JOHN TOBING: YANG BERTAHAN DAN TAK BERUBAH

Oleh Eko Prasetyo (Pendiri Social Movement Institute)

Muda atau tua tidak bergantung pada tanggal dalam suatu masa, tapi keadaan jiwa. Tugas kita bukan menambah usia pada kehidupan, tapi menambah kehidupan pada usia (Myron J Taylor)

Bukan karena perjuanganlah kita jadi seniman, tetapi karena kita seniman maka kita menjadi pejuang   (Albert Camus)

Saya mengenal dekat John Tobing sesudah mendirikan SMI (Social Movement Institute). Dulu saya sempat bertemu saat mahasiswa. Ingatan saya dirinya datang ke sebuah pertemuan dengan iringan banyak kawan. Dari dulu namanya populer, apalagi gaya  bicaranya yang terbuka, jujur dan berani. Ia gampang akrab serta mudah sekali dimintai bantuan. Saat itulah saya merasa penting kehadirannya. Terutama pada anak-anak muda yang usianya setara anaknya. SMI baru berusia dua tahun ketika John bertandang pertama kalinya.

Saat itu SMI sedang persiapan konser tunggal Darah Juang. Tiap hari nyaris ia datang ke teras SMI. Berdendang ditemani oleh kawan-kawan SPI (Serikat Pengamen Indonesia). Wilson dan Hilmar Farid waktu itu minta SMI menjadi panitia penyelenggara konser itu. Anak-anak SMI sangat antusias, gembira dan selalu menjadikan John tempat bertanya. Tentang reformasi 98 lalu, bagaimana kegagalan reformasi hingga  tanggapannya atas teman-teman yang  berada di Istana. Gaya John selalu khas: menggebu  dalam bicara, penuh dengan canda dan biasanya bertanya balik. Waktu itu anak-anak seperti mendapat kuliah umum dari seorang vokalis dan pencipta lagu Darah Juang.

Lagu yang selalu diputar pada setiap inisiasi mahasiswa baru. Saya menyanyikan lagu itu kembali waktu pembukan mahasiswa baru di Tasikmalaya. Bahkan SMI menjadikannya sebagai pembuka lari maraton bertajuk “Lari Memburu Keadilan” pada Desember tahun 2025 lalu. Lagu itu menyayat dengan syair yang  begitu mudah dihafal. Kerapkali dinyayikan dalam adegan yang selalu heroik: mengepalkan tangan kiri. Saya ingat, pada tahun 2000-an dengan antusias anak-anak penerbit kiri menyanyikan lagu itu bersama di depan stasiun kereta. Ada sihir keyakinan yang mengeras ketika lagu itu dihidupkan pada setiap aksi massa. Lagu itu seperti monumen yang menyimpan keyakinan untuk terus melawan ketidakadilan.

Konon lagu itu disusun sebagai ungkapan perlawanan Orde Baru yang  tiran  dan militeristik. Taktiknya mesti ada lagu yang  bisa menyatukan udara perlawanan tapi dengan lirik yang bersahaja. Di tangan John serta Dadang Juliantara, lagu itu menorehkan bait yang hingga kini terasa aktual, segar bahkan inspiratif. John menyalakan lagu itu dengan vokal bataknya yang bergetar dan berat. Frasa “di sini negeri kami” seperti menancapkan akar persoalan kemanusiaan yang terus tertanam. John telah membuat lagunya seperti sebuah sabda yang nilainya abadi. Lagu itu seperti pembuka untuk sebuah peristiwa perlawanan.

Saat konser tunggal Darah Juang, seakan waktu bergerak kembali ke Bundaran. Tempat  di mana mahasiswa menampilkan keberaniannya, menyatakan ikrar perlawanannya dan mengingat kembali betapa perubahan tidak pernah terjadi di negeri ini. John hidup dengan sederhana dibanding banyak teman-teman seangkatannya. Ia waktu itu masih sering pindah rumah bahkan berdagang es durian dengan banyak cerita indahnya. Saya sering mendapatkan cerita indah itu dengan gayanya yang riang. John bagi saya lebih dari seorang teman bahkan saya menganggapnya ia seperti seorang sufi. Sederhana, apa adanya dan hangat.

Ia cerita pernah ditawari kerja oleh  teman-teman yang saya kenal. Disuruh hanya duduk saja tapi menerima bayaran besar. Ia merasa dipermalukan bahkan sebagai seniman ia tak mau diperlakukan seperti itu. Juga  bagaimana ia pernah hidup di partai politik yang tidak pernah menghargai kebebasannya untuk berpendapat. Kemudian diajak untuk berada di LSM yang dirinya juga seperti bagian dari proyek yang hanya mematut diri. Ia selalu percaya bahwa kebebasan itu kehormatan satu-satunya yang dimiliki manusia merdeka. Baginya, gerakan sosial mengalami kejumudan, kehabisan gagasan bahkan taktik yang berani. Saya masih mengingat pesannya pada anak-anak muda untuk terus bersiasat dalam melakukan perlawanan, termasuk lewat  musik.

Nasehat itulah yang membawa SMI untuk membuat berbagai konser musik. John jadi sumber ide bagi taktik gerakan kami. Tiap saat kami coba untuk menghidupkan perlawanan dengan medium yang beragam: membuat teater, memutar film hingga mengajak banyak musisi. John selalu khawatir dengan arus militerisme, gejala opportunisme bahkan politik transaksional. Salah satu kawan karibnya, Wilson, tiap ke Jogja selalu mengajak Melki—anak SMI—untuk menjenguk John. Melki bahkan punya ide untuk membawa mahasiswa baru pada tiap angkatan agar bisa berdiskusi dengan John. Hampir semua anak SMI mengenal dekat dengannya karena itulah cara kami. Memperkenalkan Darah Juang sekaligus John sebagai vokalisnya.

Bersama John dan Darah Juang itulah saya seperti memiliki sahabat. Dengan Wilson yang selalu mengingatkan saya untuk mengajak John terasa bahwa kita tidak pernah beranjak tua. John sesekali mengirim salam kemudian saya juga kadang meminta agar Melki menemui John. Meski jarak usia kami tidak lebar, tapi saya tetap menganggapnya sebagai pendidik: yang saya butuhkan untuk anak-anak angkatan muda di SMI. Biar mereka tahu ada pejuang yang  hidupnya sederhana, keyakinannya tangguh bahkan tetap menjadi kompas moral bagi kami. John, saya terakhir menjenguknya saat berada di bangsal dengan alat-alat medis yang menempel di tubuhnya. Saya bahkan  hanya bisa menatapnya melalui daun jendela. Di RS Panti Rini itulah saya melihat awan gelap perjuangan.

Hingga semalam saya mendapat kabar dari Arie Jito: John sudah kembali “pulang”. John kembali ke rumah Tuhan yang niscaya memberinya ketentraman dan kedamaian. Di sana mungkin tidak ada Darah Juang, tapi pasti John akan ketemu banyak kawan yang dulu pernah berjuang: mereka yang dianggap hilang serta tak kembali, mereka yang dianiaya tanpa mendapatkan keadilan, dan mereka yang tanah serta nyawanya disita oleh kekuasaan. John mengukir hidupnya dengan kehormatan sebagai pejuang: membuat karya yang jadi sejarah sekaligus merintis hidup yang jadi sumber teladan. Kami bangga pernah menjadi tempat persinggahan John dan kami percaya inilah garis hidup terbaik dari seorang aktivis 90-an. John, terima kasih dirimu telah merawat keyakinan banyak anak muda dan terima kasih sudah mampir, bermain bersama dan membuka diri untuk SMI. Selamat jalan bung John Tobing.  Salam juga dari “Mereka yang  dirampas haknya”.

Jika anda menyukai konten berkualitas Suluh Pergerakan, mari sebarkan seluas-luasnya!
Ruang Digital Revolusioneir © 2024 by Suluh Pergerakan is licensed under CC BY-SA 4.0