Suluh Pergerakan

Ilustrasi - Partai Anjing/Iksan Skuter

‘Parlemen Negeri Anjing’

Oleh Melki AS (Pegiat Social Movement Institute)

Hidup di Negeri Anjing belakangan ini memang semakin susah. Partai berkuasa yaitu Partai Anjing Per-Uangan semakin tidak terkontrol dalam pengambilan kebijakannya. Dan cilakanya, partai lainnya bersetuju saja dengan tawaran sejumlah undang-undang yang diajukan partai penguasa. Katanya asal ada ‘cuan’. Cuan adalah segala-galanya. Bukan saja di Negeri Anjing, tapi termasuk juga di negeri tetangga yang berwujud manusia. 

Dan hari ini, di depan gedung parlemen anjing, hampir semua perwakilan fraksi partai berfoto dengan riang gembira, sumringah, dan bangga karena telah selesai menyidangkan dan menyetujui undang-undang baru yang akan diberlakukan bagi Negeri Anjing tersebut. Di antara fraksi tersebut, tampak ada fraksi dari Partai Anjing Per-Uangan, Partai Golongan Anjing, Partai Gerakan Anjing Raya, Partai Nasional Anjing untuk Demoknasi, Partai Kebangkitan Anjing, Partai Anjing Amanah, dan Partai Persatuan Anjing. 

gukgukguk… asalkan ada cuan, kan enak untuk kita ketok rancangan undang-undang ini, bro,” ucap Dogsa dari fraksi Partai Golongan Anjing, “mengapa pula harus berlama-lama kalau bisa cepat, cuan pun bisa cepat juga. Apalagi dalam situasi sulit sekarang ini, cuan harus terus mengalir. Bila perlu kita peras aja semuanya, termasuk dari yang miskin sekalipun. Iya gak, bro, gukgukguk…”

“Aku setuju dengan bro Dogsa itu. Kapan lagi kita menangguk untung besar, dari pemerintah, dari pengusaha, dan lain-lain. Masalah yang ada di luar itu ya sudahlah, nanti biar diselesaikan pihak keamanan saja, bila perlu tangkap atau tembak satu sebagai cara untuk menakut-nakutinya,” ujar Dogsi sambil mengendus-ngendus tanah dengan moncongnya.

“Ayo foto-foto.”

“Senyum…senyum…senyum..”

“Bun…. cissssss”

Krek krek krek… Lalu semua yang ada dalam sidang paripurna pengesahan undang-undang di negeri anjing itu tergambarkan dalam kertas foto. Meskipun keadaan sedang sangat panas, tapi hari itu semua fraksi tampak bergembira. Tampak semuanya mengibas-ngibaskan ekornya ke kanan kiri kanan kiri. Sambil sesekali menggonggong panjang.

Sidang paripurna hari ini menyetujui bahwa seluruh anjing yang ada di negeri anjing dilarang melawan atau protes kepada penguasa dan elit kekuasaan. Bagi mereka yang tetap melakukannya maka akan dikenai hukuman tidak boleh keluar kandang selama sebulan penuh, dengan diberi makan dari hasil sisa makanan yang sudah selesai dimakan para anjing-anjing lainnya. 

Di undang-undang yang baru dan berlaku untuk negeri anjing ini merupakan undang-undang yang melindungi kekuasaan yang hanya punya tiga (3) pasal saja di dalamnya. Pasal pertama yaitu elit kekuasaan di negeri anjing tidak pernah salah. Yang kedua kalau elit kekuasaan salah maka kembali ke pasal satu. Sedangkan yang ketiga ialah tentang pengaturan hukuman bagi yang melakukan pelanggaran atas perundang-undangan yang berlaku. Selain kurungan kandang, maka ada hukuman lainnya yaitu denda dengan menyerahkan segala tulang persediaannya untuk dinikmati para anjing elit penguasa.

Tapi ternyata putusan perundang-undangan yang baru disetujui di parlemen anjing tersebut mengalami pro dan kontra. Sebagian anjing menolaknya karena dianggap sangat tidak anjingisme, melanggar privasi dan hak asasi anjing, dan sangat jelas bahwa dalam pasal-pasalnya tidak memiliki celah lagi bagi kawanan anjing agar bisa dianjingkan sebagaimana mestinya. 

Karena pro kontra itulah maka terjadi beberapa penolakan dalam pembahasan rancangan undang-undang tersebut. Tapi ternyata elit kekuasaan negeri anjing tidak kalah licik. Diam-diam mereka malah sudah menyelesaikan pembahasan, lalu esok harinya langsung sidang paripurna dan lalu pimpinan sidang sekaligus ketua parlemen mengetuklah persetujuannya tanda undang-undang tersebut sah dan sudah bisa diberlakukan.

Seketika Negeri Anjing murung. Harapan untuk hidup yang lebih baik seakan hilang. Tapi dari gedung parlemen anjing, semua malah bersenang-senang. “Ternyata kita tidak kalah liciknya dengan mereka,” kata salah seekor anggota parlemen anjing dari salah satu fraksi partai politik negeri tersebut.  

“Kira-kira setelah menyetujui undang-undang ini apakah kita akan aman pulang nanti, bro?” ujar Doglan pada Dogma dari fraksi Partai Kebangkitan Anjing.

“Tenang, semua aman terkendali. Pak Doglan gak usah khawatir. Kita kan ada keamanan resmi. Kalau belum yakin, nanti saya akan kerahkan anak buah saya yang biasa jadi preman di pasar induk itu untuk ikut mengawal Pak Doglan sampai ke kandang. Anak-anak buah saya itu cakarnya tajam-tajam semua. Dan dari air liur mereka ada rabies yang sangat mematikan”.

“Terimaksih, bro Dogma, ente benar-benar penjilat terbaik.”

“Tapi jangan lupa anak-anak saya itu dikasih sedikit tulang-tulang lah ya, bro, biar mereka bisa pesta-pesta sedikit.”

“Tenang aja soal itu, Pak Dogma, cuan kita kan ada, saya bisa hubungi bos-bos perusahaan itu, dan permintaan saya pasti akan langsung datang. Tak mungkin mereka menolak. Kan kita sudah bantu mereka.”

Sementara di dalam ruangan, beberapa fraksi partai juga asyik ngobrol sambil cekikikan. Ada yang saling endus hidungnya. Beberapa tampak lagi asyik main saling tangkap ekor. Dan ada juga yang sambil menjilat-jilatkan lidahnya ke atas moncongnya sendiri. 

Pokoknya hari ini slogannya ‘tiada hari tanpa bergembira’. Gembira karena sudah selesai sidang paripurna tentang undang-undang baru, selebihnya gembira karena akan ada pilkada di beberapa wilayah yang akan dilakukan. Dan terakhir, bergembira karena setelah ini ada masa reses untuk membangun pencitraan ke wilayah. 

Semuanya menghasilkan cuan. Sidang dapat cuan. Pilkada dapat cuan. Dan reses pun dapat cuan. Makanya tak heran kalau hari ini semua moncong itu terlihat lebih bercahaya. Soalnya bakal lebih bercahaya lagi setelah digosok dengan cuan yang segera akan mengalir. Dogilita-Dogilita yang ada di rumah bisa plesiran untuk membeli penghias cakar, penghias bulu, dan sebagainya.

“Memang tak sia-sia kita berkoalisi, bro”, ujar Dogman kepada Dogzo dari fraksi Partai Gerakan Anjing Raya. “Kita akan terus kaya dengan sudah kita sahkannya undang-undang ini. Dogilita kan bisa jalan-jalan ke luar negeri kalau cuan dah masuk. Wkwkwkw…”

Hahaha… Jangan terlalu mencolok bro”, timpal Dogzo pada Dogman dari Fraksi Partai Anjing Per-Uangan, “ntar malah kita di-bully oleh kaum-kaum kere itu nanti kalo parlentenya kelihatan. Eh, tapi ya, asyik juga berkoalisi seperti ini, bro. Tapi di luar biarkan mereka tidak tahu. Biarkan mereka lihat kita kayak tidak sejalan. Jadi kita tetap terus bisa meraup suara-suara mereka yang sudah kita bodohi tersebut. Biarkan mereka gontok-gontokan bila perlu sampai bunuh-bunuhan. Yang penting keuntungannya milik kita. Tetap milik partai kita. Hehehehe… Tapi asli, partai elo licik, bro.”

“Partai elo kan gak kalah liciknya, bro. Coba bayangin, masa kaum penyembah bisa dicomot semua dan dipakai untuk kampanye. Bahkan para doggiliesta-doggiliesta dari yang masih kecil sampai emak-emak klean kadalin semuanya. Anjir banget partaimu kan, bro.”

Hahaha… Demi kebutuhan, bro. Aji mumpung aja. Mumpung mau, mumpung cari perhatian, mumpung cari kesempatan, dan mumpung bodoh, bro. Hahahaha….”

“Benar juga, tapi kan tetap kami sebagai pemenang pemilu, bro. Itu juga mumpung. Mumpung ada yang bisa dijadikan boneka dan dari sisi kehidupannya pun tidak neko-neko. Kalau anggota partai yang lain dah mati kartu semua karena korup. Apalagi mereka itu korupnya gak ketulungan, bro. Masa dana cukur bulu aja di korupsi, lha iya kan memalukan toh.”

“Bu Dogiani tapi aman kan, bro? Soalnya kita juga susah korup nih kalau Bu Dogiani sebagai ketua tidak berpihak dengan kita.”

“Kalau itu aman, bro. Bu Dogiani kan anak emas pimpinan partai. Jadi gak ada yang bisa menyentuhnya. Aparat keamanan sudah di bawah empat kaki ini semua, hehehe….”

Sidang paripurna yang menyetujui undang-undang baru yang akan diberlakukan ini memang sering menjadi pembicaraan banyak pihak dari kandang-kandang besar. Akan tetapi karena ini penting dalam peningkatan pendapatan, makanya prosesnya semakin dikebut. Tidak harus mematuhi saran dan masukan dari para pakar. Toh juga bagi semua fraksi di parlemen sudah kelihatan kesepakatannya. Hanya ada dua fraksi saja yang tidak sepakat. Dan karena cuma dua fraksi maka hal tersebut tidak berlaku bagi pengambilan keputusan. Tetap, semua akhirnya akan setuju dan sepakat. 

“Terimakasih Bu Dogiani telah mengetok undang-undang tadi. Ibu ternyata benar-benar licik dan bangsat. saya suka dengan itu semua,” ucap Dogjan dari fraksi Partai Persatuan Anjing.

“Sama-sama, Pak Dogjan. Yang penting kita semua senang. Saya itu tidak mungkin melakukan hal seperti ini kalau tidak belajar dari negeri tetangga.”

Lho lho lho… ternyata Bu Dogiani sering lihat dari negeri tetangga kita yang korup dan culas itu juga ya. Tapi mereka kan bukan anjing seperti kita. Mereka kan manusia Bu.”

“Ya, tapi kan kelakuan mereka sama dan mirip seperti kita…gukgukguk… walaupun mereka manusia, jadi apa salahnya belajar dari mereka. Toh juga mereka barusan saja membuat undang-undang, eh apa namanya itu, hmmm, ya undang-undang tentang Cipta Kerja atau Omnibus Law. Mereka kan juga diprotes oleh rakyatnya. Tapi mereka tetap mensahkan undang-undang itu. Nah, kita kan sama. Makanya saya juga cepat-cepat dan buru-buru juga untuk mensahkan rancangan undang-undang di negeri kita ini meskipun kita lakukan diam-diam. gukgukguk…”

“Kalau soal licik memang ibu tak ada tandingannya. Sebenarnya cocok kalau ibu jadi presiden di Negeri Anjing ini. Presiden yang sekarang itu lembek, tak ada gairah dan sok suci, jadi kurang cocok bagi kita anjing-anjing ini.”

“Pak Dogjan bisa aja, apa sampeyan mau jadi wapresnya nanti?”

“Asal tetap bisa korup saya siap bu gukgukguk…”

….

Hari sudah sore. Sebentar lagi datang malam. Sudah saatnya para anjing pulang ke kandang masing-masing. Di kantor parlemen anjing, tampak semua sudah bergegas untuk pulang. Tak lupa bulu di sisir kembali, ekor dikibas-kibaskan dan kemudian saling menggonggong dan melolong. Itu tandanya mereka sudah siap pulang kandang. Terlambat pulang bisa bahaya. Bisa hilang dan jadi gembel atau bisa juga hilang lalu jadi kudapan setulang-tulangnya oleh negeri tetangga. Biasanya, dicampurkan dengan minuman alkohol dan sebagainya. Dan untuk yang terakhir ini, hal itu lumrah dan alamiah. Ancaman itu yang selalu ditakutkan oleh anjing-anjing dari Negeri Anjing. Dan yang selalu jadi pertanyaan di Negeri Anjing, bahwa mengapa  begitu tega Anjing makan Anjing, meskipun yang satunya berbentuk manusia. Bukankah walaupun mereka manusia tapi juga ada kesamaan, contohnya sifat, kelakuan, dan lain-lain. Bukankah sama kan. Nah pertanyaan dan permasalahan itulah yang belum terjawab sampai hari ini di Negeri Anjing.

Sekian.