Ilustrasi | ChristianHeadlines.com

An Interview with God, Film tentang Iman & Keraguan

“Memiliki keyakinan tak begitu berarti jika kau tak benar-benar percaya” -Paul Asher

Ken Aguado, sutradara dan penulis film ini percaya sebuah film tentang Iman selalu punya pasar sendiri. Terutama ketika manusia kehilangan sekaligus meyakini Iman. Pegangan hidup yang paling realistis di tengah gempuran kehidupan yang sulit diduga jalannya. Iman yang pusatnya pada Tuhan yang selalu kita jadikan pusat sasaran harapan.

Tuhan kali ini muncul dalam sosok seorang pria yang punya banyak waktu. Bersedia diwawancara oleh Paul, jurnalis Herald yang baru pulang dari perang Afganistan. Kacau, bingung, dan penuh masalah. Tuhan selalu suka didatangi oleh jenis orang semacam Paul: gundah, terguncang, dan sangat penasaran. Terutama mengenai hidupnya yang menurutnya berjalan tidak membaik. Sejak pulang dari liputan perang ditambah ketemu dengan Tuhan.

Mula-mula wawancara ini berjalan normal. Tuhan diwawancarai berurutan: tanggal 1 Juni sampai 3 Juni. Tuhan menyukai tulisan Paul bahkan selalu membaca tulisanya. Paul menjawab santai dengan mengatakan: tulisan agama maksudnya, tapi kadang masuk dalam rubrik gaya hidup. Sindiran kocak yang meletakkan agama kini sebagai gaya hidup bukan penentu jalan hidup manusia.

Seperti layaknya wawancara, Tuhan diambil gambarnya. Tuhan tak keberatan karena dirinya bukan vampir. Silahkan saja memfoto jika itu memang memuaskan hasrat manusia. Paul setelah bertemu memberi komentar kalau Tuhan tampak manusiawi sekali. Sebaliknya, Tuhan dengan bercanda bilang kalau Paul tampak seperti Dewa. Adegan yang meyentuh, berani, dan mengejutkan.

Paul bertanya tentang setan dan Tuhan jawab dengan ringan: setan memang ada tapi manusia terlalu membesar-besarkan perannya. Setan itu daya kekuatannya dari manusia sendiri. Dialog dan wawancara ini makin tak imbang karena memang Tuhan yang kini wawancarai Paul. Tuhan ingin menolong Paul tapi tampaknya Paul tak antusias untuk menyambutnya.

Hubungan yang selalu naik turun seperti itu akan mewarnai hidup manusia. Paul selalu merasa dirinya dirundung oleh duka padahal ia percaya sudah berbuat baik. Pertanyaannya selalu sama: mengapa orang yang selalu berbuat baik tak selalu mendapatkan kehidupan yang seperti diharapkan. Lalu untuk apa derita, bencana, dan perang terjadi jika Tuhan itu ada?

Tuhan memainkan perannya dengan mengembalikan pertanyaan jenaka pada Paul. Andai Paul jadi Tuhan, bisakah dirinya tahan menyaksikan dunia yang seperti itu dan kesalahan selalu dialamatkan pada-Nya. Film itu memang memilih pendekatan yang vulgar: Tuhan dan manusia mengobrol dengan leluasa bahkan kadang Tuhan menjabat tangan manusia, memegang bahunya, dan berupaya untuk memastikan posisi-Nya.

Sebagai tontonan, film ini memang menyuguhkan kekuatan dialog. Bersama Tuhan, manusia mengutarakan apa yang jadi kecemasan, harapan, sekaligus ancaman. Secara mulus, film ini tak mau membangun debat yang meragukan keadilan Tuhan, tapi memutuskan untuk meletakkan manusia sebagai pribadi yang selalu punya kesukaran memahami keadilan Tuhan.

