Ilustrasi | Vox.com

Surat untuk Elite

“Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pulau di peta” -Mohammad Hatta

“Lebih baik mempercayai orang-orang yang mencari nafkah dengan berbaring atau berdiri daripada yang mencari nafkah sambil duduk” -Nasim Nicholas Taleb

Saya hanya rakyat yang kebiasaannya menonton berita. Isinya kadang membuat saya bingung, bertanya, dan tak percaya. Tapi saya bingung mau ke mana memprotesnya. Padahal saya tahu ada ucapan yang tak layak dikatakan dan ada perkataan yang tak pantas dikemukakan. Mungkin ilmu saya tak bisa menjangkau kecerdasan para elite yang tiba-tiba berubah posisi: dulu mendukung sekarang berseteru, juga ada yang dulu bermusuhan sekarang berkawan. Bahkan saya takut ketika muncul informasi ada kerusuhan, upaya penembakan, hingga jual beli senjata. Rasanya, saya seperti tidak tinggal di Indonesia.

Meski memang, kabut perseteruan sudah lama berlangsung di negeri ini. Di tahun 1965 saya pernah dengar ada penjagalan massal terhadap orang yang dituduh PKI. Salah satu buku bilang itu holocaust terbesar di Asia Tenggara. Kemudian kisruh terjadi pada peristiwa Malari. Banyak mahasiswa ditangkapi dan Jakarta dilanda rusuh besar-besaran. Berangsur-angsur, rusuh terjadi lagi saat Soeharto mau turun tahta. Nama peristiwanya sama dengan yang kini ramai di media massa. Tragedi Mei yang membunuh mahasiswa dan beberapa lainnya hilang tak tentu rimba.

Terhadap itu, semua elite tak pernah mengusut dan membahasnya. Pada peristiwa 65 upaya untuk mengusutnya malah memicu polemik tak berkesudahan. Dianggap mau bangkitkan PKI atau dianggap ingin robohkan agama. Orde Baru mencetak pikiran palsu tentang PKI yang ternyata berhasil di luar yang mereka duga. Hal yang sama pada peristiwa Mei yang sampai sekarang kita tak tahu siapa yang bertanggung jawab dan siapa yang melakukan pelanggaran HAM. Kejahatan politik dan HAM itu muncul kegaduhannya kalau berlangsung Pemilu. Ada kandidat bertarung dan dituduh terlibat. Mustinya elite bisa jelaskan semua kegelapan itu sehingga kita tak mengulang hal yang sama.

Elit yang kini duduk berkuasa juga elite yang sama dalam peristiwa sebelumnya. Saya heran, takjub, dan merinding karena mereka mengatakan hal yang sama dan bersikap serupa. Mengatakan ada perusuh dan lainnya terbukti mencetuskan kalimat permusuhan. Sengketa itu selalu melibatkan rakyat kecil seperti kami. Mungkin anggapan elite, rakyat itu seluruhnya sama: bisa dibawa ke sana ke mari, mudah dimobilisasi untuk kepentingan mereka, dan gampang diadu domba. Massa tak lagi himpunan rakyat berdaulat, tapi domba yang gampang dibawa ke sana ke mari.

Elite kini membajak agama untuk kepentingan sesatnya. Agama yang mengajarkan kebaikan bisa meledakkan permusuhan. Elite agama yang sebaiknya mencipta kesejukan malah jadi kompor panas yang membakar apa saja. Kalau agama dibajak untuk kepentingan tahta, maka hilang sudah kehormatanya sebagai pembawa rahmat untuk alam semesta. Tak ada agama yang ajarkan kebencian sama halnya tak ada ajaran agama yang mengutuk mereka yang berbeda. Tuhan itu pemberi ampunan dan mereka menciptakan Tuhan yang suka memberi hukuman. Jangan ciptakan neraka di atas puing bakaran emosi massa.

Saya dengar ada pernyataan massa bayaran, massa provokator, hingga massa perusuh. Istilah yang baiknya tak diucapkan dengan gampang dan ringan. Siapa yang mengajari, membayari, bahkan menyuruh massa berbuat seperti itu? Elite politik sepatutnya berkaca sebelum berkata. Bukankah mereka yang memulai perkara ini semua. Membuat aturan yang membuat pemilu hanya mencalonkan dua kandidat saja, menjadikan partai politik dipimpin oleh elite yang sama, dan memberi peran utama pada elite yang pernah bermasalah di era sebelumnya.

Elite politik kalau berani, mintalah maaf kepada kami pemegang kedaulatan yang sebenarnya. Sebab konflik di antara kalian yang disebar luaskan dan mengajak kami, telah merusak segalanya. Kami menjadi mudah curiga di antara kami sendiri. Kami gampang berseteru hanya karena beda keyakinan agama. Bahkan kami dapat memutus ikatan keluarga gara-gara pilihan politik yang beda. Ringkasnya, kami tiba-tiba meniru kebiasaan buruk kalian, bukan rejeki yang kalian terima. Kami tetap tak bisa sekaya kalian, tapi kami bisa lebih emosional ketimbang kalian.

Elite politik cobalah kalian menahan diri sehari saja. Tidak untuk memberikan kabar berita yang bahaya atau setidaknya tidak saling mencemooh di antara kalian sendiri. Berikan kami pandangan yang sehat, bicara yang lembut, atau setidaknya ungkapan optimis dalam melihat hari depan. Kalau setiap peryataan publik isinya adalah dalang kerusuhan dan ditimpali oleh ketidakpercayaan, maka kita jadi bangsa yang mirip kumpulan monster.

Saling mengakali, saling menikam, dan saling menghabisi satu sama lain. Kita ini mau mendirikan bangsa yang adil sejahtera atau bangsa yang runyam karena pertempuran antar sesama? Coba renungkan sejenak pesan para pendiri republik yang dulu pertama kali memproklamirkan negeri ini. Kata Bung Karno, “Kemerdekaan barulah kemerdekaan sejati, jikalau dengan kemerdekaan itu Kita menemukan kepribadian kita sendiri.”

Ingin aku bertanya pada elite yang punya kuasa hari ini:

Kepribadian macam apa yang kalian miliki jika bisanya hanya mengutuk sesama bahkan mengancam sesama anak bangsa? Kepribadian seperti apa yang ingin kalian tegakkan jika tak mampu menerima kekalahan dengan ikhlas dan menang tanpa merendahkan? Kepribadian macam apa yang tak mampu memberi ampunan dan tak bisa memberi pengertian? Kepribadian macam apa yang bisa diwariskan kalau tak mampu menegakkan keadilan dan lebih menyukai hukuman?

Kami hanya ingin aman dan damai di negeri ini. Benar kami butuh kesejahteraan, tapi itu tak bisa diantarkan hanya dengan membangun jalan semata. Betul kami butuh keadilan, tapi itu tak bisa hanya muncul melalui hukuman dan pengadilan. Karena itu, berikan pula kami hak untuk bicara, berkumpul, dan menyatakan pendapat. Berikan pula kami perlindungan dari kesewenang-wenangan maupun ajakan yang membahayakan persatuan. Kalian mustinya sanggup melakukan itu karena negara lainnya sudah mampu menjalankannya.

Kami tak ingin lagi mengulang apa yang pernah terjadi. Massa diajari, diprovokasi, bahkan dipaksa untuk mempercayai hal yang jelas kelirunya. Adonan soal China, PKI, hingga anti-NKRI saatnya disudahi karena semua itu hanya membuat setiap orang curiga-mencurigai. Karena kehormatan bangsa ini tidak diukur dari kemampuan untuk menghancurkan rakyatnya sendiri, tapi memberi keadilan pada rakyat yang paling membutuhkan. Biarkan kami bekerja dengan aman dan berikan kami kebebasan untuk menyatakan pandangan.

Kelak jika kita ketemu di alam baka dan bertemu dengan para pendiri negeri ini kita akan bangga. Kita dapat cerita bahwa bangsa yang mereka wariskan itu maju pada bidang segalanya: pengetahuan unggul di banding negara tetangga, kemakmuran tinggi sehingga rakyatnya tak ingin jadi TKI, kepastian hukum terjamin sehingga tak ada pejabat yang berani menekan rakyatnya, dan keadilan terjadi di mana-mana karena rakyat bangga jika menyebut pemimpinnya. Andai saja itu terjadi pasti Soekarno dan Hatta tak sia-sia membaca Proklamasi di tengah upacara yang sederhana saat itu.

Tapi kalau hari ini kiamat terjadi, maka apa yang kita beritahukan kepada mereka. Bangsa yang melukai dirinya sendiri, menjatuhkan hukuman pada rakyatnya tanpa ingin mengampuni, dan membiarkan kesenjangan sosial menganga di mana-mana. Kurasa bukan hanya Soekarno dan Hatta kecewa, tapi Tuhan yang memberi anugerah alam luar biasa untuk negeri ini akan murka. Kita memang tak bernasib seperti kaum nlNabi Luth yang dijatuhi batu, tapi kita bisa bernasib seperti bangsa Mesir Kuno yang elitenya ditelan ombak karena mengabaikan kebenaran, anjuran, dan petuah kebaikan.

Semoga kalian, para elite, memahami isi surat ini dan percaya bahwa ini bukan ingin mencemari kehormatan kalian. Terimakasih. (*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika