anjing

Buta Pikir ‘Made Supriatma’ Menanggapi Soal Anjing Masuk Masjid

Melki AS (Pegiat di Social Movement Institute)

Persoalan ‘Maaf-Memaafkan’ itu adalah satu hal yang lain lagi. Ya itu adalah hal baik, benar dan semua orang seharusnya bisa melakukannya. Sama seperti kejadian dimana ada seorang perempuan yang membawa anjing ke dalam masjid. Pun sama halnya dengan ketika ada orang yang mem-bom gereja, dan sebagainya.  Terlepas dari sengaja atau tidak, waras atau tidak. Tapi semua perlu kita maafkan. Apalagi hal tersebut sudah terjadi. Tapi yang perlu diingat bahwa ’maaf’ itu adalah urusan yang sangat personal individu atau personal individu yang diwakili. Tidak untuk kolektif atau mayoritas. Karena untuk urusan mayoritas, sifatnya hanya bisa memberi himbauan, yaitu ‘agar memaafkan’. Lalu apakah marah itu perlu? Ya jelas perlu dengan syarat edukatif dan informatif. Edukatif bahwa anjing masuk masjid itu jelas tidaklah patut, bahwa membunuh orang itu lebih tidak patut lagi, dan bahwa ngebom tempat ibadah itu juga tidaklah patut. Informatif ialah agar hal tersebut tidak terulang kembali.

***

Biasanya, ketika bangun pagi, saya selalu mendahulukan membasuh muka, merapikan kamar tidur, minum air putih, dan baca koran. Sambil mencari-cari makanan ringan – kalau ada – sebelum kemudian melihat berita atau kabar-kabar yang masuk ke handphone (hp). Tapi pagi ini adalah pengecualian tanpa sadar. Entah mengapa pagi ini tiba-tiba saya sangat ingin sekali membuka hp dan melihat isi pesan-pesan yang ada.

Kebetulan saya ikut banyak grup ini dan itu. Dan saat itulah saya terkejut ketika melihat salah satu pesan yang menautkan link opini atau pendapat seseorang dari sebuah website berita online dan tak lupa potongan kalimatnya, hanya secuil, seolah seperti penegasan dan pesan inti dari tulisan yang ada di media tersebut. Tulisannya pun cukup singkat. Hal yang dituliskannya adalah kejadian yang lagi viral saat ini. Judulnya ‘Soal Katolik dan Anjing Itu’ yang dibuat oleh seorang Peneliti Masalah Sosial dan Politik, Made Supriatma.

Inti dari persoalan yang ditulis Made ialah tentang hebohnya masyarakat ‘muslim’ Indonesia ketika ada perempuan yang membawa anjing ke dalam masjid. Dikabarkan karena perempuan tersebut mengalami depresi. Tapi hal itu tidak menyurutkan kehebohan kasusnya, apalagi perempuan tersebut merupakan seorang yang menganut kepercayaan yang berbeda dari mayoritas; Katolik. Dan ujungnya ialah perempuan tersebut kini harus ditahan karena dianggap melakukan penghinaan dan pencemaran agama. Made menyebut ini sebagai symptom dari sebuah penyakit sosial yang sudah sangat mendalam. Bahkan ia mengatakan bahwa masyarakat sekarang menderita schizophrenic atau kepribadian yang terbelah (lengkapnya lihat di https://geotimes.co.id/kolom/soal-katolik-dan-anjing-itu/).

Sampai disini saya sepakat dengan Made. Soal terbelahnya kepribadian umat muslim hari ini, memang agak mencemaskan tapi tidak terlalu mengkhawatirkan. Bermula dari kasus Ahok yang dituduh menghina umat Islam dengan kasus Al Maidah. Kemudian terjadi juga kasus yang serupa tapi berbeda objek, yaitu karena pengeras suara saat adzan. Pada dasarnya semua itu bersifat jangka pendek, yaitu berkenaan dengan prosesi pemilu. Kalau Made bilang ini adalah symptom yang mendalam, bagi saya hal tersebut terlalu berandai-andai. Karena saya yakin pasca pemilu dan sengketa-sengketanya, keberadaan umat muslin Indonesia akan kembali seperti biasanya. Karena memang banyak ketugasan dari para ulama untuk mengurus persoalan umat. Artinya saya selalu yakin bahwa keberadaan umat yang kini masih terbelah, kemudian hari bisa cair kembali.

Lalu kembali ke artikel Made. Yang paling membuat saya geleng-geleng kepala ialah cara peng-andai-an yang dilakukan Made dengan melihat kejadian ini dibandingkan dengan kejadian lainnya. Sungguh ini membuat saya sangat muak saat membacanya. Bagaimana mungkin seorang yang mendaku diri sebagai peneliti masalah sosial dan politik, tapi statement ‘recehan’ dari orang lain saja dipercaya sebagai perbandingan yang dianggap benar. Bahkan diangkat pula dalam sebuah artikel yang dibaca umum. Dituliskan ‘Di tengah kemasgyulan saya itu, tiba-tiba seorang kawan menuliskan statusnya yang menurut saya sangat jernih. Mengapa ketika ada orang membawa bom ke gereja, tidak ada kehebohan seperti ini? Saya terus terang tertegun dengan ingatan itu. Banyak orang mati, luka, dan cacat seumur hidup karenanya. Tidak itu saja. Banyak orang menderita trauma seumur hidupnya karena bom itu’.

Disini jelas bahwa statement tersebut sangat dipercayai Made sebagai suatu perbandingan sebanding secara sosial. Bahkan ia menyebutnya status itu sebagai statement yang jernih. Inilah yang saya maksud ‘Buta Pikir’ pada tulisan yang dibuatnya. Pertama ia menganggap perbandingan itu setara padahal aspek destruktif itu tidak layak untuk diperbandingkan. Karena perihal-perihal negatif dan destruktif yang dibanding-bandingkan itu lebih bersifat hanya untuk mencari pembenaran saja, bukan mencari kebenaran. Kedua karena penekanan yang diambil Made sebagai suatu kritik sosial terhadap persoalan yagng ada dengan perbandingannya hanyalah status yang tanpa referensi sama sekali. Jangankan ilmiah, secara non ilmiah sekalipun (anggaplah secara perasaan) hal itu juga tidak tepat dan salah kaprah. Alih-alh memberi solusi, Made malah merepoduksi ulang status atau statement sumir tersebut dalam sebuah tulisan yang dibaca oleh banyak khalayak.

Dan dengan di reproduksi ulang dalam sebuah artikel atau pendapat, maka timbul kesan seolah-olah umat muslim ini sangat brutal, tak bisa dikendalikan, maunya menang sendiri dan kalau bertindak sesukannya saja. Kalau umat Islam melakukan sesuatu, seburuk apapun, hal itu seolah selalu dibenarkan. Tapi kalau umat yang berkeyakinan yang lain, maka hal itu selalu salah. Kira-kira seperti itu simplikasi yang bisa ditangkap dari apa yang ditulis Made. Karena dari statement tersebut jelas sekali bahwa Made ingin menyampaikan pesan tersirat seolah tidaklah perlu ada kemarahan atau kehebohan dari kejadian perempuan yang membawa anjing ke masjid. Karena hal itu didasarkan oleh umat Katolik yang telah memaafkan pelaku-pelaku dan juga tidak pernah mempersoalkannya lagi  atau ingin membuat kehebohan lanjutan ketika ada orang melakukan pengrusakan atau pem-bom-an gereja bahkan menimbulkan korban yang tak sedikit cacat dan trauma. Disini pikiran Made benar-benar sangat kusut dan kacau. Membaca tulisan tersebut, seolah tidak mencerminkan Made yang intelektual, tapi justru terlihat Made sebagai bagian yang turut mengkipasi atau memprovokasi umat manusia.

Dalam artikel tersebut, bagi saya, Made luput melihat persoalan itu sebagai persoalan umum semua umat, baik Islam, Kristen, Hindu, Budha dan keyakinan-keyakinan lainnya. Bahkan kejadian perempuan katolik yang membawa masuk anjingnya kedalam masjid ini justru layak mendapatkan teguran atau kemarahan yang luas sebagai bagian dari proses edukasi dan informasi. Ini agar menjadi contoh ke masyarakat tentang pentingnya menjaga toleransi dengan tidak melukai perasaan umat yang berkeyakinan. Ini salah satu contohnya. Terlepas dari ketidakwarasan, gila ataupun depresi. Pun sama halnya ketika ada orang yang melakukan bom di gereja dan sebagainya. Itu juga layak dikutuk dan umat secara luas berhak marah, apapun agama dan keyakinannya. Tapi sekali lagi bahwa kemarahan itu harus bersifat edukatif dan informatif. Karena masjid ataupun gereja adalah sama-sama tempat ibadah, tempat yang dianggap suci dan karena itu kesuciannya harus selalu dijaga. Jadi jikalau ada yang mengacau dalam tempat-tempat ibadah, maka sudah seharusnya hal tersebut diberikan tindakan, sesuai dengan apa yang dilakukannya. Termasuk ketika ada orang yang ‘mengklaim dirinya’ muslim tetapi melakukan pengeboman, pembunuhan, perusakan dan lain-lain karena perbedaan keyakinan, sebelum mereka yang berbeda keyakinan tersebut marah, saya akan marah duluan dan saya akan duluan mengutuk pelakunya sebagai orang yang biadab. Sama halnya dengan perempuan yang membawa anjing ke dalam masjid tadi, sebelum kasusnya viral dan terjadi kemarahan yang luas, seorang kawan saya yang beragama Katolik di Jogja juga sangat gusar dan marah saat terjadinya peristiwa tersebut. Ini bukti bahwa pandangan kita sebenarnya sama, bahwa apapun tindakan yang merugikan yang dilakukan pada ‘mereka yang berbeda’ keyakinan dan sebagainya, sesungguhnya tidak boleh terjadi. Karena hal tersebut pasti akan menyulut kemarahan umat yang luas dan pasti akan menimbulkan kegaduhan yang membuiat umat bisa salah paham antar pemeluk keyakinan yang satu dan yang lainnya. Dan kami (saya dan kawan katolik tadi) sudah memaafkan secara pribadi. Dan sama-sama menjaga agar hal tersebut tidak terulang. Nah Made benar-benar lupa melihat fakta ini. Made hanya percaya pada satu sisi yang dianggapnya benar saja dan dia melupakan sisi yang lain yang bisa dianggap benar juga.

Sampai disini kiranya terang bahwa statement Made yang bersumber dari status temannya tersebut benar-benar ‘receh dan murahan’. Statement yang sangat dan seharusnya tidak layak untuk dibawa kepermukaan pendapat yang bisa dibaca luas oleh seluruh umat. Alih-alih ingin mengkritik, malah secara tidak sadar Made justru turut ‘menghidupkan bara schizophrenic itu menjadi api’ seperti yang diungkapkannya sendiri.

***

Terakhir saya ingin katakan sekali lagi bahwa kita marah bukan karena kita ingin membenci atau menaruh dendam pada seseorang atau kelompok. Tetapi kita marah karena ingin memberikan pemahaman dan pembelajaran yang objektif tentang suatu peristiwa atau kejadian, terutama tentang efek negatifnya. Begitu!!

Catatan;

Tulisan ini pernah dimuat di website Geotimes ( bisa dilihat disini https://geotimes.co.id/opini/buta-pikir-made-supriatma-soal-katolik-dan-anjing-itu/ ) . Tapi untuk melengkapi pandangan dari apa yang saya tulis, melalui Suluh Pergerakan saya tegaskan lagi dan saya lengkapi pemahamannya.

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika