Rachel Corrie di hadapan buldozer | Arab News

Kita Tetap Mengingat Rachel Corrie

Saif Roja

***

Aku tak bisa menjadi Picasso.
Aku tak bisa menjadi Yesus. 
Aku tak bisa menyelamatkan planet ini sendirian.
Aku bisa mencuci piring.
(Penggalan puisi Rachel Corrie)

Milan Kundera punya kalimat kondang, “perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa.” Kalimat ini kerap dipakai oleh para korban, atau orang-orang di banyak negeri yang tak sudi beragam peristiwa berlalu tanpa keadilan.

Masih perkara ingatan, disana ada pula nama Rachel Corrie . Lantas, apa arti mengingat Rachel Corrie setelah dua kali sewindu berlalu? Apa makna peristiwa di Rafah ketika seorang gadis muda tewas dibuldozer enam belas tahun silam?

Dua tahun selepas kematiannya. Di Royal Court Theater London drama bertajuk “My Name Is Rachel Corrie” dipentaskan untuk memberikan kehormatan, bukan saja kepada Rachel Corrie dan keluarga yang ditinggal, melainkan kepada setiap orang yang melawan lupa.

Di Teheran, tempat dimana segala yang berbau Amerika biasanya begitu dibenci, nisan simbolik didirikan untuk membuat nama perempuan asal Washington itu abadi. Mendiang Yasser Arafat, mantan pemimpin Palestina menyebutnya pahlawan. Di Ramallah namanya diukir dalam plakat jalan.

Dunia menulis di bulan Maret, Rachel Corrie terbunuh dengan keji. Badannya remuk dihantam buldozer. Ada banyak pertunjukkan luhur dalam sejarah perjuangan melawan penjajahan, gadis berkulit pucat ini menambahkannya satu lagi. Menghibahkan tubuh dan kemudaan demi menghalangi pemukiman warga Palestina diratakan Zionis Israel.

Perempuan keturunan Yahudi, menempuh hampir 6000 mil untuk tiba ke salah satu wilayah paling kacau di dunia, menjemput takdirnya di Gaza. Rachel Corrie dikenang sebagai perempuan idealis. Gemar menulis puisi. Menyukai pengembaraan. Dan tentu saja, dia menulis surat selama di Palestina.

“Mama,

Sekarang tentara Israel telah benar-benar menggali jalan menuju Gaza, dan kedua pos pemeriksaan utama ditutup. Ini berarti orang-orang Palestina yang ingin pergi dan mendaftar untuk kuartal berikutnya di universitas tidak bisa. Orang-orang tidak bisa mendapatkan pekerjaan mereka dan mereka yang terjebak di sisi lain tidak bisa pulang…”

Tulisnya pada 20 Februari 2003.

Corrie telah pergi sekian lama. Enam belas tahun adalah waktu yang tak singkat untuk segenggam kenangan. Kedua orang tua Corrie telah dikalahkan oleh pengadilan Israel saat membawa kasus kematian itu sebagai langkah keadilan bagi anaknya dan perjuangan rakyat Palestina yang dibelanya.

Enam belas tahun yang berlalu, dan dunia banyak berubah. Saddam Hussein digantung. Gaddafi tewas di Sirte. “Cebong” dan “Kampret” tiba-tiba hadir sebagai pengelompokan politik paling riuh dan menyebalkan. Ria Ricis dan Atta Halilintar memandu millenial untuk menjadi generasi receh. Tapi ada yang selalu tetap, Palestina masih terjajah.

Esok hari sebagaimana kalender mencatat, adalah peringatan kematian Rachel Corrie. Seperti pertanyaan di awal tulisan, lantas, apa arti mengingat Corrie? Tentu saja banyak yang pantas menyatakan, ini perihal hutang dunia akan kemerdekaan Palestina yang belum juga terbayar.

Ini mungkin juga tentang sesuatu yang lain. Tentang orang biasa yang melakukan hal-hal luar biasa. Sebagaimana yang ditulis dalam puisinya, orang biasa yang tak bisa menjadi seniman besar seperti Picasso. Tidak mungkin menjadi Yesus. Orang biasa yang [pada mulanya] hanya bisa mencuci piring. Orang biasa seperti Anda, Saya dan Kita, berkorban untuk mereka yang tertindas.

******

[Mengenang kematian Rachel Corrie, 16 Maret 2003-16 Maret 2019]Artikel ini juga dimuat di Buruh.Co

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika