Suluh Pergerakan

Bola, Bintang dan Junta Militer di Baliknya

Saya sedari awal tak menyukai pertandingan bola. Tapi saya dikelilingi oleh para penggemarnya. Di masa kuliah nyaris Piala Eropa hingga Piala Dunia jadi tontonan melebihi apa saja: pacaran dikalahkan apalagi diskusi. Sihir bola bisa membuat kita menunda apa saja: sekolah hingga ibadah. Pertandingan bola sudah menjelma jadi tontonan yang memberi ilham tentang apa saja: sportivitas, keadilan hingga spiritualitas. Para pemainya tidak hanya jadi bintang yang ingin diketahui siapa kekasihnya tapi juga Nabi yang mau diikuti jejaknya.

Lurah di kampung saya dulunya adalah pendiri sekolah bola. Ucapanya tentang sekolah bola sudah mirip motivator: siapa yang mau berhasil dalam hidup jadilah pemain bola. Walau tubuhnya tambun tapi ia suka bertandang ke lapangan bola. Dari karir sebagai supir puskesmas lalu pemilik sekolah bola dan menanjak jadi lurah. Ia pasti datang pada acara apa saja: kematian hingga pernikahan. Baginya warga itu seperti pemain asuhanya: musti didukung, sering didatangi dan keperluanya dipenuhi. Saat kampanye untuk periode kedua ia menang mutlak. Kampanyenya lagi-lagi tentang sekolah bola.

Ia tak sendiri saya punya dosen penggila bola. Tiap isi kuliah selalu mengutip skor sepak bola. Acara apa saja bisa diundur jika itu ada pertandingan bola. Entah siapa yang bertanding asalkan itu permainan bola pasti ditontonya. Apalagi kalau yang main mahasiswanya sendiri. Ia akan datang dengan membawa apa saja: snack yang dibagi pada pemain, ucapan yang penuh motivasi dan tak lupa menonton persis di sebelah gawang. Saat tim akan meluncur ke pertandingan dosen itu memimpin doa. Tuhan dimintanya untuk mendukung tim favoritnya. Jika bola jadi agama kurasa ia salah satu utusanya.

Hingga saya memegang dan membaca buku ini. Aliran tulisan ini seperti giringan bola: memusat pada pemain, menggiring lewat banyak peristiwa dan memberitahu kita hal-hal istimewa. Saya baru tahu tentang Diego Maradonna yang dianggap Tuhan dari buku ini. Bahkan saya baru sadar kalau junta militer Amerika Latin sering memanfaatkan tim kesebelasan sepak bola. Bukan hanya untuk urusan stabilitas tapi juga cara meraih dukungan. Seluruh tulisan ini bisa membuat kita terperangah betapa luasnya pengaruh bola. Junta militer hingga mafia berusaha untuk memanfaatkan bola. Disini situasinya tak jauh beda.

Dari ekonomi neo liberal muncul para supporter yang brutal. Ternyata supporter itu tak hanya fanatik tapi memang itulah konsekuensi kapitalisme. Hidup orang disudahi harapanya jika tidak menggunakan kekerasan sebagai profesi. Putin sang pemimpin diktator bisa punya peran ganda: berfoto dengan pimpinan suporter bola tapi di bagian berikutnya memenjarakan mereka. Bola melangkah tidak hanya di lapangan tapi yang lebih seru adalah politik di baliknya. Para politisi berusaha menguasai bola untuk mempertahankan tahta dan rakyat melihat permainan bola sebagai harapan dari hidup yang dibelenggu kemiskinan.

Bola juga bisa mengubah nasib seseorang. Maradonna hanya anak miskin yang hidupnya pas-pasan. Tapi bola mengubah dirinya menjadi seorang kaisar. Begitu pula pemain seperti Ronaldo. Bola bahkan mampu meneguhkan keyakinan politik: saat seorang pemain memiliki keyakinan marxis sedang politik berubah haluan ke kanan. Pemain bola berada di persimpangan: bertahan dengan keyakinanya atau beradaptasi dengan situasi. Bola sudah seperti kompas petunjuk moral seseorang: Pele bintang bola tapi junta militer enggan dikutuknya. Saat Pele berkibar banyak pelanggaran terjadi di sekitarnya. Ia memilih untuk memainkan bola ketimbang mengurus rakyat sekitarnya yang dianiaya.

Buku ini menjamu kita dengan informasi dan analisa yang jitu. Soalnya bukan di kaki tapi rezim dimana permainan bola itu berlangsung. Sebagai pembaca awam saya sadar bukan permainan bola yang terpenting tapi bagaimana bola telah jadi sumber perubahan politik. Kalau ada yang disayangkan dari buku ini adalah konteks lokal. Andai penulis menuliskanya pasti ada banyak kotak pandora yang terbuka. Sebab permainan bola disini mirip dengan yang muncul di banyak negara: turut campur politisi telah mencemari segalanya. Bola tidak lagi bundar tapi kotak kepentingan yang melukai siapa saja yang berusaha menggiringnya. Inilah kelebihan utama buku ini, bola bukan sekedar permainan tapi itulah peristiwa hidup yang sebenarnya. (EP)