57506139_655256128242851_1790996455846741988_n

Orang Biasa Bersama Orang-Orang Biasa

“Ilmu hendaklah hanya tunduk pada kecerdasan, bukan pada kekayaan” – Andrea Hirata

Kutipan itu terdapat dalam buku “Orang-Orang Biasa” karya anak Belitung Timur. Ya, dia adalah Andrea Hirata yang terkenal dengan buku Laskar Pelanginya. Karya terbaru Andrea yang diterbitkan pada bulan Februari 2019 ini adalah sebuah karya yang mengingatkan saya untuk bersyukur bisa memasuki dunia perguruan tinggi. Buku ini adalah kisah nyata seorang anak yang ingin melanjutkan petualangan di perguruan tinggi tepatnya Fakultas Kedokteran. Semua mimpi itu sirna karena biaya yang sangat mahal.

Buku setebal 300 halaman ini menghadirkan beberapa tokoh yang menarik. Seorang polisi yang lurus  (jujur) layaknya marka jalan serta berani namun anda pasti tahu kondisi ekonominya, tentu saja dibawah kata ‘kaya raya’ dan ini yang jarang kita temukan. Inspektur Abdul Rojali namanya tergila-gila dengan Shah Rukh Khan hingga selalu terbawa mimpi bertemu dengan idolanya. Polisi satu ini begitu unik sangatdisiplin, tak pandang bulu dan berbuat adil serta berpenampilan sederhana memiliki prinsip yang menyentil mereka yang senang mengeluh  “dalam hidup ini kita tidak selalu mengerjakan apa yang kita cintai. Namun kita dapat belajar untuk mencintai apa yang kita kerjakan” (hal 21)

Tokoh berikutnya adalah sekumpulan teman sekolah yang telah berteman sejak dini hingga dewasa dan memiliki keluarga. Andrea hirata menggambarkan tokoh-tokoh ini dengan menarik, namun memiliki sebuah kesamaan yakni mereka sama-sama bodoh. Mereka bernama Salud, Honorun, Tohirin, Rusip, Nihe, Rusip, Junilah, Sobri, Dinah dan Handai.  Sepuluh orang yang berkumpul secara alamiah karena kecenderungan bodoh, aneh dan gagal. Ada yang senang berandai-andai, ada yang lamban berpikir, ada yang hobi dandan hingga tak peduli pelajaran sekolah dan ada yang langganan tidak naik kelas. Sepertinya ini kenyataan saat ini bahwa anak zaman sekarang berkelompok berdasarkan bagaimana mereka melihat diri mereka sendiri dan bagaimana mereka ingin dilihat orang lain.

Halaman demi halaman seakan mengirimkan pesan kepada pembacanya untuk terus membukanya sebab ada kisah yang penting untuk dibaca. Saya menemukan bagian itu. Inilah kisah nyata yang ingin disampaikan melalui tokoh Dinah yang terkenal bodoh pada saat sekolah namun melahirkan anak yang rajin dan cerdas hingga diterima di Fakultas Kedokteran. Fakultas yang kita tahu berapa besar biaya masuk ke jurusan tersebut yang terkadang tak masuk akal. Terbenam dalam benak hingga berpikir bahwa kita baru merdeka dalam hal politik, namun merdeka dalam pendidikan masih menjadi catatan hitam.

Sepuluh teman tadi dipertemukan kembali. Pada dasarnya mereka tidak memiliki cita-cita, namun kini mereka berhasil memikirkan apa keinginan mereka yaitu merampok bank. Tunggu dulu, jangan berpikiran aneh. Mereka ingin merampok sebuah bank sebab ingin membantu anak sahabat mereka yang ingin masuk ke Fakultas Kedokteran. Mulia namun sungguh tak masuk akal.

“Tangkap! Tangkaplah orang miskin yang berjuang agar anaknya bisa sekolah! Kita ini bukan merampok Dinah! Kita ini melawan ketidakadilan! Tengoklah banyaknya anak-anak pintar miskin yang tak dipedulikan pemerintah! Tengoklah jurusan tertentu yang hanya dapat dimasuki orang-orang kaya! Tengoklah langkanya anak orang miskin jadi dokter! (hal 117)

Tak banyak yang bisa menikmati kursi perguruan tinggi dan terkadang yang mendapatkan kesempatan justru suka menyia-nyiakan hal tersebut. Hari ini saya rasa kuliah bukan lagi proses meraih pengetahuan tapi estetikasi gaya hidup yang memiliki standar, status bahkan gaya hidup yang mencerminkan siapa sesungguhnya kita. Mulai ada upaya bahwa belajar bukan sebagai upaya untuk memproduksi pengetahuan tapi konsumsi sebanyak-banyaknya pada pengalaman bersertifikat, perolehan status sebagai juara hingga mengkonsumsi pelatihan apa saja.

Novel ini tak kalah menariknya dengan buku tentang kemiskinan, pendidikan dan buku motivasi hidup. Bacalah novel ini sebab kau akan menemukan beragam kisah menarik dan tentunya konflik yang ada bahkan jauh lebih kompleks dari pada tulisan sederhana ini. (RI)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini