Suluh Pergerakan

Wajarkah Kita Mati Demi Kuliah?

Kenangan dari seorang teman yang kala masa hidupnya terus bertarung dengan nasib. Sebuah keberanian telah terwariskan, membawa inspirasi untuk tak pernah menyerah melawan kejamnya instansi pendidikan di negeri ini.

Wajarkah Kita Mati Demi Kuliah? Mari kita mulai berbisik-bisik makna penting dari pertanyaan di atas. Karena sesungguhnya kegelisahan ini tidak berlebihan untuk mulai dipertanyakan secara serius. Pada akhirnya, kegilaan zaman akan mendatangkan neraka baru yang tidak pernah diduga. Kini desir neraka itu datang untuk mematikan kewarasan kita di institusi bernama universitas.

Maka, mari kita mulai naskah ini dengan lagi-lagi cerita sahabat saya, Riska. Penting untuk pembaca mengerti bahwa Riska tak pernah meninggal karena UKT secara langsung. Namun, ini juga tidak berarti saya menegasikan semua penderitaan yang ditanggungnya adalah bohong. Apa yang terjadi dalam potongan thread tersebut adalah nyata dan tak saya lebih-lebihkan.

Ia benar menanggung perkelahian yang amat dahsyat dengan dunia. Sampai kini saya masih bergetar penuh kemarahan menyalang bila mengingat kisah yang ia ceritakan secara langsung. Sedang pembaca yang sudah membaca thread saya tentu sudah tahu ia memiliki riwayat hipertensi. Namun, tak banyak yang tau ia sampai di rawat inap karena hipertensi ini. 

Di tengah riwayat hipertensi yang terus menghantuinya, ia dilempar-lempar oleh birokrasi kampus, ia dipaksa bertahan dengan keuangan terbatas, pengajuan penurunannya berakhir tragis, dan pada akhirnya ia tidak menyerah. Ia terus bertarung, melawan, hingga ujungnya Riska kalah. Ketangguhannya adalah satu sisi yang tak pernah boleh dilupakan. Akan tetapi, cara birokrat UNY memperlakukannya adalah sisi paling bengis dari tata kelola institusi pendidikan.

Saya ingat kala saya mengadvokasi kasusnya, ia hanya mendapatkan potongan yang jauh dari harapannya. Meski ia belum menyerah, tetapi pesan-pesan yang ia kirim selanjutnya menunjukkan rasa frustasi, sedih, kecewa, dan kehilangan harapan. Keceriannya memudar. Berangkat dari itu saya melayangkan protes ke birokrat kampus via pesan. Tahu apa jawaban kampus?

“Kalau yang bersangkutan punya niat tinggi, tidak baik kalau pasrah. Banyak alternatif. Kalau memang tidak mencukupi, Riska bisa ambil cuti dulu, atau alternatif sambil kerja.” Sebuah pesan yang tumpul nalar kemanusiaannya. Padahal saat itu pandemi sedang memporak-porandakan segalanya. Hebatnya, seorang PNS dengan pendapatan yang terjamin sedang mencoba menceramahi Riska yang sedang mencoba tangguh di tengah badai pandemi. Mungkin pejabat tersebut tidak pernah menyangka suatu saat kisah Riska akan viral.

Pesan tersebut tak sampai saya kirim ke Riska. Saya sangat hati-hati dan terus menimang-nimang kondisi mental Riska. Kala itu pesan-pesan Riska menunjukkan gejolak emosi yang sangat kacau. Mulai hari itu saya belajar satu hal penting, bahwa advokasi biaya kuliah tidak bisa dipisahkan dari persoalan kesehatan mental. Isu ini perlu sentuhan kemanusiaan. Demikianlah pertemuan saya dengan korban-korban baru kian memperkuat dalil ini. 

Saya acap menemukan kondisi emosi yang amat kacau dari korban-korban biaya kuliah. Bahkan saya pernah bertemu dengan dua korban yang berpikir untuk bunuh diri, salah faktornya adalah masalah biaya kuliah. Saya tidak bisa bercerita banyak tentang hal itu di sini, karena kasus-kasus tersebut tak boleh sembarangan dibicarakan di ruang publik. Satu-satunya yang bisa saya pastikan bahwa kasus demikian benar adanya dan bisa dikonfirmasi.

Dengan kapasitas yang terbatas, saya dan teman-teman mencoba membantu korban sejauh yang kami bisa. Sayangnya jangkauan dan tenaga kami terlampau terbatas untuk membantu korban lain yang belum ditemukan. Pada akhirnya kami tidak bisa sendirian. Ini adalah undangan untuk Anda agar membantu kami menjaga mereka yang masih ada. Sebelum malapetaka perdagangan jasa pendidikan mencuri bagian paling penting dari bangsa ini, yakni “generasi selanjutnya”

Sebuah Peringatan

Temuan Project Multatuli[gs1]  menghadirkan sebuah peringatan yang sangat serius. 74,22% korban biaya kuliah di Yogyakarta mengaku persoalan biaya kuliah berpengaruh ke kondisi fisik atau mental mereka. Angka ini menunjukkan bahwa masalah mental yang berkaitan dengan biaya kuliah bukan lagi persoalan privat, tapi menjadi isu yang lebih luas dan sistemik. Polemik ini mencermikan langgam kampus masih berkutat pada ketidakadilan terhadap akses pendidikan.

Di saat yang sama negara justru aktif mensponsori rancangan student loan: sebuah model pinjol versi pendidikan yang sukses membawa anak muda Amerika  Serikat terjebak dalam kubangan hutang. Justru kini Amerika yang dipimpin Joe Biden tengah bersusah payah menyelesaikan masalah ini. Setelah sebelumnya Mahkamah Agung AS menolak rencana pengampunan pinjaman mahasiswa yang ia usung, Biden nampaknya belum menyerah. Terlebih ia mendapat banyak dukungan anak muda.

Sedangkan Indonesia nampaknya tinggal di gua dan justru latah untuk meniru sebuah sistem yang jelas-jelas menggiring kita menuju musibah. Karena tahukah Anda, 54% Orang Amerika Mengalami Masalah Kesehatan Mental Akibat Student Loan/Debt. Di saat di Amerika pinjol-pinjol ini menyebabkan satu generasi mengalami kecemasan, depresi, dan insomnia. Anehnya di belahan negara yang jauh dari Amerika, pinjol-pinjol tersebut malah diundang dan difasilitasi. Memang sungguh menantang hidup di “Wakanda”.

Kekuasaan nampaknya mengajak kita untuk “hidup seperti Larry”. Menantang maut, bagai ngopi dengan Izrail. Kaerna sebuah survei menunjukan bahwa Student Loan justru menyebabkan anak muda untuk memikirkan bunuh diri lebih besar daripada dampak pandemi, bahkan probalitasnya menyentuh angka 2,5 kali. Dan benar saja, di Jepang, motif mengakhiri hidup karena masalah pinjaman mahasiswa masuk ke dalam daftar statistik bunuh diri. Lantas bagaimana dengan di Indonesia?

Entahlah saya tidak tahu, belum ada survei yang menyentuh secara spesifik persoalan ini. Akan tetapi, sebuah duka lain dari Yogyakarta telah memanggil kita untuk merenungkan ulang apakah model bisnis pendidikan masih pantas dipertahankan, duka itu kini datang dari sebuah kampus swasta bernama Mercu Buana.

Seorang mahasiswi diduga bunuh diri akibat masalah biaya kuliah. Ia ditemukan mengapung pada malam hari di sebuah embung. Diketahui ia tak kunjung menyelesaikan pembayaran kuliahnya. Seorang saksi sempat memperingatkan korban untuk menjauh dari pinggir embung, mengingat cuaca kala itu sedang didera hujan. Demikianlah babak selanjutnya seperti yang kita tahu mahasiswi tersebut tinggal nama. Sekali lagi, korbannya bukan sekadar manusia, tapi juga kemanusiaan itu sendiri.

Sejak kecil kita dididik untuk menghargai arti penting sebuah nyawa. Celakanya bagi kampus kehilangan satu mahasiswa tak terlampau mengganggu jika dilihat dalam statistik angka. Namun, pertanyaan selanjutnya apakah gelar yang kelak kita dapat menjadi sepadan dibanding nyawa? Saya mengerti bahwa bunuh diri adalah kasus yang kompleks. Memang tidak ada alasan tunggal dalam kasus-kasus demikian. Akan tetapi, seandainya kita bisa menyingkirkan satu faktor saja, ini tentu sangat menentukan dan berpotensi menyelamatkan.

Di tengah-tengah krisis kesehatan mental yang kian meluas dan fasilitas penanganannya yang tetap saja rendah, dunia tentu bagai neraka bagi sebagian orang. Meski demikian, saya tidak pernah tahu neraka macam apa yang dihadapi mereka. Iblis apa yang menjadi pembisik abadi korban. Satu hal yang saya tahu, neraka bukanlah tempat untuk manusia. Itu adalah tempat untuk iblis dan manusia-manusia yang tidak termaafkan. Sehingga, saya hanya berpesan satu hal, dan semoga amanat ini tersampaikan dengan baik: “Mari kita kembali menjadi manusia”. 

Karena kita membutuhkan “manusia” untuk membangun dunia yang lebih baik. Karena dunia ini sudah kadung tenggelam dalam ketidakadilan. Bahkan kita tak pernah bisa memiliki hidup yang kita inginkan. Karena inilah kita harus bertarung lebih gigih Namun, pada akhirnya kita harus mengakui bahwa kita tak akan pernah bisa menciptakan surga, tapi dalam momen genting ini, setidaknya kita bisa mencegah orang lain untuk jatuh ke dunia yang bak neraka. Dan itu bisa dimulai dengan menjaga mereka yang masih ada.

Penulis: Rachmad Ganta Semendawai (Penulis kecil, aktif di twitter rgantas)

Ilustrasi: Hisam


Hyperlink liputan PM