9913637_a784ade1-ff0f-4b69-8d89-32d51a2d90e2_959_959

Apa Modal Hidup di Zaman 4.0?

Nama penulis: Rolf Dobelli

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedi

Tahun terbit: 2019

Jumlah halaman: xii + 319

“Jika anda tak menghadapi kenyataan maka kenyataan menghadapi anda” -Alex Haley

“Seseorang yang cerdas memecahkan masalah. Seorang yang bijaksana menghindarinya” -Einstein

“Nyatanya, 100 persen kesuksesan hanyalah kebetulan semata” -Rolf Dobelli

***

Jika ada yang bertanya apa yang jadi kegelisahan manusia modern? Jawabanya ringkasnya adalah makna! Perburuan untuk memahami makna kehidupan yang membawa sang penulis untuk tinggal di Ordo Benedikten. Memuaskan rasa rindunya pada konsep yang namanya Tuhan. Disana ia berlatih makan dengan peralatan yang dibungkus. Pesanya pendek saja: hidup itu hadiah dan yang kita punya waktu.

Waktu itulah yang membawa penulis membuat potongan bab bab pendek tentang nilai kebijakan. Pembaca dibayangkan sebagai orang sibuk, penat dan tak punya waktu. Maka pendekatanya kemudian membuat tulisan pendek yang berusaha mengetengahkan topik-topik populer. Bukan hal baru tetapi tawaran buku ini istimewa. Kita seperti diberi menu hemat tapi dengan pilihan lauk banyak.

Anda merasa terikat dengan media sosial? Tiap hari musti up date status atau kuatir dengan follower yang belum bertambah? Tulisan ini tak memberi pandangan teoritis yang kaya tapi hanya rentetan pesan sederhana. Katanya: putuskan apa yang lebih penting bagi Anda, hidup yang memuaskan dari waktu ke waktu, atau hidup yang dipenuhi dengan album foto.

Saranya biasa tapi disajikan dengan renyah. Pembaca sedikit diajari tapi diberi kebebasan untuk memilih. Pilihanya tak terbatas tapi biasanya kitalah yang membatasi diri sendiri. Misalnya kita selalu menganggap apa yang kita kerjakan teramat penting. Pusat perhatian pekerjaan kita pada kesuksesan bukan proses untuk menuju kesana. Manusia jadi budak ambisinya.

Mabuk kita pada kemenangan yang selalu dirayakan dengan kesenangan. Padahal semua kesenangan itu semu nilainya. Seperti memenangkan lotre. Bahagiakah menang lotre? Penelitian di tahun 1978 menganalisis kepuasan hidup para pemenang lotre. Hasilnya? Beberapa bulan setelah kemenangan besar, para milliader tak merasa bahagia dibanding dengan sebelumnya.

Kesukaan itu punya batas. Topik hedonisme menarik. Tiap tindakan seseorang itu punya dua hal: senang dan makna. Makan coklat itu nikmat dan menyenangkan. Tapi tak bermakna. Sedangkan membela orang yang ditindas itu mungkin tak menyenangkan tapi memberi makna yang panjang. Idealnya kita memerlukan sebanyak mungkin tindakan bermakna tetapi juga jangan lupa pada kesenangan. Jumlahnya asal tak melebihi dosis.

Tiap topik beranjak dari hidup sehari-hari. Misalnya sombong yang dikutuk oleh semua ajaran agama. Tapi diperintahkan oleh media sosial. Di medsos sering kita menampilkan secara sempurna dalam berbagai pose. Walau sombong itu selain menghabiskan energi juga anda mengalami bias melayani diri sendiri: anda melakukan sesuatu bukan untuk mencapai tujuan, melainkan membuat diri anda tampak lebih baik.

Apa ini buku agama? Sudah pasti bukan. Etika yang dikenalkan disini merujuk pada ajaran para filosof. Tapi dasar ajaran etisnya sama: jangan terlampau tinggi memasang harapan karena hidup itu padat ketidak-pastian. Tak semuanya musti kita nyatakan sebagai ‘keharusan’. Jangan memperlakukan harapan seperti bola helium: membiarkan terbang hingga tinggi untuk kemudian meletus.

Pastinya buku ini tak cocok untuk para pembual dan pejuang perubahan. Anjuranya terlampau realistis. Kita musti menerima keadaan, meski itu tak adil dan susah diterima. Argumenya spiritual sekali: pesanya adalah dunia kadang-kadang kelihatan tidak adil-tetapi itu hanya karena kita tidak memahami bagaimana Tuhan bekerja. Kalau anda tak cukup Iman rasanya argumen ini aneh! Kesimpulanya sama: pembaca diajak fokus untuk hidupnya sendiri.

Bagaimana melatih fokus pada perubahan diri? Buku ini berulang-ulang minta kita tak terlalu berpusat pada diri sendiri. Menganggap diri penting atau memandang hidup dengan keinginan mengalahkan yang lain. Dikatakan di banyak bab tentang kepribadian bukan karena buku ini memotivasi tapi mengajak untuk merenung pada semua yang ada di sekitar kita. Perubahan, lingkungan dan kepercayaan.

Menuju pada kekuatan diri tak gampang. Pendakian menuju kematangan bukan tergantung pada usia. Tapi bagaimana kita menampik pengaruh yang datang di sekitar kita. Misalnya, jangan sia-sia menggunakan modal yang kita semua miliki: fokus, waktu dan uang. Fokus gampang dialihkan kalau kita selalu terkoneksi, terjebak dalam iklan konsumtif, hingga mencebur dalam dunia multimedia.

Penulis memang tampak gusar dengan dunia tekhnologi yang melahap semua panca indera. Media sosial-menurut Davis Brooks, ‘menciptakan budaya yang membuat manusia berubah menjadi manager merk kecil, menggunakan Facebook, Twitter, pesan singkat dan Instagram, untuk menciptakan diri eksternal secara palsu dan sedikit ceria’ Istilah Brooks semua itu ‘mesin pencari perhatian’.

Buku ini mengajak manusia untuk bisa mengendalikan bukan dikendalikan. Dalam babak keji manusia yang lolos dari hukuman bengis, seperti Auschwitz biasanya karena kemampuan bertahan dari hari ke hari. Perjuangan untuk mempertahankan kendali itulah yang jadi tugas harian manusia modern. Kita tak diserbu oleh Nazi melainkan iklan yang bertubi-tubi.

Maka manusia memerlukan pelindung untuk atasi itu semua. Salah satunya adalah harga diri. Lingkaran yang membuat manusia tak gampang terjerembab, tak mudah kompromi dan tak gampang dibeli. Lingkaran harga diri itulah yang membuat kita punya reputasi, memiliki kehormatan dan tak mudah untuk takluk dengan godaan.

Buku ini bukan uraian yang berat. Semua diantarkan dengan ringan, sederhana dan mudah. Pembaca seperti membawa bekal yang mudah dibawa kemana-mana, tanpa takut dicuri atau bahkan takut hilang. Semua petuah yang ada dalam buku ini bukan membuat hidup lebih rumit dipelajari, tapi hidup jadi lebih ringan untuk dijalani.

Siapa tahu anda tertarik membacanya. (EP)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika