Suluh Pergerakan

Andaikata Kampanye Berlangsung Tanpa Batas

 

 Semakin jauh suatu tujuan, semakin cepat kita harus berupaya mencapainya (Giuseppe Mazzini)

***

Saya baru pulang dari kota N. Kabupaten yang sedang menggeliat. Disana ada cagub bikin kegiatan. Lomba jalan sehat. Hadiahnya seru: mobil hingga umroh. Yang ikut ramai dan banyak. Siapa saja yang bisa jalan ikut. Termasuk pasangan cagub. Berdua menyapa peserta. Bercanda dan foto bersama. Sangat menyenangkan.

Saya juga dari kota B. Disana ada pilihan walikota. Terdapat tiga pasang calon. Salah satunya bikin lomba. Satunya sumbang kursi. Kursi pada tiap kecamatan dan lomba pada tiap pos ronda. Hadiahnya seru: sepeda hingga HP. Tak ada HP China sama sekali. Rakyat ikut dan senang. Tiap calon ramah dan datang pada acara apa saja. Nikahan, sunatan hingga kematian. Mengharukan sekali.

Di televisi saya lihat cagub datang ke pasar. Masuk pada tiap kios. Makan di warung. Duduk bersama penjual. Akrab, intim dan hangat. Seperti tak ada jarak. Peduli dan perhatian. Para cagub dengar keluhan. Mau di beri saran dan menyetujui semua pandangan. Sangat meyentuh dan membuat trenyuh.

Bayangkan saja jika kegiatan ini berlangsung tanpa batas waktu. Sangat menggembirakan dan pasti membawa dampak. Mereka jadi rutin datang ke warga, gampang mendengar keluhan warga dan biasa melihat warga kecewa. Lebih-lebih kalau lomba sering diadakan: warga jadi terhibur, lebih akrab dan santai dengan pemimpinya.

Apalagi calon kadangkala berasal dari satu keluarga. Rakyat akan merasa bagaimana keluarga itu bisa beri tauladan: bapaknya berkuasa, istrinya juga penguasa dan anak-anaknya jadi pewaris tahta. Mirip kerajaan tapi menyenangkan jika belum tentu terpilih. Keyakinan ‘belum tentu’ itu yang membuat rakyat akan jadi penguasa sesungguhnya. Mereka selalu akan didahulukan pada waktu yang tak ada batasnya.

Dari dulu kita sulit tahu dana kampanye itu dari siapa saja. Tapi kalau kampanye berjalan lama kita pasti akan mengetahui siapa bos mereka. Uang itu akan bergulir untuk membuat rakyat gembira. Uang itu akan dimanfaatkan untuk membuat rakyat simpati. Fungsi uang itu memang memenangkan calon tapi sarananya adalah membuat rakyat senang lebih dulu. Kampanye tanpa batas waktu adalah caranya.

Siapapun akan senang dengan keadaan ini. Para pengamat akan sibuk untuk membuat analisa. Kantor polling tiap saat akan menggelar hasil. Ulama akan terus menerus diminta doa. Tim sukses akan selalu rapat untuk taktik kemenangan. Perusahaan kaos dan baliho takkan kehabisan order. Kemudian rakyat akan menghadapi hari-hari yang gembira. Bahkan ketika susah, misalnya kena gempa, pasti para calon pemimpin akan berusaha untuk menyumbang apa saja.

Waktunya KPU mulai memikirkan rakyat dengan cara baru. Tak mengatur soal hari, tanggal dan kandidat. Tapi bagaimana tahapan pemilu itu membuat rakyat menikmati pesta. Pesta demokrasi yang sesungguhnya: rakyat suka, antuasias dan gembira. KPU tak perlu sosialisasi apa saja karena rakyat pasti akan ikut memilih. Pilihanya ditentukan dari kesanggupan, militansi dan pengorbanan calon dalam waktu yang lama.

Kampanye tanpa batas waktu itu ujian militan. Bagi calon, buat tim sukses dan terutama para bandar. Biarkan mereka merasakan susahnya meraih dukungan. Lebih tepat lagi biarkan mereka dibiasakan untuk selalu dekat, kenal dan paham masalah rakyat. Kalau itu semua terjadi maka kita akan meyederhanakan semua: partai politik, tim sukses dan anggaran negara. Baiknya kita mencoba berpolitik dengan cara baru karena hasilnya pasti akan mengejutkan. Ingatlah: hasil baru tak bisa ditempuh dengan cara lama: itu keyakinan purba!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.