Panji kebesaran Aremania

Mereka yang Penuh Amarah

Saif Roja

***

Esok adalah final Piala Presiden. Arema bersua Persebaya. Hingga pukul satu dini hari, anak-anak muda masih berkumpul di seputar stasiun. Jumlahnya ratusan. Berkerumun. Kebanyakan mereka laki-laki, dengan rentang usia tanggung di bawah 30 tahun.

Diantara mereka ada yang membicarakan tiket yang tak terbeli atau tensi laga esok hari, yang pasti mereka berkumpul dengan satu niat. Mengamati kendaraan ber-plat L bersama mata memencing penuh curiga. Plat L adalah kode kendaraan wilayah Surabaya. Kota dimana musuh abadi mereka berasal. Kegembiraan dan kebencian jadi satu malam itu.

Penduduk yang suka berkeliaran malam pasti tau, siapakah mereka. Mayoritas anak-anak muda ini datang dari selatan. Kawasan paling keras, dimana kemiskinan bertumpuk sekian lama, bergenerasi. Kantong-kantong rakyat miskin kota. Muharto, Polean, Mergosono, Jodipan, Sukun, hingga Gadang.

Kota ini dibelah. Uanglah pisau pembelahnya. Anak-anak kelas menengah terkonsentrasi di lokasi kampus-kampus besar berdiri. Muda-mudi ini datang dari beragam kota. Mereka wangi-wangi. Bersih-bersih. Pandai berdandan.

Tiap tahun akan tiba puluhan ribu jiwa. Mengetuk pintu-pintu kampus utama. Melewati ujian penuh pergulatan atau memberi sogokan lewat cara belakang.
Mereka membanjiri sudut-sudut kota, jalan-jalannya, mall-mall nya, cafe-cafenya, klub-klub malamnya. Kawasan paling sejuk dan rindang dari kota ini menjadi keseharian mereka.

Sementara muda-mudi jelata tentu saja hanya bisa menonton semua itu, atau sesekali mencoba meniru, atau mengusik, yang pasti mereka tak punya cukup kepercayaan diri. Suatu hari saya pernah bertemu Gaplek. Penjaga parkir di salah satu taman kota.

“Yok opo, Plek? Rame a?”
[Bagaimana, Plek? Ramai kah?]

“Nayamul, Sam!”
[Lumayan, Mas!]

“Umak kadit pengen a koyok iku?”
[Kamu tidak pingin seperti itu?]

Jari saya menunjuk ke sepasang muda-mudi yang tengah asyik bermadu kasih.

“Isok ae umak, Sam. Ayas iki apais, Sam!”
[Bisa saja kamu, Mas. Saya ini siapa, Mas!]

Gaplek terkekeh. Saya tau, tawanya itu lima persen berisi canda, sisanya kegetiran. Orang tua Gaplek bukan jenis yang mampu mengirim anaknya pergi ke kampus. Sehingga Gaplek bisa bergaul dengan gadis beraroma semerbak, berbaju bagus dan pantat menyembul.

Gaplek hanya punya ibu tukang cuci. Sebuah usaha mengkais rejeki yang makin lindap sejak jasa laundry modern menyebar seperti lalat yang tak letih mengerubungi tai. Ayahnya sekedar pengorek sampah yang menyatukan kasur dan dapur di kampung pemulung.

Orang-orang muda ini yang pada akhirnya mencari keberadaan dirinya di tengah pembelahan kota. Di sekolah mereka tak mendapatkannya, sebab guru-guru tak akan ramah pada kebadungan. Lagi pula mereka tak bersekolah di SMA Tugu, tiga sekolah terfavorit kota ini.

Di tempat ibadah mereka cuma diminta memamah petuah yang itu-itu saja, lagi pula usia mereka belum lima puluhan. Belum benar-benar dihantui siksa neraka. Eskatologi suci itu tak cocok buat hormon kemudaan mereka.

Di keseharian, mereka hanya bisa diolok-olok oleh laju pembangunan. Diremehkan. Direndahkan. Perasaan tersingkir. Dan tentu, kecemburuan serta tekanan rendah diri yang kuat. Semuanya beraduk. Kental dan pekat.

Kalangan muda jelata ini akhirnya tiba pada pencaharian keberadaan dirinya. Sejak 1987 mereka menemukan rumah. Rumah yang menawarkan kebanggaan, keberadaan dan eksistensi entitas mereka di kota ini. Rumah itu bernama Arema.

Rumah ini yang mereka bela. Mereka puja. Menyelorohkan ikrar setia hingga ujung usia, diantara harga-harga yang naik, sempitnya lapangan kerja dan gelapnya hari depan. Siapapun yang mengusik rumah mereka berarti mengusik satu-satunya yang mereka miliki. Pertahanan terakhir dari keberadaan mereka sebagai entitas sosial.

Arema adalah kanal penyaluran segalanya. Hanya Arema lah yang membuat orang-orang yang dikalahkan ini, bisa mencicipi rasanya menjadi pemenang. Lapisan-lapisan terbawah kota menimbun ragam emosi, disorientasi, keputusasaan, kemudaan dan kepenatan hidup, berkontainer banyaknya, lantas membawanya ke haribaan bendera biru berlogo Singa.

Lewat bendera itu pula, mereka bisa kembali menguasai kota! Tanpa perlu orang tua mereka cukup kaya. Seperti malam itu di muka stasiun. Mereka membentuk kerumunan. Dua jam setelah saya meninggalkan lokasi, kabarnya mereka berbuat gaduh. Pukul tiga subuh.

Demikianlah. Kota ini tidak dibagi diantara Aremania garis keras dan Aremania yang lebih moderat. Sama dengan kota lain, kota ini dibelah antara Si Kaya dan Si Miskin. Sepakbola hanya media belaka. Mereka marah kepada hidup.

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika