Pelajar di depan polisi | Suara.com

Salam Hormat untuk Pelajar-STM

“Semangat muda dan keahlian akan selalu unggul melawan usia tua dan kebodohan pengkhianatan”

“Kamu dilahirkan dengan sayap. Mengapa kamu lebih suka merangkak dalam hidup?” -Rumi

Hari-hari ini kita menyaksikan demo kaum terpelajar. Usianya masih belia dan sebagian memakai baju Pramuka. Baru kali ini Pramuka melakukan tindakan revolusioner: ikut aksi mengepung senayan. Walau berakhir dengan penangkapan dan kericuhan, tapi kita sadar kalau anak pelajar tak seperti yang kita bayangkan. Anak-anak muda yang tahunya hanya ujian dan tawuran.

Wajar kalau Mendiknas kuatir. Sebagian ada yang percaya demo pelajar karena digerakkan. Buktinya, sejumlah pelajar yang ditangkap tak tahu apa tujuan demonstrasi bahkan tak mengerti jelas apa itu RUU KUHP hingga revisi UU KPK. Ketidaktahuan yang ditayangkan di televisi itu menambah prasangka kalau pelajar itu hanya ceroboh dan sok-sokan saja. Mereka datang untuk tawuran dan ikut demonstrasi karena diprovokasi.

Sikap meremehkan itulah yang lazim terjadi. Seolah anak-anak remaja itu hanya boneka yang tak tahu apa-apa. Urusanya hanya raport, les, dan ujian. Kepentingannya sekedar naik kelas dan lulus. Diasuh dengan pola semacam itu, maka yang muncul adalah pemahaman sederhana kalau sekolah itu tak ada urusannya dengan politik di luaran sana, apalagi politik di senayan dan istana.

Padahal pusat semua urusan apa saja itu yang mengelola senayan dan istana. Semua orang paham apalagi pelajar. Mereka dibanjiri oleh informasi di media sosial yang urusanya bukan hanya Atta Halilintar saja. Media sosial mengabarkan kisah buram tentang KPK dan Papua. Televisi menayangkan diskusi yang panas tentang capim KPK. Gelombang demonstrasi mahasiswa adalah puncak informasi yang menggugah.

Disengat oleh rasa penasaran dan keinginan untuk melibatkan diri, para pelajar memilih jalan demonstrasi. Modal seragam dengan kritik yang sangar campur lucu: kaum terpelajar ingin ikut bersikap. Jurusnya memang sederhana: serbu senayan, duduki jalanan, dan tawuran jika bentrok. Tindakan yang kemudian direspon oleh aparat dengan sapuan gas air mata dan penangkapan.

Perlahan-lahan kita sadar kalau remaja kita juga sadar politik. Mereka bukan kumpulan siswa yang tahunya hanya absen dan ujian. Mereka dibesarkan oleh informasi sana-sini yang mustinya diberitahukan oleh gurunya. Kalau ada anak STM atau SMA tak tahu apa itu RUU KUHP atau revisi UU KPK, itu bukan salah mereka. Sekolahnya yang salah!

Sekolah sebaiknya memberi gambaran apa yang terjadi ditengah publik hari ini. Gejolak Papua hingga demonstrasi mahasiswa mustinya jadi bahan refleksi pembelajaran. Bukan untuk mengetahui detailnya, tapi bagaimana kaum terpelajar menyikapinya. Soalnya, sekolah itu didirikan tidak untuk melatih anak pintar menjawab soal, melainkan juga melatih anak peka pada situasi yang terjadi di sekelilingnya.

Tak bisa kita hakimi anak-anak pelajar dengan mengatakan kalau mereka belum waktunya tahu atau hanya ikut-ikutan saja. Greta Thunberg hingga Malala -yang kini jadi perbincangan dunia- adalah suara anak muda yang kritis atas kondisi yang ada. Mereka menolak berhamba pada ketakutan yang ditebar oleh rezim atau melawan keyakinan konyol yang dinyatakan para pemimpin. 

Mustinya kita bangga ada anak pelajar yang keprihatinannya setara anak mahasiswa. Baiknya kita sadar kalau sekolah tak bisa menanam pelajaran yang modalnya hanya kepatuhan dan hapalan. Kita sudah lama malu karena kualitas pendidikan yang kita punya merosot dibanding negara mana pun. Kini kita punya pelajar yang menentang kesewenang-wenangan senayan dalam memutus aturan. 

Itulah prestasi yang tak terfikirkan. Menanam anak kritis akan memanen calon pemimpin. Sukarno memulai gagasan politik di usia sebelum 17 tahun, begitu pula Hatta dan Tan Malaka serta pendiri Republik lainnya. Kematangan berfikir mereka terjadi di usia belia. Dan itu yang menyebabkan mereka punya pandangan melampaui zamannya.

Kini anak-anak pelajar itu tampil dengan lebih percaya diri: tak takut dengan aturan, percaya diri dengan apa yang dilakukan, dan berani ambil resiko. Kalau kemaren mereka saling tawuran antar sesama, kini mereka berbenturan dengan negara yang diwakili oleh aparat keamanannya. Rasanya tak ada yang salah dengan misi perjuangan mereka dan sebaiknya sekolah menampung kegelisahan yang kini melanda banyak anak pelajar.

Abad 21 bukan zaman untuk menakut-nakuti, mengekang, apalagi membatasi. Biarkan pikiran kritis itu tumbuh mekar karena itulah yang akan menjadi masa depan kita. Tugas sekolah hanya memfasilitasi, memberikanya ruang, dan menaruh kepercayaan. Sebab, hanya dengan itu kita mendidik sebuah generasi yang punya rasa tanggung jawab dan kesadaran akan pentingnya mendahulukan kepentingan kemanusiaan di atas segalanya.

Selamat datang kaum pelajar yang progresif, militan, dan pintar. Kalian adalah pewaris dari Sukarno muda, Hatta remaja, dan Tan Malaka yang berusia belia. Dulu negeri ini didirikan oleh remaja yang kritis dan kini saat negeri ini dalam bahaya, hanya kaum pelajar dan mahasiswa yang -InsyaAllah- mampu menyelamatkannya.

Selamat datang, selamat berjuang!(*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika