03072017_ilustrasi_novel_20170703_145740

Keadilan untuk Novel Baswedan

“Manusia sama halnya dengan pohon. Semakin dia ingin naik, semakin banyak akar-akarnya yang berusaha masuk ke bawah, yakni ke dalam kegelapan, ke dalam KEJAHATAN” -Nietzche

***

Saya tidak tahu apa yang dirasakan oleh mas Novel Baswedan hari-hari ini. Lega karena pelaku sudah ditangkap. Kecewa karena pelaku baru ditangkap setelah lebih dua tahun kejadian. Atau sudah menduga akhirnya pelaku tertangkap juga. Dua pria angkuh-namanya Brigadir Rakhmat Kadir Mahulette dan Brigadir Ronny Bugis- yang ketika ditahan tak tampak sesal, kecewa dan takut. Mereka seperti sudah tahu kalau perbuatanya itu berbuah hukuman. Tapi mereka tak kuatir.

Dua pria yang sketsanya persis seperti gambar mingguan Tempo. Dua orang yang berasal dari institusi Kepolisian. Institusi yang harusnya mengayomi, melindungi dan menegakkan hukum. Perbuatan lancang ini seperti melempar kotoran tepat di muka keadilan. Tapi yang masih tersisa pertanyaanya adalah apa mungkin dua orang yang hanya petugas polisi biasa itu melakukan perbuatan atas inisiatif sendiri atau jangan-jangan ada suruhan dari pihak lain?

Tuntutan itu yang muncul di publik dan disuarakan oleh tim pembela Novel. Tapi pengalaman selalu memberi kisah muram: para penjagal tak pernah diusut dalangnya atau pihak yang mengatur skenarionya. Nyaris semua pelanggaran HAM yang diusut selama ini tak pernah bisa membongkar dalang yang sebenarnya. Publik hanya dipuaskan rasa keadilanya dengan ditangkapnya pelaku lapangan saja.

Saya tak mengerti bagaimana dua pria itu menyatakan Novel sebagai pengkhianat.

Siapa yang dikhianati novel dan pengkhianatan apa yang membuat dua pria itu menyiram air raksa?

Pernyataan yang dikutip oleh media itu seolah meletakkan dua penjahat itu sebagai ksatria yang mau mempertahankan kesetiaan pada nilai yang novel lawan. Apa yang dilawan novel tak lain ada korupsi yang sudah menjadi kejahatan kemanusiaan yang berbahaya.

Institusi Kepolisian pantas malu dan buktikan bahwa mereka hanya oknum. Yang melakukan perbuatan itu bukan karena perintah lembaga namun ulah oknum yang mau mencemari nama baik Kepolisian. Saatnya Kepolisian memastikan proses penyidikan atas keduanya secara terbuka, fair dan berpihak pada korban. Pastikan dua orang yang melakukan kejahatan itu memang punya rencana, punya motif dan punya tujuan yang bahaya.

Ironis sekali peristiwa ini! Dua tahun lebih polisi kesana kemari mencari informasi, menelusuri saksi bahkan membuat Tim Pencari Fakta segala. Hasilnya? Yang melakukan semua itu ada di kantornya sendiri. Bukan mirip film thriller tapi serupa adegan komedi. Malah sempat Polisi menerima laporan orang yang menyoal benar-tidaknya Novel disiram. Saya tak tahu bagaimana muka orang itu setelah menyaksikan penangkapan dua orang ini. Beruntung kita tak mengingatnya dan sudah pasti polisi tak menindak lanjutinya.

Mas Novel,

Ternyata protes, menuntut dengan keras bahkan seringkali meragukan hasil yang diumumkan ada juga gunanya. Kita telah memaksa institusi penegak hukum untuk bekerja lebih keras lagi dan lebih sungguh-sungguh. Mungkin benar pelaku selama ini sudah diketahui tapi tanpa tekanan yang berulang-ulang kita bisa pastikan kasus ini hilang dari ingatan. Tempo bahkan menyebut sebelum Polisi merilis pelaku malah Netta S Pane Koordinator Indonesia Police Watch yang mengabarkan pertama kalinya. Rasanya aneh kan?

Mari kita membangun ingatan bukan saja pada peristiwanya tapi pelakunya. Keduanya kini sudah diketahui wajahnya, namanya bahkan kesatuanya. Baiknya kita menelusuri profilnya untuk lebih memastikan motivasi, latar belakang dan peran mereka selama ini. Supaya kejahatan ini tidak terus menerus bersembunyi apalagi membatasi peran pada orang tertentu saja. Kita perlu menekan lebih keras lagi. Menekan dengan mempopulerkan kedua pelaku kejahatan itu melalui pembukaan data profil mereka ke masyarakat dan mengingat kembali tindakan mereka.

Keduanya menyiram Novel yang baru saja pulang sholat shubuh jamaah. Tak ada perbuatan biadab kecuali menyerang orang yang baru saja beribadah. Lalu keduanya lari dan bersembunyi selama hampir dua tahun. Dua tahun itu pasti mereka menyaksikan hasil seranganya: novel yang di operasi matanya, masyarakat yang marah dan Presiden yang sibuk mengucapkan janji pengusutan. Mereka tahu ramainya panggung itu. Tapi mereka bersembunyi atau sengaja disembunyikan. Walau kata ‘sembunyi’ ini ironis sekali karena mereka ternyata petugas kepolisian!

Dan kita semua tahu Polisi sudah lama ribut dengan KPK. Mulai dari dugaan suap kepada Kepala Badan Reserse Kriminal (waktu itu) Komjen Susno Duadji sampai korupsi simulator yang melibatkan Kepala Korps Lalu Lintas (ketika itu) Irjen Djoko Susilo. Bahkan ada dugaan penyerangan Novel berkait dengan penelusuran KPK pada dugaan suap kepada sejumlah perwira polisi yang tercatat dalam buku merah. Buku merah ini catatan keuangan Basuki  Hariman Siregar, terpidana suap MK, yang juga pengusaha impor sapi (Tempo 6-12 Januari 2020)

Ditangkapnya dua pelaku yang asalnya dari Kepolisian menambah kejelasan konflik Polisi dengan KPK. Dua tahun lebih baru keduanya tertangkap. Pertanyaanya kemudian:

Dua tahun itu kemana saja mereka ini? Tinggal bersama keluarga dan berlaku seperti orang normal? Bekerja di Kepolisian tanpa menimbulkan rasa curiga atasanya? Tidakkah kolega, teman atau keluarga curiga dengan tingkah laku dua orang ini? Bahkan jika kini mereka mengucap kata pengkhianat pada Novel itu ucapan untuk menutupi diri atau persyaratan untuk melindungi? Kita bisa membongkarnya selama kita menekan terus menerus dua pelaku itu untuk diseret ‘mengingat’ peristiwa subuh itu dan jauh sebelumnya.

Ingatan peristiwa subuh itu kita putar ulang waktunya: detik saat Novel pulang ibadah, ketika air keras disiramkan dan saat jamaah subuh membantunya hingga waktu dua penjahat itu ditemukan. Urutan waktu itu bisa membuat publik sadar kalau perbuatan itu keji dan tak ada alibi yang bisa dibenarkan untuk perbuatan nista tersebut. Publik musti percaya bahwa pengusutan kasus ini akan menentukan masa depan keadilan: nilai yang bisa membuat bangsa ini terhormat sekaligus tercemar.

Kini mari kita susun sejarah dengan cara yang Novel lakukan: memastikan siapa saja yang berbuat jahat itu dihukum sehingga bisa menjadi pelajaran untuk masa depan. Bahwa di negeri ini kejahatan apa saja tak bisa lagi bersembunyi dengan dalih apa pun: patriotisme apalagi pengkhianatan segala. Kita tak mau pelaku kejahatan jauh lebih percaya diri ketimbang korban kejahatan. Mari kita ikut membongkar misteri kejahatan ini sebagaimana yang sudah Novel lakukan!

Kita harus percaya kalau membasmi kejahatan tugas semua manusia beriman, bukan hanya Polisi!

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika