Good Son | A Cornish Geek

Mengapa Manusia Bisa Jadi Pembunuh?

“Matahari adalah milik semua orang, laut adalah milik mereka yang menikmatinya” -Jeong You Jeong

Mengapa seseorang bisa menjadi pembunuh?  Secara sadis menganiaya, meracuni, dan merasa itu semua wajar dilakukan begitu saja. Pembunuh Munir, pembantai Marsinah, hingga para penjagal di tahun 1965. Hannah Arendt, sebagian memiliki jawaban pada struktur dan lingkungan yang membesarkan naluri seorang pembunuh. Melalui pengamatannya pada sidang perkara kejahatan Nazi.

Arendt melihat bagaimana pembunuh yang merasa tenang melihat korbannya. Dianggap semua orang yang dibantai itu hanya spesies busuk yang pantas untuk dimusnahkan. Mereka hanya mematuhi perintah. Hidupnya dikendalikan oleh aturan dan keinginan hidupnya adalah mematuhi semua aturan. Pembunuh itu kehilangan imaginasi karena birokrasi membuatnya kehilangan naluri manusiawi.

Arendt menuliskan temuannya itu dalam sebuah buku yang mengaggumkan. Ia terjun dalam persidangan yang menyeret para Jendral Nazi. Kita memahami para pembunuh itu dengan rasa jijik. Kita semua merasa cemas karena manusia seperti itu bisa saja muncul di sekitar kita. Manusia yang tak bergairah melihat kehidupan dan terlampau percaya dengan aturan.

Jeong You Jeong mungkin mengenal karya Hannah Arendt. Tapi ia sendiri adalah pengaggum Charles Darwin dan Sigmund Freud. Ia mengutip kalimat Freud:

“Bahkan orang yang bermoral dan berhati baik sekalipun tanpa sadar menyimpan khayalan tentang perbuatan-perbuatan yang terlarang, keinginan-keinginan kejam, dan khayalan-khayalan tentang kekerasan yang mendasar. Yang membedakan orang jahat dengan orang-orang lain pada umumnya adalah apakah mereka menuruti keinginan gelap itu atau tidak.” (Halaman 403)

The Good Son membuka kisah dengan mengerikan: Yu Jin seorang remaja terbangun dari tidur dengan genangan darah di kamarnya. Ditemukan pula mayat ibunya yang kepalanya hampir putus. Bahkan di jalan dekat rumahnya juga ada mayat wanita yang sepertinya dibantai dengan keji. Siapa yang melakukan itu semuanya?

Jeong mulai membuka cerita dari sisi Yu Jin. Penderita epilepsi yang punya ingatan pendek atas kejadian yang sebelumnya. Ingatanya rapuh tapi kemampuan meramalkan tindakan luar biasa. Ia berbohong dengan sempurna dan selalu dengan gampang membuat dalih dari semua perbuatannya.

Yu Jin tak seperti remaja pada umumnya. Cenderung pendiam, lebih suka mengamati, tapi punya prestasi olahraga. Ia tinggal bersama ibunya yang selalu saja mengawasinya. Lebih tepatnya mengendalikan dirinya. Harus minum obat rutin, keluar ke mana saja musti dipantau, dan mengintrogasi setiap ada yang janggal. Yu Jin seperti tinggal di penjara, bukan rumah yang bahagia.

Tapi siapa sebenarnya Yu Jin. Jeong dengan rapi membuat alur yang membikin kita terperangah. Seorang remaja yang punya kegelisahan, musti hidup dengan situasi yang tak bisa dikendalikan, dan mulai bergairah melihat siapapun yang ketakutan. Kita seperti diajak mengenal seorang monster tapi dengan gaya tutur yang hangat.

Gaya tutur novel ini seperti upaya untuk meneguhkan teori Darwin: manusia tak terlahir jahat atau baik. Manusia terlahir untuk bertahan hidup. Mereka musti beradaptasi untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Dengan kata lain, cara efektif untuk menyelesaikan masalah adalah dengan menyingkirkan pesaing. (Halaman 401)

Betapa muramnya hidup yang dijalani dengan keyakinan sadis ini. Novel ini membuat kita jadi tahu bahwa seorang individu tak hanya bisa tumbuh dengan kasih sayang, tapi juga keberanian untuk menghadapi dirinya sendiri. Walau seorang psikopat itu bisa muncul begitu saja, tapi pertumbuhannya akan selalu didahului oleh detik-detik peristiwa yang kita mungkin tak mempercayainya.

Rasa kecewa yang ditangkis begitu saja, terlampau percaya dengan aturan yang diterapkan atau bahkan merasa bahwa semuanya memang harus seperti ini. Rutinitas yang diterima dengan normal dapat membawa seseorang dalam ketidakpercayaan akan perubahan. Saat semua berubah, orang bisa takut beradaptasi dan itulah yang membuat rasa keji itu muncul begitu saja.

Yu Jin seperti orang normal. Ia mudah akrab, dikenal sebagai orang pendiam, dan punya prestasi lumayan. Tergolong anak cerdas. Jeong mengajak pembaca bukan empati, tapi tidak menghakimi terlalu gegabah. Sebab kebuasan dapat terbit kalau orang berada pada posisi tersudut dan sulit berkelit. Sang psikopat selalu muncul ketika dirinya ketagihan, tak ada jalan lain, dan rasa keingintahuan.

Kalau pernah baca karya Truman Capote, In Cold Blood: kita seperti disuguhi kisah dari perspektif pembunuh. Sang pembunuh bukan manusia yang berjiwa iblis, tetapi pribadi ringkih yang memutuskan untuk jadi algojo. Mereka bukan tak tahu kalau kekejaman itu dosa, tapi naluri binatang yang menyelinap seperti sebuah keniscayaan. Yu Jin juga begitu: bergairah melihat ketakutan dan marah kalau dipojokkan.

Kalau Anda membaca novel ini, siapkan diri Anda untuk mempercayai apa yang tak disangka. Aliran cerita yang bermula dari seorang anak remaja membuat kita diyakinkan betapa misteriusnya jiwa manusia. Saya tertegun agak lama setelah baca novel ini: rasanya ingin segera memeluk anak saya yang beranjak remaja untuk meyakinkan padanya bahwa saya selalu bersamanya. Ingin melindunginya, ingin tahu apa yang diinginkannya, dan mau mengerti apa yang menjadi kegelisahannya.

Novel ini membantu siapa saja untuk mengerti kekuatan dari jiwa yang rapuh, kalah, dan keji.(*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika