Poster film Ip Man 4

Ketika Ip Man Beraksi di Natuna & Sikap Pejabat RI

Pisahkan dan bedakan pencurian ikan dengan investasi! Bedakan pencurian ikan dengan persahabatan antar negara” -Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan RI periode 2014-2019

“Pelanggaran di wilayah Laut Natuna tidak hanya sekali ini. Sejak saya menjadi Panglima Koarmada yang lalu, saya sendiri terjun langsung di lapangan dan di situ banyak sekali kapal-kapal asing yang melakukan penangkapan ikan secara ilegal” -Laksamana Madya TNI Yudo Margono, Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I

Sudah lihat Ip Man 4, belum? Film laga yang seru dan membuat kita mau memukul siapapun saat keluar gedung bioskop. Sajian ceritanya tak berubah dan moral kisahnya tak beringsut. Ip Man selalu melawan kekuatan digdaya, bisa berasal dari Jepang atau kini Amerika. Ip Man selalu menang dan musuhnya babak belur. Patriotisme China menjadi cermin sikap Ip Man.

Hampir seluruh film Ip Man isinya bertarung dengan musuh bangsa lain. Beda jauh dengan Wiro Sableng yang musuhnya orang kita sendiri. Sejak awal, Ip Man memang punya misi menjaga kedaulatan China dan melawan apa saja kekuatan yang mau menjatuhkannya. Seberapun besar kekuatan itu, Ip Man tak mau bertekuk lutut!

Ip Man adalah semangat China. Pria yang lebih banyak diam, baik pada siapa saja, tapi jangan diusik. Ip Man bisa memukuli siapa saja yang mengganggu anaknya, sekolahanya, apalagi kedaulatan. Ip Man tak pernah kalah dalam melawan siapapun dan dalam jumlah berapa saja. Ip Man seperti China hari ini: digdaya, tak bisa dikalahkan, dan bisa melumat apa saja. 

Itu juga termasuk Natuna yang ada di kepulauan Riau.

Pulau itu tengah menjadi sumber berita negeri ini. Perkaranya soal kapal-kapal nelayan China yang masuk wilayah Indonesia. Jelas itu menyinggung kedaulatan. China seperti Ip Man: diam tapi meyakini itu masuk kedaulatannya. Sebaliknya, kita jadi seperti musuh Ip Man: ada yang merasa tersinggung, ada yang segera menggelar latihan pasukan, dan ada juga yang merasa diselesaikan secara diplomatik. Hahaha, ternyata kita belum kompak!

Sementara itu, China sudah menghitung tindakannya mengandalkan Gun boat diplomacy, strategi yang menggunakan kekuatan laut. Dia libatkan kapal nelayan dan kapal pemerintah di Natuna. China tak menggunakan kapal militer. Ini taktik cerdik karena menurut aturan International, dalam masa damai kapal militer tak boleh menembak kapal sipil. Pada satu hal ini, kita sudah kalah taktik. Komentar pejabat kita jadi petunjuk.

Menteri Pertahanan Prabowo sikapnya tak seperti waktu kampanye: garang, keras, dan provokatif. Komentarnya atas nelayan China hanya satu kata: Kita cool saja. Entah ini kalimat sasarannya siapa. Apakah rakyat, Gerindra, atau kabinet? 

Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan yang biasanya keras soal Khilafah juga kali ini bungkam. Tampaknya karena China hanya akan menjajaki pulau Natuna dan tak ingin mendirikan Khilafah di laut sana, begitu?

Kali ini tiba-tiba Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan melontarkan komentar yang sejuk. “Jangan dibesar-besarkan soal kehadiran kapal China.” 

Nah, sepertinya Pak Luhut sudah nonton seri Ip Man. Karena kalau berani menghadapi China dengan keras, kita bisa jadi yang bakal dipukul habis-habisan. Ip Man tahu dirinya lebih punya kelebihan, kemampuan, dan jam terbang yang tinggi. Kapal-kapal nonmiliter milik China yang berkeliaran di Natuna besarnya melebihi kapal perang RI.

Rasanya menggelikan sekali sikap agresif China kali ini. Pasalnya, baru saja Menhan Prabowo bertemu dengan Menhan China Wei Feng-he. Pertemuan yang dari fotonya tampak gembira, mustinya tak berakhir dengan pelanggaran Zona Ekonomi Eksklusif ( ZEE) Indonesia. 

Analisis lain mengatakan bahwa China memang sedang krisis ketahanan pangan terutama setelah moratorium pencarian Ikan di Sungai Kuning dan Sungai Panjang yang membuat kebutuhan ikannya terancam. Mustinya Menhan Prabowo tahu soal ini. Namun entahlah apa yang diobrolkan pada pertemuan itu. Kita jadi punya pikiran nakal, jangan-jangan yang diobrolkan adalah tentang kesepakatan masuknya nelayan China ke Indonesia!?

Namun, Natuna tak hanya berisi ikan saja, melainkan juga memiliki cadangan minyak dan gas yang sangat besar. Terdapat blok migas di sana yang eksplorasinya sudah dimulai sejak 1960-an. Paling tidak, di Natuna ada 13 perusahaan yang melakukan operasi perminyakan. Singkatnya, Natuna pulau kaya yang memang sudah beberapa kali coba dianeksasi oleh nelayan China.

Hampir tiap tahun nelayan China menyambangi Natuna. Pada 2016, sepanjang 2017, dan kini akhir 2019. Ibarat Ip Man, China tak sekali membuat keributan, tapi sudah berulang-ulang kali. 

Kalau Ip Man bisa kalah sama istrinya, maka manuver China di Natuna dulu itu ada yang menghadapinya. Sosok yang menghadapi China pada waktu sebelumnya adalah perempuan tangguh asal Pangandaran, Jawa Barat. Dengan nyalinya, dia tenggelamkan kapal nelayan China. Seperti itulah Susi Pudjiasturti!

Maka saat ini waktunya pemerintah unjuk nyali. Jangan takut, jangan cemas, dan jangan khawatir. Protes Kementerian Luar Negeri sudah baik, tapi tindakan untuk memastikan bahwa kita tak mudah digertak itu jauh lebih penting. Menghukum yang sudah melanggar bisa jadi tauladan kedaulatan. Sebab, tanpa hukuman kita bisa jadi bangsa yang dianggap remeh: sudah angkatan lautnya lemah secara sarana, jangan sampai pula membuat kita jadi seperti tak ada harga dirinya.

Tontonlah film Ip Man: semua musuhnya kuat, tegas, dan arogan. Ip Man memang memang bertarung, tapi dirinya juga babak belur dihajar oleh musuh. Insiden Natuna bukan konflik militer: sejumlah nelayan China melanggar kedaulatan dan kalau kita negara berdaulat sebaiknya kita menghukum mereka. Ip Man biar tahu bahwa kali ini musuhnya tak sembarangan.

Itu kalau kita berani, ada nyali, dan punya harga diri! Kuatir saya, kita ini  bukan ingin menjadi lawan Ip Man, melainkan pengaggum kehebatan Ip Man! Cilaka dua belas kalau itu yang terjadi!(*)

Ingin Tulisanmu Dimuat?

Kirim saja ke Socialmovement.institute@gmail.com

Bagikan tulisan ini

Kepada Wiji Thukul, Sehimpun Puisi - Janeska Mahardika