foto-google.com

Perempuan SMI, Buku Dan Ke-jomblo-annya

 

Luna Febriani [Pegiat Social Movement Institute]

***

“Jangan berani-berani menjadi bagian dari Social Movement Institute (SMI), jika tidak tahan jomblo!”. Inilah jawaban pertama yang akan kami utarakan ketika ada rekan-rekan yang bertanya tentang SMI pada kami. Terutama kepada perempuan-perempuan di luar sana yang tertarik bergabung. Karena hal ini dapat menjadi bahan pertimbangan, yang konon katanya, perempuan yang masuk menjadi bagian dalam SMI akan awet kejombloannya. Lihat saja, di SMI ada perempuan-perempuan yang (awet) jomblo, diantaranya: Uni Shinta yang senang melakukan perjalanan ala Dora dengan tas ransel dan petanya. Lalu ada Mbak Meila yang masih menunggu Dilannya (eh itu Milea dink). Ada lagi Saidah yang terobsesi menjadi penyanyi, Iroy dan Intan yang masih seperti anak SMA karena keimutannya, serta saya sendiri yang setiap hari ditanyain kapan nikah oleh orang-orang sekitar. Kami adalah perempuan-perempuan yang mungkin dapat dikatakan beruntung dalam banyak hal, tapi tidak dengan hal percintaan. Hikss….

Setelah diidentifikasi, ternyata ada beberapa faktor yang menyebabkan kejombloan perempuan-perempuan SMI menjadi awet, diantaranya: Pertama, kami tidak jelek-jelek amat loh, hanya saja kami sebagai perempuan tidak melakukan hal-hal yang mainstream perempuan kebanyakan lakukan, yakni macak atau dandan. Bagi kami, semua perempuan itu dilahirkan cantik, baik yang dandan ataupun tidak dan salah satu alasan kami jarang macak karena kami tidak mau membebek pada  kecantikan yang ditetapkan oleh luar (terutama pasar) terlebih setelah kami telah membaca kitab suci dari Naomi Wolf yang berjudul Mitos Kecantikan.

Kedua, siapa sih yang mau sama perempuan yang hampir setiap saat kerjaannya diskusi, bedah buku dan film serta ngobrolin tentang struktur partriakhi yang selalu menindas perempuan? Nay, itu aneh! Dan, ketiga, kami masih mengharapkan terjadinya mukjizat: siapa tau suatu saat JJ Rizal khilaf untuk melepaskan status jomblonya. Apa hubungannya? Bukanlah hoax jika sebagian dari perempuan SMI sangat mengidolakan sosok satu ini, terutama pada pemikiran dan koleksi-koleksi buku yang dimilikinya, sehingga hal ini berpartisipasi dalam mendorong kejombloan perempuan SMI. Jadi, jika ditilik dari beberapa faktor diatas, maka benang merah sumber utama dari penyebab kejombloan perempuan SMI adalah BUKU.

Tidak dapat dipungkiri, pasca bergabung dalam SMI, kami memiliki hobi yang sama, yakni diskusi, membaca dan (masih mencoba) menulis. Mengapa ini terjadi? Hal ini kami lakukan karena kami paham jika selama ini struktur-struktur yang ada banyak menindas kaum perempuan sehingga kaum perempuan yang tertindas tidak dapat bersuara. Seperti yang dikatakan Gayatri Spivak dalam karyanya yang mana Spivak menggolongkan perempuan kedalam kelompok subaltern, menurutnya kelompok subaltern tidak memiliki akses yang cukup kepada sejarah, kepada representasi mereka sendiri serta kepada institusi-institusi sosial dan kultural. Untuk mengubah ini, Gayatri Spivak menawarkan solusi yakni melakukan dekonstruksi terhadap struktur-stuktur yang tidak berpihak kepada perempuan tersebut. Dekonstruksi tersebut salah satunya dapat dilakukan dengan cara perempuan harus menulis sejarah tentang kaumnya sendiri bukan oleh orang lain, sehingga sejarah yang ditulis menjadi tidak bias. Dekonstruksi ini dapat terjadi jika perempuan memiliki kesadaran kritis dan stock of knowledge yang memadai, yang mana hal ini dapat diperoleh dengan cara membaca dan menulis.

Oleh karena itu, untuk mengubah struktur yang selama ini tidak berpihak kepada kaum kami kaum perempuan, maka kaum perempuan itu sendiri yang harus memulai dan melakukan perubahan dengan buku dan pena sebagai modal dan senjata utamanya. Sehingga, buku dan perempuan harusnya menjadi sesuatu yang tidak dapat dipisahkan, karena buku menjadi penting bagi kaum perempuan untuk memperoleh atau mendapatkan stuktur yang lebih baik.

Mengingat pentingnya buku dalam kehidupan kami sebagai perempuan, maka dari itu mayoritas kami perempuan-perempuan di SMI justru mempertahankan status jomblonya. Loh kok bisa? Iyalah, jika kami tidak jomblo kami tidak akan sempat bercengkrama dengan buku-buku yang selama ini telah memberikan banyak manfaat bagi kami. Atau dengan kata lain jika kami tidak jomblo, maka kami akan memilih bersama pasangan dan mengabaikan buku. Jadi, para penerbit dan penjual buku, berterima kasihlah kepada kaum jomblo seluruh dunia, karena jomblo berpartisipasi dalam membeli, membaca dan mempertahankan eksistensi buku-buku dari kepunahannya! Lalu, jika ditanya apakah status jomblo ini akan berlangsung selamanya? Maka kami akan menjawab sama seperti yang Nyai Ontosoroh katakan “Jangan sebut aku perempuan sejati jika hidup hanya berkalang lelaki. Tapi bukan berarti aku tidak butuh lelaki untuk aku cintai”. Cukup itu saja!

Selamat hari buku!

 

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika