dok. smi

Tengkulak Disidak, Tengkulak yang Tetap Bebas – (KEPITING MEMBAWA PETAKA 5)

Laporan Ahmad Rifai, Wandi B. Lamuasa dan Melki AS

***
Bermulanya kasus Tri Mulyadi, seorang nelayan di Pantai Samas, Srigading, Sanden, Bantul, DIY yang ditetapkan sebagai tersangka setelah DItpolair Polda DIY melakukan sidak ke kediaman Supri. Disana mereka menemukan 6 kilogram kepiting dengan ukuran kecil yang tidak boleh ditangkap, dijual atau apapun menurut peraturan kementrian kelautan dan perikanan RI. Saat ditanyakan dengan Supri itulah kemudian nama Tri muncul. Ini yang kemudian membuat Ditpolair memutuskan untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap Tri. Sampai akhirnya keluar putusan sebagai tersangka. Padahal, menurut Tri sendiri, kepiting hasil tangkapannya hanya berjumlah 2,7 kilogram. Bayarannya pun sesuai ukuran, yaitu kalau besar seharga 60 ribu sementara yang kecil seharga 50 ribu. Dan itu semua ada bukti dari pembayaran maupun foto dari kepiting yang dijualnya. Sementara hasil sidak di kediaman Supri ada 6 kilogram yang kesemuanya kecil. Tapi dalam pengakuan, Supri tetap seolah tidak mengatakan bahwa itu punya orang lain. yang ditunjuknya hanya nama Tri sendiri. Lali kenapa hanya nama Tri Mulyadi sendiri yang disebut Supri. Bukankah hal tersebut janggal dan menimbulkan tanda tanya besar.

Menindaklanjuti pernyataan Tri Mulyadi, Suluh mencoba menggali lebih dalam kasus ini dengan bertandang ke tempat tinggal Supri yang terletak di sekitar Pantai Baru yang letaknya masih cukup dekat dengan Pantai Samas. Begitu sampai di lokasi, Suluh langsung disambut dua pria paruh baya. Waktu menunjukkan 15.30 WIB. Mereka, pria paruh baya tersebut memakai rompi warna oranye dan meminta jatah retribusi parkir. Settelah itu diminta untuk memarkirkan kendaraan di tempat yang sudah disediakan.

dok. smi

Belum sempat bertanya letak kediaman Supri kepada dua pria tersebut, saat menengok ke sisi kanan ternyata terpampang dengan jelas tulisan ‘PAK PRI’ di plakat yang terpaku di pohon dan di spanduk yang bergantung di muka sebuah rumah. Letaknya persis di seberang pos penjaga parkir. Pak Pri inilah nama panggilan dari Supri.

Tampilan kediaman Supri khas penjaja kuliner seafood yang umumnya kerap dijumpai di pinggir-pinggir pantai Yogyakarta. Suluh coba menghampiri kediaman yang dominan bercat warna merah muda tersebut. Tepat di salah satu sisi depan kediaman Supri, terdapat sebuah gerobak yang sepertinya menjajakan hidangan mie ayam dan bakso. Seorang pria terlihat sibuk di hadapan grobak tersebut. Ia cukup aktif mondar-mandir memersiapkan sejumlah bahan-bahan.

Ketika ditanyakan perihal rumah tersebut, pria paruh baya mengatakan bahwa itu adalah tempat tinggalnya Supri. Kemudian Suluh memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan untuk bertemu dengan Supri terkait perkara kepiting.

dok. smi

Sosok pria yang ditemui tersebut bernama Marsidi. Dan ia mengatakan kemudian bahwa Supri sedang tidak ada di rumah. “Dia sedang ada di Kali Progo, jam 5-an sore baru pulang” ujarnya menegaskan. Mendengar hal tersebut, Suluh tetap memilih untukmenunggu. Karena di perkirakan tidak akan lama lagi akan sampai. Saat asik menunggu, selang beberapa saat muncul seorang wanita dari dalam rumah. Wanita paruh baya tampak mengenakan setelan daster selutut. Dan tak luput memberikan info bahwa Supri diperkirakan pulang agak larut karena sedang mengangkut pasir. “Pulangnya agak malam, mas” pungkasnya.

Hal ini turut diamini oleh Marsidi. Ia menyatakan bahwa Supri pulang agak malam. Karena tujuan awal datang untuk mencariinformasi dari Supri, Suluh tetap mencoba bertahan sembari menanyakan ulang perkiraan pulang malamnya tersebut jam berapa. Tak lupa Suluh juga bertanya lokasi kali progo tempat Supri mengangkut pasir. Marsidi menjawab dengan tampak ragu serta tidak seperti di awal, lugas dan sebagainya. Kelihat disini ada perubahan gestur dari lugas menjadi gelagapan. Pun sama ketika Suluh menanyakan tentang Kali Progo. Ada kehati-hatian yang jelas tampak dari raut gestur Marsidi.,

Setelah bercengkrama dengan suasana yang agak canggung, Marsidi akhirnya pamit ke dalam ke kediaman Supri. Kini tidak ada siapa-siapalagi di lokasi.

Karena kecil kemungkinan untuk bertemu dan minta klarifikasi dari Supri, Suluh memutuskan untuk beranjak pergi. Bahkan sampai beranjakpun, tidak terlihat kembali Marsidi maupun wanita yang tadi. Hanya ketika Suluh sedang berbincang-bincang dengan dua orang penjaga parkir tadi, Marsidi dan wanita tadi muncul berdiri diteras rumah Supri sambil memperhatikan.

Dan tak lupa kemudian ia datang menghampiri sambil menyodorkan sebuah kartu nama. “Kalau mau bertanya soal Pak Pri ke sini saja,” ucapnya. Pada kartu nama yang diberikan tertera nama seorang pengacara lengkap dengan firmanya.

“Ini keponakan saya,” terang Marsidi. Ia adalah pengacara Supri. Seturut itu juga baru ditahu bahwa Marsidi ternyata adalah orang tua dari Supri. Apa-apa saja yang berhubungan dengan perkara Supri diminta untuk dikomunikasikan dengan kuasa hukumnya.

 

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika

Artikel Terbaru