Parasite - Festival-cannes.com

Parasite, Metafora Tebal dan Revolusi ala Bong Joon-ho

Saya menyaksikan film Parasite sekeluarga. Mula-mula anak saya bilang tak minat dengan film Korea. Ia penyuka film Marvel. Istri saya memang menyukai film drama. Saya sendiri percaya ini pasti film luar biasa. Bong Joon-ho bukan hanya pintar menata cerita, tapi pembawa pesan yang tak bisa dihapus begitu saja. Kali ini pesanya keras, tajam, dan berani.

Terutama pada orang kaya yang selalu mudah ditipu. Oleh hak istimewa yang seolah mereka miliki dan terhadap fakta yang sesungguhnya itu hasil manipulasi. Tapi semua itu bermula dari kebutuhan untuk bertahan hidup dan keinginan hidup yang bermartabat. Harapan yang mungkin lazim tapi tak mudah diraih keluarga miskin yang memang tak punya jalan normal mengubah nasib.

Jika Anda miskin, pantas sekali untuk menonton film ini. Tidak untuk menertawakan diri sendiri, tapi diajari bagaimana mengubah keadaan. Bukan melalui teori motivasi, tapi kenekatan dan kecerdikan. Modal itu milik semua orang, tapi bagi orang miskin itulah modal ‘segalanya’. Nekat yang bisa membuat nasib bisa kita ubah dengan bertaruh resiko, dan cerdik yang menjadikan kita mahir menyiasati keadaan.

Tapi kalau kamu tergolong kaum kaya raya, film ini bisa menyehatkan jiwa. Setidaknya jadi tahu kalau apa yang kamu katakan sering menyinggung orang melarat. Paling tidak jadi tahu kalau apa yang kamu perbuat dapat menyinggung harga diri orang miskin. Dan apa saja yang berlebihan bisa membawa tragedi.

Tragedi itu dirawat melalui kisah yang berjalan segar, penuh ironi, dan padat sindiran. Mulai dari mendapatkan Wi-Fi, hingga menghilangkan bau miskin. Saya menyaksikan adegan itu semua dengan rasa marah, tertawa, dan sadar pada sindiran saat orang kaya yang sangat kuatir pada kesehatan hingga keinginan untuk selalu mendapat pelayan terbaik.

Pada pergaulan yang normal, memang orang kaya dan miskin tak bisa berbaur begitu saja. Bong Joon-ho membuat relasi itu tercipta dengan mencampur baur antara kelicikan, bohong, dan ambisi. Hingga pertanyaan segar dan jenaka muncul. “Mengapa orang kaya itu baik hati? Jawabanya menyentak. Karena uang mereka banyak sekali. Uang itu mirip setrika yang bisa melicinkan kekusutan apa saja!”

Tapi orang miskin itu harus bengis jika ingin naik tangga. Solidaritas, bahkan kredo kaum miskin ‘bersatulah’ sama sekali tak pernah ada wujudnya. Parasite membuat tonjokan solidaritas palsu yang biasanya digemborkan oleh para aktivis. “Orang miskin itu bisa melakukan apa saja pada sesamanya jika itu bertaut dengan keinginan untuk mendahulukan kepentingan dirinya sendiri. Tamak dan rakus ada pada semua kelas sosial.”

Saya tersentak melihat film ini. Bukan karena kontradiksi kelas ditampilkan dalam cara yang provokatif, tapi upaya Bong Joon-ho melihat persoalan eksploitasi. Masalah yang selama ini didekati dengan cara yang terlampau besar dan kerapkali jatuh pada sloganistik. Padahal, masalah ini bisa didekati dengan hal yang sederhana, simpel, dan mengejutkan.

Hanya soal bau atau masalah cuaca membuat orang miskin dan kaya berbeda dalam menanggapinya. Kesadaran kita diusik dengan cara yang keras. “Kemiskinan, yang bisa memutus rantainya bukan dengan ideologi Marxisme yang diusung melalui cara gerakan, tapi upaya merebut kesempatan yang selalu saja tersedia.”

Film ini tidak mengajari kita agar punya solidaritas, tapi film ini menyajikan fakta pedih yang ada di sekitar kita. Kalau kekayaan itu menyimpan cela yang tragis, ada eksploitasi, ada ketimpangan, ada pemerasan. Saya melihat film ini bersama seorang pasangan mahasiswa muda yang kelihatanya berasal dari kasta yang kaya, tampan, bersih, dan cantik. Waktu saya habis nonton jujur saya ingin tanya pada keduanya, “Apa yang mereka dapatkan dari film Boong Joon-ho?”

Saya sendiri merasa film ini menyuntikkan pandangan radikal tentang kesenjangan yang tak bisa lagi diatasi. Besarnya kekayaan yang dimiliki oleh kaum hartawan sudah tak lagi mampu dikejar oleh kemiskinan yang merayap dengan sadis. Saya hanya bisa menduga Boong Joon-ho berusaha untuk mempertahankan semangat kaum proletar. “Rebut itu dengan siasat dan pertahankan itu dengan cara apa saja.”

Nasehat kiri yang memiliki makna yang jauh lebih berharga ketimbang teori yang dijajakan begitu rupa. Anda musti menontonya kalau Anda marah pada ketimpangan dan kesenjangan yang begitu rupa. Coba saksikan sekali saja!(*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika