Kereta Babaranjang | YouTube/Rahman Syawal

Babaranjang

Nalar Naluri (Pegiat Social Movement Institute

***

DPR atau Daerah Pinggir Rel, begitu mereka menyebutnya. Sebuah kampung kumuh, sarang penganggur, tempat para pemabuk, dan penjudi yang tanahnya bersebelahan dengan jalur kereta api Babaranjang. Di sana lah Atang hidup dengan kisahnya yang sukses sebagai penjual asongan dan berhasil menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat.

Sebagai seorang anak yatim, Atang harus meratapi hidup dengan lebih optimis sekalipun kemiskinan melilit keluarganya. Ayahnya telah tiada sejak Atang berumur kelas empat Sekolah Dasar. Ayahnya wafat meninggalkan ibunya dan adiknya, serta dirinya. Atang sangat bersyukur meski ditinggal sang ayah dan berada dalam kondisi ekonomi keluarga pas-pasan, dirinya ternyata masih bisa menyelesaikan sekolah.

Keluarga Atang adalah keluarga pendatang dari negeri Serang. Tiba di Sumatera sebagai keluarga transmigran akibat kebijakan Orba yang serba absurd. Sejak era 90-an, Sumatera ramai kedatangan orang-orang dari pulau Jawa. Dan keluarga Atang bermukim di Kotabumi, di jalur kawasan lalu-lintas kereta api Babaranjang (kereta pengangkut batu bara) melesat. 

Atang adalah pemuda yang gemar menebar senyum, penurut, baik hati, dan setia kawan. Oleh sebab itu banyak orang di kampung sangat takjub dengan peranggai Atang. Terlebih soal kisah tentang tangan kirinya yang buntung. 

Cerita itu bermula di sebuah taman kota yang letaknya juga tak jauh dari rel kereta api. Dalam kepulan asap Babaranjang yang panjang, peristiwa itu menghitamkan separuh langit kampung DPR. Oby dan Wahyu yang keduanya adalah sepaket sahabat dan juga berkawan dengan Atang terlihat cekcok di dekat kembang kaktus yang sedang meregang. 

Mereka terlibat adu mulut yang sengit di taman berduri. Keduanya diketahui sebagai pemake daun ganja dan sabu-sabu. Siang itu langit cerah cepat bersalin kelabu. Si Oby yang sejak semula kelihatan tak banyak mengumpat  dibanding Wahyu tampak melipat kedua tanganya memeluk pinggang belakangnya. Dari kejauhan Atang melihat gelagat aneh dari Oby. Hingga suatu ketika aksi dorong-dorongan pun tak terelakan, Wahyu mendorong Oby hingga terperosok ke sudut taman anggrek yang sedang pelit bermekar. 

Oby merogoh benda panjang yang ia selipkan di pinggang belakangnya sedari tadi sambil berucap, “kampang….kau….” Atang kemudian berlari cepat seolah mengalahkan hembusan angin kereta, “tunggu….jangan….” kemudian dengan muka murka Oby lekas mengayunkan parang ke arah wajah Wahyu. Beruntung Atang datang pada saat yang tepat. Atang menangkis alunan parang itu dengan tangan kirinya, sambil menjerit, “sialan…kalian….” Dan, seketika banjir darah tumpah di daun kembang anggrek yang layu yanv menambah suasana ngeri siang bolong. Tangan kiri Atang terpisah pas di pergelangan. Oby kemudian melemparkan ke arah semak-semak parangnya yang masih merendam darah dan segera memapah Atang dengan kecemasan yang luar biasa. Sedang Wahyu memungut pisahan tangan yang tengah menggelepar di pasir. Telapak tangan itu bagaikan gelepar ayam sembelihan yang sedang sekarat. Mereka tanpa komando dan secara reflek bekerjasama membawa Atang ke Rumah Sakit. 

Orang-orang kampung DPR geger. Menanti kabar dari Rumah Sakit, tapi malang buat Atang, tanganya tak dapat disambung lagi. Sejak saat itu Atang di juluki dengan sebutan ‘Tangbun’ yang berarti Atang buntung. Tapi nasib Atang tak semalang tangan buntungnya. Malah karena kondisinya itu, Atang kini dipercayai sebagai ketua pemuda kampung DPR. Semua berkat kenekatan dan arti kesetiakawanan yang aneh dari Atang. Tak ada perdebatan yang sengit dalam pemilihan ketua pemuda kampung DPR. Seolah semua warga secara serentak, aklamasi dan bulat, mendaulat Atang sebagai ketua pemuda.  

Kebaikan, unik, dan keberanian Atang dalam melindungi persahabatan itu kemudian membekas di Rumah Singgah keluarga Senjaya. Senjaya sendiri telah almarhum, dahulu beliau anggota kepolisian yang bekerja pada era pemerintahan presiden Soekarno. Senjaya adalah sosok yang disegani, ramah, dan ringan tangan terhadap orang-orang lemah. Senjaya dulu memiliki sanggar seni ketoprak, lengkap dengan anssamble keroncong. Rumah kediaman keluarga Senjaya biasa dijadikan warga sebagai tempat berkumpul dan bernostalgia akan kampung halaman orang-orang Jawa.

Sayang, anak-anak Senjaya tiada yang benar-benar menyeriusi meneruskan kegiatan kesenian tersebut. Anak-anak Senjaya kini menyebar dan telah berkelurga, meninggalkan rumah tua itu. Mereka banyak berprofesi sebagai guru, polisi, dan pedagang. Dari keduabelas anak Pak Senjaya meski menyisakan satu orang anak sebagai seorang seniman patung, akan tetapi profesi tersebut tak benar-benar mampu melanggengkan eksistensi perkumpulan ketoprak dan para pemusik keroncong berkesenian. Ketoprak dan keroncong telah menjadi fosil dan cerita indah bagi keluraga senjaya. Atang kepincut dengan kisah keluarga Senjaya. Hingga salah seorang anak Senjaya yang bernama Modarasih membuka Rumah Singgah (sekolah informal) untuk mereka para kaum papa yang membutuhkan kudapan pendidikan. Rumah Singgah itu menampung para anak jalanan dan anak kurang mampu di kampung DPR. Atang termasuk salah seorang bocah yang tergabung di rumah singgah itu.

Rumah Singgah ini hanya berjarak dua meter dari bibir rel kereta api. Sehingga kalau proses belajar mengajar tengah dilangsungkan, papan-papan dinding rumah itu bergetar dan merontokkan serbuk-serbuk kayu mahoni. Maklum rumah singgah ini umurnya sudah renta. Rumah peninggalan Senjaya ini kini diurus oleh sosok wanita tangguh, mandiri, dan penyayang; Modarasih, atau Asih biasa orang kampung memanggilnya. Sebagai seorang guru di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kotabumi, Asih sangat peduli dengan pendidikan. Dia adalah perempuan yang umurnya sekira tiga puluh tahunan, belum menikah, dan pecinta musik klasik. Di dalam rumahnya berderet buku-buku tua dan pusaka keris peninggalan Pak Senjaya. Asih lah yang merawat dan menjaga harta karun itu.

Rumah itu dibangun dari gaji Pak Senjaya ketika dahulu bekerja sebagai komandan polisi pada era Soekarno. Di rumah ini pula konon dalam peristiwa kelam pembantaian masal tahun 1966 beberapa korban yang dituduh sebagai simpatisan PKI mendapatkan perlindungan dari Pak Senjaya. Mereka (para korban) disembunyikan dengan diam-diam. Kita sulit memahami entah apa yang terbesit di kepala Sanjaya. Sebagai seorang polisi yang umumnya pro pemerintah, tapi dia mudah memberanikan diri meski dengan konsekuensi dihukum mati. Sungguh tindakannya adalah sebuah keputusan yang berbahaya. Cerita tentang Pak Senjaya itulah yang menjadikan Atang betah mengunjungi Rumah Singgah. 

Atang, Oby, dan Wahyu menikmati kegiatan yang diberikan oleh Rumah Singgah. Hingga dalam waktu yang kurang tercatat dengan pasti, Atang akhirnya memilih untuk mengabdi di Rumah Singgah keluarga Senjaya, ia tinggal pisah rumah dengan ibu dan adiknya. Sedang Oby dan Wahyu masih berteduh di rumah mereka masing-masing. 

Atang kini tinggal di rumah singgah tersebut, persisnya di lantai atas, yang ruanganya lebih menyerupai loteng dari pada kamar, berlantai alas papan mahoni tipis. Sehingga jika orang melangkah di atasnya deritnya berbunyi jelas seolah seperti papan yang siap patah. Sedang Mbak Asih tinggal di lantai bawah. Setiap hari Atang membagi aktivitasnya, di waktu subuh dirinya menyapu dan mengepel Rumah Singgah, pagi Atang bekerja sebagai pedagang asongan di stasiun kereta. Siang hingga sore hari ia bersekolah dan di malam hari ia bekerja sebagai kuli angkut di pasar taman kota.

Hidup Atang mengalir begitu terus hingga ia duduk di bangku Sekolah Mengah Atas dan bisa menyelesaikannya dengan penuh perjuangan dan istiqomah. Atang seperti membuktikan tak ada penghalang yang bisa mencerabut semangat belajar, sekalipun itu kemiskinan. Atang membongkar mitos, dia menjadi sosok yang kini mengantarkannya sebagai seorang bocah dengan sejumput kisah orang miskin bisa sekolah.

Keberuntungan Atang tak berhenti di situ. Mimpi Atang agar dapat mengenyam pendidikan setinggi-tingginya kini telah menjadi kenyataan. Setelah lulus dari SMA, mula-mula Atang mengikuti dunia aktivisme, dia menjadi relawan di sebuah lembaga yang menyuarakan bahaya narkotika. Lembaga tersebut merekrut Atang bukan tanpa sebab. Alasannya karena kisah tangan buntung Atang yang melerai pertikaian sahabat akibat masalah narkotika. Atang dinilai layak sebagai seorang yang berani melindungi manusia dari kebiadapan bahaya narkotika. Dari karir sebagai aktivis ini perlahan-lahan meningkat bak memanjat tangga, hingga ia memperoleh beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Ibukota Jakarta. 

Atang diterima di sebuah kampus kebangsaan yang yayasannya milik salah satu anak dari Presiden pertama, Soekarno. Kemudian Atang mengikuti organisasi pergerakan berbasis agama, benuansa islam tradisional. Dari sini lah keterampilan orasinya kian berkembang, kemampuan agitasinya semakin dahsyat, dan relasi dengan para politkus partai semakin dekat. Atang terbawa arus yang semakin menantang. Asih kagum dengan pencapaian Atang selama ini. Sehingga setiap Asih mendapat kabar dari Atang yang menceritakan tentang kampus dan dunia aktivisnya, Asih melengkungkan senyumnya dan matanya berkaca-kaca. 

Ringkasnya, hidup Atang bergemuruh dan panjang. Mirip kereta Babaranjang. Dia menerjang segala macam angin dan cuaca. Atang akhirnya menjadi calon legislatif Partai Banteng Merah untuk daerah pemilihan Kotabumi. Tak banyak rintangan yang ia hadapi kini, terutama basis pemilihnya di kampung DPR. Semua orang sudah sangat mengenal Atang, semua orang sudah sangat tenang dengan Atang, dan semua orang seolah sudah yakin dengan Atang.

Atang lagi-lagi mendulang suara banyak. Tak ada satu pun orang tak melubangi fotonya yang tangan kirinya buntung. Baliho-balihonya adalah salah satu kunci keberhasilanya. Dengan mengenakan jas merah, dia sedang nongkrong di pinggir rel kereta, kemudian memetik gitar dengan posisi tangan kanan memegang leher gitar dan tangan kirinya yang buntung menggenjreng gitar. Atang seolah menyanyikan lagu persahabatan, keberanian, dan arti keberpihakan.

“Pilih Tangbun, sudah terbukti, bukan hanya bicara, tapi nyata.” Begitulah diksi yang dihujamkan ke dalam baliho-baliho kampanye. Kisah Tangbun dari DPR itu disebar angin hingga ke telinga-telinga masyarakat Kotabumi. Ternyata itu mujarab. Atang mendulang suara banyak. Dia mendapatkan kursi yang benar-benar di Dewan Perwakilan Rakyat.

Seiring berjalannya waktu, kehidupan Atang begitu kontras. Saat ini dia telah memiliki rumah di pusat kota, ibu serta adiknya diboyong ke sana. Kini dirinya sibuk dengan berbagai proyek pembangunan jalan tol lintas Sumatera. Sehingga tak banyak waktu lagi untuk singgah di DPR dan di Rumah Singgah. Hingga suatu waktu di hari raya qurban, Atang akhirnya mengunjungi Rumah Singgah. Dia menjumpai Asih yang saat itu sedang membersihkan debu-debu di buku tua dan pusaka keris peninggalan Pak Senjaya. Dari depan pintu Rumah Singgah Atang menyapa, “Mbak Asih, saya datang membawa qurban.” Asih mengagkat jempol ke arah Atang, “hebat kamu, Tang”. Atang menggeret sapi betina yang gemuk dan garang, tetapi lebih menyerupai banteng yang galak. Dirinya menyerahkan ke panitia qurban untuk disembilih dan dibagikan kepada orang-orang DPR. Orang-orang menyambut gembira.

Tetapi di sela-sela waktu tersebut, Atang menghampiri kawan lamanya yang sejak tadi menunggunya di serambi Mushala. Oby dan Wahyu. Kedua sahabat itu kemudian menyambut Atang dengan pelukan rindu yang erat. Kemudian mereka mengobrol panjang lebar, sepanjang, dan selebar gerbong-gerbong Babaranjang yang mengangkut bara yang tiada henti. Dari kenangan kisah tangan buntung, cerita Rumah Singgah, sampai kenangan sewaktu dulu ketika Atang menjadi seorang pedagang asongan. Obrolan mereka mengalun bagaikan orkestrasi keroncong, riang akan romantisme, santai penuh melodi.

Namun tiba-tiba Atang seperti melipat senyumnya, seperti ingin lekas mengakhiri pertemuan. Kemudian ia mencoba mengambil alih arah obrolan. Dengan sedikit tersendat-sendat dan ingin menunjukan kesungkanan, “Ehmm kawan-kawan, saya sengaja ke sini, mengunjungi kampung halamanku. Sudah lama saya merindunya. Banyak kenangan yang tumpah di sini. Dan serpihan kanangan itu yang membuatku juga bisa meraih kedudukan seperti saat sekarang. Sebenarnya saya tidak hanya bermaksud untuk menyumbang sapi betina ini, namun ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan kepada kawan-kawan terkait keberlangsungan hidup warga DPR dan kawan-kawan sendiri.”

Kemudian Oby menyela, “wahai sahabat baikku, si pemurah hati, dan kawan sejati. Mengapa kau terlihat sungkan mengucapkannya, tentu kami sungguh senang dengan kedatangan dan kedermawan hatimu itu, kami selalu mempercayaimu.”

Atang merebut tangan kedua sahabatnya itu, menggenggamnya dengan kuat, dan mengatakan, “Tenanglah, kalian akan di tempatkan di sebuah rumah susun di samping pasar taman kota, dan tempat ini akan disulap menjadi lebih berada. Tak ada lagi gubug reot, tidak kumuh lagi, dan jauh dari sarang pemabuk dan para penjudi.”

Wahyu sedari tadi hanya diam kemudian beranjak dengan mata menyala,Hei hei hei…apa maksud dari semua ini kawan?” 

Dengan wajah bak seorang motivator, Atang mejelaskan dengan penuh pesan moral dan didahului kutipan-kutipan indah, “Kalau bukan sekarang kapan lagi? Kalau bukan dimulai dari kita siapa lagi? Kawan-kawan, Kawasan DPR akan lebih indah untuk perluasan lintasan kereta api. Dan di situ akan dibangun kenangan. Mungkin bisa juga dibangun sebuah patung diriku yang tangan kirinya buntung, di situ pula ada cerita kita bertiga, kawan sejati, sebagai simbol keberanian menerobos nasib buntung. Dan lagian, kalian juga mendapatkan kompensasi yang lebih layak. Rumah yang lebih asri. Dan tentu efesien.”

Belum sempat lagi Atang melanjutkan presentasinya, Wahyu pun menyela, “Cukup. Kami tetap bertahan di sini. Dan tak akan minggat dari sini”

Atang menghela nafas berat dan kemudian meninggalkan kedua sahabatnya itu dengan penuh kegeraman. Hingga berselang seminggu kemudian, tak menunggu lama, surat Pengadilan Tinggi Negeri Kotabumi di tempelkan di rumah-rumah warga DPR. Masyarakat kaget, tak terkecuali Wahyu dan Oby, sahabat sejati Atang. Isi surat itu pada intinya ingin memberitahukan untuk pengosongan rumah dan akan melakukan eksekusi penggusuran dalam waktu tiga hari dari sejak surat itu dibuat.

Masyarakat merasa kaget dan heran, tak terkecuali Asih, perempuan penjaga Rumah Singgah. Mereka mempertanyakan mengapa surat itu tiba-tiba datang dan membuat kepanikan heboh di antara warga. Kecuali Oby dan Wahyu, mereka seolah tak tampak kaget lagi. Kedua sahabat itu hanya mampu menundukan kepala dan segera mengemas barang-barang, pergi mengungsi dan mendirikan tenda di taman kota, taman tempat kisah mereka bertikai yang mengakibatkan tangan kiri Atang buntung. 

Sementara keesokan harinya, bolduser dan alat besar lainya mulai beroperasi, melintas di pinggir rel, meratakan rumah-rumah penduduk. Termasuk Rumah Singgah yang di dalamnya masih ada tumpukan buku tua dan pusaka keris. Tangisan dan histeris dari masyarakat bergumam menerobos suara gemuruh Babaranjang yang lewat. Semua masyarakat akhirnya berbondong-bondong mengungsi ke tempat pengungsian dan mendirikan tenda di taman kota yang berimbun kaktus dan bunga anggrek yang layu.

Sebulan berlalu. Rel-rel kereta kini telah bercabang lima. Babaranjang bertambah banyak, jadwal lintasannya semakin padat. Dari tenda-tenda pengungsian di taman kota yang berduri dan layu itu, orang-orang DPR hanya bisa melihat dari kejauhan gerbong-gerbong kuning berkarat seperti ember kropos raksasa, di atasnya menggunung batu-batu hitam berminyak, aromanya mirip oli bekas, batu bara itu akan dikirim ke PLTU-PLTU Jawa, Bali, dan Sulawesi untuk menggerakan generator perusahaan Pelita Listrik Nusa. 

Gerbong-gerbong itu melintas mengular dan melesat. Babaranjang berderap dari Baturaja melintasi Kotabumi, hingga berakhir ke dermaga Bakauheni. Kereta Babaranjang itu kemudian meniupkan terompetnya, “Tut, tut… tut… tut…” kisah Atang sebagai anggota DPR abadi dalam lubuk hati Asih, Oby, Wahyu dan orang-orang DPR (Daerah Pinggiran Rel).

TAMAT….

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika