Suluh Pergerakan

Akbar, Mengaji Sambil Mencopet

Nalar Naluri – [Pegiat Social Movement Institute]

***

Akbar adalah seorang pemuda gundah yang merindukan pancaran spiritual. Dia ingin membersihkan noda dosa hidupnya.

Sejak lama, ia melakoni hidup gegap gempita dan berslimutkan kegelapan. Sekarang entah apa yang membuat dia yakin bahwa hidup itu terdiri dari dosa dan sebuah keberanian.

Dia semakin sulit membedakan apa itu dosa dan apa itu keberanian.

Tapi semua berubah setelah dirinya berjumpa dengan seorang pengkhutbah unik di suatu Jumat yang memukau, berani menyeret sejumlah nama asing di dalam masjid yang mengutip kata-kata mutiara dari sederet filsuf pesohor. Mulai dari Nietzche, Karl Marx, Rene Descartes, Plato, Nabi Muhammad, Amartya Sen, sampai Abu Bakar Al Baghdadi dan masih banyak lagi.

Akbar terlihat nampak lebih banyak merenung setiap harinya.

Dari lantai Masjid Agung, Akbar memutuskan akan lebih banyak belajar tentang Islam.

Kemudian ia melihat sebuah poster jadwal pengajian yang terpampang di papan informasi masjid. “Ikutilah kajian Islam, dengan tema tentang hari akhir, bersama Ustadz Ferik. Waktu: Ahad 30 September 2018, setelah shalat subuh berjamaah.”

Akbar tertarik untuk datang. Meskipun saat ini masih hari Jum’at, namun Akbar sudah begitu ingin acara itu lekas tiba.

Dilingkarinya agenda dalam gadgetnya dan ia berikan semacam alarm getar berbunyi dan tertulis, “Ingat, hari ini Ahad, 30 September 2018, datang ke pengajian Ustadz Ferik”.

Tibalah hari yang ditunggu. Pagi itu, bertepatan dengan kemunculan mentari pagi, ketika shalat subuh telah usai, satu meja lipat tersusun di tengah setengah lingkaran jamaah.

Dari sana terlihat seorang pria sawo matang bermata sipit, mengenakan peci putih, lalu membuka salam.

Dialah Ustadz Ferik. Ketika itu telah menjelaskan panjang lebar tentang hari akhir yang merupakan bagian dari keyakinan islam tanpa ada tawar.

Mulanya, Akbar terlihat merinding ketika mendengar tausiyah Ustadz Ferik terutama tentang janji Allah terhadap kaum muslim yang akan masuk surga ketika hari kiamat tiba.

Dengan penuh yakin dan semangat, Ustadz Ferik berkata, “Orang-orang selain muslim akan masuk neraka. Maka dari itu pertemanan kita pun harus jelas, tak menghamba, apalagi meminta-minta terhadap kaum yang bukan umat muslim.”

Dua hari berikutnya, setelah tausiyah Ustadz Ferik di Masjid Agung, ketika itu malam dengan hujan yang agak deras. Akbar tak sengaja lewat di depan sebuah restoran BeliHai, yang merupakan sebuah restoran ternama Ibukota.

Ia melihat Ustadz Ferik tengah mengobrol bersama seorang pria, yang pakaiannya seperti seorang eksekutif, mengenakan tuxedo, berambut rapih licin hitam, juga bermata sipit dan berkulit mongol.

Mereka berdua tengah menikmati daging guling dan terlihat pria yang mengenakan tuxedo itu tengah menyekik leher botol Sampanye.

Dari balik kaca restoran, mereka tampak asik mengobrol. dan agak sedikit serius.

Akbar semakin penasaran, ingin menguping sedikit apa yang tengah mereka bicarakan.

Keinginan Akbar menguping bukan tanpa sebab. Sosok Ustadz Ferik yang bertausiyah tempo hari membuat dadanya berkecamuk kian penasaran. Benarkah hanya orang Islam yang dijanjikan Allah sebagai penghuni surga?

“Jika begitu, sudah Islam kah saya?” kata-kata yang terus hadir dalam benaknya.

“Bagaimana dengan Kakekku yang dulu berpandangan animisme di kepulauan Celebes? sungguh malang dia, terpaksa harus menderita dalam panggangan api neraka. Dan, dan aku adalah keturunan animisme, yang pekerjaannya berlumuran dosa.”

Kebetulan, Karim adalah sahabat Akbar, seorang koki masak di restoran itu. Kemudian Akbar punya rencana.

Ketika deras hujan yang masih bertahan, Akbar memasuki ruang koki dengan menyelinap rapih. Rambut dan pakaiannya agak sedikit basah. Mereka pun berjumpa, Karim pun terkejut.

“Hei Akbar, bagaimana bisa kau datang kemari?” Karim dengan muka heran menganga menatap Akbar.

