John Wick | wallpapershdnow.com

John Wick 3, Power Tanpa People

“Jika kamu ingin menciptakan perdamaian, maka siaplah kamu untuk berperang” -John Wick

Apa kamu ingin merasakan suasana demo Jakarta yang panas dan berakhir tragis? Bisakah kamu membayangkan hidup yang berlumur senjata dan bunuh-bunuhan? Pernah kamu bermimpi ketemu pembunuh bayaran yang akan mencabut nyawamu dengan keji? Atau pernahkah kamu kelahi mempertahankan sesuatu yang berakibat luka-luka?

Semua itu jawabanya ada pada film John Wick. Pria yang dikenal sebagai pembunuh bayaran kini diburu oleh siapa saja karena melanggar kesepakatan. Ia membunuh di hotel. Entah bagaimana logikanya, tapi jangan banyak bertanya jika ingin menikmati film John Wick. Ringkasnya, nyawa John Wick kini dijual pada siapa saja yang mau membunuhnya.

Penonton akan dapat suguhan perkelahian dengan modal apa saja: buku bisa membunuh, kaki kuda dapat untuk membunuh, pisau segala jenis bisa menancap ke mana saja, dan peluru bertaburan ke mana-mana. Dalam dunia John Wick, rasanya hukum dan kepolisian sudah hilang entah ke mana. Kita bisa bayangkan kalau jadi tetangga John Wick atau paling tidak pernah bertemu dengannya.

Pria ini tak pernah senyum, irit bicara, dan tangannya selalu siap memukul. Ia hanya akrab dengan anjing. Sepertinya ia jenis manusia yang diciptakan dengan perasaan berbeda. Cintanya hanya pada istrinya. Itupun hanya dimuat di foto karena istrinya telah dikubur lama. Tonton film John Wick sebelumnya jika ingin mengerti latar belakang hidupnya.

Tapi, nikmati film ini jika Anda mau menikmati revolusi tanpa resiko. John Wick nyaris sendirian membunuhi siapa saja. Bahkan di mana saja. Perpustakaan yang mustinya diisi baca buku diisi oleh kelahi. Kandang kuda bisa jadi areal pembunuhan. Kemudian jalan raya, sebagaimana umumnya film Holywood, lokasi penjagalan yang sempurna. Ringkasnya, di semua tempat John Wick dan para pembunuh itu memperagakan kekejamannya.

Menyesalkah John Wick? Rasanya tidak dan hampir semua pembunuh tak punya perasaan selain ingin membunuh. Maka jangan gunakan akal jika Anda menikmati film ini. Bahkan jangan pakai perasaan kalau Anda ingin menonton film John Wick. Semua perasaan itu buanglah karena yang penting adalah Anda puas karena bisa melihat John Wick pukul-pukulan dengan siapapun.

Kita bangga ada dua pemain Indonesia yang ikut dalam film ini. Di sana ada Cecep Arif Rahman dan Yayan Ruhiyan. Sudah begitu, mereka ngomong dengan bahasa kita. Sayang sekali mereka tidak bilang untuk ajak John Wick datang ke sini. Setidaknya bisa mengajari siapa saja untuk memukuli yang berbeda, yang dianggap tak sama, dan dijadikan musuh bersama. John Wick guru terbaik kita dalam membunuh.

Tapi bisa jadi kita tak perlu John Wick. Kita sudah lebih pintar dari John Wick. Pada soal bunuh membunuh malah John Wick bisa kita ajari: kita dapat membunuh dalam skala raksasa pada tahun 1965 melalui senjata apa saja. Bisa pacul, pisau, hingga tali. Kita bahkan mampu membunuh dengan skala keji. Memotong kepala untuk diedarkan di jalan raya. Membunuh preman dengan membuangnya di jalan umum. Kasus Penembakan Misterius dan kisruh di Kalimantan misalnya.

Mungkin yang masih tersisa dari pertanyaan saya, dari mana John Wick belajar itu semua? Film ini hanya bilang ada dendam. Tapi saya kira John Wick tumbuh dengan luka di mana-mana. Keluarganya hilang dan orang-orang setianya lenyap. John Wick seperti kehilangan tuas harapan. Ia seperti sebuah negeri yang sudah kehabisan rasa optimis.

Saya kaget ketika film ini kursinya dipenuhi dengan penonton. Di bulan Ramadan, mereka ternyata butuh hiburan berat dan mengerikan. John Wick seperti jagoan yang tingkahnya memenuhi harapan kita untuk membunuh, mengenyahkan, dan membasmi apa yang kita anggap sebagai musuh kita sendiri. Saya sendiri menonton film ini juga karena kesal tak bisa melakukan apa-apa sebagaimana John Wick lakukan.

Kalau hari ini saya menjelma jadi John Wick, tentu kita akan pukuli para penyebar hoax yang merusak akal sehat. Kita membasmi para koruptor yang masih bisa tertawa saat di penjara. Saya bisa jadi akan ikut menumpas gerombolan massa yang gampang sekali mencaci maki aturan, para penjahat HAM yang masih berkeliaran seenaknya, dan politisi yang gampang sekali adu domba. Sayang, saya bukan John Wick, tapi saya bersyukur bisa merasakan kekesalan sebagaimana John Wick.(*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika