Suluh Pergerakan

Pengobatan Yang Membingungkan

Rintihan demi rintihan, tangisan demi tangisan, umpatan demi umpatan sudah tak terhitung lagi. Hampir tiap tengah malam, siang hari, sore hari, datang berkunjung secara tak sopan. Gumpalan daging di dalam perut sudah semakin membesar. Menjalar ke organ-organ terdekat. Sakitnya minta ampun. Sudah delapan tahun lamanya tertanam.

Kadi sangat sedih melihat Ibunya merengek kesakitan. Terkadang, dua kupingnya ia tutupi dengan dua telunjuk tangannya. Agar suara-suara kesakitan dari Ibunya itu bisa ia redam. Kadi tak sanggup mendengar bebunyian nafas terengah-engah, suara memelas menggerutu dan suara gemeretak gigi Ibunya menahan sakit. Ibarat ma;rifat, nada suara orang kesakitan bukan hanya terasa ngeri, tapi bagaikan nada yang keluar dari partitur kwalitas tinggi. Sebaliknya, nada suara orang bahagia adalah nada konvensional, ramai, dominan dan telah menjadi pasaran. Sayangnya, Kadi, belum terbiasa mendengar bebunyian yang memiliki keagungan transendesnsi tersendiri itu.   

Ning telah melahirkan empat orang anak, yang kini telah tumbuh dan berkecambah. Dia Memiliki tujuh orang cucu yang masih lincah-lincahnya bekejar-kejarran di ladang, berenang di sungai dan girang memacu roda-roda sepeda mungil. Cucu-cucunya itu terdiri dari empat orang perempuan dan tiga laki-laki.

Kadi sendiri, kini telah memiliki dua anak perempuan. Anak pertamanya sudah menginjak kelas 1 SD, yang terkecil berumur 3 tahun. Kadi anak kedua dari empat bersaudara. Dia laki satu-satunya dari pasangan Ning dan Maru. Kadi, kemudian menjadi anak paling disiplin mencari dan mengatasi penyakit Ibunya yang kian kronis.

Tumbuh dalam lingkungan masyarakat yang mengandalkan pengobatan berbasis dukun, Kadi berharap penyakit Ibunya kali ini jauh dari gangguan jin dan guna-guna yang sulit dikendalikan. Kadi masih ingat, kehamilan pertama Ibunya seperti yang telah diceritakan Ibunya padanya, dibuntuti selama 3 bulan di hamil tuanya, oleh sesosok makhluk berambut panjang yang menggelantung di pohon pepaya samping rumah. Orang-orang Dolo menyebutnya Topeule.

Jika tak mawas diri, janin yang ada dalam perut, secara ghaib bisa hilang begitu saja. Janin-janin itu konon menjadi makanan Topeule sebagai penangkal punah Topeule. Beruntung kala itu Ibunya mengenakan kariyangu (sejenis kayu yang tumbuh secara epidemic di Sulawesi)yang ditusuk dengan peniti lalu dilekatkan di pakaian keseharian. Sekarang, dirinya semakin cemas. Jin apa gerangan yang membuat perut ibunya sebegitu menderitanya.

Kuliah selama enam tahun di kota besar pendidikan, Jogja, membuat Kadi banyak terperangah dengan cara pandang sains memandang dunia. Semua diukur dengan rigit, matematis dan jauh dari alam mistis. Termasuk menganalisa sebuah penyakit. Tapi dengan itu pula, Kadi juga semakin bingung, jika semua bisa diselesaikan dengan sains, lantas mengapa masih langgeng budaya “abdi dalem” dalam sebuah kraton. Bukan kah itu sebuah keganjilan. Melata menghadap sesosok manusia yang asupannya sama: makan nasi. Sungguh jauh dari pikiran logis.

Tak ada banyak waktu dimiliki Kadi untuk mengambil keputusan. Memilih perawatan Rumah Sakit atau “Rumah Sakti.” Kesarjanaanya sudah lama ia tanggalkan. Kadi kembali ke kampung dengan meneruskan tradisi lama. Bertani. Kini ia dalam pilihan yang pelik. Masih kah ia menggunakan cara pikir rasional untuk mengobati ibunya sebagaimana anjuran peradaban, atau melanjutkan pendekatan tradisional tapi dengan beban pendidikan yang pernah ia sandang. Kaum terpelajar.

Ibunya, menyekolahkannya dari kecil hingga lulus kuliah, seolah pasrah. Menyerahkan semua pilihan di pundak anaknya. Kadi. Sementara adik-adik dan kakak Kadi seperti: Sansun, Ya’a dan Rita mengikuti arahan ibunya untuk mempercayakan pengobatan ibunya kepada Kadi.

“Nak, aku sudah terlalu lelah. Aku mengikuti apapun saranmu. Tapi jika boleh memilih, aku tidak ingin mati di negeri orang. Aku ingin mati di kampung sendiri. Dolo.” Pinta Ibunya dengan butiran air mata jatuh menetes. 

Kumandang adzan bertalu memanggil hati yang sedang pilu. Kala itu, pikiran Kadi kosong. Ayahnya dengan langkah tergesa memasukkan kedua kakinya secara bergantian di sepasang sandal jepit biru lusuh. Sembilan puluh persen matahari, hampir 1 menit yang lalu tenggelam ditelan gelap.

“Mau kemana Yah?” seru Kadi.

“Magrib berjamaah di masjid.” Jawab ayahnya dengan singkat, padat dan rapat. Sebagaimana tabiat aslinya sejak kecil.

Masjid yang hanya sekira 50 langkah dari depan rumahnya itu sudah lama tak disinggahi Kadi. Tuhan dan panggilanya seolah berjarak jauh dari hadapanya. Tapi hari itu rasanya berbeda. Alunan adzan bagaikan suara pecahhan ombak yang menabrak hati sekeras karang.

Dia pun menyusul Ayahnya ke Masjid Al Hidayah. Dolo. Setelah shalat magrib berjamaah usai, para jamaah sudah sepi meninggalkan Masjid. Kadi masih menengadahkan tangan di udara―berkucur air mata. Sang Imam, yang juga baru selesai berdzikir panjang itu, kemudian melihat Kadi dengan heran. Setelah Kadi selesai berdoa dan hendak beranjak bangkit. Sang Imam menghampirinya.

“Alhamdulillah. Subhanallah. Apa gerangan yang terjadi wahai saudaraku. Telingaku terbuka untuk cerita apa pun, pabila kau mempercayakannya kepadaku. Mulutku akan terkunci, tak mengatakan kepada siapapun. Jaminan kuncinya adalah lilitan surban di kepala Imam ini.” Tunjuk Sang Imam mengarah ke lilitan kain hijau melinkar di kepalannya.

Tubuh Kadi rubuh kembali. Dia bersimpuh. Kepalanya tertunduk lemas dengan tangisan sedu sedan.

“Ibu. Sudah terlalu lama. Memendam sakitnya. Tubuhnya. Semakin tipis. Nafsu makannya. Kering. Saya bingung, mau membawanya kemana?” Kata-katanya terbata, Kadi sambil menyeka ingusnya yang keluar mengular cepat.

“Wahai saudaraku. Yang diberi iman Islam. Sebagaimana kebanyakan orang di kampung ini. Jika ada dilanda masalah dan cobaan sakit, maka mereka begitu mudah mempercayakannya pada seorang dukun. Sesungguhnya, perbuatan demikian adalah musyrik.”

Sang Imam Masjid kemudian meraih tangan Kadi sambil menepuk-nepuk punggung tangannya.

“Tapi jangan khawatir. Kau bisa menemui Kiyai Sando yang ada di kampung Pakuli. Di bawah kaki gunung Kulawi. Kau cukup bilang bahwa, Pue bin Ta’ala, Imam Masjid Al Hidayah telah menyuruhmu berkunjung. Ceritakan lah semuanya kepadannya. Semoga ada kesembuhan pada Ibumu.”

Esok harinya, keringat bercucuran dari tubuh Ibunya membasahi semua pakaian. Seperti sedang meununtaskan tarian di tengah hujan deras. Dipan-dipan seakan patah, berderit bagai perintah komandan militer yang sedang murka. Ibunya meronta. “Sakit….sakiiiit…akiiit…kiiit..”

Buku tabungan yang tersusun di lemari buku berwarna hitam, diapit oleh dua buku sakral: “Medical Nemesis,” karya IVAN Illich dan “Matsnawi” karya Jalaludin Rumi. Kadi meraih buku tabungan itu. Saldonya tersisa Rp. 5.899.050. Sambil mengernyitkan dahi, menghela nafas panjang, buku tabungan itu ia letakkan kembali ke rak semula.

Inilah waktu yang paling kursial di dalam hidupnya. Menegakkan jarum kompas pemikiran. Membangunkan intuisi tradisi, menjaga marwah hak asasi yang diyakini, membela rasionalitas atau menuruti nasihat Imam Masjid.

Suzuki Cary berwarna biru tua, separuh badanya dilapisi dempul-dempul krim matang, dipinjam dari rumah tetangga, Pak Mea. Ayahnya, Pak Mea dan Kadi menggotong Ibunya pelan-pelan masuk ke dalam mobil itu.

Pak Mea sudah berada di kursi kemudi. “Kemana tujuan kita nak?”

Sambil memperbaiki posisi bantal yang berada di pangkuannya, kepala dan kaki ibunya ia luruskan, Kadi berkata, “Tolong ambil jalan arah ke Kulawi, Pak Mea. Kita akan mencari alamat Kiyai Sando di sana.”

“Baik, nak. Tapi sebelum kita berjalan lebih jauh lagi, bisa kah kita mampir ke stasiun pengisian bahan bakar minyak. Maklum, sudah semingguan mobil ini kehausan.” Pinta Pak Mea.

“Oh ya Pak, kita akan mengisinya penuh.”

Setelah bensin terisi penuh di dalam tanki. Mobil Cary itu melaju dengan suara terbatuk-batuk. Kepulan asapnya hitam. Beberapa kali mandek. Pak Mea berulangkali membuka bak depan mobil, mengecek mesin, aki, busi, radiator dan lilitan kabel yang ruwet. Hingga 2 jam lamanya keadaan seperti itu. Akhirnya perjalanan mereka pun tiba di alamat yang dicari.    

Kiyai Sando mempersilahkan mereka duduk di alas tikar rotan. Setelah Kadi mengutarakan segala maksud dan tujuan. Kiyai Sando berpamit masuk ke kamar sebentar. Ruangan itu seperti gua pertapa. Bau kemenyan menyeruap dari kamar itu. Air putih dari mata air pegunungan Kulawi telah dibacakan dzikir bercampur mantra Kaili. Semuanya telah terisi di botol kaca bening.

“Minumlah ini saat waktu sebelum masuk Adzan Subuh. Bacakan selawat 3 kali di bibir botolnya. Kemudian, perbanyaklah maaf terhadap suami ibu.” Seloroh Kiyai Sando, matanya sambil menatap sorot mata Ibunya.

Seminggu setelah kunjungan ke Kiyai Sando, secara ajaib, berangsur-angsur rasa sakit di perut Ibunya hilang. Kadi semakin rajin shalat berjamaah 5 waktu Di Masjid.

Namun memasuki minggu ketiga, gumpalan daging di dalam perut Ibunya mulai bereaksi. Rasa sakit kembali datang. Kali ini 5 kali lebih dahsyat dari sebelumnya. Setidaknya, begitulah kesaksian Ibunya.

Semakin bingung. Kadi tak tahan, ingin ke gubuk Ince Salama. Dukun perempuan tua yang menjadi akses pengobatan masayarakat Dolo. Hatinya berkecamuk. Menimang antara rasionalitas dan irasional. Rintihan ibunya kali ini berat. Bercampur keriput kulit wajah berpola kusut.

Akhirnya Ibunya diperhadapkan dengan Ince Salama. Komat-kamit Ince sangat cepat, kata berlipat-lipat. Menyebut-nyebut matahari, pohon pisang, kuda liar, rambut panjang hitam dan Tuhan semesta. Dan masih banyak lagi kosa kata yang tak dipahami oleh Kadi. Hingga Ince berkesimpulan, ada orang jahil yang menanamkan bongkol jagung di halaman samping rumah Ning. Bongkol jagung itu diukir menyerupai tubuh manusia, yang kemudian perut bongkol jagung itu telah ditusuk 13 jarum.

“Kalian harus mencarinya. Rasa sakit ini akan terus ada selama bongkol jagung itu tak ditemukan.” Mulut merah mengunyah daun sirih itu memerintah.

Seluruh keluarga menggali setiap tanah yang ada di halaman samping rumah Ning. Mereka menemukan paku, beling dan rambatan akar pohon yang membusuk. Tapi mereka tak menemukan wujud bongkol jagung yang menyerupai tubuh manusia dan perut bongkol yang ditusuk 13 jarum itu.

Hingga akhirnya Kadi menyerah. Dia mangambil buku tabungannya kembali. Berangkat ke Bank menarik seluruh saldonya. Buku tabungan itu kini hanya bersisa Rp. 70.030. Kemudian Ibunya masuk ke ruang ICU. Dua hari berikutnya, Dokter menyarankan untuk mengambil tindakan operasi pengangkatan tumor rahim.

Setelah dijelaskan segala macam diagnosa dan resiko kesehatan dengan bahasa-bahasa ilmiah, Kadi teringat masa-masa kuliah. Istilah biomolekular, perkembangan sel-sel jaringan pada mata kuliah biologi, dan teori-teori epidemologi kesehatan akrab ia dengar. Dulu dia kuliah di jurusan eksakta. Teknik Lingkungan.

“Berapa persen kesembuhan dan peluang hidup ibu saya dok?” Sergah Kadi.

“Kami akan mencoba yang terbaik. Kalian cukup berdoa. Serahkan semuanya kepada kami.” Jawab sang dokter ketus.

Setelah operasi berhasil mengangkat tumor seberat 3 kilo yang bersarang di Rahim, Ibunya kini bisa merasakan jalan-jalan pagi dan sore bersama cucu-cucunya. Menikmati setiap senja. Bercengkrama dengan penuh kasih dan cinta. Lengkung pipi Kadi berbentuk bulan sabit melihat hal itu.

Hingga berjalan enam bulan merasakan nikmatnya bersenda gurau bersama cucu-cucu, Ning, Ibu Kadi, seperti merasakan gigitan semut hitam besar di atas perutnya. Setiap hari terus begitu dan malah rasa sakitnya berlipat ganda. Mereka kembali membawanya ke Rumah Sakit. Diagnosa berikutnya mengatakan: tumornya sudah menjalar ke hati, paru dan jantung.

Seperti tertimpa batuan beku besar dari atas gunung. Hati sekeluarga menjadi gepeng, hancur berkeping-keping. Kadi mengambil ibunya pulang ke kampung. Seminggu kemudian, saat kumandang adzan shalat Jum’at berbunyi, Sang Ibu tergolek sudah tak sadarkan diri. Ketika semua lelaki hendak menunaikan shalat jumat, Kadi dan Ayahnya turut serta.

Beruntung. Sansun, kakak perempuan Kadi, yang sejak tadi berada di samping Ibunya, menuntun Ibunya terus melafalkan syahadat. Hingga Adzan Jum’at itu sampai pada lafal terakhir “Lailahailallah,” seolah Ibunya paham itu panggilan buat dirinya juga. Maka berakhir pula lah penderitaan rasa sakitnya selama ini. Ning, dimakamkan di kampungnya. Sebagaimana amanatnya.