Suluh Pergerakan

The Emancipated Spectator: Dengan Bagaimana Kita Melawan dan Terus Melawan

oleh: Maria Adriani

Buku   : The Emancipated Spectator

Penulis : Jacques Rancière

Tahun  : 2011

Penerbit: Verso

***

Buku ini, oleh Jacques Ranciere ditempatkan dalam penerusan gagasannya dalam The Ignorant Schoolmaster, yang mengembangkan pemikiran Jacotot terutama konsep Equality of Intelligence. Konsep tersebut bukan berarti semua yang terlibat dalam proses pedagogik mempunyai pengetahuan yang setara, atau malahan keseragaman pengetahuan. Alih-alih, dengan menarasikan bagaimana seorang guru yang tidak mengetahui bahasa Perancis dan berhasil mendidik murid-muridnya berbahasa tersebut, membuktikan bahwa hierarki kapasitas mengetahui adalah sama absurdnya dengan hierarki guru-murid. 

Dalam The Emancipated Spectator, Ranciere berangkat dari sebuah premis; bagaimana (mungkin) penonton dianggap sama tahu dengan aktor dan sutradara -misalnya dalam sebuah pementasan? Memang, Ranciere mengakarkan pertanyaan ini pada filsafat keindahan, khususnya pada kajian teater. Namun mengikuti dikursus-diskursus lain yang filsuf anti-filsafat ini bawa, konsep-konsepnya bisa diterjemahkan dan dipakai bebas, terutama untuk emansipasi perjuangan. Karena bagi Ranciere, estetika adalah politik, dan politik adalah estetika.

Dalam The Ignorant Schoolmaster, Ranciere menggodok gagasan Jacotot dengan menunjukkan bahwa orang yang tidak tahu, adalah bukannya mereka tidak cerdas, tetapi mereka acuh dengan apa-apa yang perlu mereka ketahui (ignoramous). Karena acuhnya, mereka bahkan tidak tahu apa-apa yang mereka tidak tahu. Bagi Ranciere, tugas seorang schoolmaster sebenarnya terus menerus membuat jarak agar si acuh “menyeberangi” jarak antara acuh dan peduli itu. Bukan memposisikan diri sebagai yang tahu (membodohi/stupefying) bukan pula mengawal penyeragaman transmisi pengetahuan (uniform transmission). Jika seorang schoolmaster melakukan yang kedua terakhir, oleh disebut Ranciere sebagai si Ignorant Schoolmaster. Ia hanya mereproduksi keacuhan-keacuhan yang lain. Tetapi, bukan berarti ignoramous bahkan si Ignorant Schoolmaster itu sepenuh-penuhnya bersalah. Hal ini karena mereka berada dalam “The police“.

Konsep The Police, merupakan konsep dasar dan cukup lama dari konsep-konsep lain yang Ranciere tawarkan. Mirip seperti polisi, The Police adalah sebuah arena pengawalan berpikir dan bersikap. Premisnya, yaitu tidak ada seorang pun yang berada diluar The Police. Bahkan exceptionality (kekhasan, keanehan, yang diluar kebiasaan) pun, berada dalam The Police. Seperti polisi, ia memiliki prejudice-nya sendiri, individu pun dikonstruksi multiple-layer oleh “polisi-polisi”-nya sendiri. Misalnya begini, katakanlah saya, mengaku orang kiri (cieee), tapi dalam sebenar-benarnya saya, dikonstruksi pula oleh budaya pop yang manifestasi identitas konsumsi ala neoliberalisme. Konstruksi sistem yang (maunya) saya lawan ini, tidak mungkin dihindari, karena situasi dan kondisi meletakkan saya berada dalam kepungan sistem tersebut. 

Konsep The Police ini penting untuk memahami bahwa tidak ada satupun fenomena berawal tanpa akar kesejarahan (ini salah satu kritik Ranciere atas posmodernisme). Kembali pada contoh diatas, mungkin bagi sebagian orang, contoh semacam saya diatas, dianggap “split“; tidak kukuh. Tetapi sebenarnya, dengan melihat sejarah dan konteks individual, “split” tersebut bisa dipahami. Lepas dari itu, lewat konsep ini Ranciere juga menunjukkan virus akut politik identitas; prejudice. Sebuah tuduhan “split” yang demikian sebenarnya adalah “Police” atas individu yang lain, sebenarnya bergerak dalam nalar sama seperti si ignoramous. Acuh bahwa individu lain mungkin memiliki sebab, alasan, berbeda karena pengetahuannya berasa dari pengalaman yang berbeda. Dengan konsep The Police, kita bisa menalar bahwa ignoramous dan bahkan si Ignorant Schoolmaster berada dalam multi-sistem pengatur. Jadi kesalahan bukan ditimpakan pada si “ini”, si “itu”, atau individu. 

Bagaimanapun, modernisme telah dan terus mereplika individu-individu yang tidak terkoneksi (disconnected individuals). Tidak terkoneksi dengan komunitas, sumber daya, makanannya, dll. Lebih lanjut, teknologi real-time dan budaya layar, membuat diskoneksi tersebut bergerak multi-arah dengan kecepatan dan percepatan yang berbeda-beda pada tiap-tiap individu. Dengan demikian, cukup sulit sebenarnya kita menemukan sebuah komunitas yang solid, yang aktif, yang benar-benar tumbuh dari kesadaran individual, pada konteks sekarang. Padahal, komunitas adalah basis gerakan. 

Sehingga, pertanyaan kita hari ini bukan lagi soal identitas; soal kiri atau kanan, hetero atau homo, kaya atau miskin, dan balik lagi; guru atau murid, benar atau salah, atau yang mana yang diuntungkan atau yang mana yang dirugikan. Karena bukankah, dikotomi semacam itu sudah tidak relevan? Lalu bagaimana kita meneruskan suluh pergerakan, ketika individu-individu “dihabisi” oleh sistem-sistem, ketika individu-individu bertempur satu sama lain seperti wayang-wayang yang dimainkan oleh dalangnya?

Tawaran Ranciere dalam Emancipated Spectator

Dalam sebuah pementasan, penonton (spectator) lebih sering dianggap tidak tahu, “perlu digugah”, “perlu dibangkitkan”, dll, demikian Ranciere memulai konsep ini dari mengkritik filsafat Plato. Memang, kemudian posmodernisme mencetuskan kritik dengan membuat teater tanpa penonton (drama), yang berbasis menciptakan spectacles (bumbu-bumbu) dan atau melibatkan keterlibatan penonton pada pementasan. Dengan hal-hal tersebut penonton seolah-olah, pada saat yang sama dapat merasakan keterlibatan. Yang sebenarnya terjadi adalah penonton melakukan identifikasi dirinya seperti lakon-lakon pementasan, sehingga seolah-olah tidak ada jarak antara dirinya dan lakon tersebut. Tetapi dengan demikian, kritik Ranciere disini, tetap saja penonton dianggap tidak tahu (sehingga perlu diberi spectacles, dll). Padahal, ada jurang besar antara melihat dan mengetahui. Belum tentu tidak melihat berarti tidak mengetahui, dan belum tentu pula melihat adalah mengetahui. Demikian pula, belum tentu, duduk sebagai penonton berarti tidak melakukan aktivitas.

Yang terakhir disebutkan, adalah kritik Ranciere terhadap praktik aktivisme pada umumnya yang berangkat dari basis pada libertarian dan humanisme universal (dari kesejarahan berasal dari Revolusi Pelajar 1958 di Paris). Pada saat melihat, penonton juga bisa melakukan cerna, translasi, dan pikir terhadap transmisi makna dari pementasan tersebut. Alias, pada momentum tersebut, penonton-penonton itu sebenarnya merupakan sebuah komunitas aktif yang berdaya. Namun keterlibatan penonton yang sedemikian itu rapuh, karena aktivitas tersebut bukan berasal dari dorongan si penonton sendiri, melainkan diciptakan, dikonstruksi oleh pementas. Seperti yang tadi dikatakan, penonton melakukan identifikasi dirinya seperti lakon-lakon pementasan, sehingga seolah-olah tidak ada jarak antara dirinya dan lakon tersebut. Padahal, jarak adalah sesuatu yang normal dalam kondisi apapun. Heroisme posmodern untuk menghapus objek dan meniadakan jarak inilah yang fatal. 

Dalam the Emancipated Spectator, Ranciere merangkul jarak, dan bahkan memberinya “tugas”. Jarak disini, bukan berarti hierarki (antara yang tahu dan tidak tahu, yang memproduksi dan mengkonsumsi, yang aktif dan pasif). Jarak disini, merupakan posisi yang tercipta karena individu mempunyai sejumput kepedulian (kritik Ranciere atas Foucault, Bordieau, dan filsuf Prancis lainnya). Memang, pengetahuan seberapapun kecilnya, menentukan posisi. Tetapi posisi tidak menentukan kemampuan dan ketidakmampuan individu untuk menyeberangi jurang antara keacuhan dan kepedulian.

Misalnya, seorang mahasiswa mengetahui filsafat Ranciere, tetapi jika ia tidak menggunakan pengetahuannya sebagai suluh untuk mengetahui lebih lanjut (misalnya tentang bagaimana menggunakan filsafat Ranciere ini dalam kasus keseharian yang ditemukannya), maka sesungguhnya ia masih ada di posisi yang sama, si ignoramous. Seandainya semua orang seperti mahasiswa tersebut, si ignoramous, tetapi dengan menggunakan basis pemikiran Equality of Intelligence dan The Police, ignoramous tersebut juga memiliki potensi sensibilitas/ kepedulian. Inilah konsep Ranciere lain yang disebut dengan Distribution of the Sensible

Permasalahannya adalah bagaimana si ignoramous yang ternyata memiliki sensibilitas ini terpatik untuk menyeberangi dari satu titik ke titik lain, dari posisi pengetahuan satu ke posisi pengetahuan lain, dari keacuhan ke kepedulian? Menurut Ranciere, distribution of the Sensible tidak berlaku tetap (seperti posmodernisme yang meniadakan jarak untuk selama-lamanya), tetapi ia bergerak dan terus bergerak karena keadaan The Police yang berubah (dan berbeda-beda). Menurut Ranciere, emansipasi dimulai ketika individu menantang jarak tersebut, dengan tanpa menisbikan the Police. Lebih tepatnya, 

“…when we challenge the opposition between viewing and acting; when we understand that the self-evident facts that structure the relations between saying, seeing, and doing themself belong to the structure of domination and subjection” (p.13).

Karena itu, dalam logika emansipasi, diantara jarak tersebut selalu ada “hal ketiga”. Hal ketiga ini, asing baik bagi si aktor (atau sutradara) dan penonton. Asing bagi si ignoramous maupun si schoolmaster. Hal ketiga ini tidak dimiliki oleh pihak manapun. Bukan transmisi pengetahuan si artis yang membawa inspirasi pada penonton. Alias bukan transmisi pengetahuan yang menyebabkan emansipasi. Maka, hal ketiga ini juga bukan penyeragaman makna, bukan pula yang mencirikan sebab-akibat. Tetapi ia adalah yang ada (subsist) diantara mereka; si penonton dan pemroduksi pementasan, si ignoramous dan si schoolmaster. Ada (subsist) bukan berarti ilusi, dibuat-buat semacam hantu. Tetapi nyata adanya. 

Membuat seorang “penonton” teremansipasi, adalah dengan menciptakan secara simultan jarak antara acuh dan peduli melalui hal ketiga yang nyata dari pemahaman situasi dan kondisi yang lekat.

Sekedar catatan kecil, supaya tidak bosan bicara konsep-konsep melulu; saya tertarik dengan bagaimana film Parasite diperbincangkan. Jika kita menggunakan konsep-konsep Ranciere untuk memahami bagaimana film ini, lepas dari konten, konteks, dan politik (dalam arti luas maupun sempit), menurut saya, “hal ketiga” diantara film Parasite dan penonton adalah realitas bahwa penandaan kelas merupakan penandaan identitas dan sebaliknya. Realitas ini kita rasakan bersama, baik penonton dan pemroduksi film. Perkara bahwa kelas yang setali tiga uang dengan identitas itu bukan sesuatu yang baru, bukan menjadi hal besar disini. Yang jelas, hal tersebut dirasakan bersama, bahkan untuk penonton yang rata-rata kelas menengah (artinya, tidak bisa mengidentifikasikan diri kepada aktor dan aktris). Lepas dari kontennya, film ini memberi peluang multi tafsir, dan sekalihus multi (di)guna(kan) untuk semua yang “sensible“. Penonton-penonton bergerak aktif, membaca, mentranslasikan, memberi pendapat, melakukan aktivisme, memberi pernyataan sikap, di ranah dan lini masing-masing. Tentunya sesuai dengan “the Police“-nya masing-masing. 

Tetapi bisa jadi, pembacaan saya mengenai hal ketiga dari film Parasite keliru. Disamping itu, saya juga tertarik dengan sejauh mana sebuah “pernyataan sikap” dapat lepas dari prejudis –jika kita menggunakan konsep-konsep Ranciere. Tentu saja yang penting, Anda memahami konsep Ranciere soal “hal ketiga” tersebut. Dalam publikasi-publikasi selanjutnya, “hal ketiga” tersebut disebut “dissensus“. Tapi, karena judul tulisan ini adalah review buku “the Emancipated Spectator”, maka tulisan ini saya cukupkan disini saja. Sampai betemu di tulisan berikutnya ! 

Catatan: 

1. Jacques Ranciere, sering disebut anti-filsuf yang publikasinya baru mulai masuk ke pembaca berbahasa Inggris sejak sekitar tahun 2009-2010an. Sebagai yang menyaksikan Revolusi Pelajar 1958 di Paris, ia mengkritik posmodern, mengkritik Marxist dan neo Marxist, mengkritik Althusser -gurunya sendiri, bahkan mengkritik bapak filsafat Plato (lewat kritik estetika, politik, dan etik). Nah lo? Walaupun demikian, konsep-konsepnya selalu berawal dari kebertindakan dan proses, dan bukan dari abstraksi kajian fenomenologis ataupun semata-mata berangkat dari liberalisme gagasan. Sehingga, banyak juga yang mengatakan kalau Jacques Ranciere itu seorang Anarkis-Realis. 🙂

2. Maria Adriani adalah seorang penggemar Ranciere, berlatar belakang pendidikan arsitektur dan tata kota (sangat idealis dan utopis), pernah menjadi dosen (masih tersisa hasrat untuk membikin pemahaman), dan sekarang menjadi konsultan, periset, dan pegiat kritik pendidikan via Sekolah (Bukan) Arsitektur. Sangat suka dengan fusion, ia juga seorang introvert yang ketika baterai sosialnya habis, kemudian “lari” ke K-Pop dan kamar kerja yang dipenuhi buku-buku kiri. Mengingat konsep-konsep Ranciere masih jarang dibicarakan di Indonesia, bisa jadi pembacaannya terhadap konsep-konsep Ranciere berbeda dengan pembacaan orang lain. Jika demikian, Maria terbuka dengan segala upaya untuk mendiskusikan hal-hal tersebut. 

3. Review buku ini tidak mungkin ada tanpa adanya sumbangan buku “The Emancipated Spectator” dari Janty Jie dari Simpul Papeda. Silakan follow instagram @simpulpapeda dan dukung pergerakan teman-teman Simpul Papeda di Morotai dan kepulauan Maluku Utara, ya?

Referensi :

Ranciere, J. (2011).”The Emancipated Spectator” (versi Inggris, terjemahan Gregory Elliott), Verso: London.

Ranciere, J. (2011). “Aesthetics as Politics” dalam “Aesthetics and Its Discontents” (versi Inggris, terjemahan Steven Corcoran), Polity: -.

Ranciere, J. (2011). “The Thinking of Dissensus: Politics and Aesthetics” dalam “Reading Ranciere” (eds. Paul Bowman & Richard Stamp), Continuum: New York.