Walau Tuhan bertemu, diskusi, bahkan berusaha membangun dialog, tapi manusia tak puas dengan semua yang jadi ketentuan Tuhan. Bahkan Tuhan sendiri takjub dengan manusia yang sulit sekali menuju pada-Nya. Pada era Musa, Tuhan sudah perintahkan 10 anjuran yang tak juga membuat manusia baik. Lalu di era Isa, ketentuan itu dikurangi menjadi enam dan itupun tak membuat manusia juga berbuat baik. Tuhan merasa bersalah?

Tentu film ini tak berusaha menampilkan Tuhan yang lemah, tapi Tuhan yang selalu berpihak pada kepentingan manusia. Enam perintah pada Isa seluruhnya berhubungan dengan keinginan Tuhan agar manusia berbuat baik pada sesamanya: tidak mencuri, tidak berzina, tidak bersaksi palsu, hormati orang tua, hingga cintai tetangga, bahkan dikurangi banyak perintah untuk memperhatikan kedudukan Tuhan. Sepenuhnya, Tuhan ingin agama ini bukan untuk diri-Nya, tapi untuk keselamatan manusia.

Tapi ironinya selalu ada di sini: kehendak Tuhan dan keinginan manusia tak pernah sejalan. Film ini memberi ‘ruang’ pada Tuhan untuk menyatakan posisi dan Paul seperti figuran yang muncul untuk menjadi landasan bagi pandangan Tuhan. Paul sendiri seperti kisah dalam film Hollywood kebanyakan: sadar, memberi maaf untuk kekasihnya yang selingkuh, dan membiarkan sepedanya hilang.

Beruntung film ini tak beredar di sini. Pasti menimbulkan kontroversi dan berbuah keributan yang tak perlu. Tapi Anda yang merasa bahwa Iman itu sebuah perjalanan mungkin baik untuk menonton film ini. Tidak untuk memompakan keyakinan spiritual Anda, melainkan untuk memahami betapa agama tak sesempit yang kita bayangkan selama ini.

Tuhan akan selalu meyentuh manusia pada setiap waktu dengan cara apa saja: duka, gembira, dan pedih. Semua itu dijalankan oleh waktu yang tak pernah disadari oleh manusia dan terkadang manusia terbangun ketika kematian itu mengetuk serambinya. Mungkin itulah manusia yang dikatakan oleh Tuhan selalu teringat pada hal-hal buruk yang dialami ketimbang keajaiban yang dialaminya setiap hari.

Pada akhir adegan Tuhan meyakinkan pada Paul kalau diri-Nya ada untuk membantu manusia. Terutama dalam hadapi masalah maupun kemelut yang diderita banyak manusia. Tuhan percaya manusia bisa mengatasi semua karena memang bekal untuk manusia sudah diberikan semuanya. Tuhan jadi tersangka ketika manusia tak bisa melihat kebaikan di antara sesamanya.

Film ini meniupkan rasa optimis dalam pergulatan Iman. Walau manusia terus membantah, mendebat, bahkan tak percaya, tapi Tuhan -dilukiskan di film ini- sabar, tenang, dan empatik. Gambaran Tuhan yang ketika diminta untuk mendatangkan hukuman, balik bertanya pada manusia: mana yang harus dihukum saat ini dan siapa yang pantas untuk dihukum? Tuhan bahkan tak ingin lagi menghukum manusia dengan cara yang diceritakan oleh kitab-kitab sebelumnya.

Film ini memilih manusia bukan Tuhan yang bisa memberi kebaikan. Hanya melalui perbuatan baik manusia, Tuhan itu berada. Tuhan sudah menciptakan manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bukankah manusia itu sendiri adalah sebuah keajaiban dan sepantasnya manusia dapat memahami keunggulan keajaiban dalam dirinya.

Saya beruntung bisa menikmati film ini dalam suasana lebaran. Hari ketika manusia menampilkan dirinya dalam kebaikan: memaafkan dan meminta maaf. Tepat ketika menonton film ini, saya merasa manusia memang kadang keterlaluan: merasa lebih tahu ketimbang Tuhan, meyakini bahwa Tuhan itu perlu dibela, dan merasa bahwa Tuhan yang memerlukan manusia. Film ini menjadi penutup bulan Ramadhan yang indah!(*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini