Suluh Pergerakan

TESIS OKTOBER: Tepuk Tangan Untuk Ratna Sarumpaet Dengan Segala Tipu Daya-nya!

[Melki AS]

Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya bahwa kebohongan tersebut adalah sebuah kebenaran [Joseph Goebbelz]

***

Saya tak tahan harus berkata apa ketika dalam hitungan jam saja, kebohongan yang dibuat Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Pada awalnya, Ratna Sarumpaet mengungkapkan kondisi dirinya yang belakangan tidak hadir di publik karena mengalami suatu tindak kekerasan. Mukanya lebam dan luka-luka. Tampak dalam foto yang viral beredar, wajah sang ‘aktivis’ tersebut seperti ‘bonyok gak karuan’. Katanya habis dipukul para preman saat beliau selesai menghadiri acara internasional di Bandung. Pada saat itu, ia mengaku digeret beberapa preman yang lalu memukulnya habis-habisan. Akhirnya ya seperti foto yang beredar tersebut. Maha Hebat Ratna Dengan Segala Ceritanya!

Ikhwal penganiayaan yang dialami Ratna Sarumpaet ini tak ayal langsung menghenyak banyak kalangan. Termasuk kolega-koleganya yang dalam satu barisan tim pemenangan pemilu Prabowo-Sandi. Bahkan Fadli Zon memberikan kronologi kejadian yang menimpa Ratna Sarumpaet ini. Sementara itu Fahri Hamzah, dalam sebuah video tayangannya, mengutuk keras kejadian ini dan mengatakan Jokowi harus bertanggungjawab atas hancurnya kebebasan berekspresi karena kasus Ratna ini. Dibelakanganya terdengar teriakan takbir berulang-ulang. Dan tak ketinggalan Prabowo dan seluruh tim memberikan klarifikasi resmi dihadapan media atas kasus yang menimpa salah seorang anggota tim pemenangan pemilunya. Prabowo mengutuk keras dan berniat melaporkan kasus ini ke kepolisian untuk diusut tuntas. Maha Hebat Ratna Dengan Segala Tim nya!

Tapi sayang, rupanya drama ‘penganiayaan’ ini berubah arah. Alih-alih melaporkan pelaku penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet, kini tim koalisi Prabowo-Sandi berbalik memecat dan berencana melaporkan balik Ratna Sarumpaet atas kebohongan publik yang telah dilakukannya. Sebagaimana diakui Ratna sendiri bahwa kejadian tersebut rupaya hanyalah rekayasa. ‘Penganiayaan’ yang disebutkan tidaklah benar. Yang pasti adalah bahwa ia habis melakukan operasi plastik dan sedot lemak di salah satu rumah sakit kecantikan. Karena hal itulah wajahnya tampak kelihatan lebam dan luka-luka seperti habis dipukul dengan brutal. Padahal hanya karena oplas. Maha Hebat Ratna Dengan Segala Kebohongannya!

Berangkat dari kasus Ratna Sarumpaet ini, mungkin kita tidak perlu menghujatnya berlebihan. Karena sesuatu yang berlebihan itu pasti enak. Dan yang enak-enak itu banyak diharamkan, kata Bang Haji Rhoma Irama. Hehehe… Nah, daripada tenggelam pada aktivitas hujat menghujat yang sudah pasti dimenangkan oleh para cebong, baiklah kita melihat ‘mengapa Ratna Sarumpaet sampai rela berbohong pada publik’;

  1. Mungkin RS sedang mempelajari cara berpikir sang menteri propaganda Nazi Joseph Goebbelz tentang teori dan teknik kebohongan. Apakah kemudian benar kalau kebohongan tersebut dilakukan terus menerus maka akan berubah menjadi kebenaran yang akan diterima masyarakat secara luas. Tapi ternyata teori tersebut gatot (tanpa nurmantyo lho) alias gagal total dan hanya menghasilkan hujatan dan ketidakpercayaan publik akan integritasnya. Maha Hebat Ratna Dengan Segala Pikirannya!
  2. Mungkin juga RS sedang memikirkan strategi kampanye untuk mendulang popularitas Prabowo-Sandi yang akan bertarung dalam pemilu capres dan cawapres 2019 mendatang. Tapi lagi-lagi hal ini gatot dan malah merusak citra partai koalisi. Sampai akhirnya RS dipecat dari tim pemenangan pemilu. Maha Hebat Ratna Dengan Segala Usahanya!
  3. Alasan lainnya bisa juga karena kerasukan setan iseng yang entah mengapa bekas oplas dan sedot lemak yang ia lakoni kemudian dikatakan bekas pukulan para preman. Hal ini dijelaskannya saat menggelar konferensi pers tentang drama kebohongan tersebut. Maha Hebat Ratna Dengan Segala Setannya!
  4. Lalu bisa juga karena sedang ingin menguji kinerja kepolisian yang selama ini dianggap lebih condong dan berpihak pada calon petahana. Mungkin saja dengan cara ini petahana bisa dijadikan sasaran cibiran masyrakat yang nantinya akan menggerus kepercayaan para pemilihanya seolah-olah Jokowi itulah sumber masalah dari banyaknya bencana, tragedi dan hal lainnya yang terjadi sampai hari ini. Tapi lagi-lagi hal tersebut tidak laku dijual di pasar. Maha Hebat Ratna Dengan Segala Strategi Politiknya!
  5. Mungkin bisa juga semua yang dilakukan oleh RS ini untuk test case pada sesama anggota tim pemenangan pemilu untuk koalisi Prabowo-Sandi. Siapa tahu dengan rekayasa ini bisa meyakinkan orang lain percaya seolah RS habis digebuki preman. Dan benar, seluruh tim akhirnya banyak yang mengecam. Fadli Zon, Fahri Hamzah, Amien Rais, Djoko Suyanto, Ferdinan Hutahaen, bahkan Prabowo Subianto. Maha Hebat Ratna Dengan Segala Kepercayaan Tim Nya!
  6. Lalu bisa juga RS sedang cari perhatian publik dan media. Karena selama ini ia terbiasa dengan panggilan media atau sekedar permintaan wawancara. Tapi belakangan memang RS tidak pernah kelihatan di banyak media. Ini berbeda sekali dengan kebiasaannya berteriak membela kaum kecil yang banyak disorot media-media. Seperti perdebatan terakhirnya dengan Luhut Binsar Panjaitan tentang tenggelamnya kapal di danau Toba. Maha Hebat Ratna Dengan Segala Teriakannya!
  7. Bisa juga RS berbohong pada publik ini karena ada penyimpangan jiwa. Hal tersebut sempat dikatakan Prabowo saat menggelar konferensi pers lagi tentang kebohongan RS. Artinya ada indikasi gangguan kewarasan sehingga RS tergoda untuk melakukan kebohongan yang disorot banyak media. Maha Hebat Ratna Dengan Segala Jiwanya!
  8. Atau bisa jadi RS sedang mengejar prestasi yang tiada duanya di dunia ini, yaitu Pembuat Hoak Terbaik. Disini mungkin Jaya Suprana bisa memberi satu rekor kepada RS atas dedikasinya pada kegaduhan hoak nasional. Maha Benar Ratna Dengan Segala Prestasinya!
  9. Atau mungkin RS sedang berusaha melawan perhatian media yang banyak tertuju pada bencana alam menjadi tertuju padanya dengan segala cerita fiktif nya. Maha Benar Ratna Dengan Segala Yang Fiktif Padanya!
  10. Terkahir mungkin RS sudah lelah dengan semua ini. Karena kemana-mana selalu diusir dan ditolak banyak kalangan.

 

Kini nasi sudah menjadi bubur. Luka itu sudah tidak bisa ditutupi lagi. Apalagi mengarang cerita versi lainnya. Luka sudah terlanjur terbuka. Yaitu luka bekas operasi plastik dan sedot lemak. Bukan luka karena dianiaya orang tak dikenal.

Atau mungkin memang bukan RS yang mengatakan kebohongan tersebut. Melainkan memang setan yang kerap memakai raganya untuk berbohong bahkan menebar kebencian. Kasihan dengan RS kalau begitu. Perjuangan yang dibangunnya selama ini, perjuangan yang selalu menempatkannya di garda depan serta perjuangan yang mentahbiskan dirinya sebagai aktivis, kini harus berakhir. Tragisnya, ia sendiri yang menghabisi dirinya. Bukan orang lain. RS malah berperan ganda sekaligus, yakni aktris dan stuntmen.

Dan kini ia pun telah pula di pecat dari tim pemenangan capres cawapres Prabowo-Sandi. Lalu mungkinkah kemudian RS menyeberang ke kubu petahana? Wallahualam.

Ya, kita sudahilah hal itu. Tak perlu lagilah menghujat dan sebagainya. Sudah baik hal itu diakui. Dan ternyata kesimpulan tesis oktober kali ini sama seperti pelajaran kelas 1 SD. Bahwa berbohong itu tidak baik. Itu saja. Titik.

Tepuk Tangan Untuk Ratna Sarumpaet Dengan Segala Tipu Daya-nya!