Suluh Pergerakan

Puasa, Corona dan PHK

“Karakter adalah kekuatan terpenting yang menentukan nasib bangsa, dan karakter yang kuat mustahil dimiliki mayoritas.” (Iqbal)

“Ragu dan rakus menghadapi karunia Tuhan tanda tiada bersyukur.” (Rumi)

***

Ramadhan datang dalam suasana yang berbeda. Masjid tak lagi gemuruh dengan jamaah dan mudik kini jadi kegiatan yang dilarang. Tiap orang musti waspada dengan wabah meski bulan Ramadhan itu penuh berkah. Rasanya beragama jadi beda nuansanya ketika semua musti tunduk pada protokol kesehatan. Seakan wabah itu mustahil dibasmi hanya lewat tarawih—malah wabah bisa menular cepat jika masjid tetap ramai jamaah. Muncul berbagai penjelasan yang berusaha meyakinkan pada semua kalangan agar menikmati Ramadhan dengan menjauhkan diri dari masjid.

Bersamaan dengan itu kita juga melihat nestapa. Pada banyak orang yang kini kena PHK. Mereka yang akhirnya musti terbuang dari pekerjaanya. Hilang penghasilan hingga harapan. Pada sebuah liputan diberitakan bagaimana mereka kemudian tidur di trotoar karena tak lagi mampu bayar kontrakkan. Kini jumlah mereka terus bertambah sehingga tak ada jalan lain kecuali pemerintah mengalokasikan bantuan sebanyak-banyaknya. Tak ada pekerjaan, tak ada tempat tinggal dan tak bisa pulang ke kampung halaman. Rasanya kita seperti mengurung mereka dengan jaminan yang serba tak pasti: bantuan mungkin tak mencukupi tapi daya tahan musti terus dipelihara.

Daya tahan itu mulai memudar pada pasukan terdepan. Tenaga medis yang belakangan banyak yang kekurangan APD musti bekerja dengan risiko luar biasa. Banyak di antara mereka sudah tumbang dan beberapa malah positif terkena Covid -19. Tekanan pada Kementerian Kesehatan untuk segera memenuhi kebutuhan memang tak mudah: banyak sarana hingga produk kesehatan kita sangat tergantung pada negara lain. Padahal negara lain juga bertarung menghadapi corona. Artinya mengharapkan bantuan bahkan membelinya sekalipun pasti mengalami kesulitan. Kita seperti berada di jalan buntu sehingga saran yang paling masuk akal—persis seperti yang dikatakan Presiden—kedisplinan.

Saran yang basi tapi memang itu yang mampu dinyatakan. Secara akal sehat kita berada dalam kondisi yang semrawut: data kematian terus bertambah bahkan dianggap kurang transparan, kemampuan tenaga medis yang terbatas di tengah limpahan pasien yang kalau membludak pasti tak bisa tertangani dan kemampuan anggaran pemerintah yang belum tentu bisa menjamin sampai jangka panjang. Mungkin itu sebabnya langkah yang diambil selalu ingin menyenangkan seluruh pihak: membatasi peredaran orang tapi juga membiarkan sejumlah toko atau pasar buka. Resikonya yang pasti penyebaran masih berpotensi tapi kehidupan ekonomi untuk kebutuhan pokok tetap berlangsung.

Beruntungnya kita punya jiwa altruisme yang luar biasa. Dukungan melimpah dalam bentuk donasi maupun bantuan alat kesehatan terus mengalir. Meski dibanding dengan kebutuhan tentu tak bisa memenuhi semuanya tapi semua tindakan itu sangat menolong. Setidaknya tak semua binasa karena virus dan cengkraman PHK. Hanya semua tahu bantuan itu ada batasnya dan kelangsungannya tak selamanya. Terutama jika melihat skala penularan dan PHK sudah menyebar ke sejumlah provinsi. Sudah pasti tanggung jawab utamanya di pemerintah yang sayangnya masih menyimpan penyakit lama: kurang koordinasi, tak mampu berkoordinasi dan malah ada yang punya agenda mencari keuntungan diri sendiri.

Masih sempat-sempatnya parlemen membahas RUU bermasalah. Juga tindakan staf khusus Presiden yang berakhir dengan pengunduran diri. Malah kalau mau dirunut sikap Menkes yang meremehkan virus sejak awal memberi andil besar dalam tingginya jumlah korban. Bukan hanya kepemimpinan yang lemah melainkan kapasitas institusi yang tak mampu melakukan deteksi dini. Dirubung sekian banyak persoalan maka orientasi yang paling mudah dilakukan adalah membatasi pergerakan dan pemberian sanksi. Bukan pada mereka yang bergerak tapi musuh ciptaan aparat yang dinamai anarkho. Ironis karena tak mampu menangkap virus corona kita menangkap anak yang disebut sebagai anarkho. Risikonya yang pasti corona bukan hanya melenyapkan nyawa tapi juga menghapus demokrasi.

Kekacauan yang memanas itu berbarengan dengan bulan suci Ramadhan. Bulan yang memberi harapan karena itulah saatnya kitab suci dibaca, dipelajari dan diamalkan. Bulan turunnya Al-Qur’an yang dalam sejarahnya pernah mengubah banyak kehidupan orang dan tempat. Salah satu yang penting dan menjadi tekanan utama kitab suci itu adalah pengakuan akan kuasa Tuhan yang meliputi segalanya. Bagi orang beriman keyakinan atas kuasa Allah itu yang meniupkan harapan sekaligus memberi kepercayaan diri dalam menjalani hidup. Dalam bilik orang yang beriman Allah itu tak pernah meninggalkan manusia dengan segala urusannya. Itu sebabnya salat yang merupakan interaksi minimal manusia dengan Allah memberi banyak kekuatan pada diri orang beriman: menjadi makin peduli, menjadi berani berbuat baik dan berpihak selalu pada yang lemah. Itu idealnya!

Keyakinan itu yang membuat surah yang turun di Mekah selalu beraroma protes atas tatanan sosial: yang menindas, timpang, dan mengabaikan orang miskin. Turunan dari semangat itu yang membentuk kepribadian orang beriman itu selalu resah melihat kejahatan kemanusiaan dan berusaha untuk memberi manfaat bagi sekitarnya. Daya energi itu bukan karena akal tapi Iman yang dihidupkan melalui hubungan transenden antara makhluk dengan Sang Pencipta. Hubungan transenden itulah yang jadi benih kekuatan orang beriman dalam menghadapi situasi hidup apapun. Modal Iman itu yang selama ini hanya diorientasikan pada kepentingan sempit: pemujaan kekuasaan, akumulasi modal, hingga pemupuk kekuatan kelompok yang menganiaya yang berbeda. Iman yang bertujuan sempit itu mustahil mampu memberi kemaslahatan. Iman yang membuat Marx secara sinis mengatakan: agama itu candu!

Kini berpaling dengan Iman bukan sebagai sarana pelarian. Tapi memang itulah sumber daya yang tak kita gunakan. Ketakutan kita pada Corona bukan saja mencampakkan akal sehat tapi keberanian yang tumbuh oleh Iman. Keberanian untuk mengambil risiko sebagaimana peran petugas medis sebaiknya lebih diperbanyak: pejabat berani memotong pendapatan untuk rakyat yang kesulitan, penegak hukum berani menangkap politisi yang punya agenda berlainan dengan pembasmian virus, hingga rakyat yang saling membantu sesama rakyat. Mumpung di bulan Ramadhan dimana semua kebaikan dilipat-gandakan maka jangan sampai ibadah di rumah dipahami sebagai amal untuk kepentingan diri dan keluarga semata. Ramadhan ini waktu yang tepat untuk meminta Allah terlibat lebih dalam membantu situasi yang mustahil diatasi dengan cara normal.

Petunjuk yang paling tepat adalah tauladan para utusan Tuhan: Musa ketika diburu oleh pasukan Firaun di tepi laut merah sempat cemas. Laut yang luas itu hendak diseberangi tapi mana mungkin kalau tak dibantu kapal. Disuruhnya umat untuk menyeberang hingga barisan massa paling depan nyaris tenggelam karena air sampai dekat hidung. Mukjizat muncul ketika mereka hampir tenggelam dengan terbelahnya laut merah hingga bisa dilalui dengan mudah. Ikhtiar yang nekat, berani, dan mengandalkan Iman semata menjadi pengantar lahirnya mukjizat. Masih banyak contoh lain di mana Iman telah mengantarkan pintu Tuhan untuk menolong mereka yang membutuhkan.

Kini Iman yang biasanya kita gunakan hanya untuk bahan kritik, dukungan, dan perhitungan hendaknya jadi proyek ideal masa depan. Iman yang diantarkan melalui perbuatan yang manusiawi, berani dan memberikan manfaat untuk sekitar. Iman yang dulu membawa keberanian Muhammad SAW untuk menempuh perang Badar dengan kekuatan pasukan yang minimal. Kecemasan sempat membuat Rasul SAW sangsi akan hasil akhir peperangan. Malaikat turun terlibat perang ketika medan laga sudah sibuk dengan adu pedang. Iman itu bukan logika apalagi hitungan praktis tapi kesadaran bahwa Allah tidak diam menyaksikan perjuangan hambanya.

Ramadhan waktunya tak lama hanya sebulan. Sedang corona tak ada yang bisa meramal kapan usainya. Presiden nyatakan akhir tahun, lainnya bilang akhir Juli, dan sebagian malah percaya situasi ini bisa sampai tahunan. Semua itu hanya upaya menebak ketidakpastian tapi kita menanggalkan kepastian yang sebenarnya: Iman yang digariskan dalam keyakinan akan membentuk sikap berani melawan ketidak-pastian. Iman bukanlah kepasrahan tapi perjuangan membentuk tatanan yang ideal. Iman proyek perubahan bukan penerimaan atas kenyataan. Iman adalah pertarungan melawan status quo bukan penerimaan atas realitas. Mari kita gerakkan kekuatan Iman yang sudah lama berkarat dan lapuk oleh rutinitas!