Suluh Pergerakan

Meninggalkan Kantor Lama: CATATAN SMI

Hari ini bendera tua diserahkan

Tanda satu kurun zaman telah lalu,

Disimpan dalam lemari pajangan

Sejarah yang hilang tuju,

                            ‘For fighting nation there’s

                            No journey’s end!’

Panji berkibar di angkasa kenangan

Lambaianya sepanjang penindasan,

Menggema laju: Maju tak gentar!

Membela yang benar! Membela yang benar!

(Bendera, Sitor Situmorang)

***

Harusnya kami pindah sejak Mei yang lalu. Kebaikan pemilik rumah hingga ditoleransi lama. Kami bisa menetap hingga lebaran. Paling tidak ada jeda selama sebulan. Bisa untuk memindahkan barang hingga cari kontrakkan baru.

Tak gampang cari rumah yang murah dan menerima kami. Terutama kegiatan SMI yang banyak ‘nyrempet’ bahaya: buat diskusi, rencanakan aksi hingga bikin pelatihan. Mustinya kegiatan itu tak mengancam siapa-siapa dan tidak menganggu siapapun.

Tapi sudah dua kali SMI diserbu: satunya saat memutar film pengadilan IPT Belanda dan lainya ketika memutar film revolusi Iran. Tuduhan yang dialamatkan berbeda: satunya dianggap kiri dan lainya disebut syiah.

Beruntung tak ada kekerasan seperti di kantor lainya. Pada peristiwa pertama kami dilindungi oleh mahasiswa sedang di kejadian berikutnya kami bernegoisasi keras. SMI meyakini kalau kebebasan berekspresi adalah nyawa bangunan demokrasi.

Kini nyawa kebebasan itu terancam. Bukan oleh senjata tapi massa yang bebas menekan siapa saja. Juga kebebasan itu dilukai oleh pandangan sempit yang meraja lela. Atas nama agama, keunggulan rasialisme hingga kebodohan yang dinyatakan seenaknya.

Kini kami berhadapan dengan pencemaran akal sehat. Yang terus menerus mengudara melalui saluran media sosial. Dipompakan dengan begitu nyaring dan terus menerus. Hasilnya memang fantastis: berita jahat itu dipercaya begitu rupa.

Kalau disingkat dalam bahasa yang ringan: kebodohan yang dikatakan terus-terusan telah jadi kebenaran yang diyakini semua orang. Suasana hidup semacam ini telah mencemari apa saja. Pencemaran itu membuat kehidupan publik diracuni begitu rupa.

Kami jadi saksi bagaimana intimidasi berjalan di mana-mana: diskusi dibubarkan, buku dirampas hingga warga teraniaya karena tanahnya tak mau dipakai untuk bandara. Pembangunan yang merampas hak dan kedaulatan petani ada dimana-mana.

Padahal soal keadilan ekonomi telah jadi hantu bagi bangsa ini. Otonomi yang mustinya mampu bawa kesejahteraan ternyata punya hasil yang masih jauh dari harapan. Kesenjangan sosial bukan terjadi antar warga tapi juga antar wilayah.

Malah yang mengenaskan lagi pemerasan terjadi hampir di semua wilayah. Para kepala daerah yang ditangkap KPK terus-menerus bertambah. Mulai dari jual beli perizinan hingga bisnis pengangkatan pegawai. Semua soal itu menghadang dan menumpuk.

SMI tak lelah-lelahnya mengingatkan dan ikut berusaha mencari jalan keluar. Kami menganggap gagasan perubahan harus ditambang dari ide-ide segar. Itu sebabnya kami terus-terusan mendorong ide alternatif melalui berbagai ruang.

Ruang diskusi diselenggarakan bukan hanya untuk berbagi ide tapi juga melatih berfikir kritis. Bagi kami untuk menghadang wabah pikiran naif musti ditangkal dengan hidupnya kesadaran kritis. Banyak sekali buku yang kami coba bedah, diskusikan dan datangkan penulisnya.

Kantor lama ini pernah jadi saksi bisu bagaimana para intelektual kritis kita datangkan. Mulai dari figur jurnalis pemberani Alan Nairn hingga aktivis yang jadi pejabat seperti bung Hilmar Farid. Juga kyai muda yang piawai Gus Fayadl hingga jihadis seperti Abu Tholut.

Tak sekedar pembicara tapi juga ada banyak anak muda yang pernah singgah kesini. Anak-anak muda Amerika, Australia hingga Malaysia yang ingin mengenal SMI hingga ingin melakukan kerja sama. Kami juga menerima sejumlah mahasiswa yang menjadikan SMI jadi objek studinya.

Sesungguhnya lima tahun yang dilalui penuh warna itu bermula dari rumah sederhana ini. Kami mengontraknya pada satu keluarga yang baik hati. Tinggal di lingkungan yang masyarakatnya tak pernah merasa terganggu. Meski tahu aktivitas SMI yang begini tapi mereka memilih untuk tak meributkanya.

Banyak kantor yang nasibnya tak semujur kami. Ada yang diusir dengan spanduk atas nama warga. Bahkan ada kantor yang bikin acara saja musti dilawan oleh ketua RT sekitarnya. Kami percaya kalau hubungan baik dengan sekitar adalah kunci segalanya.

Kini kami berpamitan pada tempat yang telah membesarkan kami. Rumah yang mengasuh gagasan, kegiatan hingga teman-teman. Kami berangkat menuju tanah pedesaan yang suasananya pasti tak sama. Disana kami akan tinggal bersama sekolah PAUD Amartya. Rintisan yang dilakukan oleh SMI sejak lama.

Bangunan mimpi kami akan dibagi bersama: belajar mendidik anak-anak usia dini, mengasuh rubrik berita hingga memastikan kegiatan relawan Amnesty International. Semua itu buah dari apa yang kami kerjakan lima tahun yang lalu. Semua itu berpangkal dari apa yang digagas di rumah lama.

Sudah pasti tantangan kami jauh lebih berat: suasana politik yang panas karena pemilu, mobilisasi massa yang akan sering terjadi serta ledakan isu yang meledak karena soal apa saja. Belum lagi suasana ekonomi yang suram seiring dengan perang dagang antara Amerika dengan China.

Berjalan melalui hiruk pikuk semacam ini membawa kita kembali pada niatan SMI berdiri. Hendak merintis kehidupan yang demokratis dimana tiap orang punya hak yang sama dan mereka yang lemah wajib dilindungi oleh konstitusi. Tekad itu masih membakar karena rantingnya kini berkembang.

Ranting itu adalah anak-anak muda yang selalu datang di tiap aksi kamisan. Itulah anak-anak muda yang berkerumun dalam tiap diskusi. Mereka yang selalu gelisah, resah dan ingin mewujudkan perubahan. Bagi kami merekalah yang bisa memperjuangkan harapan yang kini terus-menerus dipangkas.

***

Rasakan, rasakan ini darah mengalir

Karena kita akan punya tanah air

Rasakan, rasakan jantung berdegup

Karena kita akan punya hidup

Teman, pukul, pukul genderang

Dari Yogya kita datang

Ke Yogya kita pulang

(Sitor Situmorang, Yogya)