Suluh Pergerakan

SAATNYA MAHASISWA BERGERAK

 

Kreativitas mewajibkan kita untuk selalu bersedia untuk tidak patuh – Einstein

***

Lesunya dinamika kampus akhir-akhir ini memang sangat mencemaskan banyak khalangan. Bahkan beberapa mulai timbul kekhawatiran, apakah kampus masih bisa dijadikan sandaran untuk menciptakan generasi yag cerdas, kreatif, inovatif atau bahkan progresif. Hal inilah yang kemudian ingin di bidik dalam buku “Bergeraklah Mahasiswa” karya Eko Prasetyo. Buku yang banyak menceritakan dinamika kampus, mulai dari mahasiswa yang tuna wacara, aturan yang ketat, kebijakan yang semakin tidak bersahabat, pemangkasan masa studi, beban jam kuliah yang padat, semakin melambungnya biaya pendidikan serta tak jarang tuntutan kampus untuk cepat lulus, wisuda dan kemudian cepat bekerja.

Hal seperti ini mungkin saja di temukan penulis dibanyak kesempatan saat bergaul dengan berbagai kelompok mahasiswa. Bukan saja di satu tempat bahkan berkemungkinan sama di tempat-tempat yang lain. Dan keresahan-keresahan itulah yang kemudian menjadi bahasan utama dalam bukunya kali ini. Tidak hanya sebagai bentuk sindiran, tetapi jelas bahwa penulis juga berharap buku ini mampu melecut mahasiswa untuk bisa bangkit dan melawan segala hal yang sebenarnya bertentangan dengan nalar dan logika. Cerita imajiner dengan Einstein dalam buku ini jelas menunjukkan sinyal tersebut (hal. 82). Dimana hampir semua orang tahu bahwa si jenius tersebut bukanlah orang yang patuh dengan sekolah. Justru kejeniusannya tersebut didapat saat tidak terkekang dalam aturan-aturan yang memenjarakan anak didik. Cerita wawancara imajiner ini memang sengaja dihidupkan penulis agar anak didik (baca; mahasiswa) punya stimulus untuk mulai berpikir dan bertindak. Kalau istilah mahasiswa, hanya ada dua pilihan bagi gerakan hari ini, yaitu bangkit melawan atau diam tertindas. Imajiner dengan Einstein ini mau mengambil peran untuk membangkitkan mahasiswa agar kembali bergerak dan melawan, mulai dari melawan paradigma yang keliru tentang kuliah, yang diasumsikan hanya untuk mengejar indek penilaian kumulatif (IPK) hingga melawan aturan serta kebijakan kampus yang memang kerap tidak berpihak pada kepentingan anak didiknya.

Selain kritik otokritik terhadap peranan mahasiswa, hal lain yang bisa dilihat dalam buku ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan kita sekarang tidaklah seindah yang dibayangkan; kuliah, lulus kemudian dapat kerja mentereng. Itu adalah gagasan yang sudah lapuk semenjak dahulu, yang sekarang masih terus saja dipaksakan untuk diterima pemahamannya. Sehingga wajar saja kemudian ukuran keberhasilan itu kerap dialamatkan pada pencapaian nilai kumulatif yang bersaing; semakin tinggi maka semakin bagus. Padahal, semua itu hanyalah formalitas semata. Karena kemudian hal lain yang justru berpengaruh besar dalam kehidupan adalah petualangan dan persentuhan dengan persoalan-persoalan sosial itu yang justru lebih banyak memberi arti. Karena petualangan disertai persentuhan dengan dunia sosial yang ada, yang justru akan lebih membuat pemikiran lebih berkembang dan terbuka (hal.25). Ini kritik pendidikan yang sengaja ingin dikabarkan penulis kepada mahasiswa. Situasinya memang mengkhawatirkan. Hal ini setali tiga uang dengan apa yang dipikirkan oleh Ki Hadjar Dewantara, Paulo Freire, Driyarkara dan banyak lagi.

Melalui buku ini juga, penulis mengutarakan keresahan-keresahannya atas dunia pendidikan terutama pendidikan di kampus. Seharusnya kampus menjadi ladang persemaian intelektual untuk menumbuh kembangkan pemikiran, gagasan, ide serta keberanian para mahasiswa yang notabenenya adalah anak-anak muda. Mereka bukan lagi anak kecil yang harus selalu dikekang segala aktivitasnya. Karena sejarah bahkan sudah mengajarkan bahwa kampus merupakan salah satu tempat disemainya tokoh-tokoh pejuang bangsa Indonesia. Soekarno dan Hatta adalah contoh konkrit dan sosok anak muda yang nekad dan berani menantang penjajah (hal.69). Mereka menjadi radikal karena menjalani kuliahnya dengan penuh petualangan, bersentuhan langsung dengan dinamika sosial yang berkembang dan tentunya organisatoris. Karena dengan berorganisasi dan terlibat langsung pada dinamika yang terjadi, disanalah para mahasiswa kemudian menjalani proses pembentukan sikap kritis, berani mengungkapkan pendapat dan melatih kepemimpinan.

Makanya, menghalangi-halangi mahasiswa hari ini untuk berorganisasi adalah sikap yang ahistoris. Sebaliknya, mahasiswa harus giat berhimpun dan berorganisasi agar tidak tuna gagasan dan ide-ide kreatif dan punya aktivitas yang menantang. Apalagi sampai mengorganisir rakyat untuk menentukan sikap sekaligus mengkritik kebijakan pemerintah yang cenderung bablas. Inilah sejatinya kehidupan mahasiswa; sebagai agent of change. Melalui organisasilah mahasiwa memiliki arti yang sesungguhnya. Hal-hal yang tidak mampu diajarkan di bangku kuliah terkadang seringkali di dapat melalui kegiatan di organsisai. Melalui organisasi, mahasiswa diajarkan untuk melihat langsung situasi sosial, politik dan ekonomi yang mengkhawatirkan yang sedang terjadi. Sebagaimana persoalan korupsi yang masih saja menggurita dan tak terkendali pasca reformasi, munculnya kelompok-kelompok intoleran, anti kebebasan berpendapat, masih tingginya ketimpangan sosial antara si kaya dan si miskin. Dalam situasi runyam ini independensi kampus dan mahasiswa mutlak dibutuhkan, keduanya merupakan sosok yang menjadi tumpuan harapan (hal.96). Karena tak bisa dipungkiri bahwa fungsi kampus sangatlah strategis untuk melahirkan gebrakan-gebrakan yang diharapkan mampu membawa perubahan.

Disinilah pentingnya buku ini untuk di baca; tidak hanya oleh kalangan aktivis mahasiswa saja, tetapi baik juga bagi mahasiswa umum lainnya. Selain kaya akan pengalaman dan imajinasi, kita juga diajak untuk khidmat akan luasnya persoalan yang akan kita hadapi di masa yang akan datang. Kejelian penulis membidik persoalan yang ada dengan gaya khas serupa tutur; provokatif, kita ditantang untuk bergerak, bangkit dan melakukan perlawanan. Memang pas kalau buku ini sebagai panduan mahasiswa untuk mulai bergerak. Membaca buku ini serasa kita menghirup kembali pesan sang penyair yang hilang itu; Widji Thukul; Hanya Ada Satu Kata, Lawan!

 

Judul ; Bergeraklah Mahasiswa | Penulis ; Eko Prasetyo | Penerbit ; Intrans Publishing | Tahun ; 2017 | Hal ; 146 + Indeks

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.