Suluh Pergerakan

Revolusi di Masa Corona

Negeri ini tak sekedar membutuhkan gedung tapi harapan (V for Vendetta)

***

Saya miris baca data PHK. Jutaan orang kini jadi pengangguran. Himpunan data itu bukan deretan angka. Tapi kumpulan manusia yang sebagian besar sudah berkeluarga. Mereka pasti punya rencana untuk masa depannya. Mereka tak menyangka kalau keadaan berubah seketika. Harapan bisa hancur di hari ini kalau ketidak-pastian berjalan begitu lama. Kita hanya menunggu dengan panik sembari berharap negara berbuat semampunya.

Presiden memang meniupkan pidato yang berbunga-bunga: ada bantuan yang besar jumlahnya, ada penundaan pembayaran utang segala dan pastinya semua harus patuhi perintah negara. Tapi semua tahu pidato bukan aliran yang seketika menghasilkan tindakan. Terbukti bantuan juga masih menunggu data dan penundaan pembayaran hutang tetap ada syaratnya. Hanya sederet angka diberitahukan untuk menjamin kalau negara sudah menyiapkan uang yang luar biasa banyaknya.

Utang baru dicetak melampaui rekor negara lainnya. Sebesar US$ 43 milliar dengan jangka waktu 50 tahun. Inilah obligasi tenor yang jaraknya setengah abad. Biaya bunganya saja melebihi anggaran Kementrian Riset dan Tekhnologi. Bunganya sekitar Rp 2,84 trilun. Reputasi yang luar biasa dan dilakukan dengan alasan untuk melawan efek Corona. Implikasinya jangka panjang tapi cukup untuk memastikan bahwa negara ingin rakyatnya selamat dari petaka.

Tapi rakyat hidup bukan dalam rentang waktu panjang. Hidupnya berjalan dari hari ke hari. Penghasilan yang lenyap di hari ini tak mudah untuk dicari pada hari berikutnya. Apalagi kalau cuaca ekonomi masih memburuk: pabrik berhenti beroperasi, jalanan lengang, orang enggan kemana-mana dan uang tak ada yang dibagi. Lama-kelamaan kecemasan akan terbit dengan mudah. Terutama saat arus mudik mulai berdatangan dan yang ada di penjara terpaksa dibebaskan.

Melalui media sosial bertebaranlah berita keresahan yang dibagi begitu mudah. Mustahil aparat keamanan menangkap semua orang yang membuat keresahan. Sebab keresahan itu tak muncul secara sporadis tapi tumbuh subur di tengah situasi yang panik. Warga mulai curiga pada orang luar bahkan terhadap tenaga medis yang bantu melawan Corona. Rasanya seperti hidup di alam fikir Thomas Hobbes dimana manusia saling memakan sesamanya. Tiupan keresahan bisa bawa efek dramatis bagi kehidupan masyarakat. Sejarah memberi bukti kalau wabah seringkali menjadi pengantar munculnya revolusi sosial.

Juni 1831 di St Petersburg Rusia rakyat menggenangi lapangan Senayan. Mereka memprotes tindakan kerajaan yang mencegah epidemi kolera. Protes karena rakyat dikarantina dan digembok. Mereka menuduh para pelajar mencekik hidup mereka dan para dokter meracuni sumur penduduk. Di tahun sebelumnya 1821 ada 125 ribu penduduk Jawa mati dicekik Kolera. Keparahan yang membuat pemerintah melarang puasa karena pada bulan Ramadhan wabah mencapai puncaknya. Pemberontakan Diponegoro muncul pada tahun berikutnya.

Di tahun jauh sebelumnya: 1346 gelombang pes melanda dunia. The black death yang diawali dari kutu yang hidup di tubuh tikus yang berasal dari China. Kemudian ditularkan oleh saudagar yang menyusuri jalur sutra. Kawasan Trans Asia disergap malapetaka. Tahun 1347 gelombang wabah menyerang Konstatinopel di Turki kemudian tahun 1348 meneror Perancis, Afrika Utara hingga Italia. Raja Edward III memerintahkan uskup untuk membaca doa. Doa itu tak mujarab hingga separoh total populasi bangsa Inggris lenyap.

Tapi wabah itu memicu kehancuran feodalisme dan bangkitnya kesadaran politik kaum tani. Kekuasaan raja dilucuti hingga perbudakan dihapuskan sehingga babak revolusi industri mengubah segalanya. Wabah itu memang membunuh tapi sekaligus membangkitkan kesadaran rakyat yang lama terendam. Feodalisme lenyap di Eropa Barat dan suara rakyat tumbuh menjadi benih bagi ide demokrasi. Benar wabah ini membunuh jutaan nyawa tapi wabah pula yang menghancurkan tatanan otoriter yang selama ini ditopang oleh pasukan dan bedil.

Wabah membangkitkan kesadaran rakyat akan kekuatanya selama ini. Mereka sadar bahwa kedaulatan itu tak selamanya ada di istana apalagi pasukan bersenjata. Kekuatan itu terpupuk oleh rasa kecewa, solidaritas yang spontan dan keinginan untuk menyelamatkan hidup bersama. Heroisme rakyat yang selama ini hanya dihitung mengikuti angka kini membesar jadi gelombang yang bisa memicu apa saja: keresahan, kepanikan bahkan pemberontakan.

Maka kekangan di masa wabah memang resep sempurna untuk mengatasi bahaya. Tapi tak selamanya resep itu berhasil meyakinkan rakyat yang jadi objek sasaranya. Kalau sehari atau seminggu mungkin semuanya masih bisa ditahan tapi jika berjalan sebulan hingga dua bulan kita tak bisa mengecoh keresahan dengan kalimat sabar. Kini PHK bukan lagi berita tetapi fakta yang lebih bahaya ketimbang Corona. Tak ada vaksin yang bisa memecahkan soal PHK kecuali tatanan yang dikembalikan sebagaimana semula.

Tapi mungkinkah keadaan kembali seperti sediakala? Pabrik akan berdiri lagi, buruh akan bekerja sebagaimana biasa dan ekonomi seketika akan bergerak seperti sebelumnya. Tak ada yang pasti dalam hidup kecuali ketidak-pastian. Situasinya tak lagi sama dan naif jika kita ingin berharap keadaanya akan kembali seperti semula. Wabah corona bukan yang pertama kali terjadi di dunia dan tiap wabah membawa efek yang berbeda. Hidup tak lagi sama walau wabah sudah tak ada. Sejarah membuktikanya berulang kali.

Bahkan kini keadaan tak seperti biasanya. Rakyat mulai menutup kampungnya sendiri. Rakyat menciptakan sumber pangan dari sekitarnya. Bahkan rakyat mulai memproduksi kebutuhan yang dibutuhkan negara: menjahit masker, memproduksi APD hingga menghasilkan sanitaizer. Bahkan keamanan kampung dijaga oleh warga. Rakyat bantu rakyat adalah situasi yang bisa kita saksikan sekarang ini. Mereka saling membantu, saling mengontrol bahkan saling melindungi. Kedaulatan tak lagi berada di istana apalagi senayan!

Revolusi tatanan sedang berjalan mulus. Rakyat mulai mempertahankan hidup dengan caranya. Kalau pemerintah masih pusing dengan data yang akan dibantu maka di sejumlah daerah rakyat sudah saling bantu. Kecil bantuan yang diberikan tapi semua terjadi atas dasar empati dan kepedulian. Banyak donasi yang dikumpulkan melalui berbagai organisasi yang peduli pada keadaan hari ini. Rakyat kini memupuk kekuatan di sekitarnya untuk membentengi dari arus ancaman apa saja.

Bangunan tata sosial semacam apa yang berdiri nantinya? Corona apa mungkin menjadi wabah yang mengubah sistem politik kita yang kini berantakan? mampukah Corona mengkikis kuasa wakil rakyat yang hari ini malah sibuk dengan kepentinganya sendiri? Pasti semuanya akan berubah karena Corona telah menunjukkan betapa sistem yang kita dirikan, bangunan yang kita biayai bahkan aturan yang ditetapkan ternyata tak mampu menangani virus yang membantai jutaan penduduk dunia.

Corona bukan kolonialisme tapi yang jelas bukan virus yang dengan mudah dibekuk oleh pemerintah kita hari ini! (EP)