Suluh Pergerakan

Wawancara Imaginer Dengan Covid-19

Tak ada hal besar memasuki manusia tanpa kutukan” -Sopochles

Saya beruntung akhirnya bisa menemui virus ini di tempat asalnya. Janji berulang-ulang untuk mewawancarainya sulit sekali karena kesibukan sang virus. Gerakan mereka sudah mengalahkan gerakan komunis gaya lama maupun gaya baru. Kecepatan mereka sudah mengalahkan pasukan kopassus hingga densus. Menemuinya saja saya harus melewati banyak protokol: harus pakai masker, tetap jaga jarak dan selalu cuci tangan. Katanya itu cara agar saya tetap bisa mewawancarai dengan tenang tanpa rasa takut dan cemas. Itupun tidak bisa berlama lama karena virus itu sekarang punya kesibukan baru yakni menyambut diberlakukanya PSBB dan Pilkada.

Saya diterima di ruangan yang tampak sibuk. Katanya ini kantor pusat yang menghimpun serangkaian data. Baik data jumlah orang yang positif hingga mereka yang tewas karena diserang virus. Saya lihat mobilitas mereka luar biasa padatnya. Hilir mudik virus hingga kabar yang dimuat dalam papan yang berubah-ubah jumlahnya. Angkanya membuat saya risau karena terus menerus naik bahkan sistem pencatatan mereka pernah lumpuh karena mesinya terlampau panas. Akibat banyak korban. Virus yang mengancam banyak negara itu seperti sebuah pasukan terus merangsek kemana-mana.

Diterima saya dengan ramah bahkan dengan tangkas mereka menjawab semua pertanyaan saya dengan terus terang. Tidak ada yang perlu ditutup tutupi kata mereka. Mereka ingin lebih terbuka dan ingin mengatakan kalau mereka juga sudah merasa lelah melakukan serangan beruntun selama enam bulan. Mereka tidak menyangka kalau pertahanan negeri ini sangat lemah bahkan diluar ekspetasi mereka kalau virus ini bisa bertahan begitu panjang. Di negeri asalnya China pasukan virus ini sudah angkat bendera putih untuk menyerah. Negeri satu partai dengan ideologi komunis ini memang masih menyimpan semangat revolusi Mao Tse Tung sehingga virus ini tahu diri untuk segera menyingkir dan memusnahkan diri.

Anda sebagai virus bagaimana bisa melakukan serangan enam bulan dengan kekuatan yang makin berlipat ganda bahkan kami kewalahan menghadapinya?

Dalam enam bulan ini saya tahu anda memang tidak punya strategi penanganan yang komplit. Semula anda meremehkan keberadaan kami dan itu sangat menyinggung harga diri kami. Dipikir kami ini setara dengan virus flu apalagi batuk biasa. Komentar pejabat kalian menambah semangat kami untuk menyerang karena biar masyarakat kalian tahu betapa banyak komentar itu yang asal bunyi dan asal-asalan. Bobol pertahanan kalian karena memang lebih banyak pejabat bingung memahami siapa kami sebagaimana kebingungan pejabat kalian memahami keinginan rakyat pada umumnya. Lihat pekan pertama kalian kelabakan menghadapi serbuan kami bahkan masih percaya ini akan berlalu pada akhirnya. Pekan-pekan berikutnya kami mulai menyerang warga kalian yang masih merasa virus ini tidak bahaya bahkan kami serang tubuh pejabat kalian untuk membangunkan kesadaran kalau kami itu bahaya dan tidak bisa diajak berdamai.

Menurut kalian faktor apa yang membuat kami kewalahan menghadapi serangan kalian yang luas,cepat dan sistematis?

Kami harusnya dihadapi oleh pasukan yang sepadan. Di China kami dilawan oleh pasukan tenaga medis yang sarana dan dukungan politiknya luar biasa. Disana seorang kepala daerah yang tidak mampu kendalikan virus langsung dipecat. Di Korea bahkan upaya untuk mengidentifikasi keberadaan kami dengan melakukan test yang sepadan. Mereka melakukan 3 T: testing, tracking, treatment dengan melibatkan teknologi serta tenaga medis yang jumlahnya luar biasa. Kalian nyaris tertinggal dalam sisi ini sehingga kami mudah sekali melakukan serangan. Bahkan terjadi bolak balik perubahan tim untuk penanganan kami dan sayangnya para epidemolog kurang didengar saran-saranya. Kami itu bukan gerombolan teroris apalagi rombongan mahasiswa penyuka ide komunis yang bisa ditangkap serta dikriminalisasi dengan mudah. Kami itu virus yang bisa melawanya tenaga medis dan yang mampu mencium gerak langkah kami para epidemolog. Andai kalian mengoptimalkan peran mereka kami tentu sudah menyerah sejak awal. Lihat saja tenaga medis yang kalian miliki sering kewalahan karena APD terbatas. Kami akan gampang menyerang pada siapa saja yang tidak punya baju pertahanan kuat. Saya merasa kalian tidak mengenal kami lebih baik.

Tapi bukankah serangan kalian tidak membawa kematian luar biasa bahkan banyak pula yang sembuh?

Itulah kalian selalu percaya bahwa kesembuhan dijadikan tolak ukur. Memang ada yang sembuh tapi kesembuhan itu ditempuh melalui proses yang panjang dengan melawan berbagai pandangan yang kerapkali stigmatik. Tanya saja pada peyintas bagaimana mereka menjalani hari-harinya dan apakah mereka punya pengalaman menggembirakan bersama kami. Yang sudah sembuh saja tetap punya masalah di tubuhnya.  Selalu kalian dalam upaya meneguhkan harapan mengajukan penilaian yang sesungguhnya tidak akurat. Tidak hanya virus covid banyak pula yang sembuh dari penyakit apa saja. Tapi bukankah lebih baik kalian menghindari serangan kami dan menjaga diri agar tidak kami serang. Kesembuhan itu upaya setelah kalian terserang dan lebih baik lagi kalau kalian menjaga diri untuk tidak kena serangan. Soal sembuh itu ikhtiar ditambah doa tapi mengindar dari serangan itu butuh taktik, kecerdasan dan kemampuan.

Anda sepertinya sangat ahli memahami kami seakan-akan anda itu virus yang lebih tahu diri kami ketimbang kami sendiri?

Inilah sikap kebanyakan dari kalian kalau diberi masukan merasa bahwa itu seperti penghakiman. Sikap bebal itu yang membuat kalian sulit sekali meniru hal baik yang dilakukan oleh negara lain. Selalu percaya kalau apa yang diputuskan oleh kalian itu memang sesuai dengan ciri, kebutuhan bahkan persoalan yang kalian hadapi. Ingat saja bagaimana negara lain yang melakukan karantina lalu kalian anggap itu bisa menghancurkan ekonomi. Penilaian yang buru buru dan menyimpulkan secara hiperbolik itu membuat kalian enggan untuk saling belajar. Alasanya selalu saja kalian merasa negaranya beda dan punya cara yang berbeda. Serangan kami tidak membedakan ideologi apalagi letak geografi. Serangan kami merata ke semua negara. Buktinya tanpa karantina kalian juga banyak yang terserang bahkan lebih parah lagi ekonomi kalian juga mengalami ancaman resesi. Malah tenaga medis yang seharusnya nyawanya kalian jaga malah sekarang mati satu demi satu. Bagaimana kalian akan memenangkan pertarungan ini jika pasukan intinya berguguran. Benteng pertahanan kalian mudah kami jebol.

Tapi bukankah tahun depan sudah ditemukan vaksin yang bisa memusnahkan kalian seketika?

Aku senang kalau itu yang akan terjadi. Tapi kami juga tahu bahwa produksi vaksin dalam jumlah banyak itu butuh waktu dan dana. Dua hal ini yang kalian hampir kehabisan. Waktu yang kalian miliki tidak lagi banyak karena rumah sakit mulai penuh, pasien makin banyak dan kebijakan kalian masih saling bertentangan satu sama lain. Uang yang kalian miliki juga kini mulai menipis. Kucuran dana yang berasal dari hutang itu memang bisa menyelamatkan tapi itu beresiko untuk masa depan. Jadi berharap tahun depan itu hanya upaya kalian untuk menanam semangat optimis padahal yang kalian butuhkan hari ini adalah bersatu melawan kami. Jauh lebih baik kalau kalian bisa memberi kami sinyal kalau serangan kalian makin fokus, makin berani dan makin canggih. Mengapa kalian tidak mendorong setiap daerah memperbanyak test dan mengapa kalian tidak melakukan pembatasan karena kunci penanganan kami letaknya ada pada mobilitas kalian sendiri.

Kami tidak mau ekonomi hancur gara-gara pembatasan bahkan saat Jakarta mau mengembalikan PSBB saja langsung Indeks Harga Saham Gabungan jatuh. Katanya Gurbenur DKI membakar uang 300 triliun. Kami tidak ingin gara-gara melawan kalian kami hancur ekonominya

Semua negara sedang berada dalam tikaman krisis karena menghadapi kami. Tidak hanya negerimu tapi semua negara mengalaminya. Aku tidak mendukung keputusan Gurbenur DKI karena itu merugikan pasukan kami yang sekarang sedang nyaris hampir mengusai ibu kota. Tapi kami memaklumi keputusanya mengingat daya kekuatanmu memang tidak lagi seperti di awal mula. Masyarakat mengerti ancaman yang kini tidak lagi biasa dianggap remeh. Hanya masyarakat juga jenuh jika terus menerus tinggal di rumah saja. Tapi kalau pemerintahmu sendiri ribut tidak punya pandangan yang sama bagaimana hendak melawan kami yang kini kekuatanya sudah luar biasa. Kuanjurkan pada kalian untuk lebih fokus dalam memerangi kami dengan melihat praktek negara yang sudah berhasil melakukannya. Jangan sampai kalian alpa pada persoalan yang sebenarnya karena memikirkan kepentingan diri sendiri. Kami itu kompak dalam menyerangmu dan jika kalian tidak sekompak kami akan mudah sekali kalian musnah.

