Aksi May Day di Bandung | Reuters

Pledoi May Day

Nalar Naluri (Pegiat Social Movement Institute)

***

Barisan hitam

barisan merah

barisan putih

barisan biru

barisan hijau

dan barisan warna lainya

adalah manusia.

Yang bernyanyi dan menari

di kala tetesan mentari

jatuh membasahi

bersama fitnah keji

yang terdiri dari adonan

kemelaratan berpikir.

Delapan jam kerja untuk pekerja.

Dari gadis berhijab sampai SPG manja.

Dari yang jenggotan sampai gimbal urakan.

Dari yang bertato sampai kulit bening.

Dari yang berjas sampai yang bercaping.

Dari yang berdandan merdu sampai bergincu sendu.

Dari yang meramu sampai pemandu.

Semua kecipratan hutang darah jalanan Haymarket.

Yang bila dalam tuntutannya mencoret dinding beku harus dibalas dengan pentung. Maka harus ditelanjangi dan dibotaki.

Yang bila menyatakan tuntutan peristiwa aneksasi harus dikurung seperti binatang liar yang tak punya hati nurani. Harus disayat lubuk hatinya agar abadi terluka.

Yang bila menulis kata ‘membunuh’ di papan reklame penghisapan harus diterjemahkan sebagai aksi genosida warisan kebudayaan.

Yang bila menghancurkan sebuah pos, harus dinalar sebagai aksi frustasi, harus dicemooh oleh para intelektual progresif (progresif berwatak fasis).

Sedang di lain waktu, pos inilah tempat berteduhnya (melindungi) bedil untuk menggilas tanah petani yang dirampas dengan dalih konsinyasi.

Dan kalian harus ingat, tak satupun korban dari pemilik bedil benar-benar terluka pada peristiwa itu (peristiwa May Day di pertigaan revolusi UIN Jogja tahun 2018), apalagi mencederai para pedagang kecil di sekitaran yang menjajakan kemalangannya dari siang hari hingga malam hari.

Kalian melihat sendiri bagaimana hukum telah mencerabut akal; seorang pelukis amarah dijerat dengan pasal berdarah. Seorang demonstran dicap sebagai manusia yang tak tahu ‘syukur’ yang merupakan buah kenikmatan kehidupan. Dan solidaritas kaum ‘muda tersadar’ yang dicap sebagai ABG cabe-cabean, yang direndahkan segala tindakannya karena dianggap sebagai ‘anak-anak’, karena masih duduk di bangku sekolah, dan masih ‘menetek di susu ibunya’, sehingga kemandiriannya tak dianulir. Harus disejajarkan bagai sekumpulan penjahat dan dicoreng benih-benih kemanusiaannya.

Semua niat tulus itu diframing oleh media besar sebagai teroris. Sedangkan di lain tempat, penguasa adalah jelmaan sesungguhnya Iblis. Dialah ‘Thanos’ abadi, dialah ‘King of Knight yang tak bisa dibunuh oleh Arya Stark sekalipun.

Dan jika ‘thogut’ itu adalah fakta yang harus diperangi, maka lihatlah kekuasaan oligarki yang melekat di pemerintahan. Resapilah belaian dan buaian pesta demokrasi. Tidak cukupkah para petugas KPPS itu sebagai contoh. Mereka harus meregang nyawa karena menjaga absurditas pemilu yang sejatinya penipu? Dan KPU seolah memberi jaminan surga kepada mereka yang gugur, menyebutnya sebagai ‘martir demokrasi’.

Namun kita tak bisa ditipu, karena semua ini disebabkan oleh kecerobohan sistem pemilu yang telah melakukan pembunuhan massal. Seorang kawan dengan gaya satir berkata, “Dalam soal pembunuhan, ISIS lebih berani menganulir perbuatanya, dengan mengatakan bertanggunjawab atas pembunuhan. Namun KPU? hening, diam, dan mengkerut.”

Seolah semua ini terjadi karena sebuah takdir ilahi, dan kita semestinya rela atas semuanya. Kemudian, pertanyaan klasik yang amat penting, siapakah penikmat makanan lezat dari pesta demokrasi yang ugal-ugalan dan bertumbal nyawa ini (dalih penyelenggaraan pesta demokrasi, yang sebenarnya menguasai kekayaan alam Nusantara oleh segelintir oligark).

Kita akan kesulitan membedakan watak dari kedua calon pengusa dan wakil penguasa. Masing-masing DNA politiknya ialah penghisap, mengandung gen oligarki yang tengah meluap-luap.

Jika membela buruh adalah jihad, maka majikan yang pongah adalah lawan. Rasulullah telah menanamkan ini sejak roh perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah.

Maka keimanan itu tak lain ialah perjalanan, terus melintasi apapun aral melintang. Yang kemudian disebut sebagai perjuangan. Perjuangan yang tidak berdiri di atas sebuah identitas tunggal, yang tak berafiliasi kepada satu kebenaran, tetapi membela kemahaluasan kebenaran. Inilah perjuangan sejati yang kita songsong. Sebuah perjuangan yang tak pernah berhenti. Sampai lenyapnya matahari!

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika