Apa Kabar Kaum Aktivis?

Apa gunanya seni menulis dan berfikir bagi bumiputera. Yang pada setiap kesempatan dapat menjadi sasaran tindakan polisi yang sewenang-wenang. Apa gunanya rencana-rencana irigasi yang paling baik bagi kita. Jika setiap saat kita kehilangan sawah-sawah kita? (Sarekat Islam)

***

Keadaan sosial memang tidak makin membaik bung. Tak usah menyaksikan berita tapi membaca kenyataan sosial kita mungkin tak terlalu bangga. Di sana sini masih ada penggusuran dan korupsi tetap meraja lela. Boleh kita optimis ketika melihat Aksi Kamisan masih didatangi banyak anak muda atau protes rakyat kecil yang tak mau tanahnya disita. Kita kagum perlawanan rakyat masih ada tapi kita cemas rakyat kian tak berani bicara.

Kriminalisasi bisa datang tanpa diduga. Seorang yang punya pandangan kritis bisa ditangkap begitu saja. Seorang yang komentar seenaknya dapat dihukum dengan mudahnya. Bahkan seorang yang terus kritis atas operasi perusahaan bisa dibinasakan dengan mudah. Kita hidup bukan hanya dalam kecemasan tapi pada situasi dimana tak mudah untuk setia pada keyakinan perjuangan.

Perjuangan untuk membela yang lemah, untuk terus meneguhkan keadilan bahkan untuk melawan semua bentuk penindasan. Dahulu komitmen itu dipelihara dengan aksi, diskusi dan refleksi. Sekarang keyakinan itu tak mudah ditautkan karena tempat bertautnya makin melemah. Kampus yang semestinya jadi lahan penanaman kesadaran kritis malah jadi balai latihan kerja. Mahasiswa tak dilatih berfikir merdeka melainkan menghamba. Hamba bagi kekuasaan yang kini membutuhkan mereka untuk membujuk rakyat yang dulu mereka bela.

Banyak aktivis memilih untuk berada dalam genggaman kekuasaan dengan dalih ingin memperbaiki dari dalam. Banyak aktivis yang secara sadar bersekutu dengan penguasa dengan alibi ingin berjuang lebih optimal. Hidup mereka bukan berkalung lagi dengan resiko tapi kepastian atas penghasilan.

Sama halnya dengan organ gerakan yang tampaknya kian menyusut anggotanya. Mereka tak lagi percaya pada ide perjuangan membara yang dulu jadi roh para aktivisnya. Rakyat yang lemah perlu diberi suntikan harapan melalui bantuan anggaran atau bekal ketrampilan. Sehingga kalau keadaan memburuk mereka dengan mudah bisa mengantisipasinya. Kita bukan butuh rakyat yang kritis tapi rakyat loyal yang membantu program apa saja yang diterapkan.

Tapi apa memang benar situasi seburam itu? Apa memang kekuasaan sudah tak lagi bisa dilawan dengan kekuatan gerakan? Atau memang kekuasaan sudah makin sempurna dalam menaklukkan kesadaran kritis rakyat sehingga mereka tidak bisa melawan sama sekali? Bahkan untuk menyatakan protes mereka tak berani, takut dan lebih banyak merasa tak ada gunanya.

Kita bukan hanya kian pragmatis tapi juga egois dan tak lagi setia. Pada ide perjuangan yang dulu membuat banyak kawan kita dibunuh, hilang dan tak jelas dimana keberadaanya kini. Seolah heroisme masa lampau itu hanya patut jadi bahan cerita ketimbang inspirasi radikal yang menuntun keberanian. Kita makin larut dalam urusan yang berkaitan dengan masa depan diri sendiri ketimbang masa lalu yang padat oleh cerita ketidak-adilan.

Tapi jangan menyerah hanya pada suasana dan keadaan. Kian buruk yang kita alami sebenarnya kita jadi paham memang perjuangan itu bukan lagi beban tapi tantangan. Ditantang kita untuk melawan rasa pesimis, rasa tak berdaya dan rasa putus asa. Sebab yang kita hadapi orang yang sama hanya punya kekuatan yang berlipat ganda.

Partai politik telah jadi mesin kekuatan raksasa yang mampu melakukan apa yang mustahil dulu terjadi. Tak hanya mengantar siapa saja untuk duduk berkuasa tapi juga punya kekuatan untuk menyerap semua sumber daya gerakan. Banyak aktivis memilih hijrah ke partai karena banyak yang mampu diperbuat selama berada disana dan banyak yang diperoleh waktu disana. Kesempatan, kedudukan dan jaringan.

Diperkuat dengan kuasa parlemen yang luar biasa, partai telah menjadi energi yang paling bersinar. Dipadati oleh pengusaha, aktivis bahkan tentara partai sudah jadi kekuatan politik yang dominan. Kita berhadapan tidak dengan militerisme lagi tapi kekuatan partai politik yang melumpuhkan semua sendi demokrasi. Tapi partai politik kekuatanya tidak pada senjata melainkan massa.

Kini tugas gerakan adalah menggerakkan, menyadarkan dan mendampingi massa. Terutama massa yang telah mengalami penindasan, peminggiran dan penganiayaan. Mereka bisa mewujud pada petani yang digusur tanahnya, korban pelanggaran HAM hingga buruh yang dihimpit hidupnya. Bersama mereka kita belajar arti pengorbanan, keberanian dan keyakinan atas kebenaran. Tanpa massa yang terorganisir kita sebenarnya berjuang di atas tali yang rapuh.

Mari kita sudahi kepercayaan buta pada demokrasi. Jangan terlampau yakin dengan propaganda transparansi dan akuntabilitas yang bisa menciptakan kekuasaan yang benar. Kita jangan pula terpukau oleh angka, survei atau indeks demokrasi yang terus-menerus jadi indikator mengukur suhu penegakan HAM. Prosesi itu semua membantu tapi sebenarnya bukan itu fokus terpenting kita di tahun mendatang.

Massa bukan kita sadarkan tapi kitalah yang patut disadarkan oleh massa. Sehinga pemahaman dan pengalaman kita atas kontradiksi itu bukan pada batas persepsi tetapi pengalaman empiris. Kontradiksi itu bukan bahan analisis tapi pengalaman yang meyentuh secara langsung. Berikan kesempatan kita untuk kembali memperjuangkan keadilan, kesejahteraan dan penghormatan pada nilai kemanusiaan dalam modus yang sejarah pernah ajarkan.

Soekarno melalui pidato dan pendirian kekutan politik yang nasionalistik. Hatta bersama Sjahrir mengembangkan pendidikan. Tan Malaka menyadarkan arti kemerdekaan 100%. Begitu pula Tjokroaminoto yang memberikan tampungan rumahnya untuk anak-anak muda yang berpikiran besar. Para aktivis di masa lalu itu mengaitkan tiga kekuatan jadi senjata andalan: agitasi, pengetahuan dan terjun bersama massa serta anak muda.

Bahwa negeri ini berdiri melalui tangan banyak petani, buruh hingga pejuang muda yang meyakini kedaulatan bukan wacana tapi praktek pembebasan yang nyata. Mari kita kembali pulang pada pemilik kedaulatan yang sebenarnya: rakyat jelata, miskin dan teraniaya. Rumah itu dulu kita tinggalkan karena kita percaya kalau estafet perjuangan berikutnya adalah menguasai tahta. Ternyata tahta itu telah dicemari oleh benih kotor dan najis yang membuat siapapun yang duduk di atasnya menjelma menjadi penindas baru.

Tahun mendatang hanya tersisa pilihan tunggal: bersama para korban atau ikut dalam pesta pora para penyamun kedaulatan yang pasti takkan lama usianya.

Selamat menuju tahun pembebasan!!!