Suluh Pergerakan

‘Perang Kicau’ Bilven vs Tsamara Amany

 

***

Menjelang pemilu serentak 2019, sepertinya sudah bukan barang rahasia lagi kalau eskalasi perdebatan akan meningkat pesat. Masa-masa di tahun politik ini diprediksi akan meningkatkan hawa politik semakin memanas.

Hal ini tidak saja menyangkut aktor-aktor politik kader partai atau simpatisan. Melainkan juga orang-orang yang notabenenya berada diluar partai. Seperti cendikiawan, aktivis, penggiat bahkan masyarakat awam.

Dan perdebatan-perdebatan ini akan menjalar diberbagai media sosial oleh banyak netizen.

Salah satunya seperti yang bisa dilihat di berbagai postingan terkait saling lempar kicauan di twitter antara Bilven Sandalista dengan Tsamara Amany.

Yang menarik dari mereka adalah karena sama-sama publik figur dan diikuti oleh banyak kalangan.

Bilven adalah aktivis sosial dan gerakan sekaligus pendiri penerbitan Ultimus. Sementara Tsamara adalah ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), partai yang lolos dalam perhelatan pemilu kali ini.

Seperti yang banyak di repost oleh netizen, perang kicau tersebut bermula dari twit Tsamara yang mengatakan ada politisi yang sukanya membuat teori konspirasi tentang lembaga negara dan partai politik lainnya. Tapi saya bingung, suaranya itu mewakili partai politik apa. Demikian kicau Tsamara di akun @TsamaraDKI tanggal 4 maret 2018.

Tentu kicauan ini menuai banyak tanggapan. Beberapa bahkan menanyakan balik tentang Tsamara maupun PSI itu apa.

Tak ketinggalan, Bilven juga menyambar kicauan tersebut. Lewat akun @sandalista1789, ia seakan ingin mencounter balik kicauan Tsamara tersebut. “Ada partai politik yang lebih suka solidaritas kepada penguasa daripada solidaritas kepada rakyat kecil yang dirampas hak nya, tergusur dan lapar, korban-korban kekuasaan. Tentu saya bingung, partai politik itu mewakili siapa?”.

Tidak sekali ini saja saling balas kicauan antara Bilven dengan Tsamara. Pada 1 Maret 2018, mereka juga terlibat saling berbalas kicau. Kali ini Tsamara mempertanyakan eksistensi anak muda, yang menurutnya tidak boleh diam saat ada ancaman kriminalisasi UUMD3.

“Anak muda itu tidak boleh diam kalau melihat revisi UUMD3 yang mencerminkan upaya pembungkaman kepada warga negara yang kritis. Anak muda itu tidak boleh diam kalau melihat revisi UUMD3 yang berpotensi menjadi alat kriminalisasi. Ya, itu. Anak muda”.

Bilven pun memberikan kicauan balasan. “sudah banyak petani dan warga negara yang kritis dikriminalisasi masa Presiden Jokowi ini karena memperjuangkan tanah hak-haknya di Surokonto Wetan, Tumpang Pitu, Banggai, Kubu Raya, Tulang Bawang, Kendeng, Kulonprogo, Sukamulya, Blitar, Cilacap, dsb. Kemana saja anda wahai anak muda??”.

Pernah juga Bilven menanggapi kicauan yang dilemparkan oleh pembina PSI, Grace Natalie. Hal itu juga bermula dari twit grace dalam akunnya @grace_nat yang menyatakan kekecewaannya dengan beberapa orang yag dianggap ’nyinyir’ saat PSI audiensi ke Istana Negara.

Kicaunya “heran lebay banget yang pada ributin audiensi ke istana. Istana itu rumah rakyat. Sampai ada yang ngirim pasukan utk demo minta psi dibubarkan. Segitu takutnya ya sama anak2 muda ? belum lagi yang buat aneka hoax, ndeso ah!”. 00.30 – 4 Maret 2018.

Terang saja kicauan tesebut disambar banyak orang. Ada yang mendukung dan ada juga yang menyesalkan kicauan tersebut. Apalagi membawa-bawa istilah ‘ndeso’. Beberapa orang menganggap hal tersebut seakan merendahkan rakyat.

Bilven lagi-lagi membalas kicauan tersebut dengan agak pedas. Menurutnya ada kerancuan dengan mengatakan istana itu rumah rakyat. Karena faktanya tidak seperti itu.

“Istana itu rumah presiden sis, bukan rumah Rakyat. Buktinya, banyak rakyat tidak bisa temui presidennya sendiri, ibu-ibu Kendeng, ibu-ibu aksi kamisan, korban penggusuran, ekstapol korban 1965, korban Trisakti, Semanggi, Talangsari, Tanjung Priok, Papua, penculikan aktivis, dll..”.

Disini Bilven ingin mengatakan bahwa terkadang harapan itu tidak sesuai seperti yang diimpikan. Malah justru banyak yang berkebalikan. Disini Bilven ingin melakukan kritik, tidak hanya pada PSI tapi banyak lainnya.

Terlepas bagaimanapun perdebatan, perang kicau dan sebagainya tersebut, kita harus melihat fakta secara sungguh-sungguh. Dalam tahun politik ini, meskipun perdebatan makin kencang, tapi tetaplah untuk tidak keluar dari etika.

Apalagi kalau hal itu dilakukan oleh publik figur yang juga diikuti oleh banyak pengikut. Berdebat dengan cerdas sangat diutamakan. Biar tidak terprovokasi apalagi termakan hoax. [Mel]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.