Akbar membisikinya. Tak lama mereka mengambil sudut gelap di dekat gudang beras.

“tolonglah kali ini saja. Tekadku sudah bulat. Aku ingin melepaskan baju-baju dosa. Dan ini kesempatanku untuk mengetahui apakah ustadz Ferik itu adalah orang yang selama ini kutunggu? Apakah dia orang yang mampu memberikan pencerahan agama buatku?” Dengan muka memelas Akbar memohon.

Karim pun tak berdaya kali ini. “Untuk sekali ini saja. Waktumu hanya 5 menit. Apabila ada yang janggal melirikmu seperti seorang bos bermuka halus, maka segera kau masuk ke ruang gelap ini dan lepaskan lah pakaian ini.” Karim menyerahkan seragam putih kokinya, tak lupa topi lonjongnya yang menyerupai cerobong asap pabrik.

“Terima kasih sahabatku. Mungkin inilah waktu di mana manusia memilih jalan gila. Seperti petuah Plato yang agung, aku memilih jalan gila untuk menebus dosa-dosaku. Aku hanya memastikan kepada siapa telinga dan hati ini rela menerima siraman kezuhudan.” Akbar meraih seragam itu dan dengan sekejap mengenakannya.

Akbar telah berpura-pura menjadi seorang koki malam itu. Menyuguhkan makanan penutup ke meja no 212, meja di mana tempat Ustadz Ferik dan seorang pria tuxedo duduk. Makanan penutup itu adalah pie isi nanas dan diukir dengan selai durian monthong, membentuk patung monas, di sajikan pada wadah piring yang terlukis malaikat kecil yang seakan sedang memanah waktu.

Ketika meletakkan kue pie dengan cara yang tak halus, ustadz Ferik dan pria tuxedo agak sedikit cuiga namun masih tetap melanjutkan obrolan.

“jika ustadz berkenan, bisa mengisi tausiyah di program TV kami selama setahun, dan mohon ustadz bisa isi tausiyah juga pada acara kampanye partai saya, kepada orang-orang muslim di desa-desa.” Pria tuxedo itu berbicara sambil menuangkan champange ke gelas kosong.

“Oh bisa diatur, pak. Tapi saya juga hanya mau bilang, istri ketiga saya ini sering mengeluh kalo mobil Fortuner-nya yang sering dia pakai ke pasar AC-nya kurang pas. Belum lagi kadangkala ketika berpapasan pada jalan sempit agak kesulitan bergerak.”

“Kalau begitu besok saya akan kirim Lamborghini merah maron ke rumah ustadz buat sang istri.” Pria tuxedo mengedipkan mata kanannya sambil bersenyum lebar.

Dari samping kasir, seorang pria menyerupai bos yang digambarkan oleh Karim nampak memperhatikan Akbar. Tak pikir panjang, Akbar melangkah tergesa-gesa menuju ruang gelap dan menanggalkan seragam koki milik Karim.

Akbar keluar dari restoran BeliHai dengan keringat dingin, kemudian menuju pulang.

Di rumah sewanya yang sepi, Akbar membuka pintu kamarnya dengan keletihan. Dengan pakaian yang masih basah kuyup, dia melepas pakaiannya dan mengambil sarung, kemudian melompat ke kasur buluknya sambil merenungi aksinya tadi.

Selanjutnya, Akbar tertidur, keras mendengkur, esok paginya dia terbangun. Lalu meneguk secangkir air putih yang diambilnya dari kendi mungil, kemudian ia memutar Televisi. Ia kaget, Ustadz Ferik tengah mengisi tausiyah pada program TV milik salah satu ketua partai yang juga merupakan salah satu orang terkaya di negeri ini. Kebetulan juga orang ini bukan seorang muslim.

Akbar semakin gundah, tausiyah ahad pagi masih terekam baik di ingatanya. Sang pencerah itu ternyata jauh dari harapannya.

La tahzan, buku bersampul kuning karya Dr. Aidh al-Qarni ini menolongnya dari keterpurukan iman, menyeru agar manusia tak berlarut dalam kesedihan, menjauhi pesimisme, karena jiwa pesimis adalah perbuatan kufur yang paling dibenci Allah.

Belum ada pilihan lain, kemudian, akhirnya Akbar kembali menjadi pencopet, berseliweran di daerah pasar. Dan kali ini penghasilannya makin bertambah.

Seperti biasa, semua hasil copetnya ia salurkan pada orang-orang yang tinggal di reruntuhan di bantaran kali. Rumah mereka barusan dua bulan lalu digusur oleh gubernur pencemar Qur’an.

Target Akbar adalah orang-orang kaya tamak, yang mempunyai ruko raksasa, yang menjual emas, dan penukaran mata uang asing.

Akbar sampai saat ini tak habis pikir tentang keluguannya menjadi santri jalanan. Pilihan mencopet sambil mengaji menjadi pilihan sulit bagi dia. Semuanya dimulai ketika kisah aksi di Tugu Monas.

Akbar berkeringat hebat saat itu, tubuhnya basah seperti sehabis berendam di sungai. Siang itu suaranya serak tak jelas lagi berbicara. Namun Ia yakin ini adalah jalan jihad membela kitab suci.

Inilah pilihan Akbar yang serba kontroversial. Mengikuti aksi massa, menuntut pencemar Al Qur’an, dan menjadi pemuda bergairah.

Akbar menceritakannya dengan penuh kagum siang itu, “Hari ini aku melihat kebangkitan Islam”.

Di selasar Masjid Tua ada dua pemuda dari kota yang berbeda. Akbar datang dari kepulauan Celebes sedang Roiyhan adalah pemuda dari ibukota. Mereka berjumpa, mengobrol tentang apa pun yang menggelisahkan akhir-akhir ini.

Roiyhan ketika itu mendengarkan dengan mata terperangah, melihat setiap lipatan bibir yang dihembuskan oleh Akbar. Kicau burung pun seakan puasa saat itu karena kemerduan kabar Akbar seperti sangat meyakinkan.

Akbar mengaku bahagi, karena saat itu kebetulan berada di Jakarta, dalam agenda yang berbeda, dan sungguh tak menyia-nyiakan kesempatan langka.

Akbar menyarankan, sebaiknya dalam kesempatan berikutnya, jika Aksi nomor cantik itu tiba, hendaknya Roiyhan tak melepaskan peluang bergabung.

Roiyhan tak ikut aksi siang itu. Dia lebih memilih menjaga kios yang di sana menjajakan berbagai koran, majalah, dan kumpulan teka-teki silang milik ayahnya yang kini telah tua. Dialah yang melanjutkan usaha kuno yang kini tertatih karena gempuran media online.

Roiyhan yang kemudian penasaran tentang apa yang dialami Akbar ketika bergabung dalam aksi itu lalu bertanya, “Benarkah orang-orang yang datang itu banyak datang dari penjuru daerah berbeda?”

“Oh iya, bahkan mereka juga yang tergerak ada yang berasal dari negara tetangga”.

Roiyhan sedikit terpukau karena, betapa tidak, sebagian besar perhatian negara bertumpu pada seputaran isu ini.

Namun Akbar adalah sosok pemuda yang serba tanggung. Pemuda dari keturunan Raja Lambahyang, yang dulu memimpin masyarakat suku laut dan lembah di kepulauan Celebes.

Kerajaan ini sebenarnya telah punah karena tuntutan modernisasi, rakyat menyingkirkan feodalisme tua, hanya silsilah yang bertahan, dan beberapa tanah kekuasaan telah dibagi ke setiap keturunan. Tapi sayang, Akbar keturunan generasi ke 5 yang tak bersisa harta warisan dari sang raja.

Sebagai mahasiswa yang serba nanggung, Akbar dahulu pernah kuliah di fakultas hukum kampus swasta Yogyakarta. Juga sempat menjabat sebagai ketua perkumpulan pecinta motor bebek standard 4 tak merek Yamaha.

Karena sulitnya lapangan pekerjaan, agar tak dipandang remeh oleh masyarakat, ia kemudian melanjutkan pascasarjananya yang juga ilmu hukum di kampus swasta kota yang sama.

Meskipun kemudian setelah pascasarjana tak ada jaminan bisa mendapatkan pekerjaan lebih bagus, Akbar tetap optimis. Aalasanya, “Paling tidak jika aku kuliah lagi, tidak ada stigma pemuda penganggur dari masyarakat. Dengan begitu, masyarakat bisa kutipu. Aku hanya ingin tangkis anggapan dan ingin lebih tangkas dalam hal ini.”

Keunikan lainnya yang ia miliki ialah; Akbar sempat menjajal sebagai penabuh drum dan membuat band genre pop-rock. Tidak juga memiliki fans yang banyak, hanya saja mempunyai manajer band perempuan yang tajir, yang kemudian menjadi ATM berjalan buat Akbar.

Seperti seakan mengikuti jejak para senior pengacara kebanyakan, Akbar adalah pemuda playboy tapi berkantong pas-pasan yang tak begitu rupawan namun penuh kenekatan.

Mungkin inilah pemantik lainnya mengapa ia mesti melanjutkan kejenjang kepascasarjanaan ilmu hukum.

Akbar pun bercerita ia semakin menjadi ketika ramai-ramainya acara debat di televisi, membincang pantas tidaknya seorang gubernur mengutip ayat untuk kepentingan politiknya.

Beberapa politisi saling mengeluarkan gagasan, pembelaan, dan hujatan. Dalam kegentingan itu, televisi adalah satu-satunya referensi yang mudah dipetik oleh masyarakat, tak terkecuali bagi Akbar.

Amarahnya meluap kala itu. Waktu di mana acara talkshow berlangsung ketika salah satu politisi partai penguasa besrtatement bahwa cukilan ayat oleh pak gubernur tak ada maksud mensangsikan kebenaran Al-Qur’an.

Akbar naik pitam dan mendidih. Hanya, untung televisi 21 inci panasonic LED di warung kopi milik seorang Sunda seberang masjid tua selamat dari amukanya.

Hal itulah kemudian memantik dirinya bergabung dengan barisan massa yang kemudian menamakan aksinya sebagai ‘aksi nomor cantik’.

Masih di selasar di bawah pilar kayu jati raksasa masjid tua, Akbar merebahkan tubuhnya yang lelah itu. Para Polisi, pedagang asongan, dan bendera panji Rasulullah berseliweran.

“Minumlah dulu, keletihan yang terlalu panas bisa mengakibatkan fatal berpikir,” Roiyhan menyodorkan air mineral gelas.

“Mungkin kita sama. Sebagai seorang pemuda yang mempunyai mandat, dan kewajiban, yang menganggap menuangkan darah pada gelas perubahan adalah sebuah tugas panggilan, yang olehnya keletihan, kita percaya akan terbayar pada waktunya”. Roiyhan mengalunkan suaranya di selasar masjid ketika suara adzan masih 45 menit lagi akan dikumandangkan.

Akbar bangkit dari sandaran pilar-pilar jati tua yang bergetar. Sambil meraih gelas palstik mineral, ia meneguknya dengan dahaga memburu.

Kemudian, mengusap sisa basah di mulutnya dengan songkok, Akbar melayangkan surah Almaidah kepada Roiyhan, ayat yang sama yang diperkarakan pada gubernur.

“Jika sudah begini apakah masih ada alasan lain yang menghalau umat untuk bergerak, wahai saudaraku?”

Siang itu langit memang mendung, tapi dialog sepertinya tak mengikutinya. Roiyhan, pemuda ibukota, yang hari-harinya berdagang surat kabar, tampak bersenyum tegar dan benderang.

“Jika orang lain merasa berhak memiliki matahari dan menafsirkannya dengan seribu tafsir, mengapa tidak ia juga bebas berhak memberi arti kebenarannya sendiri?” seloroh Akbar

Roiyhan menjulurkan tangan, meraih tangan Akbar seperti sedang dibangkitkan angin puting beliung.

“Maukah kau melihat semuanya apa yang sebenarnya terjadi? Sebuah misteri kuno, yang tak pernah terpecahkan, lebih tepatnya sebuah tradisi kuno yang melekat pada rongga kehidupan kita.”

“Ikutlah denganku, aku akan mengajakmu bertamasya, ke tempat di mana orang lain akan menutup mata ketika melihatnya, tempat di mana neraka yang sesungguhnya ada di bumi, tetapi seperti dihuni oleh orang-orang ahli surga.”

Mereka pun beranjak dari masjid tua, Roiyhan meraih sepeda dan membonceng Akbar di belakang.

Dari jalan raya ibukota, sepeda Roiyhan menukik tajam ketikungan perempatan lampu merah, sampai kemudian memasuki jalan yang agak menyempit, menemui gang-gang sempit, akhirnya tiba di sebuah kampung yang berada di pinggir kali.

Di sana, eskavator sedang bekerja memungut puing-puing bangunan rumah yang telah digusur seminggu yang lalu.

Terlihat seorang janda beranak yang usianya 1 tahun, sedang menggendong anaknya sembari menangisi reruntuhan rumahnya. Anak bayinya tak henti-hentinya merengek seperti sedang tak menyusu 3 hari.

Air mata Akbar jatuh, air sungai siang itu meluap, namun air matanya Akbar jatuh bagaikan banjir bandang.

Hidup bagai di dalam tempurung. Merengek sekencang-kencangnya, menggaung sehebat-hebatnya, hingga memekakkan telinganya sendiri. Pandangan cakrawala ini terus menggaung di kepala Akbar. Pikiran yang terus menghantuinya.

Akbar tak ada pilihan lain, pemuda pengembara itu akhirnya memilih jalan gelap. Sambil berpetualang, ia terus mencari pencerah sejati. Seperti seorang gila, dia terus mengaji sambil mencopet.

3 komentar untuk “Akbar, Mengaji Sambil Mencopet”

  1. Ping-kembali: what should i put in my tinder bio

  2. Ping-kembali: kuwait free dating site

  3. Ping-kembali: keto diet delivery

Komentar ditutup.