Ilustrasi | Lancer Cell

Nasehat untuk Sang Jendral

Jendral,

Tidakkah engkau mengerti apa yang dibutuhkan rakyat hari ini? Jaminan pekerjaan, ketersediaan barang pokok dengan murah, dan keamanan untuk beraktivitas. Bisakah kalian menyediakan itu semua? Mustahil bisa, karena memang itu bukan tugas kalian. Kami hanya memerlukan rasa aman dan itu tak perlu harus dengan bedil atau pasukan. Yang kami perlukan adalah kepercayaan kalian pada kami, masyarakat sipil, bahwa kami mampu mengatur negeri ini.

Jendral,

Jangan kalian bilang masyarakat sipil tak mampu dan buat ribut saja. Kami punya banyak contoh kepala daerah yang luar biasa. Bu Risma di Surabaya atau Ridwan Kamil di Jawa Barat. Bahkan pak Jokowi dulu berangkat dari Surakarta dengan kepemimpinan sipil yang dikagumi banyak orang. Kami masyarakat sipil telah berhasil menjatuhkan kediktatoran Soeharto di masa lalu dan menuntut dicabutnya dwi fungsi ABRI. Saat itu kalian setuju dan bersedia meniti perubahan bersama kami.

Jendral,

Bisakah kalian tetap teguh memegang keyakinan atas demokrasi? Saat kekuatan sipil memegang supremasi dan tak hendak membawa serdadu dalam urusan politik sehari-hari, sebab resikonya terlampau besar dan bahaya. Lihatlah hari ini ketika para purnawirawan yang berbeda kubu bisa saling serang komentar satu sama lain. Sesama Jendral bahkan beradu pendapat, lalu mengajak sumpah pocong segala.

Jendral,

Banyak perkara kemanusiaan yang sepatutnya dibereskan lebih dulu. Soal pelanggaran HAM di masa lalu maupun kekerasan yang terjadi di Papua. Tak mungkin tuntutan atas keadilan harus berhadapan dengan peluru dan pasukan. Saatnya kita menghentikan semua upaya menegakkan keamanan dengan cara yang lebih beradab. Kita tak lagi bisa menyembunyikan diri dari pengamatan dan pengadilan Internasional.

Jendral,

Banyak aktivis sipil yang membuat bangsa ini jadi terhormat. Nama aktivis HAM, Munir, sampai dipakai nama sebuah jalan di Belanda. Puisi Wiji Thukul dihormati dan filmnya banyak dinikmati oleh anak-anak muda. Bahkan Marsinah yang dibunuh dan dianiya mendapat kehormatan Internasional. Mereka adalah korban kekejaman yang digerakkan oleh pandangan konyol tentang keamanan.

Jendral,

Senjata dan pelurumu lebih tepat untuk melerai konflik panjang di Timur Tengah. Kirimkan serdadu terbaikmu untuk menjaga perdamaian di banyak tempat di dunia: Suriah, Lebanon, Irak, hingga perbatasan Rusia. Sehingga, angkatan perang kita menjadi dihormati dunia karena terlibat banyak peran perdamaian di kawasan yang bahaya. Kami akan mengantar kalian dengan doa, ucapan selamat jalan, dan penghormatan yang tulus.

Jendral,

Pandanglah rakyatmu dengan rasa percaya, bukan curiga. Kalau mereka menuntut keadilan dengarkan saja. Sebab telah lama mereka merindukan nilai-nilai itu dan mustahil mereka mengangkat senjata kalau hidup mereka dijamin serba ada. Kalau rakyat mengangkat senjata dan marah pada negara, itu pasti ada yang keliru dengan cara kita memperlakukannya.

Jendral,

Pasti kalian tak ingin menjadi serdadu seperti di masa Orde Baru. Berdiri rezim ini dengan permulaan yang bahaya: membunuhi rakyat yang dituduh PKI. Lalu menjalankan kekuasaan dengan mengawasi rakyatnya kalau ada yang curiga, berpikir kritis, dan bertanya. Seakan rakyat itu adalah kumpulan manusia yang kalau tidak diawasi bisa jadi komplotan bandit yang menganiaya sesamanya. Kalau rakyat terus dicurigai, bagaimana mereka menilai dan memandang kalian?

Jendral,

Hentikan upaya prajuritmu untuk merazia buku. Tindakan itu bisa menjadi bahan tertawaan sejarah. Karena yang dicemaskan bangsa ini bukan apa yang dibaca rakyatnya, tapi harusnya mengapa rakyat tak suka baca. Baiknya para prajurit diajak untuk rajin membaca buku, mendirikan perpustakaan di kantor Kodim atau Korem, sehingga markas besar tentara tak hanya kegiatan olahraga, tapi baca buku apa saja.

Jendral,

Bayangkan kalau prajurit kita pintar: yang diandalkan tidak lagi senjata, tapi opini. Di banyak tempat kini konflik dipicu tidak oleh serangan senjata, tapi mula-mula diantarkan oleh pendapat yang berbeda tapi disetujui bersama. Pendapat itu mewujud dalam pandangan dan kemudian menjadi keyakinan. Lalu keyakinan itulah yang dipertaruhkan.

Jendral,

Kita menghadapi kaum pemberontak yang tak lagi punya ideologi raksasa. Kita berhadapan dengan kenyataan yang kompleks, serba sulit ditebak, dan bisa meledak tiba-tiba. Maka kebutuhan kita tidak hanya senjata dan olahraga, melainkan kemampuan untuk mengidentifikasi, mengolah data, dan memahami apa yang terjadi. Kebutuhanmu bukan mencampuri urusan sipil, tapi mengajak masyarakat sipil.

Jendral,

Jangan pernah mau dengan ajakan duduk di posisi sipil. Bukan hanya itu akan mengganggu hubungan, tapi juga merusak kultur dalam lingkungan sipil. Mereka yang dari awal meniti karir akan terasa percuma jika tiba-tiba seorang serdadu menempati posisi yang pantas didudukinya. Padahal sudah banyak kesempatan yang diberikan pada TNI untuk jabatan posisi sipil yang diamanahkan oleh UU. Mengapa itu terasa kurang dan belum memenuhi harapan Anda?

Jendral,

Mari kita kubur sejenak kecurigaan atau kesangsian tentang kemampuan masyarakat sipil kita. Toleransi kami sudah luar biasa dengan membiarkan Soeharto berkuasa serta memberi peran yang gila pada angkatan bersenjata kala itu. Tercemar sudah kita di mata masyarakat Internasional gara-gara pembantaian, pembunuhan, serta pemenjaraan politik yang tak pernah disidangkan di pengadilan. Tidakkah kita malu menyandang martabat sebagai negara pelanggar hak asasi manusia?

Jendral,

Kembalilah ke barak dan kembali pada tugas utamamu: mempertahankan kedaulatan dan menjadi penjaga perdamaian dunia. Jangan sampai kita menjadi manusia pengulang sejarah: angkatan bersenjatanya malah membunuh rakyatnya sendiri. Lihatlah ke masa depan saat senjata utama yang dipunyai negara adalah pengetahuan serta aparat keamanan yang tahu tugas pokoknya.

Salam hormat, Jendral!(*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika