Suluh Pergerakan

Kerbau Hendak Menjadi Raja

Oleh Melki AS (Pegiat Social Movement Institute)

Akhir-akhir ini seluruh hutan sedang kacau balau. Mr. Kerbau – yang terpilih menjadi pimpinan hutan selama dua musim – baru saja membuat hal yang kontroparsial. Peraturan baru untuk hutan dan kawanan sudah akan di terapkan. Ini yang akan membuat kekuasaan Kerbau akan semakin membatu. Semua yang berlawanan akan di singkirkan, cepat atau lambat. Para kawanan yang berprofesi pekerja harus terima kalau di upah murah. Sementara elit kekuasaan akan semakin di untungkan karena pengelolaan sumber daya hutan akan di monopoli oleh yang berkuasa. Beserta aliansinya – Anjing, Srigala, Beo, Kancil, Ular, dan lain-lain – yang telah bersama-sama menyetujui aturan baru tersebut. Karena hal itulah, gelombang protes meledak. Dan semakin hari para pemrotes tersebut semakin banyak. Bahkan disana-sini sudah mulai terjadi pengrusakan yang dilakukan oleh banyak kawanan sebagai respon atas putusan yang kontroparsial tersebut. Kawanan Semut Merah, Semut Hitam, Gagak, Babi, Kelinci, Kijang, Kucing dan lain-lain merasa bahwa keputusan ini hanya akan menguntungkan Kawanan Kerbau dan aliansi yang dibangunnya saja yang memang menguasai hutan. Para analis dari hutan jiran pun turut menanggapi. Mereka berasumsi bahwa putusan sang pemimpin hutan – Mr. Kerbau – pada aturan baru tersebut sama sekali tidak memberikan keuntungan bagi kawanan, apalagi kesejahteraan bagi seluruh hutan. Mereka mencemaskan terjadinya bentrokan horizontal yang lebih dahsyat lagi di hutan. Dan itu bisa merambat ke hutan lainnya yang juga – tampaknya saja – terlihat adem ayem. Padahal semua hutan sedang dilanda krisis kepercayaan. Apalagi ditengah situasi yang memang sedang banyak masalah karena hutan sedang terserang dan gagal melawan wabah penyakit yang misterius.

Sementara itu, kawanan vigilante dari aliansi anjing, srigala, beo, ular dan lain sebagainya, yang terbiasa mabuk-mabukan itu sedang asyik bersenang-senang pasca menyetujui aturan yang diajukan pemimpin kawasan. Mereka tak peduli gelombang protes yang meledak di beberapa tempat. Pokoknya yang paling penting adalah kehidupan mereka terjamin. Cukup menjilat dan menjilat saja. Bila perlu kawanan yang kekeuh protes itu di hajar balik aja. Toh kalau berurusan dengan pasukan Munyuk yang di titahkan menjaga stabilitas dan keamanan hutan, mereka juga akan bebas. Sebab bos besar pasti akan membela. Apalagi pasukan Munyuk juga terbiasa menjilat pada pimpinan hutan. Bahkan pasukan Munyuk sengaja didanai begitu besar untuk meredam gelombang protes dari banyak kawanan. Dan dengan mendapat mandat pengamanan tersebut, serta lama tidak melemaskan seluruh otot-otot yang ada, seketika pasukan munyuk melakukan pemukulan, baik dengan tangan ksosong maupun dengan senjata yang sudah mereka siapkan dari awal. Pasukan Munyuk tak segan memukuli, menendang, melempari para kawanan yang protes tersebut dengan batu dan cairan kotor yang membuat kulit terbakar. Munyuk-Munyuk tersebut pula di lengkapi dengan seragam yang anti pada apa saja. Karena itu mereka bisa bebas seenaknya menterjemahkan persoalan keamanan ala mereka sendiri, yaitu refresif dan bengis. Seolah-olah mereka serupa dewa yang bisa melakukan hukum sesukanya. Apalagi saat ini, jelas-jelas ini adalah kemauan pimpinan langsung. Harus benar-benar di tuntaskan keinginan pimpinan tersebut agar kedepannya – siapa tahu – bisa menambah jumlah pendapatan dari proyek keamanan dan stabilitas. Dan karena itu banyak anggota dari kawanan yang di tangkap paksa saat kejadian protes meledak di berbagai area hutan. Mereka di siksa sedemikian rupa. Ada yang mukanya pecah, bibir pecah, sekujur badan dari kepala sampai kaki lebam semua. Bahkan tak sedikit yang harus mendapat perawatan di Rumah Sakit Hewan (RSH). Ada yang saat di tangkap masih segar bugar, eh saat di rawat di rumah sakit, tampak ada bekas lebam di sekujur tubuh. Bekas pukulan, tendangan bahkan pecutan kayu dan rotan masih membekas di tubuh para kawanan yang di ciduk tersebut. Sementara yang tidak di ciduk, juga di hantam dengan berbagai cara. Bukan saja dilakukan pasukan Munyuk dan kawanannya, tapi juga kawanan vigilante yang beraliansi dengan Kawanan Kerbau, yang memang haus akan kekerasan sedari dalam kandungan. Makanya seperti yang dilaporkan dari koordinator kawanan, sangat banyak sekali korban perlakuan dan tindakan kekerasan pasukan Munyuk serta vigilante-vigilante bangsat dalam menangani gelombang protes tersebut. Bahkan ada yang sempat-sempatnya melakukan pelecehan seksual para para pemrotes.

hehehe…mau demo atau protes terus menerus ya silahkan. Proteslah terus biar mampus semua kawanan ini. Dan nanti kekuasaan kita di hutan ini akan terus membesar. Bila perlu seluruh hutan ini akan kita jadikan milik kita” ujar Mak Kerbau – Pemimpin Besar Kawanan Kerbau – pada suatu rapat dengan kader-kadernya yang bermoncong burik tersebut. Termasuk di dalamnya terlihat Mr. Kerbau – Sang Pimpinan hutan – yang duduk sambil bertepuk tangan seperti terpaksa. Raut wajahnya getir sedikit masam. Sesekali ia melenguh. Ia paham hal ini bisa berdampak. Tapi kehendak Mak Kerbau serupa wahyu Tuhan yang sangat berdosa bila tidak di jalankan. Mak Kerbau adalah penguasa di atas penguasa. Dan Mr. Kerbau adalah salah sau kader dari kawanan yang di pimpin Mak Kerbau. Karena itu, Mr. Kerbau mau tak mau harus membubuhkan tanda tangannya setelah semua selesai di bahas dan setelah titah dan amanat dari Mak Kerbau sudah turun. Dan itu sudah terjadi. Aturan itu sudah di tandatanganinya karena sebagai kader ia tidak bisa menolak. Meski setelahnya pasti terjadi hal yang tidak diinginkan.

“Kami siap mengawal keputusan Mr. Kerbau yang terhormat. Bila perlu barisan kawanan yang protes tersebut kita gebuk habis-habisan. Kawanan lainnya kita hasut saja supaya mereka bisa ikut kita untuk memberangus yang protes-protes itu. Nanti kita hasut kawanan lainnya itu dengan klaim seolah-olah para pemrotes itu memang sengaja mendesign kerusuhan di hutan yang berdampak pada macetnya akses ekonomi seluruh kawanan” teriak salah satu kader sambil mendenguskan moncong buriknya tersebut.

Rupanya Mr. Kerbau menjadi orang yang bingungan sejak masuk musim kedua kepemimpinannya. Dan ini mungkin pikiran aneh bagi seorang Mr. Kerbau untuk menjadi penguasa hutan. Karena ia yakin bahwa memang alam sudah dengan sendirinya menempatkan sekawanan yang merupakan utusan Tuhan secara langsung. Sisa nya hanyalah klaim bohong dan penipuan serta pembodohan publik.

Mr. Kerbau pada dasarnya tidak berniat untuk menaklukan dan menundukan kekuasaan lainnya. Ia tidak punya niatan untuk menguasai seluruh kawanan dan hutan. Tapi lain lagi ceritanya ketika Mak Kerbau sudah memberi instruksi pada semua kadernya, baik di lngkaran kekuasaan maupun sebagai kaum vigilante partisan yang cukup di bayar dengan sebotol dua botol minuman yang memabukkan.

Lalu bukan Mr. Kerbau yang mengingkan kehidupan yang berlebih dari rakyatnya yang diketahuinya masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan. Justru Mak Kerbau yang sangat bernafsu agar aturan baru tersebut agar segera di sah-kan. Agar kekuasaan Kawanan Kerbau menjadi lebih mutlak dan tak tertandingi. Dan ketika sudah menguasai seluruh hutan dan membungkam para kawanan yang kontra, nantinya Mr. Kerbau akan menguasai seluruh kekayaan alam yang melimpah ruah hampir di seluruh hutan tersebut. Kerbau akan ber-evolusi menjadi Raja. Dia akan mengambil peran sebagai Raja Hutan. Dan juga akan menjadi pemangsa tunggal. Ia tidak mau terus-terusan menjadi pemakan rumput. Baginya perlu untuk memangsa yang lainnya yang menurut mitos begitu nikmat. Tak hendak juga ia selalu menjadi buruh bagi manusia yang sering di manfaatkan untuk menarik bajak di sawah. “Pokoknya,” kata Mak Kerbau, “mulai sekarang semua kawanan harus tunduk padanya. Pilihannya tidak banyak; tunduk atau dimangsa. Yang tidak tunduk maka akan dimangsa beramai-ramai bersama kawanan lainnya di tingkat elit kekuasaan. Di hidangkan layaknya manusia yang terbiasa menghidangkan daging Kerbau di atas meja makannya. Dan Kerbau ingin kini ingin meniru itu semuanya. Karena baginya sifat hewani yang asli adalah yang ada pada dirinya. Bukan yang dilakukan oleh para manusia. Dan kalau manusia saja mampu mengeluarkan sifat hewani mereka dengan sempurna, mengapa Kerbau yang sesungguhnya hewan tidak bisa berlaku yang lebih baik lagi dari itu. Semua ternyata sudah di pikirkan Mak Kerbau matang-matang. Sampai akhirnya Mr. Kerbau yang di pilih menjadi pimpinan hutan.

***

Sebenarnya dari banyak desas desus yang beredar di kalangan kawanan, sesungguhnya Mr. Kerbau yang di tunjuk sebagai pimpinan hutan ini tidaklah begitu jahat. Bahkan dahulu ia punya rekam jejak yang cukup baik. Ia baik pada kawanan lainnya. Ia juga sangat memikirkan hutan agar tercipta kedamaian seperti yang di impikan banyak kawanan. Terbukti ia pernah memimpin di salah satu kawasan sebelumnya. Dan ia memperlihatkan kinerjanya yang bagus sehingga ia di dapuk untuk menjadi pimpinan untuk seluruh hutan. Meskipun ia dibilang begini dan begitu. Cungkring lah, kurus lah, sok bergaya lah, pencitraan lah dan lain-lain. Tapi ia tetap kalem saja. Baginya itu dinamika yang biasa terjadi pada saat kontestasi. Kawanan lainnya yang akan menilai apakah ia layak terpilih atau tidak. Dan ternyata terpilih.

Para kawanan memang tidak menyalahkan Mr. Kerbau secara langsung. Apalagi Mr. Kerbau yang kurus itu sebenarnya tidak terlalu banyak neko-neko. Hanya saja ketegasannya masih kalah di bandingkan dengan kemauan Mak Kerbau yang sudah malang melintang di jagad dinamika hutan. Karena memang desas-desus yang beredar dan berkembang di hutan dan para kawanan ialah justru Mak Kerbau yang sangat berpengaruh. Mak Kerbau ini tidak hanya berpengaruh di internal – karena tidak pernah diganti tiap ada pemilihan ketua kawanan  – tetapi juga berpengaruh di dalam kekuasaan resmi di hutan yang dipimpin oleh Mr. Kerbau. Bahkan beberapa kawanan menggosipkan kalau Mak Kerbau ada affair dengan petinggi pasukan Munyuk. Wallahualam. Kalau memang gosip tersebut benar, entahlah apa yang akan terjadi kedepannya. Mungkin sebentar lagi benar-benar akan kiamat, kata Bebek yang selalu hadir dalam setiap aksi protes menolak aturan baru di hutan tersebut.

Mr. Kerbau yang terpilih saat pemilu di hutan memang terlihat sedikit bersahaja. Sebelum memimpin seluruh hutan, Mr. Kerbau yang kurus ini pernah memimpin kawasan yang lebih kecil. Nah Mr. Kerbau yang kurus ini kemudian jadi idola dari banyak para kawanan di hutan. Aktivitasnya yang cukup gesit, mau masuk selokan serta caranya yang sederhana, apa adanya, membuat ia di kagumi banyak kawanan. Sampai akhirnya di putuskan lah Mr. Kerbau yang kurus itu didaulat jadi pimpinan untuk seluruh hutan dan kawanan. Seketika jadi pimpinan, ia langsung menjadi media darling. Kemanapun ia berjalan, semua mata tertuju padanya. Semua bidikan kamera tak lepas merekam dirinya atau sekedar memotret gayanya yang eksentrik. Berita-berita selalu di penuhi dengan argumentasinya yang terlihat ndeso itu. Tapi sayang hal itu hanya berjalan mulus saat musim pertama saja. Karena setelah di musim kedua, kawanan yang tadi mendukung, menjadi berbalik arah menagih janji-janji dan tanggungjawab Mr. Kerbau saat kampanye dahulu agar segera merealisasikan apa yang sudah di katakan, termasuk tentang kesejahteraan. Apalagi saat ini sedang terjadi musibah besar-besaran. Penyakit misterius datang tak diundang, tak di jemput dan malah nggak mau pulang meskipun di tawarkan untuk diantar. Karena itu, semua kawanan menjadi terdampak. Kehidupan ekonomi semakin susah. Yang miskin makin miskin. Bahkan mati. Tapi anehnya, yang kaya dan berkuasa tetap saja memonopoli semua sektor untuk menumpuk kekayaan pribadinya dan kelompok golongan. Mr. Kerbau, sebagai pucuk pimpinan tertinggi di hutan menjadi sosok yang paling banyak mendapat hujatan dan caci makian dari banyak kawanan. Ia di bilang bodoh, goblok dan bahkan ia di bilang anjing – asu – yang nyata-nyata ia dari golongan yang berbeda.

Semua kemarahan, semua ke khawatiran dan semua kata-kata kotor dan jorok dari kawanan di alamatkan semua kepadanya. Sampai-sampai ia sendiri bingung mau berbuat apa. Ia mengumpulkan semua aliansi di lingkar kekuasaannya. Ia bertanya apa yang harus diperbuat dengan situasi yang seperti ini. Dimana-mana terjadi protes. Pengrusakan semakin meluas. Pendapat para ahli semakin menyudutkan. Lalu bagaimana ia akan bertindak untuk selanjutnya. Akankah menerbitkan perwan – peraturan penganuliran aturan – sebagai jawaban untuk kawanan yang protes?

Kawanan Srigala – yang pernah memimpin 23 tahun di hutan tersebut – tiba-tiba mengusulkan agar Mr. Kerbau tetap santai dan rileks. Menurutnya semua ini hanya dinamika. Dan berdasarkan pengalaman serta apresiasi karena sudah di tunjuk menjadi ketua pengesahan aturan, perwakilan Srigala mengisyaratkan agar Mr. Kerbau memerintahkan semua pasukan Munyuk dari segala lapisannya untuk terjun menghalau barisan kawanan yang protes. Bila perlu bikin tindakan yang keras agar kawanan tersebut tidak berani lagi melakukan protes.

Sementara itu, konsolidasi kawanan di grassroot semakin membesar. Mereka sudah mengeluarkan mosi tidak percaya pada Mr. Kerbau. Sebaik apapun masa lalunya. Sebagus apapun kerja yang pernah ia torehkan. Tapi dengan masalah yang ada hari ini, ditembah dengan kegagalan Mr. Kerbau dan aliansinya dalam menangani penyakit misterius yang telah memakan banyak korban jiwa, semakin membuat seluruh kawanan di basis akar rumput kehilangan kepercayaan. Bahkan beberapa barisan kawanan yang dulu mendukungnya untuk menjadi pimpinan hutan, hari ini terang-terangan menyatakan diri sebagai oposan dan siap melakukan gerakan perlawanan.

Tapi Mak Kerbau rupanya tetap teguh pada pendiriannya. Meskipun Mr. Kerbau sendiri sudah berkali-kali menyampaikan banyak hal padanya. Termasuk ancaman yang paling nyata yaitu kemungkinan terjadinya tindakan subversif yang dapat menggulingkan kekuasaannya. Mak Kerbau beralasan bahwa aturan ini diperlukan dan harus segera di laksanakan. Dengan aturan yang baru ini, maka stabilitas hutan akan mudah di kontrol. Dan kawanan yang sejak dahulu memang tidak suka dengan kawanan yang di pimpin Mak Kerbau ini akan tidak berkutik dengan adanya aturan baru tersebut. Aturan ini akhirnya secara tegas memaksa semua kawanan di luar sana harus berkoalisi dengan penguasa. Dan penguasa sebenarnya hari ini adalah Mak Kerbau. Mr. Kerbau hanya jadi jongosnya saja. Kalau tidak mau berkoalisi dengan kekuasaan, maka jangsan salahkan kalau nantinya akan ada kejadian tragis bahkan mungkin timbul kematian. Begitu Mak Kerbau berpesan pada kader-kadernya, termasuk kepada Mr. Kerbau.

“Ingat Mr. Kerbau, kau bisa memimpin hutan ini berkat kerja keras emakmu ini. Lama sekali emakmu ini berjibaku melawan kekuasaan Srigala yang lama bercokol, lalu kekuasaan anjing yang rakus. Barulah beberapa tahun setelah itu kita dari kawanan kerbau ini bisa berkuasa. Kini saatnya kita yang akan menguasai hutan ini berserta seluruh isi kekayaan alamnya. Jangan sampai lagi jatuh ke kawanan lainnya” ujar Mak Kerbau pada saat mengunjungi kandang kekuasaan Kerbau.

“Tapi Mak, aturan ini memang tidak berpihak pada kawanan banyak di hutan ini. Ini justru hanya menguntungkan kawanan kita saja. Serta kawanan aliansi kita. Lalu apa bedanya kita dengan kawanan Srigala dan Anjing, yang Mak katakan para perampok, maling dan bahkan pengkhianat itu? Apa bedanya kita kalau kemudian kita melakuan kekerasan pada banyak kawanan bahkan sampai rela membunuhnya karena tidak mau berkoalisi dan tidak bersepakat pada aturan yang kita keluarkan ini?

“Bedanya ya mereka dulu tidak mampu mempertahankan kekuasaan ini secara mutlak. Nah sekarang, mumpung kita dari Kawanan Kerbau ini berkuasa, maka kita harus berkuasa penuh dan mutlak”, Mak Kerbau melanjutkan argumennya secara berapi-api, “Bila perlu mata rantai di hutan ini harus berubah. Kita yang harus menjadi pucuk dari mata rantai itu. Karena kita adalah raja yang susungguhnya di hutan ini. Kita punya tanduk. Bobot kita melebihi mayoritas yang ada. Dan apalagi kita sudah menguasai pasukan Munyuk yang siap mati demi menjilat kekuasaan. Nah apalagi. Yang berani melawan mungkin tidak akan kita tindas, tapi akan kita mangsa. Kita binasakan. Dan untuk beritanya kita katakan bahwa mereka adalah pemberontak, penghianat bagi hutan. Dan kawanan yang bodoh akan mudah meng-iya-kan apa yang kita lakukan. Mereka akan percaya pada kebohongan yang kita ciptakan. Kader-kader vigilante kita akan membuat mereka percaya. Tidak percaya juga, maka tindakan keras perlu di contohkan”.

Mr. Kerbau tak bisa menolak lagi kehendak Sang Emak. Semakin panjang ia beradu argumen, maka semakin akan timbul friksi di internal kawanan. Dan pasti ia akan di benci oleh kawanan serta aliansi yang sudah senang-senang menikmati peraturan baru tersebut. Protes dan apalagi melawan titah sang emak sangat tidak di harapkan. Meskipun sejatinya ia kurang sependapat, tapi hal itu tidak berguna dan tidak bermanfaat. Keinginan untuk menjadi raja, menguasai mata rantai kekuasaan bahkan tega memangsa kawanan lainnya itu memang agak absurd. Ia paham bahwa keinginan itu kadang tidak seperti ekspektasi awalnya. Tapi hal ini benar-benar jauh dari harapan. Bahkan dari kenyataan. Tapi apa yang bisa ia perbuat. Ia hanyalah seorang kader, hanya seekor petugas dari kawanan yang lebih besar. Para kawanan mengejeknya sebagai boneka. Tapi Mr. Kerbau mau berkata apa. Ia memang pimpinan hutan. Tapi untuk mengatur hutan, bukanlah dari dirinya. Tapi dari Mak Kerbau yang memang sangat berkuasa. Mak Kerbau besar dari pengalaman. Tapi sayang pengalamannya melawan tiran tidak membuatnya menjadi kebalikan dari itu. Malah membuatnya semakin menjadi monster sebuah tiran. Mak Kerbau memang lahir dari pahlawan kawanan. Sang Banteng – kakeknya dahulu – memang terkenal pandai, cakap, rasional dan perhatian dengan nasib kawanan. Tapi sekarang tetesan biologisnya seakan tidak mewarisi apa yang ada pada diri Sang Banteng. Malah semakin tidak jelas kemana arah yang hendak dituju. Semakin absurd. Bahkan mengenal dirinya sendiri pun Mak Kerbau tidak jelas. Malah berkeinginan menjadi raja dari seluruh kawasan dan memuncaki rantai makanan yang tak mungkin di realisasikan. Andaikan Sang Banteng tersebut masih hidup, mungkin tak terhingga Mak Kerbau akan di tanduk Sang Banteng berkali-berkali untuk menyadarkannya dari hidup yang absurd yang mengalienasi hutan dan kawanan tempatnya tumbuh, bernafas dan hidup sampai hari ini.

***

Akankah kerbau mampu menjadi raja? Jawabnya tentu tidak. Sebab dalam barisan kawanan yang protes tersebut, ada yang sedang diam menanti, tidak banyak berkutik, tidak banyak melakukan pergerakan. Akan tetapi sekali ia bergerak maka semua orang akan tahu kalau dialah raja yang sesungguhnya. Dialah mata rantai yang tertinggi yang sudah di gariskan sang pencipta.

Sekian.