Rasanya kalian seperti meremehkan kemampuan kami ya?

Tahukah kalian kami sudah menggandakan diri dengan kemampuan yang baru. Kalian beri sebutan serangan ini dengan kata ‘happy hipoxia’ dimana orang merasa sehat saja tapi tiba-tiba kami serbu saluran pernapasanya hingga tewas dalam jangka waktu singkat. Kalian sampai tidak punya keluhan saluran pernapasan karena serangan ini spontan, cepat dan tidak terdeteksi sama sekali. Artinya serangan kami lama kelamaan tidak gampang kalian taklukkan. Serangkan ini memang kami fokuskan ke paru-paru dan itu artinya kalian musti lebih jeli, lebih teliti dan lebih hati-hati. PM Inggris Boris Johnson setahuku yang positif covid menggunakan alat Oksimetri untuk memantau persediaan oksigen tubuh dan denyut nadi. Oksimetri itu bisa didapat di apotek untuk pencegahan dini. Kami merasa kalian kurang banyak belajar mengenai diri kami dan mudah sekali ditiupkan harapan palsu kalau kami akan gampang musnah. Ingat optimisme itu baik tapi lebih tepat lagi menghadapi situasi sekarang dengan bersikap realistis.

Tapi saya ingin bertanya mengapa memilih negeri kami yang kalian serang?

Kami tidak memilih negeri mana yang diserang tapi kami datang untuk menguji kekuatan setiap negara. Kekuatan dalam bekerja sama, kekuatan untuk meniadakan perbedaan serta kekuatan untuk tetap bersatu sebenarnya menjadi energi yang bisa digunakan untuk melawan kami. Bukan vaksin yang mengalahkan kami tetapi kepercayaan kalian untuk saling membantu, keberanian kalian untuk rela berkorban dan dukungan kalian untuk mereka yang sedang berjuang. Kami bisa datang dalam berbagai wajah tapi kalian sebaiknya mulai berbenah karena musuh yang kalian hadapi bukan kami tapi diri kalian sendiri. Berkacalah pada berbagai negara yang berhasil mengatasinya dan dengarkan pandangan mereka yang ahli di bidangnya. Buang jauh-jauh ego partai, ego kekuasaan bahkan ego keuntungan. Sebab jika kalian masih mempertahankan kepentingan diri sendiri maka selamanya kami akan menjadi yang tidak bisa kalian lawan.

Kok kamu seperti bukan virus malah mirip penceramah

Sudahlah kalian lebih baik mencurigai apa yang salah dari cara kalian menangani. Kami hanya virus yang tugasnya mencari sangkar untuk berkembang. Ingatlah kami bisa diatasi jika kalian bisa mengatasi hubungan diantara kalian sendiri. Hubungan antara Presiden dan menterinya, hubungan antara menteri dan kepala daerahnya bahkan hubungan rakyat miskin dengan para elitenya. Jadikan kedatangan kami sebagai kesempatan untuk berbenah bukan kesempatan untuk merusak kekuatan kebaikan yang ada pada sejarah pendirian negeri kalian. Jangan sampai kedatangan kami memecah belah diantara kalian bahkan kuingatkan sekali lagi hadapi kami dengan pengetahuan bukan keyakinan buta yang  memuaskan kepentingan diri kalian sendiri. Mungkin itu saja yang bisa kuberikan jawaban karena aku sudah baik membagi strategi serangan pada kalian. Ingatlah belajarlah untuk rendah hati, tidak arogan dan jangan sewenang-wenang.

Entah tiba-tiba virus itu lenyap dari pandangan. Aku duduk terpaku di bangku RS yang kali ini sepi sekali. Di tiang depan ada tempelan pengumuman. Isinya tentang panduan protokol kesehatan. Alat rekam ini masih kupegang dan kusadar virus itu sudah lenyap. Rasanya bergidik mengingat pertemuan yang langka dan tidak kusangka. Virus itu seperti mampu membaca keresahanku. Diam-diam aku memanjat doa semoga ada hikmah di balik apa yang tampak sebagai musibah. Persis seperti yang dikatakan virus tadi: kedatanganya hanya untuk menguji ketangguhan kita sebagai sebuah bangsa. Lebih mirip kebijaksanaan ketimbang sebuah rencana serangan. (EP)

Ilustrator: Hisam