Ilustrasi | NY Daily News

Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat, Kenapa Kita Bisa Seperti Ini

Seorang penduduk diusir dari kampungnya gara-gara beragama beda. Berita ini dibaca dengan cara berbeda: yang menganggap ini pelanggaran HAM itulah yang normal, dan yang merasa itu lazim mungkin itulah yang bermasalah. Sudah banyak jawaban mengapa orang bertindak intoleran. Survei memang memberitahu kita kalau warga di sini mulai memusuhi yang berbeda. Merasa diri sebagai yang terunggul sehingga meremehkan yang agamanya beda.

Karya Mark Manson berjudul Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat penting untuk dibaca. Ia mengajak kita melihat realitas dengan caranya: kalau faktanya brengsek untuk apa dimaknai positif? Memang masyarakat kita ini sudah bahaya: mudah sekali berprasangka, gampang diprovokasi, dan suka sekali bermusuhan. Tapi tak semuanya berprilaku busuk. Masih ada yang protes pada tatanan, melawan tiap semua kesewenang-wenangan, dan membela dengan gigih mereka yang minoritas. Mereka ini minoritas yang berbeda dan Manson bilang, “Nyamanlah kalau kamu berbeda!”

Secara ajaib Manson mulai mengajak kita untuk mencari apa yang penting dan bermakna dalam hidup. Manson bilang, Siapa diri Anda sebenarnya ditentukan oleh Apa yang ingin Anda Perjuangkan. Dukuh di kampung yang mengusir warga beda agama itu memang hanya punya keinginan untuk membuat kampungnya dihuni hanya oleh orang yang beragama sama. Ini ketentuan konyol tapi memang itulah yang berada di balik hidupnya: mau membersihkan orang yang beragama beda. Mula-mula kampungnya, dan kalau jabatannya naik bisa ke kampung-kampung lainnya.

Siapa dirinya? Ia mendaku diri paling benar, paling beriman, paling saleh, paling berkuasa. Jenis orang-orang yang memang lebih berpeluang melakukan kejahatan, melakukan tindakan sadis, bahkan bisa bertindak keji. Keyakinan yang ada dalam dirinya untuk merasa benar membuatnya gampang untuk melakukan kekejaman pada orang lain. Salah satu cerita menarik dari buku Manson mengenai kisah seorang Jepang, Letnan Dua Hiroo Onoda, yang pada 22 Desember 1944 ditugaskan di pulau kecil Lubang, Filipina.

Tugas utamanya melakukan perlawanan gerilya pada pasukan Amerika Serikat (AS). Meski pasukan AS sudah menaklukkan Jepang dengan menjatuhkan bom di Hiroshima, tetapi Onoda tak tahu sama sekali. Info penyerahan itu tak sampai padanya. Walau pemerintah AS sudah menyebar kabar penyerahan itu, mengingat gangguan Onoda dengan pasukannya sangat berbahaya bagi keamanan, tapi Onoda tak percaya. Lima tahun kemudian Kaisar Jepang sendiri yang menulis surat lalu membaginya, tapi sekali lagi Onoda tak percaya.

Kelak seorang warga Jepang bernama Suzuki menemukannya. Ia membawa Onoda pulang lalu menyaksikan Jepang yang sudah berubah. Walau menjadi selibritis tapi Onoda kecewa. Jepang yang ditemukannya adalah Jepang yang kapitalis, konsumtif, hedonis yang menjauh dari nilai nilai tradisional Jepang yang dikaguminya. Onoda sedih, putus asa, dan memutuskan untuk meninggalkan Jepang menuju Brazil. Di sanalah ia kemudian wafat.

Cerita ini bukan sekedar soal rasa kecewa tapi nilai yang mendasari perbuatan dan keputusan seseorang. Sebenarnya nilai apa yang membuat kita bertahan hidup, mengembangkan diri, dan meraih kebahagiaan. Onoda mempunyai nilai tradisional yang kokoh tapi sekaligus berbahaya: bertahan dan menyerang. Hidupnya di hutan bukan sebuah ketenangan: ia selalu mengganggu warga bahkan membunuhnya. Kepuasannya adalah patuh pada kaisar dan meyakini bahwa semua orang di luar hutan selama bukan orang Jepang adalah musuh.

Itulah yang disebut dalam buku ini sebagai nilai SAMPAH: kenikmatan yang membuat orang berburu jabatan, korupsi, hingga melakukan cara apa saja untuk menduduki tahta. Kenikmatan itulah sampah yang menurut penelitian membuat seseorang itu mengalami kecemasan, tidak stabil secara emosional, dan tertekan. Lalu nilai sampah lainya adalah materi. Begitu seseorang mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka (sandang, pangan, papan, dan seterusnya) korelasi antara kebahagiaan dan kesuksesan duniawi itu nol.

Lainnya adalah selalu benar. Sikap yang membuat seseorang itu menghalangi dirinya untuk belajar. Bahkan sikap untuk tetap positif pun bermasalah. Baginya seseorang itu perlu mengakui kenyataan sepahit apa pun. Pengakuan itu akan membuat seseorang berusaha mengatasinya dan tidak menutupinya. Santapan yang paling menggairahkan dalam hidup tak lain adalah nilai yang berdasar kenyataan, membangun secara sosial dan segera, serta dapat dikendalikan.

Manson mengajak kita menjadi baik dengan cara jadi aktivis. Menautkan nilai-nilai itu dengan apa yang kita miliki, baik potensinya maupun cara pengungkapannya. Katanya kita ini punya kebebasan untuk melakukan pilihan, tapi memang kita tak bebas untuk bertanggung jawab atas pilihan itu. Ajakannya sama seperti motivator lainnya. Kita mesti bertanggung jawab pada diri sendiri dan jangan salahkan orang lain atas apa yang terjadi pada diri kita.

Lakukan sesuatu, itulah kata-kata mujarabnya. Kalau kita ‘lakukan sesuatu’ kegagalan itu terasa tak penting. Lakukan sesuatu itu bukan hanya membuat kita tak suka menunda pekerjaan, tetapi proses mengadopsi nilai-nilai baru. Bahkan kalau tindakan itu berupa sikap penolakan. Mark Manson mengajak kita untuk tak takut konflik. Maka jangan terlampau berambisi untuk meraih segalanya, karena memang itu mustahil, dan lebib baik fokus pada satu hal untuk mendalami sebuah pengalaman.

Boleh Anda setuju atau tidak dengan buku ini. Tapi buku ini memberi pelajaran soal komitmen, kejujuran, dan orang tak harus terlalu lekat dengan kehidupan di dunia ini. Nanti orang akan mati dan tak harus dipusingkan dengan proyek keabadian yang membuatnya dikenang. Tapi ketimbang sibuk dengan proyek keabadian, terima saja kematian dengan apa adanya. Tak lebih dan tak berlebihan.

Buku ini membuat kita tahu kenapa ada banyak kejadian konyol dari orang yang takut berbeda. Sebuah buku yang lumayan menggugah.(*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika