Suluh Pergerakan

ORANG MISKIN YANG LUAR BIASA

[Pengalaman Membaca Buku Roanne Van Voorst: Tempat Terbaik Di Dunia]

***

Saya suka membaca buku karena menawarkan dua hal yang berbeda: wawasan dan pengalaman. Melalui buku kita bertambah pengetahuan dan lewat buku kita bisa menjemput pengalaman istimewa. Tapi buku ini menyajikan lebih dari itu semua. Buku ini adalah kisah ajaib tentang orang miskin.

Mereka yang tinggal di bantaran kali yang sering dianggap illegal. Stigma untuk orang miskin di sini lengkap: patut dikasihani, perlu diberi bantuan, harus dikasih akses dan sangat penting untuk dididik dengan etos kerja keras. Seolah orang miskin tak punya potensi apa pun.

Roanne membantah dan mengubah semua persepsi itu. Didatanginya kampung bantaran kali yang selama ini jadi langganan banjir. Semula itu hanya bahan untuk riset Doktoralnya. Tapi bahan itu kaya dengan kisah yang istimewa: orang miskin yang gigih, keratif dan bijak.

Buku ini seperti susunan dongeng: diawali dari kendaraan umum yang sumpek kemudian bertemu dengan pengamen yang gembira lalu menuju kampung yang kumuh. Roanne mendasarkan kisahnya pada kehidupan sehari-hari orang miskin yang tak kita sadari.

Ternyata hidup mereka begitu berwarna: menganggap banjir hal biasa, melihat dokter dengan rasa takut karena biaya dan hidup dengan semangat menjaga hubungan keluarga. Kenyataanya mereka tinggal di sana karena memang tak ada pilihan lain: biaya hidup di Jakarta sangat luar biasa.

Tapi Roanne membuat kita terpana: kehidupan di Bantaran Kali itu ternyata indah. Di antara mereka saling menjaga, bahkan membantu siapa yang memerlukan. Tak ada pencurian karena tiap orang coba bangun kepercayaan satu dengan yang lain. Tiap orang setor uang keamanan ala kadarnya.

Jujur kita harus belajar kreativitas pada orang miskin: di bantaran kali mampu dibangun tempat serupa fitness, di sana pula ada orang yang mahir memijat dan uniknya mereka tak mudah untuk menyerah ketika datang bencana.

Kita bisa terpesona oleh sikap berkurban mereka, semangat untuk berada tetap dalam satu keluarga dan selalu mampu mengakali ketentuan pemerintah apa saja. Seolah mereka hidup itu dengan kemahiran adaptasi dan berkelit: orang miskin bukan orang yang mudah dipukul tapi juga orang yang tak gampang tersungkur.

Yang hangat dari kisah ini adalah kejujuranya: kisah tentang mereka yang datang ke Jakarta dengan pekerjaan apa saja, cerita mengenai orang yang ingin bangun mimpi hingga perempuan yang melacurkan diri dengan bayaran perlindungan.

Roanne tinggal kemudian diterima sepenuhnya dan hidup mirip dengan mereka. Saya tersentuh pada kisah penyuapan yang seperti jejaring sosial yang sulit dipunahkan, juga kebersamaan yang membuat orang Indonesia tak pernah merasa sendirian dan kemunafikan kita dalam soal pornografi.

Rangkuman kisah itu seperti menampar kita yang selama ini merasa sok tahu tentang orang miskin. Benar mereka kreatif tapi juga bisa egois. Mereka kadang naif tapi lebih sering arif. Hidup mereka memang jauh dari glamour tapi rasa mewah juga bisa diramu di antara mereka.

Secara mudah buku ini menggugurkan tesis rumit para ekonom tentang orang miskin. Yang selalu harus diintervensi, dipangkas, dibantu dengan kebijakan tertentu hingga jumlahnya terus- menerus dipantau. Para pengambil kebijakan tak pernah percaya kalau orang miskin itu bisa apa saja dan tak merugikan siapa-siapa. Bahkan kalau itu dibiarkan saja.

Bahkan buku ini menyindir para motivator yang selalu menganggap kebahagiaan itu bisa muncul kalau kita sukses. Kisah ini saja menyiratkan kesuksesan dalam arti yang sesungguhnya; hidup bisa membahagiakan orang lain dan tidak mencurangi yang lain. Hidup mereka bahaya tapi juga jenaka.

Setidaknya buku ini juga meyentil para aktivis sosial yang selalu percaya dengan dogma ‘kaum miskin’ . Roanne menunjukkan pada kita orang miskin itu bukan kumpulan orang yang antri terima zakat, pemegang kartu orang miskin hingga kumpulan manusia yang terlunta. Mereka adalah individu yang sadar, segar dan terus menikmati hidup dengan siasat apa saja.

Kalau anda tidak terharu dan sadar setelah baca buku ini maka ada baiknya periksakan diri ke rumah sakit jiwa.