan protes maka kita tidak njawani” merupakan salah satu contoh yang disematkan oleh beliau.

Faktor lainnya, yakni berkaitan dengan para aktor intelektual yang memapankan wacana kepasrahan dalam kemiskininan, “Gapapa miskin yang penting bahagia”. Cerita yang dilontarkan oleh Mas Budi terkait peristiwa kematian tukang beca di Malioboro, menjadi fakta yang cukup untuk menendang wacana yang naif dan penuh dengan unsur subyektifitas itu.

Mba dian menambahkan unsur yang terbilang penting dalam menjawab terkait langkah apa saja yang bisa dilakukan, yakni  dengan melakukan pengorganisasian buruh untuk masuk dalam serikat. Hal demikian menjadi penting, sebab, dalam serikat, para buruh diberikan semacam pendidikan yang mengarah pada perlengkapan untuk melakukan perlawanan: Advokasi, Pengorganisiran, dsb

Dalam serikat buruh, para anggotanya diberikan asupan pendidikan hadap-masalah, sehingga hal tersebut bisa dapat merangsang inovasi untuk strategi gerakan lainnya. Selain pendidikan teoritis, pendidikan praktik sangatlah diperlukan dalam kerja-kerja aktivisme.

Beliau menambahkan juga terkait faktor-faktor eksternal apa saja yang kerap menghalangi kesejahteraan para buruh, salah satu diantaranya ialah: Budaya Patriarki yang dampaknya menyasar para buruh perempuan

Selanjutnya, ada Penanggap dari perempuan memberikan semacam injeksi kesadaran akan bentuk-bentuk kekerasan yang belum dimuat dalam perundang-undangan, hal demikian beliau kemukakan dengan dasar bahwa perundang-undangan buruh di indonesia belumlah meratifikasi Konvensi ILO 190 yang terbilang komprehensif dalam mengidentifikasi terkait aktivitas-aktivitas–dalam skena pabrik–apa saja yang dianggap sebagai bentuk kekerasan, salah satu yang belum termuat yakni kekerasan ekonomi atau Economic Harm.

Salah satu bentuk economic harm yang rentan menimpa buruh pabrik, terekam dalam penuturan narsum, yakni Yuli, yang dapat disaksikan pada film Silenced Workers ini. Salah satu bentuk praktiknya adalah pungli.

Mba Dian memaparkan fakta terkait jumlah nominal pungli yang kerap ditemui oleh mba dian itu sendiri. Jumlahnya yakni berkisar dari 100-500rb perbulan, juga ditambah pungli sebelum masuk pabrik, yang nominalnya hingga berjuta-juta. salah satu pabrik di Sukabumi, yakni pabrik yang memproduksi barang nike, di pabrik tersebut jumlah nominal pungli yang ditetapkan agar bisa masuk pabrik, mencapai hingga 5 juta.

Lalu ada Penanggap yang lain menambahkan terkait kurang bertebarnya wacana mengenai ketenagakerjaan di universitas. Menurut pengalaman penanggap, mata pelajaran di perkuliahan yang membahas tentang ketenagakerjaan hanya dihidangkan pada jumlah sks yang pendek saja. sehingga hal demikianlah yang menjadi salah satu penyebab terkait fenomena mahasiswa yang seolah-olah gagap ketika dihadapkan pada dunia perburuhan, selepas usainya wisuda.

Deretan Problem dan Solusi Sekaligus Penutup Tulisan

Merangkum dari diskusi yang dilakukan pada Rabu, 13 September 2023. Mungkin kita dapat menderetkan problem sekaligus solusi yang disuguhkan oleh semua rekan yang hadir pada saat berlangsungnya diskusi tersebut. Hal demikian rasa-rasanya perlu dilakukan, agar setidaknya diskusi tidaklah menjadi sekedar wacana yang bergolak hanya ketika diskusi berlangsung saja, namun menghilang bak debu, ketika terbangun dari kasur. Berikut terkait problem atau solusi yang bisa dihidangkan:

Problem:

-Overwork (Jam kerja berlebih)

-Pungli

-Mental pekerja

-Reproduksi sosial (Isu buruh perempuan)

-Budaya yang berkontribusi dalam mengabadikan bentuk penindasan, dengan cara menolak berbagai macam bentuk praktik perlawanan atau protes.

-Budaya Patriarkal

-Redefinisi Buruh

-pendidikan mengenai hak-hak pekerja

-pendidikan mengenai payung hukum buruh

-minimnya penyebaran pengetahuan tentang ketenagakerjaan pada mahasiswa

Solusi:

-Memadatkan ulang definisi tentang Buruh

-Rajin-rajin melakukan Refleksi, khususnya dalam konteks strategi-strategi gerakan

-Melakukan penyadaran pada para buruh

-Mengorganisir para buruh untuk menjadi bagian dari serikat

-Memberikan pendidikan advokasi, pengorganisiran, dsb

-Mengantarkan wacana perburuhan pada mahasiswa, agar kemudian mereka dapat ikut serta berjuang pada isu buruh bersama para buruh itu sendiri.

-Melakukan aksi-aksi radikal (mogok, propaganda, dsb)

*mengapa gerakan radikal dianggap penting untuk dilakukan? sebab gerakan-gerakan yang hanya terhenti pada proses dialogis seringkali tidak membuahkan hasil apapun, hal demikian diceritakan oleh Mbak Dian selaku aktivis yang berkutat cukup lama di isu perburuhan. Selain dari penuturan Mbak Dian, gerakan yang radikal juga semakin diperkuat terkait keefektifannya atau keberhasilannya oleh bukti-bukti kemenangan yang berhasil diraih oleh gerakan-gerakan sosial di berbagai belahan dunia


Catatan ditulis oleh Mahameru