Suluh Pergerakan

Kisah Kepala Imam Husein AS

Hari ini, 1381 tahun yang lalu, tragedi Karbala terjadi. 72 keturunan terakhir nabi Muhammad SAW dibantai dengan brutal oleh Kalifah Yazid bin Muawiyah di tepi sungai Eufrat Iraq. Husein bin Ali bin Abu Thalib, yang seharusnya menjadi Kalifah ke lima menggantikan sayidina Ali, mati dipancung oleh  Syimir bin Dzil Jausyan, salah satu anggota pasukan pimpinan Yazid. Bibirnya remuk dicincang sekelompok muslim durhaka yang dulu dibimbing petuah agung kakeknya!

Husein adalah pemuda yang diberi tugas oleh ayahnya untuk melindungi khalifah Utsman dari usaha pembunuhan kaum khawarij; yang tak pernah alpa membela panji Islam dalam perang-perang melawan kaum musyrikin; yang syahid di Karbala menjaga nyala agama yang disiarkan kakeknya.

Nabi Muhammad memberi julukan cucunya tersebut dengan kalimat mulia: “Husein adalah pemimpin pemuda di surga”. Sepeninggal Rasulullah, jika para sahabat rindu kepada sang nabi, mereka akan menemui Husein karena wajahnya sangat mirip dengan paras Rasulullah.

Sebuah riwayat mengisahkan, ketika mendengar Fatimah akan melahirkan anak kedua, Rasulullah segera bergegas menjenguknya. Tak lama kemudian lahirlah Husein. Asma’ binti Umais, yang membantu Fatimah melahirkan, segera menggendong bayi merah itu dan menyerahkannya kepada Nabi. Setelah diadzani dan diiqamati, sang jabang bayi lalu diberi nama Husein, semakna dengan nama kakaknya: Hasan yang berarti kebajikan.

Ketika tengah asyik menciumi sang cucu, tiba-tiba Nabi termangu. Air mukanya berubah muram, dari sudut matanya mengalir butiran air mata. Asma’ pun segera bertanya, “Mengapa di hari bahagia ini Anda menangis, wahai Rasulullah?”

Dalam isak tangisnya, Rasulullah menjawab: “Jibril baru saja mendatangiku, dia membawa kabar, kelak anak ini akan dibunuh oleh sebagian umatku yang durhaka. Jibril juga menunjukkan padaku tanah di mana Husein terbunuh.”

Ibnul Atsir dalam tarikh Al-Kamil menceritakan, Nabi pernah memberikan segumpal tanah berwarna kekuningan yang didapat dari Jibril kepada Ummu Salamah. Tanah tersebut berasal dari tempat di mana Husein akan terbunuh dalam sebuah pertempuran. Jibril mengambilnya dari tempat yang kita kenal sebagai KARBALA!

Nabi berpesan kepada Ummu Salamah, “Simpan tanah ini baik-baik. Bila warnanya berubah menjadi merah, ketahuilah bahwa Husein telah syahid.”

Dan, sore itu, tanggal 10 Muharram 61 H, bertepatan dengan 10 Oktober 680 masehi, Ummu Salamah menyaksikan gumpalan tanah pemberian suaminya berubah menjadi merah. Maka sadarlah ia, cucu kesayangan nabi itu telah menyusul kakeknya ke surga. Ummu Salamah adalah orang pertama di Madinah yang mengetahui perihal kematian Al-Husein.

Perang Karbala’ adalah tragedi terbesar kedua dalam sejarah Islam setelah Perang Jamal dan Perang Shiffin. Beberapa ulama menyatakan bahwa pembantaian Karbala adalah kelanjutan dari perang Shiffin dan penuntasan dendam kubu Mu’awiyah bin Abu Sufyan terhadap keluarga Nabi Muhammad SAW.

Dalam kitab Sirah Nabawiyyah wa Akhbar al Khulafa, Hafiz bin Hibban menulis: di hari itu, setelah imam Husein syahid, Yazid menyuruh Ubaidillah bin Ziyad membawa kepala  Husein dalam perjalanan panjang 1000 kilometer menuju Syiria. Kepala yang terpancung itu ditaruh begitu saja di atas pelana dengan wajah berlumur debu dan darah serta rambut yang terdedah. Setiap kali berhenti di suatu tempat untuk beristirahat, para pengawal akan mengeluarkan kepala Husain dari pelana dan menancapkannya pada ujung tombak. Mereka memamerkan kepala tersebut kepada setiap orang yang lewat sehingga tiba waktunya berangkat lagi meneruskan perjalanan.

