Ilustrasi | Alchetron

The Lizard, Kalau Copet Jadi Utadz

Saya terlambat menonton film The Lizard yang sudah tayang sejak 2004  Film yang kemudian dilarang untuk tayang di Iran ini mendapat banyak penghargaan. Ceritanya sederhana, kritis, dan membuat kita terperangah. Babaknya diawali dari tertangkapnya seorang pencuri yang mahir memanjat: Reza Mesghalli. Julukanya Cicak. Dibawa ke penjara lalu dimasukkan dalam sel isolasi dengan pengantar kepala penjara yang bernama Mojaver.

Mojaver, kepala sipir ini mengibaratkan penjara sebagai tempat diet rohani. Katanya, “Penjara adalah klinik spiritual yang akan mengantarmu ke surga meski dipaksa.” Retorika yang sugestif ini ditanggapi sinis oleh Reza. Terutama saat berada di penjara, ia kerap dibawa ke sel isolasi. Penjara telah membuatnya putus asa.

Kamal Tabrizi, sang sutradara asap Iran berusaha meletakkan manusia dalam pribadi yang kompleks. Reza pernah berbuat baik di penjara, yakni kala melepaskan burung merpati yang terjerat di kawat. Kelak merpati itu yang melindungi Reza selama pelarian, tindakan nekat yang diambilnya setelah bertemu dengan seorang Mullah yang baik hati, Mullah Reza.

Mullah Reza teman sekamarnya di RS. Mullah ini selalu melihat Reza sang Napi yang frustasi dan sering meremehkan Tuhan. Mullah bilang, “Ada begitu banyak jalan manusia menuju Tuhan sebanyak jumlah manusia di muka bumi.” Petuah yang hangat, meyentuh, dan diamalkan oleh sang Mullah sendiri. Sengaja ia tinggalkan baju Mullah-nya saat akan masuk ke kamar mandi.

Baju Mullah itulah yang dipakai Reza untuk melarikan diri. Babak film ini diawali dengan berubahnya Reza sang copet menjadi Mullah Reza. Reza si pencopet tak pernah sholat, mata keranjang, suka mencuri, dan penikmat pesta. Kali ini baju Mullah itu telah membuat dirinya dihormati, disegani, bahkan dijadikan panutan. Mullah Reza palsu salah tingkah apalagi ketika warga kampung menyambutnya sebagai ulama.

Saya terpesona dengan perjalanan copet jadi Mullah ini. Jadi Imam sholat padahal ia miskin pengetahuan untuk wudhu sekalipun, ia diminta ceramah agama yang bahan dasarnya pengalaman mencuri, dan ketika ia menemui warga untuk mencari paspor palsu dianggap menolong warga miskin. Tuhan menuntun Mullah ‘sang copet’ menjadi orang yang baik.

Sepanjang film ini, kita seperti diajari cara orang beragama dengan keyakinannya yang berbeda-beda. Mullah Reza ‘si copet’ punya dua murid remaja yang sangat berbeda kepribadianya: seorang yang disuruh menghapal Al-Qur’an terus-terusan padahal hatinya sedang jatuh cinta dan remaja konservatif yang melihat agama itu himpunan aturan yang kaku dan pasti.

Anda pasti tertawa saat menyaksikan Reza dimintai pendapat dalam debat agama, padahal ilmunya hanya mencopet. Suatu kali ia ditanya, “Bagaimana hukum sholat di Kutub Utara?” Jawabanya singkat, “Kamu bertanya ini seperti punya tiket bus untuk segera berangkat ke Kutub saja.” Semua yang diomongkan meski agak kacau tetapi dipahami sebagai bahasa kiasan bagi warga desa.

Sinema Indonesia dulu pernah melahirkan Nagabonar: Jendral yang berlatar belakang copet. Film yang katanya membuat sang Diktator Orba Soeharto tertawa saat melihatnya. Film ini bukan hanya mengajak kita tertawa, tapi merenungkan jalan menuju Tuhan ternyata bukan sebuah mistar yang lurus. Reza si copet pada akhirnya tertekan untuk berbuat baik.

Ia kelak di akhir film secara meyentuh menyerahkan baju palsunya. Baju Mullah itu telah mengubah banyak dirinya. Baju itu memberi keleluasaan tapi juga membuatnya dipandang sebagai manusia mulia. Tindakan yang tak sengaja sekalipun telah membawa dirinya dalam prasangka sebagai orang baik. Tuhan, melalui makhluknya yaitu merpati kecil selalu membantu Reza.

Muncul pula wajah seorang anak yang jadi cerminan hati nuraninya. Anak itu selalu memandangnya dan kerapkali ia merasa bersalah, bingung, dan cemas. Nurani itulah pengadilan yang bisa jadi hakim terbaik diri kita. Reza sang pencopet itu merasa bahwa baju ulama itu melindunginya tapi baju itu juga telah menutup pintu kejujurannya.

Sayang film ini kemudian dilarang di Iran. Ada sebagian yang melihat film ini menghina ulama. Tapi uniknya ada ulama lain yang merasa film ini tak menghina sama sekali. Dibutuhkan kematangan Iman melihat film yang ulamanya berkomentar santai saja ketika ditanya apa hukum menyanyi di masjid. Jawabanya, “Masjid bukan hanya tempat orang bersedih.”

Padahal film ini berusaha mengajak penghayatan keagamaan yang ramah, terbuka, dan aplikatif. Di tengah masyarakat yang kecanduan akan petuah, maka ulama yang jenaka, simpatik, dan paham situasi pasti dibutuhkan. Reza ‘Mullah copet’ berceramah dengan bahasa sederhana, cepat, dan tidak sok tahu.

Walau copet, ia tahu bahwa kebaikan itu bisa tampil dalam tindakan yang sederhana, mudah, dan memberi manfaat. Pada suami yang suka memukuli istri, Reza cukup mengajaknya berkelahi; pada anak yang suka bertanya hal yang malah membebaninya, cukup dijawab dengan logika; dan terhadap orang tua yang terlalu memaksa anaknya, ia mengajak untuk bersikap dewasa.

Penutup film ini indah dan meyentuh. Mungkin karena film itu seperti kehidupan rakyat sehari-hari, sederhana, apa adanya, dan mudah sekali percaya. Kita melihat wajah umat yang menanti ulama, padahal merekalah yang sesungguhnya mengajari ulama itu untuk berbuat seperti harapanya. Film ini memilih untuk berada di samping massa yang selama ini sepertinya barisan yang patuh tapi sesungguhnya kekuatan yang berdaya.

Film ini mengajari siapapun yang ingin menjadi ustadz untuk tak usah terlalu sombong, arogan, dan merasa diri paling benar. Karena toh ketika seorang copet jadi ustadz, masyarakat ternyata menjadi lebih baik. Agama itu bukan sekedar ‘ilmu’ tapi ‘laku’. Itu kata petuah orang Jawa. Nikmatilah film ini, begitu saran saya.(*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika