maintenance

PARA KAPITALIS YANG HARUS DIRUNTUHKAN: FACEBOOK, GOOGLE, AMAZON & APPLE

 

-Pengalaman baca buku The Four-

Pertanyaanya bukan apakah mereka akan mati atau tidak, melainkan kapan dan di tangan siapa (Scott Galloway)

***

Siapa yang bisa membantah Google? Mesin ini mampu menjawab pertanyaan apa saja. Setara dengan itu Apple telah menghias hidup dengan reputasi yang berlebihan. Disusul Amazon yang mengangkat Jeff Bezos sebagai orang kaya ketiga di dunia. Pemasar dunia yang meyentuh semua manusia.

Facebook dianggap sebagai benda paling ajaib di dunia. Menghubungkan 7,5 milliar dan 1,2 milliar orang tiap harinya. Disentuh emosi kita oleh facebook sehingga mau-maunya kita sisakan waktu setidaknya 50 menit tiap hari untuk menggunakanya.

Mereka muda, kaya dan berpengaruh. Juga menghancurkan! Saat Jeff Bezos ditanya tentang hancurnya lapangan kerja, ia dengan enteng usulkan: beri pendapatan minimum universal atau buat pajak penghasilan negatif sehingga tiap warga diberi uang yang cukup untuk hidup di atas garis kemiskinan.

Kekayaan raksasa itu tak bisa dibagi. Mereka bukan tak tahu zakat tapi sumber pendapatan itu mengalir terlampau besar. Apple memiliki ummat yang fanatik dan setia: tiap produk dinanti dengan cara apa saja. Menunggu depan toko, buat tenda hingga dengarkan khutbah Steve Jobs.

Pria yang secara akhlak tak lurus: memeras buruh, megalomonia, tak peduli filantropi, sifat yang mudah berubah dan tak hormati keragaman. Sialnya inilah perusahaan yang disayang oleh Fortune 500, sehingga pemerintah AS tak bisa berbuat banyak padanya.

Itulah ikon kapitalisme. Pria yang dianggap suci ini saat meninggal membawa duka hingga disitir jasanya: ‘meninggalkan bekas di alam semesta’. Temuanya sepele: telpon keparat yang harganya selangit. Harga itu meyentuh nafsu paling dasar dalam diri manusia: perasaan istimewa dan unggul.

Inilah perusahaan tekhnologi yang berhasil jadi roh sistem kapitalisme. Inovasi membuat perusahaan itu melesat dan berlipat ganda kekayaanya. Tapi pertarungan untuk meraih posisi teratas membuat kompetisi mirip di alam liar.

Hukum ekonomi yang merangsang orang untuk terjerembab itu hanya ada pada tiga unsur: akal, perasaan dan alat vital. Amazon, Google dan Facebook berusaha meramu semua itu: Google membantu otak, sementara facebook menarik hati dan Apple membuat pemakainya tampak jadi ‘keren’.

Kemampuan mencapai kesuksesan itu bukan sekedar kerja keras. Teori yang lapuk dan usang. Curi dulu dengan cara memalsu atau tekan pemerintah beri subsidi. Sejarah ‘pencurian’ itu terjadi saat Steve Jobs mengubah visi Xerox akan komputer grafis dengan tetikus yang belum terwujud menjadi Macintosh yang mengubah industri (h.156)

Di samping itu adalah menjebak dan menjerat. Sistem alogoritma membuat kita mampu menentukan ‘sudut pandang dan ideologi politik’  seseorang dalam milidetik. Data adalah bidikan yang membuat raksasa ini bisa memastikan tindak tanduk perangai manusia.

Buku ini tak bicara hal biasa melainkan cara-cara yang biasa dipakai oleh perusahaan tekhnologi. Jenis usaha yang sesungguhnya membawa masyarakat dalam kemiskinan esktrem. Tempat dimana perusahaan ini berdiri menghasilkan kesenjangan yang brutal.

Di AS situasi saat ini menuju pada kondisi dimana ada 3 juta bangsawan dengan 350 juta rakyat jelata. Dulu perusahaan bisa jadi payung tenaga kerja: Unilever punya kapitalisasi pasar $ 156 milliar yang disebar pada 171.000 rumah tangga kelas menengah. Intel punya kapitalisasi pasar $ 165 milliar dan memperkerjakan 107.000 orang.

Bandingkan dengan facebook: punya kapitalisasi pasar $ 448 milliar dan 107.000 pegawai.

Andai semua pendapatan 4 kereta itu digabung: mendekati $ 2,3 trilun. Setara dengan PDB Prancis dan jauh dari PDB kita.

Resiko kultural akibat kebesaran perusahaan tekhnologi sudah kita capai; tampilnya para demagog, politik berisi orang yang diliputi perasaan marah, kelas menengah lama kelamaan lenyap dan kota kecil yang bangkrut.

Jujur ini buku memberi saran meyakitkan. Kita bisa taklukkan empat kereta raksasa ini. Syaratnya banyak dan lucu: mempermak kepribadian, wajib kuliah di kampus hebat, pindahlah ke kota besar, mahirlah dalam menjual dan sederet petuah praktis khas buku motivasi.

Memang ini bukan risalah revolusi. Datang ke pembaca hanya sebatas menganggu. Bertahan dengan rasa curiga pada perusahaan tekhnologi. Meyakini keruntuhanya. Tapi tidak mencoba mencari cara yang heroik untuk membajaknya.

Sandingan buku ini hanya Das Kapital atau Manifesto Komunis. Buku ini seperti percikan korek api. Tapi tanpa minyak Das Kapital atau Manifesto buku ini tak menghabisi apapun. Hanya penjelasan yang renyah, provokatif dan emosional.

 

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika

Artikel Terbaru