Dalam buku yang ditulis oleh Sheikh Ibrahim Nasralla “The Traces of Ale Mohammad in Aleppo”, dikisahkan saat rombongan pasukan ini tiba di kota Aleppo, mereka memutuskan beristirahat di dekat biara Mart Ruta. Kepala Husein kembali dikeluarkan dan ditancapkan di ujung tombak.  Para pendeta dari biara ini mengaku melihat dengan jelas ada cahaya terang yang memancar dari kepala Husein. Seorang kepala biarawan lalu mendekati para pengawal seraya bertanya:

“Kepala ini, siapakah dia?” Tanya sang pendeta.

“Hussain bin Ali bin Abu Thalib! ” celetuk para pasukan. Alangkah terkejutnya si pendeta Nasrani mendengar jawaban itu. Dia tak pernah menyangka akan melihat keluarga nabi Muhammad diperlakukan sekeji itu. Kepala biara ingat sebuah kisah ketika seratus tahun sebelumnya seorang pendeta Nasrani bernama Buhaira berusaha menyelamatkan kakek Husein dari usaha pembunuhan para penjahat Quraisy. Hari itu dia melihat penerus risalah kenabian Islam dibunuh oleh tangan kaumnya sendiri.

“Seburuk-buruk bangsa adalah kalian. Terkutuk dan dihinakan!”, seru sang pendeta.

“Demi Allah, andai Isa mempunyai putera niscaya kami akan muliakan dia dan masukkan ke laman-laman kami”.

Kemudian sang pendeta berkata, “Wahai sekalian orang. Aku mempunyai 10,000 dinar yang aku warisi dari ayahku. Maukah kalian meminjamkan kepala ini kepadaku untuk satu malam bersamaku, dan untuk itu aku berikan pada kalian 10,000 dinar itu?”

Tergiur oleh tawaran kepala biara, pasukan Yazid akhirnya menyerahkan kepala Husein untuk bermalam di biara. Demikianlah, beberapa pendeta Nasrani yang bijaksana mengambil kepala Imam Husein dari para pengawal  Yazid. Dalam kesedihan mereka membawa kepala Husein ke dalam gereja. Dengan hati-hati mereka membersihkan kepala Husein, membasuh luka-luka dan menghapus debu dari wajahnya. Mereka juga menyisir dan merapikan rambutnya serta  mengusapnya dengan minyak wangi. Para pendeta itu menangis sedemikian rupa hingga air matanya membasahi jenggot mereka yang panjang. Kepala pendeta kemudian meletakkan kepala Husein di atas sebuah batu di tengah Altar.

Seluruh pendeta di biara itu lantas berkumpul, mereka bersimpuh pada lututnya mengelilingi kepala Husein. Sejarah mencatat malam itu para pendeta menderaskan doa diselingi isak tangis atas kepergian Husein. Mereka berdoa sepanjang malam hingga subuh menjelang pagi dan baru berhenti ketika pasukan Yazid mengambil kepala itu untuk dibawa pergi. Dan setelah rombongan tentara Yazid meninggalkan biara, para pendeta tersebut terus melantunkan doa-doa rintihan untuk mengenang cucu sang Nabi.

Sepeninggal pasukan Yazid, tidak ada yang tahu pasti dimana kepala Husein dikuburkan. Ada yang bilang bahwa kepala tersebut dikuburkan di makam Baqi, ada yang berkata  dibawa ke Kairo. Banyak yang meyakini bahwa kepala itu dikuburkan di tempat rahasia di Ashkelon, tapi tak sedikit juga yang yakin bahwa kepala Husein dimakamkan di Damaskus. Hingga hari ini, makam kepala imam Husein telah menjadi misteri besar dalam sejarah Islam yang tak pernah terungkap. Tak seorang pun yang tahu dimana kepala itu dimakamkan sebagaimana tak ada yang tahu dimana ibundanya, Fathimah binti Muhammad SAW dimakamkan.

Sungguh pantas kita berkabung atas penghinaan terhadap Husein dan keluarga Rasulullah ini. Kebanyakan umat Islam hanya melihat peristiwa Karbala pada aspek material dan melupakan sisi-sisi revolusi spiritual dan sosial dari peristiwa tersebut. Bahkan di kalangan Muslim masih ada yang berpendapat bahwa pembantaian keluarga nabi Muhammad di Karbala adalah kejadian biasa dan tak lebih sebagai  konsekuensi politik dari perlawanan keluarga Rasulullah kepada keluarga Abu Sofyan yang berkuasa. Karena itu, tragedi ini tak pantas dikenang dan dibesar-besarkan.

Jika kita tidak menangis saat mendengar kisah terbunuhnya Husein, itu bukan karena kisah itu tidak layak ditangisi tapi karena hati kita yang membatu dan patut dikasihani. Sesungguhnya yang menangisi peristiwa Karbala belum tentu Syiah. Namun yang bergembira atas peristiwa itu sudah pasti bukan Sunni.**

Nadimin Srowot, 10 Muharam 1442 H.